-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-4971510/nasib-palestina-di-tengah-wabah-corona?tag_from=wp_cb_kolom_list


Analisis Zuhairi Misrawi

Nasib Palestina di Tengah Wabah Corona

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 09 Apr 2020 18:30 WIB
10 komentar
SHARE URL telah disalin
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Palestina menjadi salah satu negara yang tidak bebas dari wabah Covid-19. 
Menteri Kesehatan Palestina Mai al-Kaila mencatat ada 261 warga positif 
Covid-19 dan 42 dinyatakan sembuh. Warga yang dinyatakan positif langsung 
dikarantina di rumah masing-masing dengan pengawasan khusus dari Otoritas 
Palestina. Hingga saat ini ada 15.000 rapid test terhadap warga Palestina yang 
diduga mempunyai hubungan langsung dengan pasien positif.

Membayangkan Palestina menghadapi wabah Covid-19 pasti terasa menyayat hati. 
Bayangkan, tanpa wabah Covid-19 pun Palestina sudah tertatih-tatih menjalani 
kehidupan sosial, ekonomi, dan politik tanpa ketidakpastian. Kondisi geopolitik 
yang menimpa negara-negara Timur-Tengah lainnya menyebabkan nasib Palestina 
sama sekali tak tersentuh, bahkan kondisinya makin terpuruk di tengah tekanan 
bertubi-tubi dari Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara di Timur-Tengah, 
seperti Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab.

Di tengah pandemi Covid-19, Palestina termasuk di antara negara yang tidak 
mempunyai pilihan kebijakan, sebagaimana negara-negara lainnya yang 
berlomba-lomba memberikan insentif perlindungan finansial. Palestina akan 
menghadapi dampak wabah ini dengan serentetan masalah yang tidak bisa diramal 
di masa mendatang. Kondisi ekonomi yang terus memburuk dan tekanan dari Israel 
yang kian kuat.

Yang pasti, negara-negara di kawasan Timur-Tengah saat ini sedang fokus untuk 
menghadapi dampak Covid-19, yang membuktikan bahwa mereka tidak akan 
mengalihkan perhatian pada isu-isu regional, khususnya Palestina. Krisis 
ekonomi akan menjadi pukulan yang telak bagi setiap negara di kawasan. Tidak 
mudah untuk bangkit, karena ekonomi benar-benar lumpuh, apalagi harga minyak 
terus merosok akibat perseteruan antara Arab Saudi dan Rusia.

Palestina akan semakin terpinggirkan, karena setiap negara lebih memfokuskan 
perhatiannya terhadap isu-isu domestik yang tidak kalah rumit. Apalagi jika 
upaya melawan Covid-19 yang bisa berlangsung lama, maka secara otomatis 
Palestina akan menanggung beban yang lumayan berat. Sebab selama ini, Palestina 
mempunyai ketergantungan pada negara-negara lain, seperti Qatar, Iran, dan 
Turki. Negara-negara tersebut saat ini sedang menghadapi masalah yang serius 
dalam upaya mengantisipasi dampak ekonomi dari Covid-19.

Semua negara, termasuk negara-negara Timur-Tengah saat ini sedang memikirkan 
dampak yang terburuk dari Covid-19. Sebab negara-negara yang selama ini relatif 
maju dan modern dalam pelayanan medis pun terseok-seok dalam menghadapi dampak 
Covid-19. AS, Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris adalah negara-negara yang 
sempoyongan dalam menghadapi dampak Covid-19, karena penyebaran virus yang 
meluas dengan korban yang lumayan besar melebihi China.

Selain itu, posisi Netanyahu yang semakin kuat di Israel juga menjadi tantangan 
serius yang lain bagi Palestina. Covid-19 menjadi berkah bagi Netanyahu yang 
secara politik sebenarnya sedang rapuh akibat perolehan suara yang cenderung 
statis dan kasus korupsi yang menimpa dirinya dan keluarganya.

Covid-19 yang meluas di Israel, telah menyebabkan posisi Netanyahu semakin kuat 
karena ia mendapatkan dukungan politik dari Partai Biru dan Putih yang selama 
ini menentangnya. Belum lagi kasus korupsinya ditangguhkan dengan alasan agar 
Netanyahu lebih fokus dalam mengatasi masalah Covid-19 yang melanda dunia saat 
ini. Netanyahu sekarang memimpin Israel dengan mandat yang lebih kuat.

Tentu saja, kuatnya posisi Netanyahu akan menjadi masalah serius bagi 
Palestina. Sebab Netanyahu selama ini dikenal sebagai pemimpin yang membawa 
agenda-agenda politik yang sangat merugikan Palestina, khususnya dalam masalah 
pembangunan ilegal di Tepi Barat. Bukan hanya itu saja, Netanyahu ingin 
mengusir Palestina dari Jerusalem dan menjadikan Jerusalem di bawah kekuasaan 
Israel.

Yang dikhawatirkan banyak pihak, Netanyahu justru menjadikan situasi yang penuh 
ketidakpastian untuk terus mengambil langkah-langkah yang semakin menjerat 
Palestina. Di tengah negara-negara lain yang sedang fokus pada masalah domestik 
masing-masing, Netanyahu bisa saja mengambil langkah di luar dugaan. Sebab itu, 
nasib Palestina di tengah pandemi Covid-19 menjadi semakin tidak menentu.

Otoritas Palestina sudah menyatakan, masalah ekonomi akan menjadi dampak yang 
paling buruk, karena jika situasinya semakin tidak baik dalam beberapa hari 
mendatang, maka Palestina akan mengalami kelumpuhan total. Selama ini, sebelum 
meluasnya wabah Covid-19, Palestina sudah berdarah-darah dalam mengatasi 
masalah ekonomi, khususnya di Jalur Gaza yang terus mendapatkan tekanan dari 
Israel.

Tidak terbayangkan jika wabah Covid-19 bisa menyebar luas di Jalur Gaza. 
Situasinya pasti akan sangat sulit dan tragis. Populasi penduduk yang sangat 
padat dengan minimnya pelayanan kesehatan, dan situasi ekonomi yang sangat 
tidak menentu akan menjadi pukulan telak. Apalagi dalam beberapa hari yang akan 
datang mereka akan menunaikan ibadah Ramadhan.

Pandemi Covid-19 akan menjadi momen yang sangat tidak menguntungkan bagi 
Palestina. Mereka memerlukan perhatian khusus dari dunia agar tidak menjadi 
target diskriminasi dan ekstremisme Israel. Sebab Israel tidak akan pernah 
berhenti mengganggu Palestina, khususnya Netanyahu yang mendapatkan dukungan 
dari sayap Yahudi fundamentalis di Israel.

Diperlukan sebuah komitmen dan perhatian yang serius dari beberapa negara di 
Timur-Tengah dan dunia Islam agar Palestina tidak sendirian dalam menghadapi 
situasi yang sulit ini. Masih ada sedikit asa agar Palestina terus dipikirkan 
bersama, bahwa di tengah pandemi Covid-19 masih ada Palestina yang terus 
dijajah oleh Israel, dan bisa saja Israel terus melakukan tekanan dan 
penindasan, baik secara terbuka maupun secara diam-diam.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik 
Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)




Kirim email ke