Soal penganiayaan selama RBKP, jangan lupa itu juga dialami oleh pengikut Mao. Jangan lupa anak-anak kaum elit revisionis juga membentuk gang-gangnya sendiri dan menangkapi lawan-lawannya pengikut RBKP… Jangan lupa apa yang dilakukan jenderal TPRT yang menindas dan menyebabkan ribuan yang mati…. Dan jangan lupa juga adanya pemutar balikkan fakta untuk menghitamkan RBKP. Misalnya, kasus anaknya Deng Xiao-ping. Kaum revisionis mengatakan bahwa Deng Pu-fang menjadi lumpuh karena dilempar keluar melalui jendela oleh Garda Merah. Yang sebenarnya terjadi adalah Deng Pu-fang berusaha melarikan diri dari kamar di mana dia ditahan, melalui pipa penyaluran air kotor. Pipa tua itu ter-nyata tidak cukup kuat untuk menahan tubuhnya, maka jatuhlah dia. Kecelaka-an itulah yang membuatnya cacad. (Mobo Gao “The Battle for China’s Past).
Sent from Mail for Windows 10 From: kh djie [email protected] [GELORA45] Sent: Thursday, 30 April 2020 17:15 To: Gelora45 Subject: [GELORA45] RBKP Bung Chan, Ada satu bagian kecil tulisan tante saya (ayahnya saudara lain ibu dengan kakek saya) di buku reunie famili Djie : Later I joined my husband at the Chinese Embassy in Morocco, but the time we retured, we landed in the middle of the Cultural Revolution, which had nothing cultural about it. Soon afterwards we were sent to the countryside to do manual labour in one of the "May the Seventh" Cadres School. Here we learned all the farm-work, such as reaping the wheat, planting rice, even making bricks and building our own dormitories. During this period, the country did not make any progress. On the contrary, the economy was on the verge of collapse. It was a time nobody seemed to be doing what they should, everybody was engaged in "carrying out the revolution", which in fact was wasting time on irrelevant political movements. Fortunately things changed since the late seventies with the reform and opening to the outside world. Today China looks completely different from when I came here in the fifties. Looking back, I feel I have lived through history. So many things have happened in the country and in the world on the whole. Di jaman Jepang tante diajari sendiri oleh ayahnya berbahasa Jerman. Kemudian sekolah di Belanda, Inggris hingga lulus dari University of London. Kemudian belajar jadi penterjemah dan tolk di Interpreters' School of the University of Geneva. Pulang ke Tiongkok, dipekerjakan sebagai docent di Foreign Languages Institutes in Beijing. Mengajar oral Inggris dan Perancis di beberapa sekolah kader, yang kadernya akan dikirim ke luar negeri. Tante bisa omong lancar 7 bahasa. Kemudian kerja di Kementerian Luar Negeri. Gara2 pendidikannya lama di negeri Barat, dia dan suaminya dikirim ke desa. Padahal suaminya dulu anggota TPR dan pernah jadi sekretaris dari Zhou En Lai. Tante bersahabat baik dengan istri sultan Jusuf dari Marokko dulu. Mereka omong dalam bahasa Perancis. Di usia lanjut tante diminta jadi tolknya Hu Jintao kalau keluar negeri. KH
