Sayang sekali tantenya, walaupun belajar macam-macam kerja badan di desa, tidak 
mampu mengapresiasi apa yang sudah dipelajari dan mentalitasnya pun tak 
berubah!! Mengenai “, the country did not make any progress. On the contrary, 
the economy was on the verge of collapse” , itu koornya orang-orang yang 
anti-RBKP dan anti-Mao dan pro Deng Xiaoping. Ya logis! Tidak heran!

Lain sekali pendapat Prof. Wertheim tentang ekonomi Tiongkok selama RBKP.

Wim F. Wertheim dalam artikelnya :”Lasting Significance Of Mao- Model For Third 
World Countries”, menulis sebagai berikut:

”Dalam pembicaraan dengan Tan Zhenlin yang, setelah direhabilitasi pada tahun 
70-an, menduduki jabatan yang penting lagi (dia pernah dikritik dengan tajam 
pada akhir tahun 60-an), dia bicara tentang “kemacetan” ekonomi sepenuhnya 
selama Revolusi Kebudayaan. Tetapi, toh dia harus mengakui bahwa kenaikan 
produksi pertanian rata-rata selama 10 tahun itu mencapai sekurang-kurangnya 
3.4% per tahun; satu angka yang menurut dia sendiri sebetulnya jauh lebih 
tinggi. Saya mencoba menjelaskan bahwa dibanding dengan negeri-negeri Dunia 
Ketiga lainnya, itu adalah sebuah hasil yang luar biasa, bukannya sesuatu yang 
mengecilkan hati”.

“Secara keseluruhan, apakah model Mao dari permulaan tahun 60-an menghasilkan 
kemajuan dalam perkembangan desa? Yang paling mengesankan adalah jawaban yang 
kami terima ketika kami tanya dalam periode waktu yang mana diambil 
inisiatif-inisiatif penting dalam Komune Rakyat atau Brigade. Dalam jawabannya, 
mereka selalu memilih tahun-tahun yang justru jatuh dalam periode 10 tahun yang 
mereka katakan ”hilang” itu, yang menurut kader-kader Peking, periode di mana 
”the gang of four” berkuasa, mulai dibangun atau diperbesar bendungan-bendungan 
atau bangunan penyim-panan air”. 

”Bahkan di Komune yang kurang makmurpun, Stiefel dan saya tidak  berhasil 
melihat  ”10 tahun yang hilang” itu. Misalnya, satu bendungan yang pada tahun 
1964 saya lihat sudah runtuh dalam tahun-tahun be-rikutnya, tetapi pada tahun 
70-an sudah dibangun satu bangunan penyimpan air yang sama sekali baru”.


Dalam ”The Battle for China”s Past”, Mobo Gao menderetkan nama-nama Meisner 
1986, Lardy 1978, Rawski 1980 dan 1993, Endicott 1989, Bramall 1993, Chow 1985, 
Perkins 1985, Field 1986, Hinton 1983 dan Gao 1999 yang tulisan dan 
penelitiannya tentang keadaan ekonomi selama RBKP sepenuhnya bertentangan 
dengan  klaim orang-orang revisionis pendukung Deng yang mengatakan ekonomi 
Tiongkok hancur



Sent from Mail for Windows 10

From: kh djie [email protected] [GELORA45]
Sent: Thursday, 30 April 2020 17:15
To: Gelora45
Subject: [GELORA45] RBKP

  
Bung Chan,
Ada satu bagian kecil tulisan tante saya (ayahnya saudara lain ibu dengan kakek 
saya) di buku reunie famili Djie :
Later I joined my husband at the Chinese Embassy in Morocco, but the time we 
retured, we landed in the middle of the Cultural Revolution, which had nothing 
cultural about it. Soon afterwards we were sent to the countryside to do manual 
labour in one of the "May the Seventh" Cadres School. Here we learned all the 
farm-work, such as reaping the wheat, planting rice, even making bricks and 
building our own dormitories. During this period, the country did not make any 
progress. On the contrary, the economy was on the verge of collapse. It was a 
time nobody seemed to be doing what they should, everybody was engaged in 
"carrying out the revolution", which in fact was wasting time on irrelevant 
political movements.
Fortunately things changed since the late seventies with the reform and opening 
to the outside world. Today China looks completely different from when I came 
here in the fifties.
Looking back, I feel I have lived through history. So many things have happened 
in the country and in the world on the whole.
Di jaman Jepang tante diajari sendiri oleh ayahnya berbahasa Jerman. Kemudian 
sekolah di Belanda, Inggris hingga lulus dari University of London. Kemudian 
belajar jadi penterjemah dan tolk di Interpreters' School of the University of 
Geneva.
Pulang ke Tiongkok, dipekerjakan sebagai docent di Foreign Languages Institutes 
in Beijing. Mengajar oral Inggris dan Perancis di beberapa sekolah kader, yang 
kadernya akan dikirim ke luar negeri. Tante bisa omong lancar 7 bahasa. 
Kemudian kerja di Kementerian Luar Negeri. Gara2 pendidikannya lama di negeri 
Barat, dia dan suaminya dikirim ke desa. Padahal suaminya dulu anggota TPR dan 
pernah jadi sekretaris dari Zhou En Lai. Tante bersahabat baik dengan istri 
sultan Jusuf dari Marokko dulu. Mereka omong dalam bahasa Perancis. Di usia 
lanjut tante diminta jadi tolknya Hu Jintao kalau keluar negeri.
KH


Kirim email ke