-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-4971436/jika-ini-perang-kuburkan-para-tenaga-medis-di-makam-pahlawan?tag_from=wp_cb_kolom_list


Jika Ini Perang, Kuburkan Para Tenaga Medis di Makam Pahlawan

Sultan B. Najamudin - detikNews
Kamis, 09 Apr 2020 16:42 WIB
6 komentar
SHARE URL telah disalin
DPD
Foto: DPD RI
Jakarta -

Akhir tahun 2019, dunia dikejutkan dengan munculnya Coronavirus disease 2019 
(COVID-19) atau yang biasa dikenal virus Corona. Virus yang awalnya hanya 
dianggap menyerang Wuhan, kota di Hubei, salah satu provinsi di China ini, 
berkembang sedemikian cepat. Saat ini hampir seluruh negara di belahan bumi 
kita terserang virus Corona. Tidak peduli negara itu negara kaya ataupun negara 
miskin. Tidak peduli status orang yang dihinggapi baik kaya maupun miskin, tua, 
muda, semua tidak luput dari ancaman serangan virus Corona. Tidak terhitung 
lagi banyaknya warga dunia yang terpapar dan ribuan nyawa yang melayang karena 
virus Corona ini.

Di Indonesia, setelah sekian bulan aman dari wabah berbahaya ini, apa mau 
dikata sekitar awal Maret 2020, virus Corona mulai menyebar di kota-kota besar 
di Tanah Air. DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara 
dan kini hampir seluruh provinsi di Tanah Air muncul penderita COVID-19. Ada 
yang berpendapat bahwa Indonesia agak terlambat dalam mengantisipasi masuknya 
virus corona. Yang lain juga berpendapat, negara secara diam-diam telah 
mengamati dan memprediksi serta menyiapkan langkah-langkah untuk mengatasi 
penyebaran virus Corona. Bahkan jauh sebelum Jakarta diumumkan darurat Corona, 
Pemerintah juga telah bertindak dengan menjemput langsung sekaligus 
menyelamatkan warga negara Indonesia dari Wuhan yang kemudian sempat diisolasi 
di pulau Natuna.

Dan begitu virus ini sudah mulai terdeteksi di sejumlah kota, pemerintah juga 
sudah menyiapkan langkah-langkah untuk menangani dan mengantisipasi dampak yang 
ditimbulkan mulai dari dijadikannya wisma atlet di Kemayoran sebagai rumah 
sakit khusus menangani PDP Corona. Menjadikan rumah sakit pemerintah sebagai 
rumah sakit rujukan, mengalokasikan sebagian besar anggaran untuk masalah ini, 
dan menjadikan kesehatan masyarakat sebagai prioritas pertama penanganan 
pemerintah.

Melalui Perpres 54 tahun 2020, anggaran belanja pemerintah pusat akan 
diutamakan untuk penanganan virus corona dan dipakai untuk mengatasi ancamaan 
yang membahayakan perekonomian nasional. Belanja akan difokuskan pada 
kesehatan, jaring pengaman sosial dan pemulihan perekonomian. Selain itu, 
pemerintah juga membuat aturan agar dana desa yang menjadi bagian dari TKDD 
(Transfer ke Daerah dan Dana Desa) dapat digunakan untuk jaring pengaman sosial 
berupa BLT (Bantuan Langsung Tunai) bagi warga miskin dan kegiatan penanganan 
wabah COVID-19.

Semua struktur negara bergerak dari yang paling atas sampai paling bawah. Dari 
pemerintah pusat sampai pemerintah daerah bahkan tingkat desa, RW dan RT. Semua 
lembaga formal menyatakan waspada dan darurat corona. Tidak ketinggalan para 
tokoh agama, tokoh masyarakat, seniman, politisi dan semua lapisan masyarakat, 
semua bersuara perang terhadap corona. Mereka mengambil peran masing-masing 
untuk menyelamatkan, diri, keluarga dan lingkungannya dari wabah COVID-19.

Tak ketinggalan juga kami dari lembaga Dewan Perwakilan Daerah Republik 
Indonesia. Sebagai representasi formal masyarakat daerah di pusat, kami juga 
mengambil inisiatif dan langkah cepat sebagai bentuk antisipasi penyebaran 
COVID-19. Jauh hari sebelum Jakarta ditetapkan darurat Corona, kami telah 
mengadakan rapat pimpinan dan mengambil keputusan agar anggota DPD RI yang saat 
itu masih kegiatan reses di daerah pemilihannya yang seyogyanya harus kembali 
lagi ke Jakarta untuk rapat paripurna, dimohon untuk tetap tinggal di daerah 
pemilihan masing-masing.

Pimpinan lembaga memberikan tugas khusus kepada semua senator untuk fokus 
membantu penanganan wabah corona bersama-sama dengan stakeholder dan masyarakat 
di daerah masing-masing. Seperti melakukan edukasi ke masyarakat terkait dengan 
saran pemerintah mengenai sosial distancing, work from home, pembagian masker 
dan hand sanitizer serta Alat Perlindungan Diri lainnya kepada para petugas 
medis serta masyarakat sembari melakukan fungsi pengawasan sebagai anggota DPD 
RI.

Kami juga telah mengambil keputusan untuk menghentikan/meniadakan SR (kegiatan 
ke luar negeri) ke sejumlah negara. Beberapa anggota yang seharusnya berangkat 
SR bulan Januari juga sudah dilarang. Beberapa anggota DPD RI juga sudah 
meminta agar Pilkada 2020 ditunda terlebih dahulu. Ini dilakukan sebelum 
kemudian DPR bersama pemerintah dan KPU membahas dan menyatakan akhirnya 
Pilkada 2020 ditunda.

Semua dilakukan dalam rangka perang terhadap wabah corona. Apapun jabatannya, 
bagaimanapun statusnya, di manapun keberadaannya, saat ini semua siaga perang 
terhadap COVID-19. Anjuran untuk physical distancing, anjuran untuk cuci tangan 
dengan sabun sesering mungkin, jaga jarak, tetap tinggal di rumah, work from 
home, beribadah dari rumah terus menggema setiap hari di semua media. Semua 
dilakukan dalam rangka membangun kesadaran bersama akan pentingnya untuk 
menghentikan laju penyebaran COVID-19.

Kesadaran semua pihak semakin meningkat. Persatuan dan kesatuan semakin terasa. 
Sikap gotong royong di tengah masyarakat semakin tumbuh. Semua bahu membahu 
untuk menghentikan penyebaran virus corona. Di banyak group medsos kita melihat 
peran serta masyarakat dalam membantu meringankan beban para pejuang tenaga 
medis kita. Di banyak sudut, kita juga melihat banyak lembaga-lembaga/relawan 
ataupun individu yang mengulurkan bantuan kepada saudara-saudara kita yang 
terkena dampak wabah corona. Semua dilakukan dengan hati yang tulus sebagai 
perwujudan dari rasa persatuan dan kesatuan kita sebagai sesama bangsa dan 
sesama makhluk ciptaan-Nya.

Melihat kondisi itu, tidak sedikit yang berpikir bahwa ternyata isu dan musuh 
bersama Corona bisa menyatukan bangsa kita. Dengan perang dan adanya musuh 
bersama, kita bisa menghilangkan perbedaan kepentingan. Dan bagi bangsa 
Indonesia, sejarah juga telah memberikan pelajaran bahwa kita pasti dan akan 
bersatu tatkala kita menghadapi musuh bersama. Ingat. Tatkala timnas kita 
bertanding melawan timnas negara lain, apalagi Malaysia, beda organisasi, beda 
kelompok, beda agama, beda politik, semua menyatu membela Timnas Indonesia.

Bagi umat beragama COVID-19 selain dianggap sebagai wabah, ada juga yang 
menganggap sebagai musibah dan ada juga yang mengaggap sebagai Ujian. Ujian 
kita sebagai bangsa untuk mengukur kekuatan dan kesiapan kita dalam menghadapi 
perang. Karena ke depan setiap saat selalu ada potensi untuk perang, perang di 
abad kini yang situasinya unprediktable, khususnya perang ekonomi, teknologi 
dan hankam. Ujian sekaligus pelajaran agar kita selalu waspada untuk menyiapkan 
skenario terburuk dalam berbagai bidang baik ekonomi, politik dan pertahanan 
keamanan jika suatu saat perang dan musuh bersama itu datang.

COVID-19 juga merupakan tantangan dan momentum untuk menunjukkan posisi dimana 
negara kita berada sebagai sebuah bangsa dalam hubungan antar bangsa. Ajang 
eksistensi sebuah bangsa. Bukan rahasia umum lagi sebelum Covid 19 mewabah, 
perang dagang Amerika dan China terus menghangat. Kini terlepas ada tidaknya 
hubungan corona dengan itu, tapi tampaknya China dan Amerika sama sama ingin 
menunjukan kekuatan dan kesiapan negara mereka dalam menghadapi perang ini. 
Demikian juga dengan Rusia, Jepang dan Korea Selatan. Dan China yang tadinya 
dibenci karena dianggap sebagai negara penyebar virus ini pertama kalinya, kini 
mulai di elu elukan karena kesiapan mereka, kecepatan mereka dalam merespons 
dan kesiagaan mereka dalam menyikapi wabah corona termasuk karena bantuan 
mereka ke berbagai negara.

Kita tidak perlu berdebat tentang siapa, kenapa dan apa yang sebenarnya terjadi 
di balik COVID-19 ini. Apakah ini murni wabah alamiah atau by design. Tapi yang 
terpenting, dalam menghadapi situasi seperti ini adalah saatnya kita BERSATU. 
Tingkatkan solidaritas meskipun kita renggangkan komunitas. Kita tingkatkan 
ikatan batin meskipun kita kurangi silaturahim. Dan sembari kita bergandengan 
tangan dan bersatu melawan virus corona, kita juga mempersiapkan diri untuk 
cepat bangkit karena kita semua harus yakin ini semua akan cepat berlalu. 
Mengutip seorang penulis, "orang hebat dan kuat itu bukan karena dia tidak 
pernah jatuh. Tapi seberapa cepat dia bangkit setelah jatuh." Ini juga berlaku 
untuk pemerintah dan suatu bangsa.

Pemerintah dan kita semua sedang diuji. Kita tidak boleh terpuruk. Kita harus 
cepat bangkit menjadi bangsa yang kuat. Pemerintah telah menetapkan 
landasan-landasan, program-program untuk menangani virus ini dan menghadapi 
dampak yang ditimbulkan atas wabah ini. Mari kita support bersama dengan peran 
dan posisi masing-masing. Karena pada kondisi seperti sekarang ini, tentunya 
pemerintah saja tidak akan sanggup tanpa didukung oleh seluruh lapisan 
masyarakat. Hilangkan perbedaan politik dan kepentingan. Satukan tekad. Tekad 
untuk menghentikan laju penyebaran COVID-19 dan mempercepat Bangsa ini 
mengatasi dampak sosial ekonomi dari wabah corona.

Sebagai renungan, jika kita semua sepakat ini adalah situasi perang dan corona 
adalah musuh bersama, berarti semua juga sepakat Para Tenaga Medis, perawat dan 
dokter adalah Para Pejuang dan Pahlawan. Jika dianggap sebagai perang, alangkah 
baiknya kita menempatkan para medis yang gugur dalam menjalankan tugas mulia 
ini kita hormati sebagai pahlawan kesehatan dan kita makamkan di makam 
pahlawan. Atau setidaknya di tempat pemakaman khusus untuk Pahlawan Kesehatan. 
Pemakaman khusus ini kita jadikan Monument/Memorial untuk mengingatkan betapa 
gigihnya para Pahlawan Kesehatan kita. Betapa keselamatan masyarakat lebih 
mereka utamakan dibandingkan dengan keselamatan dirinya.

Tempat khusus ini juga untuk menghilangkan stigma di masyarakat tentang jasad 
orang-orang yang meninggal karena wabah corona. Sehingga tidak ada lagi 
kelompok masyarakat yang menolak daerahnya dijadikan kuburan mereka yang 
meninggal karena wabah corona. Selain itu, Monumen/Memorial ini juga kelak 
untuk mengingatkan kepada kita semua, bagaimana cara bersikap terhadap suatu 
wabah. Dan betapa solidaritas, gotong royong, persatuan dan kesatuan perlu 
terus kita pupuk sebagai bekal abadi kita sebagai bangsa yang besar.

Terakhir, terlepas dari analisa dan teori apapun, kita sebagai hamba yang 
tentunya banyak dosa dan khilaf, moment stay at home, dapat kita gunakan untuk 
banyak-banyak melakukan kontemplasi diri. Dan banyak merenung bahwa pada 
akhirnya tidak ada satu kekuatan pun yang bisa menghalangi kekuatan dan 
kehendak Sang Pencipta. Dia yang menciptakan segalanya, alam semesta termasuk 
apa yang terkandung di dalamnya.

Sultan B. Najamudin Wakil Ketua III DPD RI

(akn/ega)






Kirim email ke