Bung Djie yb,

Prinsip BERDIKARI hendaknya tidak diartikan secara ekstrim tidak menerima BANTUAN orang/negara lain. Tapi, harus bisa TEGAK BERDIRI sendiri tanpa harus dipapah orang/negara lain saja. Artinya, TANPA BANTUAN tetap bisa tegak berdiri dan hidup cukup baik! Dan itulah yang dijalankan Mao dan berlanjut dengan Deng dengan teguh dan konsekwen sampai kita lihat bersama bagaimana RRT menjadi negara maju dan cukup makmur yang menjadi "ANCAMAN" berat AS!

Terkadang saya merenungkan, kalau saja Deng saat jalankan "Reformasi dan Keterbukaan",awal atahun 1980-an ternyata "BELAJAR" dari Hongaria (lihat tulisan "Kapitalisme Negara dan Sosialisme Pasar"), timbul pertanyaan kenapa Hongaria yang mulai jalankan Sosialisme Pasar jauh lebih dahulu tidak bisa mencapai kemajuan yang dahsyat, sedang Tiongkok jauh berhasil lebih maju dan makmur??? Disinilah kelihayan Deng! Saat mengoreksi KESALAHAN Lenin dan Mao, tidak mencampakkan ajaran dan pikiran yang Benar, tapi tetap pertahankan prinsip yang mutlak harus dipegang! Saat memulihkan kapitalis hidup, tumbuh berkembang dan jalankan pasar, jangan lepaskan kendali ekonomi ditangan Pemerintah, tetap pertahankan ekonomi berencana dantidak kebablasan melepas semua kePASAR. Begitulah diawal tahun 90-an, masalah Pendidikan dan Kesehatan yang menentukan KEHIDUPAN Masyarakat itu berangsur-angsur ditarik kembalikan sebagai tanggungjawab pemerintah!

Begitu juga dengan bantuan asing, atau investasi modal asing darimanapun itu datangnya, termasuk yang seringkali dimaki-maki IMF dan Bank Dunia itu, jelas Tiongkok juga tidak sedikit menerima bantuan investasi modal juga dari IMF dan BD, tapi berkebalikan dengan Suharto, Tiongkok berhasil menggunakan "bantuan" asing itu untuk TEGAK BERDIRI SENDIRI, sedang Suharto justru ambruk! Mengapa? Karena Tiongkok berhasil gunakan bantuan asing itu untuk BELAJAR mengerjakannya sendiri, digunakan sebaik-baiknya untuk membangun dasar ekonomi nasionalnya, bukan untuk menggendutkan perut pejabat saja, sekalipun di Tiongkok juga tidak terhindar banyak pejabat koruptor! Bagaimanapun juga, pejabat-pejabat yang baik masih lebih banyak dan bisa lihat KEBERHASILAN yang terjadi!

Itulah bukti nyata, kebenaran teori dibuktikan dalam praktek! Bukan diperdebatkan secara teori, dari teori ke teori saja, ... dilihat saja bagai HASIL kenyataan yang terjadi!

Saya pun setuju, Prabowo sudah bukan jenderal aktif, dan sebagai Mentgeri Pertahanan juga tidak berkemampuan gerakkan pasukan darimanapun juga. Kecuali dia masih cukup kuat berpengaruh dan ada pendukung setianya yang kita tidak tahu, ... Yaa, diadu saja pendukung Jokowi lebih kuat atau pendukung Prabowo??? Tentu sulit kita ketahui, biar saja kita lihat bagaimana jadinya perjalanan pemerintah Jokowi 4 tahun lagi kedepan ini.

Salam,

ChanCT


kh djie 於 2020/4/29 下午 08:56 寫道:
Bung Chan,
Saya kira Prabowo sebagai menteri pertahanan tidak dapat menggerakkan pasukan. Kecuali kalau dia masih punya orang2 tersembunyi di Koppasus, yang setia dan berani menculik, membunuh pejabat2 penting militer pendukung Jokowi dan digantikan
oleh orang2nya.
Saya kira kok Prabowo sedang mempersiapkan diri, mempopulerkan diri untuk nanti
jadi presiden berikutnya.
Kalau semua mau dibikin langsung berdikari, saya kira tidak bisa seluruhnya. Beberapa bidang sudah bisa seperti pabrik pupuk Urea Sriwijaya, pabrik cement, pabrik Alumunium, beberapa pabrik kertas seperti di Padalarang, Letjes dan dekat Muntilan. Pabrik pulp, serat rayon, pemintalan sampai benang dan textile juga sudah bisa. Hanya saja ya masih banyak butuh modal besar. Tetapi modal besar penduduk Indonesia banyak di luar negeri, dibungakan di Bank yang aman. Rupanya orang kaya masih tidak merasa cukup aman, masih takut politik bisa terbalik, bisa terjadi kerusuhan dll. Jadi tidak semua telur ditaruh di satu keranjang. Orang kaya punya rumah di luar negeri. Sebagian kekayaannya ada di bank luar negeri. Kalau sampai ada ribut2 bisa lari dan diterima di luar negeri. Ada rumah di sana, ada uang,mungkin juga sudah punya ijin tinggal.....Sedangkan pemerintah kalau pinjam uang dari luar negeri bayar bunganya mahal. Ya, coba ditarik uang itu rupanya
dengan bond yang bunganya cukup tinggi. Tidak tahu apa cukup berhasil.
Kalau di Tiongkok dan Jepang, penduduknya hidup irit, banyak simpanannya di Bank Dalam Negeri. Ya, pemerintahnya banyak utang dari rakyatnya sendiri untuk membangun pabrik2, infrastruktur dll. Penduduknya juga senang, dapat penghasilan extra dari bunga. Saya kira pemikiran Rizal Ramli untuk kembangkan buah2an dan sayuran benar. Ini yang sebenarnya dengan kerja keras dan pemberian bibit, bisa cepat dilakukan. Kalau perlu kan bisa ditanam pohon buah sepanjang jalan desa. Orang desanya sendiri boleh metik sesukanya untuk dimakan, dan selebihnya dijual,. Mau dibagi rata atau untuk koperasi
desa bisa saja.
Saya pikir paling sedikit pertanian harus bisa berdikari. Pakai bibit unggul, pakai pupuk kandang, pupuk buatan, irrigasi, pompa air. Kalau bahan makanan murah, pekerja tidak akan tiap tahun mogok minta kenaikan gaji. Gaji di Vietnam rendah, tetapi bahan makanan murah, jadi cukup untuk hidup. Kalau mau bikin investor tertarik untuk investasi di Indonesia, ya gaji buruh harus murah dp. Vietnam. Buruh yang gajinya sedikit hanya bisa hidup cukup kalau bahan makanan murah. Rumah untuk buruh perlu disubsidi, supaya bisa hidup layak.
Habis ini bisa dipikirkan usaha lain apa yang bisa Berdikari.
Sampai kini kok belum kelihatan menyolok kemajuan di Pesantren, yang mau dijadikan unit usaha rupanya dulu oleh Ma'ruf Amien? Tidak tahu sudah jalan sampai kemana?

Op wo 29 apr. 2020 om 13:51 schreef ChanCT [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>>:

    Bung Lusi yb,

    Tak perlu diragukan pemerintah RI sampai sekarang ini tetap
    dibawah kengkang Neo-lib, ...! Sedang Prabowo hanyalah mantan
    jenderal yang berlumuran darah, yang lebih berbahaya dan merugikan
    rakyat banyak seandainya berhasil menjadi RI-1! Masalahnya entah
    Jokowi masih berkemampuan tidak mengendalikannya, ... ikut
    sertanya dalam kabinet membuat orang jadi ketar-ketir saja.


    Salam,

    ChanCT


    Lusi D. 於 2020/4/29 下午 06:04 寫道:
    Bung Chan yb.

    Nah setelah uraian teoritis bung itu, lalu kongkritnya pemerintahan RI
    sekarang ini mengikuti kaidah perekonomian berdikari atau neo-liberal?
    Ini yg saya tanyakan.
    Kalau soal Prabowo bagaimana penilaian bung. Yang ramai dibicarakan
    orang kan langkah-langkah kongkrit dia selama jadi menteri dibanding dng
    menteri-menteri lainnya. Baik yang menyangkut msl Natuna maupun dalam
    mengatasi wabah Corona ini.

    Salam
    Lusi.-



    Am Wed, 29 Apr 2020 16:55:31 +0800 schrieb
    ChanCT<[email protected]>  <mailto:[email protected]>:

    Bung Lusi yb,

    Ditinjau dari sudut ekonomi, bisa juga dikatakan kontradiksi
    Ekonomi-Berdikari dengan Ekonomi-Neolib. Dan secara umum bisa
    menyerang kebijakan-kebijakan pemerintah yang menjurus dan hanya
    menguntungkan ekonomi-neolib. Hanya saja secara konkrit tetap juga
    harus memilah-milah mana yang harus diutamakan/didahulukan dan mana
    yang masih bisa ditunda. Melihat kondisi konkrit kekuatan rakyat yang
    melawan dan dampak kerugian yang membuat kehidupan rakyat lebih
    menderita.

    Sedang pembicaraan kali ini, bermula dari pernyataan Prabowo yang
    menyerukan rakyat bersatu dan bisa mendukung keputusan Jokowi
    mengatasi pandemi Covid-19, ... seolah-olah mendukung pernyataan
    Prabowo ini jadi melupakan kekejaman nya dimasa lalu! Itu saja, ...


    Salam,

    ChanCT


    Lusi D. 於 2020/4/28 下午 10:26 寫道:
    Konsep bung Chan ttg "Kekuasaan RAKYAT dalam arti sesungguhnya" spt
    tulisan dibawah sebenarnya itu apa dan kekuasaan yang sekarang ini
    bung sebut apa?

    Kalau ditinjau dari segi ekonomi politik yang menjadi landasan
    sistim masyarakat kan bisa kita simpulkan sbg kontradiksi antara
    pandangan ekonomi-berdikari kontra ekonomi neo-liberal. Apa tidak
    begitu bung Chan? kalau kita teliti secara kongkrit pihak-pihak
    mana yang mengikuti faham neo-liberal dan mana yang memperjuangkan
    pandangan ekonomi berdikari?
    Lusi.-



Am Sun, 26 Apr 2020 08:28:57 +0800
    schrieb ChanCT<[email protected]>  <mailto:[email protected]>:
    Betuuul "SISTIM Masyarakat" di Indonesia itulah DASAR masalahnya!
    Yang jelas harus dirubah secara radikal, sejak 17 Agustus 1945
    sekalipun menyatakan diri MERDEKA, tapi hakekatnya BELUM MERDEKA
    sepenuhnya, BELUM berhasil menegakkan Kekuasaan RAKYAT dalam arti
    sesungguhnya sampai sekarang ini! Lalu?

    Kenyataan sampai sekarang yang dinamakan kekuatan rakyat juga BELUM
    berhasil tegak berdiri! Menampilkan tokoh nya sendiri maju kedepan
    yang bisa diterima secara mayoritas mutlak rakyat Indonesia juga
    BELUM MAMPU, ... bagaimana bicara menegakkan kekuasaan RAKYAT???

    Jadi, ditingkat perjuangan sekarang, yaaa harus memperjuangkan apa
    kiranya yang bisa dicapai lebih baik bagi rakyat banyak, sesuai
    keadaan subjektif dan objektif yang ada saja dahulu! TIDAK bisa
    memaksakan mimpi indah kita jadi kenyataan kalau melampaui
    kenyataan objektif yang dihadapi! Yang terjadi justru akan
    kebalikkan dari apa yang kita mimpikan itu, CELAKAAA dan
    penderitaan lebih PARAH bagi rakyat banyak, ...



    'Lusi D.'[email protected]  <mailto:[email protected]>  [GELORA45] 於 
2020/4/25 下午 11:29
    寫道:
    Saya banyak sependapat dng urain bung. Diantara msl yang bung
    kemukakan sbg "keadaan bangsa kita sekarang ini yang sedang
    menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan yang
    bertumpuk-tumpuk.". Kalau ditinjau dari segi ekonomi politik yang
    menjadi landasan sistim masyarakat kan bisa kita simpulkan sbg
    kontradiksi antara pandangan ekonomi-berdikari kontra ekonomi
    neo-liberal. Apa tidak begitu bung Manap? kalau kita teliti secara
    kongkrit pihak-pihak mana yang mengikuti faham neo-liberal dan
    mana yang memperjuangkan pandangan ekonomi berdikari?

    Salam
    Lusi.-

    Am Sat, 25 Apr 2020 12:06:19 +0000
    (UTC) schrieb "S [email protected]  <mailto:[email protected]>  
[GELORA45]"
    <[email protected]>  <mailto:[email protected]>:
         Bung Lusi yb.
         Saya mengapresiasi tanggapan bung atas pandangan yang sudah
    saya kemukakan menyangkut pernyataan Prabowo. Sebagaimana bung
    bisa baca sendiri , saya memulai tulisan saya dengan kalimat:
    "Terlepas dari siapa Prabowo dan berbagai pandangan serta
    pendapat terhadap Prabowo........." .  Dari situ bisa dilihat
    bahwa saya tidak menyangsikan apa yang telah dilakukan oleh
    Prabowo sesuai dengan fungsi dan kedudukannya dalam masyarakat
    sejak dari jaman  Orba Soeharto berkuasa maupun sesudah itu
    bahkan sampai sekarang. Namun demikian saya melihat keadaan serba
    sulit yang dihadapi oleh bangsa kita dewasa ini. Dalam keadaan
    demikian persatuan seluruh bangsa dan ketenangan dalam masyarakat
    sangat diperlukan. Itulah sebabnya ketika membaca sikap Prabowo
    yang menghindari perpecahan bangsa  maka saya anggap merupakan
    sikap yang positif dan perlu dihargai. Sebagaimana kita ketahui
    bersama bahwa Prabowo itu mendapat dukungan yang luas dari elemen
    pemecah belah bangsa, dari elemen non tolerans.. Andaikan Prabowo
    masih tetap berpegang pada pendiriannya yang semula, kita tidak
    bisa membayangkan seperti apa keadaan bangsa kita sekarang ini
    yang sedang menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan yang
    bertumpuk-tumpuk. Karena itulah maka hal-hal yang sudah kita
    ketahui selama ini tentang Prabowo, bisa dikesampingkan dulu
    paling tidak untuk sementara. Jaga dulu persatuan  dan
    ketenteraman demi keutuhan bangsa kita ini. Salam
      S.Manap.

    Den lördag 25 april 2020 13:22:19 CEST, 'Lusi D.'
    [email protected]  <mailto:[email protected]>  [GELORA45]<[email protected]> 
 <mailto:[email protected]>  skrev:

    Yah bung Manap. Tapi Prabowo nampaknya satu-satunya jendral
    Indonesia yg mampu melancarkan strategi dan tatik dalam
    mengoperasikan peranan kementeriannya sekarang ini, termasuk
    penggelembungan harga pembelian alutsista.
    Kalau menurut bung Manap, sesuai dengan waktu kejadiaannya baik
    pembunuhan di Timtim maupun peristiwa perkosaan massal di Jakarta
    dulu itu yang bertanggungjawab dlm setiap operasi militer
    tertinggi, kan Wiranto, termasuk pendapat Munir dlm salah satu
    siaran talkshow sebelum berangkat ke Nederland. Mengapa kok harus
    dia yang jadi sasaran tuduhan thd operasi militer itu dan
    menegapa kok tidak di adakan dan diputuskan dalam pengadilan
    militer?

    Salam untuk Bung Manap.
    Lusi.-

    Am Fri, 24 Apr 2020 18:09:53 +0000 kan panglimanya yang paling
    (UTC) schrieb "S [email protected]  <mailto:[email protected]>  
[GELORA45]"
    <[email protected]>  <mailto:[email protected]>:
        " Saya tidak mau merupakan bagian dari perpecahan itu
    berapapun ongkos yang harus kita bayar. Betapapun sedihnya
    perasaan kita harus kita kesampingkan demi kepentingan yang
    lebih besar". Kalimat itu diucapkan oleh Prabowo. Terlepas dari
    siapa Prabowo dan berbagai pandangan serta pendapat terhadap
    Prabowo, namun apa yang diucapkan oleh Prabowo sesuai dengan
    kutipan di atas patut dihargai. Karena yang kita utamakan
    adalah kepentingan bangsa, bukan kepentingan golongan.
    Lebih-lebih lagi bukan kepentingan segelintir kecil kaum
    intoleran yang  selama ini selalu mendatangkan perpecahan
    bangsa dan yang selama ini  merupakan pendukung Prabowo,
    termasuk  usaha mereka mendukung Prabowo dalam pemilihan
    Presiden yang sudah 2 kali dilaksanakan. S.M. Den torsdag 23
    april 2020 04:55:15 CEST, Sunny [email protected]  
<mailto:[email protected]>
    [GELORA45]<[email protected]>  <mailto:[email protected]>  
skrev:


    Berapa banyak jumlah rakyat miskin?
    On Thu, Apr 23, 2020 at 4:05 AM [email protected]  
<mailto:[email protected]>
    [GELORA45]<[email protected]>  <mailto:[email protected]>  
wrote:



    Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo
    Subianto menilai keputusan Presiden Joko Widodo untuk
    kepentingan rakyat yang paling miskin dan paling lemah. Lewat
    sebuah video di akun Twitter pribadinya, Rabu (22/4) malam,
    Prabowo bercerita mengenai apa yang dirasakannya selama berada
    dalam kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo. "Saya bersaksi
    bahwa beliau (Jokowi) terus berjuang demi kepentingan bangsa,
    negara, dan rakyat Indonesia. Saya melihat dari dekat cara-cara
    pengambilan keputusan beliau, dan selalu yang menjadi dasar
    pemikiran beliau adalah keselamatan rakyat yang paling miskin
    dan rakyat yang paling lemah," kata Prabowo dikutip dari video
    pada akun @Prabowo, Kamis (23/4/2020) dini hari. Lebih lanjut,
    Prabowo mengaku telah melihat langsung komitmen Presiden Jokowi
    untuk membersihkan pemerintah Indonesia dari korupsi. Baca
    juga: Di tengah pandemi, Barata Indonesia berhasil ekspansi ke
    Armenia Namun, Prabowo tidak menyebut kolusi dan nepotisme
    sebagai bagian dari kesaksiannya tersebut. Selama ini, kata
    Prabowo, pemberantasan korupsi adalah bagian penting dari
    komitmen pemerintahan Presiden Jokowi. Untuk itu, sebagai
    pimpinan tertinggi Partai Gerindra, Prabowo meminta seluruh
    kader Partai Gerindra untuk percaya kepada pemerintah. Ia
    mengatakan bahwa Pemerintah tidak akan mungkin mengambil
    keputusan yang merugikan rakyat, bangsa, dan negara Indonesia.
    Prabowo meminta semua pihak untuk bersatu karena bangsa ini
    tengah berhadapan dengan suatu bencana, yaitu pandemi COVID-19.
    "Suatu virus yang cukup membahayakan apabila kita sembrono dan
    tidak mengambil langkah-langkah yang harus diambil," kata
    Prabowo. Dalam keadaan yang merisaukan saat ini, kata Prabowo,
    bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan semangat, apalagi
    sampai berputus asa. "Dalam keadaan merisaukan ini, justru
    dibutuhkan semangat, ketegaran, keberanian, dan yang paling
    utama adalah rasa persaudaraan, rasa persatuan, kita harus
    kompak" kata Prabowo menegaskan. Baca juga: MUI: Tidak mudik
    sama dengan jihad kemanusiaan Ia berpendapat bahwa rakyat dan
    pemerintah harus saling mendukung, bukan saling menyalahkan.
    "Sebagai manusia, kita pasti membuat kesalahan, kita pasti
    membuat sesuatu yang dinilai kurang, tetapi justru di saat ini
    kita harus saling mengisi kekurangan kita masing-masing, kita
    harus saling memperbaiki kalau ada di antara kita yang kurang
    atau salah. Bukan kita caci maki, bukan kita marah-marah, bukan
    kita mengejek," kata Prabowo. Prabowo mengungkapkan alasannya
    bergabung dengan pemerintah karena tidak ingin ada perpecahan.
    Ia juga telah putuskan waktu itu untuk melakukan langkah besar
    berupa rekonsiliasi nasional. "Dengan mengesampingkan
    kepentingan partai, perasaan pribadi, dan segala sesuatu yang
    menjadi pikiran-pikiran kita pada saat itu. Demi satu hal,
    yaitu kerukunan nasional, persatuan nasional, dan rekonsiliasi
    nasional," kata Prabowo. Untuk itu, Prabowo mengaku enggan
    menjadi bagian dari perpecahan Indonesia berapa pun ongkosnya.
    Baca juga: Ade Yasin siapkan sanksi tegas pelanggar PSBB di
    Bogor Menteri Pertahanan RI itu meminta semua pihak menerima
    dengan lapang dada dan mengesampingkan perasaan. "Saya tidak
    mau merupakan bagian daripada perpecahan itu berapa pun ongkos
    yang harus kita bayar. Betapa pun sedihnya perasaan kita harus
    kita kesampingkan demi kepentingan yang lebih besar," kata
    Prabowo. Pewarta: Abdu Faisal Editor: D.Dj. Kliwantoro

Kirim email ke