-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1987-melawan-diskriminasi




Senin 20 April 2020, 00:05 WIB

Melawan Diskriminasi

Administrator | Editorial
 

WABAH covid-19 menampilkan dua sisi manusia. Sisi terang dan sisi gelapnya. 
Bencana nasional virus korona jenis baru itu melahirkan simpati sekaligus 
antipati kemanusiaan.

Teramat banyak orang bersimpati terhadap sesama manusia yang menjadi korban 
covid-19. Simpati itu kemudian diwujudkan dalam bentuk solidaritas menggalang 
bantuan. Akan tetapi, masih ada pula orang antipati sehingga menolak tenaga 
medis, pasien yang sembuh, dan bahkan jenazah korban covid-19 ditolak untuk 
dimakamkan.

Sejak diumumkan pertama kali keberadaan pasien positif covid-19 pada awal 
Maret, kemudian grafik korban terus meningkat, mulai muncul inisiatif dan 
kesadaran warga untuk bersama-sama melawan virus itu.

Inisiatif itu menampakkan wajahnya dalam bentuk gotong royong menggalang dana, 
menghimpun bantuan, lalu menyalurkannya ke orang-orang yang terdampak pandemi. 
Di berbagai daerah juga muncul gerakan membantu tetangga yang terdampak 
pandemi. Ada juga warga yang secara sukarela meminjamkan rumah mereka untuk 
dijadikan tempat isolasi.

Presiden Joko Widodo memberikan apresiasi atas tumbuhnya berbagai bentuk 
solidaritas sosial di masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19. 
Kegotongroyongan itu diharapkan digaungkan terus karena pemerintah tak bisa 
sendirian mengatasi penyakit yang disebabkan virus korona baru ini.

Benar bahwa pemerintah tak bisa sendirian mengatasi covid-19. Melawan covid-19 
harus dijadikan gerakan bersama, gerakan rakyat. Seluruh lapisan masyarakat 
jangan berpangku tangan, tapi sama-sama turun tangan untuk melawan virus yang 
tak kasatmata, tapi mematikan itu.

Turun tangan bisa dimulai dari dalam keluarga dan komunitas terkecil di 
lingkungan tempat tinggal. Cara paling mudah ialah mematuhi anjuran untuk kerja 
dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah. Rajin cuci tangan dan 
pakai masker.

Menyisihkan sebagian harta untuk menolong sesama tentu perbuatan terpuji. 
Itulah sisi lain covid-19, yaitu lahirnya kesadaran di tengah masyarakat untuk 
membantu sesama tanpa ada sekat. Di lingkungan rukun tetangga, misalnya, mereka 
yang berpunya membantu sembako untuk tertangga yang terdampak pandemi.

Tidak kalah pentingnya ialah melibatkan diri memberikan penyuluhan tentang 
covid-19. Penyuluhan sangat urgen dilakukan di tengah munculnya fenomena 
diskriminasi terhadap korban covid-19. Fenomena itu muncul karena ada 
kesenjangan pengetahuan di masyarakat.

Sisi gelap manusia bisa juga muncul karena terlalu banyak menerima informasi 
yang salah dari media sosial. Tidak ada alasan rasional untuk menolak jenazah 
korban covid-19 jika seluruh prosedur dilalui.

Disinformasi paling banyak beredar di masyarakat ialah seakan-akan virus korona 
jenis baru itu bisa berjalan sendiri menghampiri korban. Karena itu, para 
tenaga medis yang sudah tunggang-langgang membantu pasien covid-19 juga ditolak 
di lingkungan tempat tinggal mereka. Ada juga pasien sembuh covid-19, orang 
dalam pemantauan, dan pasien dengan pengawasan yang ditolak tetangga mereka.

Membangun kesadaran publik dan rasa solidaritas sangat penting agar tidak 
terjadi distorsi informasi. Tugas itu tidak hanya ada di pundak pemerintah, 
tapi juga menjadi tanggung jawab para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan 
komunitas-komunitas.

Jika tidak ada kesenjangan pengetahuan tentang covid-10, niscaya tidak muncul 
lagi kecenderungan perilaku diskriminatif di tengah masyarakat. Sisi gelap 
manusia itu muncul dari kekhawatiran berlebihan tanpa ditopang kesadaran dan 
pengetahuan yang memadai.

Inilah saatnya melawan diskriminasi atas korban covid-19. Dilawan dengan 
menganakpinakkan gerakan solidaritas yang menginspirasi agar mampu merawat 
harapan hidup. Percayalah, fenomena sisi gelap manusia itu hanyalah setitik 
nila. Akan tetapi, setitik nila bisa merusak solidaritas sebelanga. Karena itu, 
kumandangkan terus sisi terang kemanusiaan.

 
 






Kirim email ke