-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://www.antaranews.com/berita/1458675/dampak-ekonomi-covid-19-persaingan-as-china-semakin-ketat


Dampak ekonomi COVID-19, persaingan AS-China semakin ketat

Jumat, 1 Mei 2020 22:11 WIB

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar menyampaikan pidato kunci dalam 
seminar daring berjudul “Smart Economic Partnership: Potentials for Cooperation 
between Indonesia and the American and European Region”, dari Jakarta, Jumat 
(1/5/2020). (ANTARA/Yashinta Difa)
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar menyebut 
persaingan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan China akan semakin ketat 
sebagai dampak wabah COVID-19.

“Bahkan sebelum wabah COVID-19, kita harus mengantisipasi situasi ini agar 
tidak menjadi semakin serius di masa depan,” kata Mahendra dalam seminar daring 
dari Jakarta, Jumat.

Baca juga: Trump yakin virus corona berasal dari lab Wuhan-China

Baca juga: Trump salahkan China atas penyebaran virus corona

Wakil Menteri Perdagangan RI periode 2010-2011 itu menilai persaingan 
geopolitik AS-China mungkin tidak berdampak pada ekonomi Indonesia yang 
memiliki beragam mitra perdagangan, investasi, dan ekonomi.

“Tetapi dalam hal stabilitas politik, itu soal lain,” ujar dia.

Untuk itu, Indonesia secara konsisten mendukung solusi yang melibatkan 
organisasi multilateral, internasional, dan regional agar berfungsi baik dalam 
menangani situasi sehubungan dengan geopolitik.

Selain mengantisipasi semakin buruknya situasi ekonomi akibat persaingan 
AS-China, kata Mahendra, negara-negara juga perlu mengambil pembelajaran bahwa 
rantai pasok global seharusnya tidak bergantung hanya pada satu sumber.

Dengan adanya wabah COVID-19, pemerintah dan industri telah mulai memahami 
manajemen risiko jika hanya memiliki sumber pasokan tunggal, yang akan sangat 
terganggu akibat kebijakan karantina wilayah yang diberlakukan di banyak negara.

“Jadi mereka mulai melihat (pentingnya) diversifikasi, daripada hanya 
mengutamakan efisiensi,” tutur Mahendra.

Merujuk pada laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan bahwa 
ekonomi global akan menghadapi resesi dan perlambatan hingga -3 persen akibat 
COVID-19, Mahendra menyebut situasi ekonomi global akan menjadi lebih buruk.

“Sepertinya kita mungkin harus menanggung (perlambatan hingga) -5 persen atau 
bahkan lebih. Jadi resesi akan lebih parah dari yang diproyeksikan IMF, yang 
terutama disebabkan oleh resesi yang lebih parah di AS dan Eropa,” kata dia.

Baca juga: Pertama di AS, Missouri tuntut China bayar kerugian akibat COVID-19

Baca juga: AS minta China revisi aturan ekspor APD corona

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020






Kirim email ke