https://www.alinea.id/bisnis/menguji-daya-tahan-ekonomi-ri-dari-serangan-pandemi-b1ZLi9sY2


*Menguji daya tahan ekonomi RI dari serangan pandemi* Ekonomi pasti pulih
jika wabah corona tertangani dengan baik.

*Syah Deva Ammurab**i* <https://www.alinea.id/me/syah-deva-ammurabi> Kamis,
02 Apr 2020 19:34 WIB



Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menetapkan novel coronavirus
(Covid-19) sebagai pandemi global sejak minggu kedua Maret silam. Dasarnya,
persebaran virus sangat cepat menjauhi pusat wabah awal yakni Wuhan, China.

Berdasarkan data *Worldometers*, jumlah korban virus corona telah mencapai
936.958 orang yang tersebar di 204 negara di seluruh dunia per Kamis (2/4)
pukul 07.04 GMT (14.04 WIB). Dari jumlah tersebut, sebanyak 47.264 orang
tewas dan 194.666 orang dinyatakan sembuh.

Penyebaran Covid-19 dipastikan memukul pertumbuhan ekonomi global. Pukulan
telak Covid-19 ini membuat berbagai lembaga merevisi pertumbuhan ekonomi
global tahun 2020.

JP Morgan memproyeksi pertumbuhan ekonomi global minus 1,1%. "Dunia
menghadapi dua isu, yakni krisis kesehatan dan ekonomi yang mendorong
ekonomi global jatuh ke jurang resesi yang dalam," demikian proyeksi JP
Morgan, 20 Maret 2020.

*BACA JUGA*

   -

   Menguji daya tahan ekonomi RI dari serangan pandemi
   
<https://www.alinea.id/bisnis/menguji-daya-tahan-ekonomi-ri-dari-serangan-pandemi-b1ZLi9sY2>
   -

   Insentif fiskal digenjot, pendapatan negara bakal anjlok 10%
   
<https://www.alinea.id/bisnis/insentif-fiskal-digenjot-pendapatan-negara-bakal-anjlok-10-b1ZLh9sUV>
   -

   Pemerintah susun APBN-Perubahan 2020 akibat Covid-19
   
<https://www.alinea.id/bisnis/pemerintah-susun-apbn-perubahan-2020-akibat-covid-19-b1ZJR9sHd>

Kemudian, *The Economist Intelligence Unit* memprediksi laju ekonomi global
minus 2,2%. "Gambaran ekonomi global terlihat suram dengan resesi yang
hampir terjadi di semua negara berkembang di seluruh dunia," tulis laporan
lembaga ini, 26 Maret 2020.

Sementara, Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi ekonomi global akan
tumbuh negatif. "Sudah jelas kita sekarang telah memasuki resesi seperti
atau bahkan lebih buruk dibanding tahun 2009," tulis IMF, 27 Maret 2020.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui Indonesia tak bisa lepas
dari pelemahan ekonomi global dan negara-negara lain akibat serangan
Covid-19. Dia mengungkapkan, pemerintah memiliki tiga skenario perekonomian
Indonesia 2020 dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Pertama, asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020
memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 5,3% dengan asumsi harga minyak dunia
US$62/barrel, nilai tukar rupiah Rp14.400 per dolar AS, dan inflasi 3,1%.

Kedua, skenario ekonomi berat dengan proyeksi pertumbuhan 2,3%, harga
minyak dunia US$38/barrel, nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS, dan
inflasi 3,9%. Ketiga, skenario ekonomi sangat berat dengan proyeksi
pertumbuhan negatif 0,4%, harga minyak dunia US$31/barel, nilai tukar
rupiah Rp20.000 per dolar AS, dan inflasi 5,1%.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh 2,3%, bahkan dengan skenario
terburuk bisa -0,4%. Ini berpotensi menekan sektor keuangan, sehingga
transmisi masalah sosial, ekonomi dan ancaman stabilitas keuangan menjadi
sangat nyata,” terang Sri Mulyani dalam konferensi pers, Rabu (1/4)..

Ani, begitu ia akrab disapa, memaparkan *outlook* pertumbuhan ekonomi dari
sisi pengeluaran. Konsumsi rumah tangga diperkirakan hanya tumbuh 1,60%
sampai 3,22%, konsumsi pemerintah tumbuh 3,73% sampai 6,83%, pembentukan
modal tetap bruto (investasi) bahkan -4.22% sampai 1,12%, ekspor
terkontraksi 14,00% sampai 15,60%, serta impor terkontraksi 14,50% sampai
16,65%.

Ani menjelaskan, kebijakan paket stimulus I untuk pariwisata sebesar Rp10,3
triliun dan paket stimulus II berupa relaksasi pajak sebesar Rp22,9 triliun
masih belum cukup melawan dampak buruk akibat coronavirus.

Oleh karena itu, pada 31 Maret lalu, Presiden Joko Widodo menerbitkan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No.1 Tahun 2020 yang
memungkinkan langkah luar biasa (*extraordinary*) dalam menanggulangi
dampak Covid-19. *Beleid *ini dilengkapi paket stimulus hingga Rp405,1
triliun.

Dana itu disiapkan untuk intervensi di bidang kesehatan Rp75 triliun,
perluasan jaring pengaman sosial Rp110 triliun, dukungan industri Rp70,1
triliun, dan dukungan pembiayaan anggaran untuk penanganan Covid-19 Rp150
triliun.

Di tengah kebutuhan menambah belanja, kata Ani, penerimaan negara anjlok
10%. Ini terjadi karena penerimaan pajak lesu akibat ekonomi melemah. Belum
lagi, adanya insentif pajak dan penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh),
serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang turun karena harga
komoditas anjlok.

Dia memperkirakan, kondisi itu akan membuat defisit APBN 2020 bengkak
hingga 5,07% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Padahal,
dalam APBN 2020, defisit diproyeksi sebesar Rp 307,2 triliun atau 1,76%
dari PDB. Lonjakan defisit hingga 5%, melampaui batas maksimal defisit APBN
sebesar 3% dari PDB sesuai Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara.

Ani menjelaskan, Perppu tersebut menjadi landasan hukum bagi pemerintah,
Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan
(LPS) untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.

“Covid ini telah menciptakan kondisi yang luar biasa. Tidak hanya di
Indonesia, tapi seluruh dunia. Dengan kondisi *extraordinary* diperlukan
penaganan dan pencegahan mitigasi sektor keuangan secara di luar
kebiasaan,” tegasnya.

Dalam Pasal 2 Perppu termaktub aturan terkait pemakluman batasan defisit
anggaran lebih dari 3% setelah pemerintah menambah dana penanganan Covid-19..

"Menetapkan batasan defisit anggaran dengan ketentuan sebagai berikut. Poin
a, melampaui 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) selama masa penanganan
Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau untuk menghadapi ancaman yang
membahayakan perekonomian nasional dan/atau stabilitas sistem keuangan
paling lama sampai dengan berakhirnya Tahun Anggaran 2022," bunyi pasal
Perppu.







*Berbeda dengan krisis sebelumnya*

Direktur Riset *Center of Reform on Economics* (CORE) Indonesia Piter
Abdullah Redjalam menjelaskan, kondisi Indonesia saat ini berbeda dengan
krisis moneter pada 1997/1998 silam. Pada waktu itu, pelemahan daya beli
dan nilai tukar rupiah sangat dalam.

Ia membandingkan pelemahan nilai tukar rupiah dari Rp14.000 menjadi
Rp16.000 per dolar AS sepanjang 2020 dengan pelemahan nilai tukar rupiah
dari Rp2.500 menjadi Rp17.000 per dolar AS pada periode 1997/1998.

“Tahun 1997 uang Rp 2.500 dapat apa? Mungkin dapat lima mangkuk bakso itu,
satu mangkuk Rp500. Sekarang Rp14.000 satu mangkok bakso. Kalau dia melemah
ke Rp20.000, masih satu mangkuk bakso juga,” jelasnya kepada
*Alinea.id* melalui
sambungan telepon, Kamis (2/4).

Dia melihat, kebijakan pemerintah pada 1997/1998 belum siap dalam
menghadapi krisis. Saat itu belum ada protokol penanggulangan krisis
seperti undang-undang krisis, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan lainnya.
Selain itu, kondisi fundamental perusahaan Indonesia saat ini lebih kuat
ketimbang periode 1997/1998.

Pada waktu itu, banyak perusahaan bangkrut akibat ambruknya sektor
keuangan. Kini, pelemahan yang terjadi lebih karena berhentinya kegiatan
operasional perusahaan akibat meluasnya wabah Covid-19. “Daya tahan kita
apabila dibandingkan tahun 1997/1998, jauh lebih kuat sekarang, cuma
tekanannya berbeda” ujarnya.

Piter mengapresiasi langkah pemerintah yang menggelontorkan dana stimulus
Rp405,1 triliun. Menurutnya, kebijakan ini perlu dilakukan untuk
mendongkrak perekonomian nasional, terlepas dari cukup atau tidak
jumlahnya.

Dia melihat, pemerintah tidak dapat mengandalkan penerimaan pajak sebagai
sumber dana lantaran kesulitan yang dialami oleh masyarakat dan dunia
usaha. Piter menyarankan pemerintah merealokasi anggaran, meminjam ke
lembaga donor, maupun menerbitkan surat utang baru.

“Kalau kita mengatakan menambah utang di tengah kondisi sekarang bentuk
kegagalan pemerintah, itu salah besar, justru ini bentuk pemerintah
tanggung jawab menjalankan amanahnya di tengah kepentingan bersama,”
katanya.

Hal senada diungkapkan *Chief Economist The Indonesia Economic
Intelligence *Sunarsip. Dia mengatakan, pandemi Covid-19 dapat menggoyang
ketahanan ekonomi Indonesia. “Pertumbuhan ekonomi pasti turun. Skenario
terburuknya bisa nol persen," ujarnya kepada *Alinea.id*, Kamis (2/4).

Sunarsip melihat, krisis ekonomi yang ditimbulkan oleh mewabahnya
coronavirus berbeda dengan krisis ekonomi 1997/1998. Krisis dua dekade lalu
disebabkan oleh gagal bayar utang korporasi akibat jatuhnya nilai kurs
rupiah.

“Zaman dulu biaya pinjaman mahal sekali. Sudah bunganya tinggi, jatuh
serempak dan valasnya (mata uang asing) enggak ada. Itu menyebabkan
aktivitas ekonomi dipaksa berhenti. Kalau sekarang sukarela,” terangnya.

Namun, dia mengakui, krisis ekonomi akibat Covid-19 masih lebih parah
dibandingkan krisis finansial 2008. Meskipun demikian, ia meyakini keduanya
tidak akan membuat ambruknya likuiditas perbankan. Sunarsip memprediksi,
pertumbuhan ekonomi baru kembali normal atau kembali ke level 5% pada 2022.

Dalam menanggulangi coronavirus, dia menilai, pemerintah tidak bisa
melakukannya dengan anggaran yang ada. Oleh karena itu, Sunarsip
mengapresiasi langkah pemerintah dalam menggelontorkan stimulus senilai
Rp405,1 triliun sebagai dana tambahan untuk menanggulangi Covid-19.

“Stimulus itu semacam dana *survival* selama aktivitas produksi berhenti.
Pemerintah dengan dana itu memperkirakan aktivitas berhenti selama enam
bulan. Kalau (penanggulangan Covid-19) tepat waktu sampai itu, dananya
cukup,” jelasnya.

Sementara itu, ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri berpendapat,
perekonomian Indonesia lebih leluasa tumbuh pada saat krisis finansial
global 2008 dibandingkan sekarang. Pada waktu itu, pertumbuhan ekonomi
Indonesia 4,6%, jauh di atas pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,1%.

“Kalau 2008 krisis finansial global, sekarang lebih parah karena *shock-*nya
di sisi *supply* dan *demand.* Ingat orang sekarang semakin banyak pegang
*cash. *Emas tidak laku karena *cash is the king*. Saya berharap BI sigap
menjaga ini,” ujarnya dalam *video conference*, Jumat (27/4).

Faisal menilai, arah kebijakan pemerintah dalam menggelontorkan dana
stimulus sudah tepat. Namun, dia memberi beberapa catatan. Pertama,
pemerintah harus memiliki kepekaan tinggi terhadap krisis (*sense of crisis*)
untuk merealokasikan anggaran yang tidak penting. Misalnya saja dengan
menunda proyek pemindahan ibu kota baru.

Menurutnya, realokasi anggaran dengan menghentikan perjalanan dinas masih
belum cukup. “Apalah artinya ibu kota baru hebat tapi masyarakat rentan.
Kita harus pikirkan model pembangunan Indonesia yang baru. Pendekatannya
baru,” cetusnya.

Kedua, pastikan kebutuhan masyarakat tercukupi. Dia melihat, kondisi
logistik nasional masih belum siap untuk mendistribusikan bantuan kepada
masyarakat.  “Ada pencatutan, bukan berarti stok kurang, tapi dampak
psikologis orang menimbun. Dalam situasi sekarang, sudah sepatutnya buat
Perppu atau undang-undang darurat,” ujarnya.

Ketiga, bangkitkan kepercayaan diri masyarakat. Menurutnya, pemerintah
harus memperkuat jaring pengaman sosial bagi masyarakat terdampak sekaligus
fokus terhadap penanganan Covid-19. “Ekonomi itu nasibnya sekarang sangat
ditentukan penanganan virus. Jadi lupakan dulu ekonomi, fokus penanganan
virus,” tegasnya.

Peneliti *Institute for Development of Economics and Finance* (INDEF) Bhima
Yudhistira Adhinegara berpendapat, ekonomi Indonesia sudah mengalami krisis
lantaran daya beli masyarakat menurun. Hasil kajian INDEF, Covid-19 akan
menurunkan konsumsi rumah tangga sebesar 4,80%-4,89%.

“(Industri) akan kolaps, ya. Karena kalau masyarakat tidak beli barang,
maka produksi industri jatuh. Pelaku industri akan melakukan efisiensi
besar-besaran mulai dari PHK, tidak membayar upah, itu yang akan kita
saksikan dalam beberapa bulan ke depan,” tutur Bhima melalui sambungan
telepon, Selasa (31/3).

Tak hanya itu, lesunya aktivitas industri akan berimbas pada meningkatnya *Non
Performing Loan* (NPL) sektor perbankan. Menurutnya, restrukturisasi utang
menjadi kunci bagi perbankan untuk bertahan hidup.

“Kalau banyak bank yang tidak melakukan itu, tetap bersikukuh menarik
cicilan akan banyak yang mengalami Kol-5 (Kolektibilitas 5), yakni kredit
macet,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah sebaiknya menggelontorkan dana jaring pengaman
sosial berupa *universal basic income* bagi masyarakat terdampak. Dia
berpendapat, hal inilah yang seharusnya menjadi prioritas pemerintah
dibanding keringanan pajak.

“Jadi melindungi daya beli kelas menengah dan bawah, kemudian pekerja kelas
informal. *Universal basic income*nya bisa dengan *cash transfer*,”
ungkapnya.

*Penanggulangan wabah jadi kunci *

Piter menambahkan, penanggulangan wabah Covid-19 adalah kunci bagi
pemulihan ekonomi.

“Saya enggak bisa memperkirakannya. Yang bisa menjawab ahli kesehatan
sebenarnya karena ekonomi baru *recovery* kalau wabah Covid-19 ini bisa
ditanggulangi,” ujarnya.

Pihaknya memperkirakan, pertumbuhan ekonomi dapat mengalami kontraksi
sebesar 2% apabila pandemi coronavirus tidak dapat ditanggulangi selama
setahun.

Seperti perang, Faisal Basri mengibaratkan, melawan pandemi Covid-19
layaknya berperang melawan ‘hantu’. Apabila terus berlangsung, bukan tidak
mungkin resesi ekonomi dunia akan terjadi.

“Maka satu-satunya cara adalah melakukan pembatasan atau *lockdown* (karantina
wilayah) dan kita periksa musuh-musuh itu dari rumah ke rumah,” tegasnya.

Dia melihat, dampak ekonomi menjadi pertimbangan bagi pemerintah yang
enggan melakukan *lockdown* karena berimbas pada terhentinya aktivitas
ekonomi.

“Tapi percayalah, *lockdown* itu kalau secepat mungkin dilakukan,
penyebarannya akan jadi sangat terbatas. Dan mau tidak mau kita hadapi
kemerosotan ekonomi dan bahkan pahitnya resesi, tapi percayalah nanti
*rebound* cepat. Tapi pola seperti sekarang, kelamaan dalam
ketidakpastian,” bebernya.

Ekonom Senior INDEF Dradjad Hari Wibowo mengatakan, satu-satunya cara untuk
menyelamatkan ekonomi yang terdampak Covid-19 adalah dengan mencegah
penyebaran virus. Dradjad juga mendorong pemerintah untuk memperbesar
belanja di sektor kesehatan. Menurutnya, hal ini dapat mengompensasi dampak
penurunan ekonomi di sektor industri, pariwisata, transportasi, dan
sebagainya.

“Simulasinya begini, kalau kita belanja untuk memperkuat sektor rumah sakit
dan puskesmas, itu akan ada tetesan belanja, peningkatan *demand* untuk
alat-alat kesehatan, untuk mereka yang memproduksi alat-alat itu. Akan
ada *sectoral
links *yang kuat,” terangnya.

Kirim email ke