Apa Said ini keturunan Nabi. Said Didu harus digugu? Op wo 8 apr. 2020 om 12:10 schreef Al Faqir Ilmi [email protected] [GELORA45] <[email protected]>:
> > > *LBP dan Said Didu* > > *by Erizeli Jely Bandaro* > > Kalau saya baca dan tonton video, apa yang dikatakan Said Didu 99% adalah > kritik membangun kepada Pemerintah.. Sebagai pengamat pro-oposisi dia > mengkritisi anggaran ibukota baru, dan meminta focus kepada corona. Dalam > sistem demokrasi siapapun berhak kritik pemerintah. Ingat ya, yang dikritik > itu pemerintah, bukan pribadinya. Contoh anda kritik anggaran. Anda harus > focus kepada kebijakan di balik anggaran itu. Kritik lah itu kalau dianggap > salah. Tetapi jangan kritik pribadi pejabatnya. Apa itu kritik pribadi? > menghakimi secara personal. Saya ulang lagi, “menghakimi”.. > > Saya analogikan seperti saya kritik Anies. Saya harus tahu kebijakan Anies > secara detail dan bagaima sistem yang berlaku. Saya tidak mau terpengaruh > dengan informasi informal, apalagi opini orang. Tapi data dan informasi > formal. Mengapa? Karena yang saya kritik adalah sistem. Dari sana saya > analisa, untuk bisa kritik Anies. Tentu saya sertakan juga usulan apa yang > baik menurut saya. Kalau akhirnya saya menyimpulkan apa yang dilakukan > anies salah, saya engga mungkin serang anies secara personal. Maksimum yang > bisa saya katakan, Anies engga paham apa yang dia lakukan atau Anies punya > agenda politik, atau ingin jadi presiden. Itu aja. > > Berbeda dengan Said Didu, dia menyinggung sosok Luhut yang sangat kental > hanya memikirkan uang daripada kepentingan bangsa dan negara. Said menuding > Luhut "memiliki karakter kuat berorientasi uang semata" Perhatikan, walau > 99% yang disampaikan Said Didu itu kritik membangun namun dalam > kesimpulannya, dia menghakimi dan menuduh LBP. Dalam hal ujaran kebencian, > yang paling tahu itu ujaran kebencian atau tidak , ya hanya LBP. Karena dia > yang merasakan. > > Tentu setiap orang berbeda menyikapi ujaran kebencian. Contoh, saya > pribadi, kalau orang menghakimi atau menuduh saya, secara personal engga > ngaruh apapun bagi saya. Itu engga penting saya pikirkan. Karena saya bukan > siapa siapa. Berbeda dengan LBP. Dia pejabat negara. Dia juga pensiunan > Jenderal bintang 4. Kehormatannya sebagi abdi negara dia pertaruhkan bukan > hanya di belakang meja tetapi dalam medan perang. Karir nya sebagai menteri > bukan karir politik seperti Gubernur yang dipilih lewat Pilkada, tetapi itu > karir profesional yang dipilih atas hak prerogatif presiden. > > Apakah sikap LBP tersinggung karena merasa apa yang dikatakan Said Didu > itu ujaran kebencian dan masuk UU ITE ? Yang bisa menjawab itu hanyalah > pengadilan. Proses hukum. Tetapi kalau Said Didu menyadari sikapnya salah, > LBP juga bisa menerima maaf Said Didu. Masalahnya selesai. Itulah indahnya > demokrasi. Tapi kalau Said Didu malah memperuncing persoalan dengan > menyeret kasus ini ke ranah politik, dengan terus membangun narasi agar > menarik empati publik, maka itu jelas kontra produktif. Tidak ada yang > bisa menghentikan proses hukum ujaran kebencian kecuali orang yang merasa > dirugikan. Udah minta maaf ajalah. Biar bisa lebaran di rumah. > > > Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone > <https://overview.mail.yahoo.com/?.src=iOS> > > >
