-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1805-stafsus-milediam



Sabtu 18 April 2020, 05:30 WIB

Stafsus Milediam

Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group | Editorial
 
Stafsus Milediam

MI/Tiyok
Ilustrasi.

SAYA menulis kolom berjudul ‘Paruh Waktu Mengurus Negara’ di forum ini beberapa 
waktu setelah Presiden Jokowi mengangkat sejumlah milenial sebagai staf 
khususnya. Saya mengkritik diizinkannya para milenial itu rangkap jabatan.

Selain menjabat staf khusus presiden, mereka menjabat chief executive officer 
di perusahaan startup yang mereka bangun. Ada dua hal yang saya khawatirkan 
sehingga saya melayangkan kritik itu. Pertama, para milenial staf khusus 
presiden itu pejabat negara yang mesti mengurus negara, dan mengurus negara itu 
berat.

Mengurus negara pantang ‘disambi’, menjadikannya sekadar pekerjaan sampingan. 
Kedua, rangkap jabatan bisa memunculkan konfl ik kepentingan. Konfl ik 
kepentingan itu terjadi. Staf Khusus Andi Taufan Garuda Putra menyurati seluruh 
camat di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi untuk mendukung program Relawan Desa Lawan 
Covid-19 yang diinisiasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan 
Transmigrasi.

Andi menyurati camat supaya melibatkan Amartha Mikro Fintek, perusahaan 
miliknya, dalam program tersebut.  Staf khusus milenial Adamas Belva Syah 
Devara juga rawan dituding punya konfl ik kepentingan ketika startup Ruangguru 
miliknya terlibat dalam program kartu prakerja.

Ini berbeda dengan Nadiem Makarim, yang bersih dari tuduhan ada konfl ik 
kepentingan ketika Gojek disebut-sebut diizinkan mengangkut penumpang saat 
pembatasan sosial berskala besar, karena dia meninggalkan perusahaan 
transportasi berbasis aplikasi yang didirikannya itu begitu diangkat menjadi 
menteri pendidikan dan kebudayaan.

Mungkin karena boleh nyambi, para staf khusus milenial itu kelihatan semringah 
ketika difoto seusai pengangkatan mereka diumumkan Presiden. Mereka berpose 
dalam foto tak serupa orang yang mendapat tugas berat. Pose mereka lebih mirip 
grup K-pop yang akan menggelar konser.

Seorang teman di media sosial mengomentari tulisan saya itu dengan menyebut 
staf khusus milenial itu sebagai staf khusus milediam. Selama beberapa waktu 
para staf khusus milenial itu terkesan tak terlihat atau terdengar kiprahnya, 
diam saja.

Sejak Presiden mengangkat mereka, ada yang mengkritik mereka sekadar aksesori, 
pajangan. Mungkin karena tak mau terus-menerus disebut aksesori, mereka mulai 
bekerja dan berbicara, tak lagi diam. Celakanya, sekali bekerja, dua di 
antaranya, yakni Andi dan Belva, memunculkan dugaan adanya konfl ik kepentingan.

Mungkin orang berpikir lebih baik mereka tetap menjadi staf khusus milediam, 
staf khusus milenial yang diam, daripada mereka bekerja tapi memunculkan konfl 
ik kepentingan. Apa yang dilakukan Staf Khusus Andi dan Belva masih sebatas 
perkara etika. Malaadministrasi, kata Ombudsman Indonesia.

Akan tetapi, konflik kepentingan sebagai pribadi atau kelompok dengan sebagai 
pejabat negara merupakan awal praktik korupsi. Oleh karena itu, sebaiknya para 
staf khusus milenial mundur dari posisi CEO.

Bila untuk menghindari covid-19 kita diminta menjaga jarak sosial dan fisik 
dengan orang lain, untuk menghindari virus korupsi para staf khusus milenial 
dianjurkan menjaga jarak dengan perusahaan mereka. Kekhawatiran terjadinya 
konfl ik kepentingan menyebabkan para staf khusus milenial itu tak leluasa 
bergerak.

Bila tak leluasa bergerak, mereka tetap menyandang predikat staf khusus 
milediam. Bila ingin predikat staf khusus milediam pupus, kalau ingin leluasa 
bekerja, mereka sebaiknya melepas posisi CEO. Namun, kalau sayang meninggalkan 
posisi CEO di perusahaan yang mereka bangun dengan cucuran darah, keringat, dan 
air mata, juga doa kerabat dan tetangga, ajukan saja pengunduran diri kepada 
Presiden.

Presiden Jokowi mengangkat para staf khusus milenial dengan risiko dikritik 
kiri-kanan. Janganlah para staf khusus milenial berperilaku yang tidak perlu 
yang bisa menambah kritik kepada Presiden. Itu bisa merecoki Presiden Jokowi 
yang sedang fokus memimpin perang melawan covid-19.
 





Kirim email ke