Jelas SALAH membandingkan merebaknya Covid-19 di Tiongkok dengan Vietnam dan Korsel! Dan kenapa tidak jalankan lockdown!

Wuhan di Tiongkok pusat dari pusatnya Covid-19 merebak di Tiongkok, tempat dimana untuk pertama kali diketahui adanya wabah virus Corona baru itu. Yang jadi masalah, diawal mula, akhir Desember 2019 sampai 10 Januari 2020, masih BELUM ada kesimpulan virus Corona baru yang aneh itu bisa menular manusia kemanusia. Terjadi perdebatan, dan menjadi lebih sulit diambil kesimpulan karena dekat dengan Tahun Baru Imlek, banyak acara sudah disiapkan, termasuk acara pribadi saling kunjung, kumpul keluarga dan tamasya bersama, ...!

Setelah dibocorkan oleh dr. Li Wenliang ada wabah SARS dari pasar Huanan, di tgl. 31 Des., warga Wuhan jadi panik, begitu sedikit kena flu sudah antri berobat di RS, antrian melihat dokter sampai berjam-jam, berdesakan penuh di setiap RS dan semua TIDAK memakai masker, menjadi sebab penyebaran wabah lebih cepat meluas menjadi-jadi. Baru setelah tim-kedokteran pusat datang ke Wuhan, mengambil kesimpulan virus Corona itu menular dari manusia kemanusia! Dan pemerintah pusat cepat ambil keputusan tegas TUTUP Kota Wuhan, total! Itu sudah tgl. 23 Januari, hanya 2 hari jelang Tahun Baru Imlek! Boleh dikatakan agak terlambat, karena kenyataan sebelum tgl. 23 ditutup, sudah lebih 2 juta warga Wuhan keluar kesegenap penjuru, termasuk juga yang keluar bertamasya ke luarnegeri, ...! Tapi, ... apa yang akan terjadi kalau penutupan kota Wuhan lebih lambat, beberapa hari lagi setelah tgl. 25, Tahun Baru Imlek??? Tentu akan lebih menggila lagi dan lebih sulit dibendung apalagi untuk dihentikan virus Corona itu menjalar, bahakn didunia, ...

Vietnam tentu saja TIDAK PERLU lockdown, karena memang belum ada gejala virus Corona merebak didalam negeri! Mereka segera tutup pintu masuk ke/dari Tiongkok saja, sesaat setelah dengar ada virus Corona merebak dan TUTUTP Kota Wuhan! Jadi, lama terdengar Vietnam baru kemasukan Covid-19, entah dari mana masuknya, mungkin saja warga Vietnam sendiri yang membawa masuk dari luarnegeri.

Begitu juga dengan Korsel, sekalipun mereka tidak menutup rapat pintu masuk, khususnya warga Tiongkok, tapi nampak kemampuan tim-kedokteran yang canggih bisa mengatasi dengan baik pencegahan dan pengendalian epidemi yang terjadi. Hanya satu saat mereka kewalahan dengan kegiatan satu Gereja yang dianggap serong, mereka yakin Tuhan akan melindungi mereka dengan cukup berdoa saja, tanpa harus berobat kedokter. Begitulah akibatnya banyak umat gereja itu terjangkit dan telah menyebar kebeberapa kota, ... sampai pastor gereja itu harus bersujud minta maaf secara terbuka atas KESALAHANnya itu!



On 24/3/2020 下午10:13, Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] wrote:
Bagaimana kok Vietnam bisa berhasil memperlambat pandemi Coronavirus?? apa juga karena Sosialisme dengan ciri Vietnam?? Begitu juga diberitakan keberhasilan Korsel tanpa melakukan lockdown... Bahkan Taiwan juga berhasil menekan/memperlambat menyebarnya coronavirus....Ha...ha... propaganda steril!!! Sama sekali tidak mengherankan usaha Tkk kapitalis mengerahkan SEMUA untuk mengatasi coronavirus, karena kalau tidak, bencana ekonomi yang jauh lebih besar akan lebih sulit dihadapi....Sebuah usaha yang positif, namun sangat menggelikan hal itu diangkat untuk memprogandakan sebuah penipuan di tengah hari bolong!!!!  Tanpa coronavirus saja, ekonomi dunia, dan sudah tentu termasuk Tkk, sudah terus melambat....

On Tuesday, March 24, 2020, 01:49:41 PM GMT+1, Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:


https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200324162828-106-486559/jurus-vietnam-tekan-pandemi-corona-nol-kematian-pasien?utm_source=notifikasi&utm_campaign=browser&utm_medium=desktop


Jurus Vietnam Tekan Pandemi Corona, Nol Kematian Pasien

CNN Indonesia | Selasa, 24/03/2020 18:04 WIB


Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah***Vietnam*<https://www.cnnindonesia.com/tag/vietnam>hingga Selasa (24/3) belum mencatatkan korban meninggal akibat *virus corona <https://www.cnnindonesia.com/tag/virus-corona>*(Covid-19). Sementara data terbaru menunjukkan jumlah orang terinfeksi corona di Vietnam berjumlah 123 orang.

Pada pertengahan Februari lalu, Vietnam bahkan mampu menyembuhkan seluruh pasien yang terinfeksi virus corona. Sebanyak 16 pasien tersebut kemudian diperbolehkan pulang dari rumah sakit saat itu.

Vietnam mampu meredam penyebaran virus ini hingga awal Maret. Mereka sama sekali tidak mendeteksi adanya kasus baru dari 13 Februari hingga 6 Maret. Di hari berikutnya, barulah pemerintah melaporkan dua kasus baru.


          Lihat juga:

Klaim Myanmar dan Laos soal Upaya Bebas dari Virus Corona <https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200225155950-106-477976/klaim-myanmar-dan-laos-soal-upaya-bebas-dari-virus-corona/>


Meski belum menemukan obat untuk menyembuhkan Covid-19, protokol kesehatan yang diadopsi Vietnam nampaknya berhasil menilai infeksi dan tingkat keparahan virus, sehingga dapat menyembuhkan pasien.

Melansir /Aljazeera <https://www.aljazeera.com/news/2020/02/infected-patients-vietnam-cured-coronavirus-miracle-200228035007608.html>/, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc mengungkapkan pentingnya mengikuti protokol kesehatan tersebut.

Pertama, para dokter diharuskan untuk mengobati gejala virus seperti menangani demam. Kedua, pasien diwajibkan menjalani diet ketat dan bergizi. Ketiga, memonitor tingkat penyerapan oksigen dalam darah pasien.

Hingga kini, pasien virus corona di Vietnam yang dinyatakan sembuh berjumlah 17 orang.

+++++++.

https://www.sinarharapan.co/kesra/read/15140/tambah_107_kasus_baru__jumlah_positif_covid_19_di_indonesia_tembus_686_orang



  *Tambah 107 Kasus Baru, Jumlah Positif COVID-19 di Indonesia Tembus
  686 Orang*

Selasa , 24 Maret 2020 | 16:08


Listen to this

JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto mengatakan jumlah kasus warga yang positif terpapar virus corona penyebab COVID-19 di Indonesia bertambah 107 kasus hingga menjadi 686 orang dengan angka kematian bertambah tujuh hingga total 55 orang.

"Ada penambahan kasus baru konfirmasi positif 107 kasus, sehingga total saat ini 686 kasus positif," kata Jubir Achmad Yurianto dalam acara konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) di Jakarta Timur, Selasa.

Achmad Yurianto mengemukakan bahwa data yang dikumpulkan tersebut merupakan kasus yang dilaporkan dari 23 Maret pukul 12.00 WIB hingga 24 Maret pukul 12.00 WIB.

Ia memaparkan, dari 107 kasus baru tersebut berasal di antaranya dari DKI Jakarta (70 kasus), Jawa Timur (10 kasus), Banten (9 kasus), Sumatera Utara (5 kasus), Jawa Tengah (4 kasus), serta masing-masing 1 kasus di DI Yogyakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Utara, Riau dan Papua.


Sementara itu, ujar dia, tidak ada penambahan kasus yang sembuh sehingga yang telah sembuh secara kumulatif masih sama yaitu sebanyak 30 orang.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 itu meyakinkan kepada masyarakat bahwa pemerintah akan tetap bekerja keras menangani COVID-19.

Sedangkan di tingkat global, jumlah orang yang terpapar COVID-19 sudah lebih dari 382 ribu orang dengan jumlah kematian lebih dari 16 ribu orang.

Negara-negara yang terbanyak jumlah kasusnya sejak COVID-19 merebak adalah Republik Rakyat China (sekitar 81 ribu kasus), Italia (sekitar 63 ribu kasus), Amerika Serikat (sekitar 46 ribu kasus), Spanyol (sekitar 35 ribu kasus), dan Jerman (sekitar 29 ribu kasus).


Kemudian negara Iran (sekitar 23 ribu kasus), Prancis (sekitar 19 ribu kasus), Korea Selatan (sekitar 9 ribu kasus), Swiss (sekitar 8 ribu kasus), dan Inggris Raya (sekitar 6 ribu kasus).

Sementara di kawasan ASEAN atau Asia Tenggara, jumlah negara yang memiliki kasus positif COVID-19 terbanyak adalah Malaysia yang kemudian diikuti oleh Thailand. **(E-3)**





Kirim email ke