Lho, ... kenyataan Lenin 150 Tahun di Tiongkok juga kembali mengangkat karya "NEGARA dan REVOLUSI" ini, ...! Dengan mengangkat dibutuhkannya DIKTATUR PROLETARIAT dan kebenaran kekuasaan Partai Tunggal, PKT di Tiongkok! Dengan ketegasan menentang pemikiran Sosdem yang hendak mengembangkan "demokrasi" barat yang membagi kekuasaan negara dalam 3 kekuasaan, Yudikatif, Legislatif, Eksekutif dan menganjurkan adanya multi partai, ...!

Darimana ada kenyataan HASIL PERJUANGAN 1,4 Milyar Rakyat Tiongkok dikatakan pepesan kosong dan merupakan penghisapan dan penindasan di Tiongkok kapitalis? Begitu MENDERITA penindasan dan kemiskinan yang masih terjadi, ... padahal kenyataan Tiongkok mampu MEMBUKA PINTU, BERANI membebaskan ratusan juta rakyat keluar negeri, baik melancong maupun belajar/sekolah! TIDAK lagi seperti masa Stalin dan 30 tahun masa Mao harus MENUTUP DIRI, membangun Tembok Berlin, agar rakyat tidak lari keluar! Mampu bersaing didunia internasional, termasuk di WTO dan WHO, .... BERHASIL nyata mencapai kemenangan Perang Melawan Covid-19! Itulah kenyataan HASIL NYATA perjuangan 1,4milyar rakyat Tiongkok yang telah menjadi pesaing BERAT Amerika didunia ini!



Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/3 上午 12:35 寫道:

Saran untuk mengingat kembali karya Lenin “Negara dan Revolusi” jelas tidak akan diterima, apalagi dipraktekkan oleh orang-orang reformis, anarkis dan revisionis. Karena, mereka tidak  mampu membantah kebenaran yang diungkapkan Marx, Engels dan Lenin yang masih tetap terbukti benar dalam kenyataan dewasa ini. Makanya antek remo bicara tentang “kenyataan”. Tapi kenyataan penghisapan dan penindasan di tiongkok kapitalis, juga tidak mau diakuinya....Akhirnya hanya bias mengobral pepesan kosong!!!

Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

*From: *arif harsana [email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]>
*Sent: *Thursday, 30 April 2020 10:09
*To: *yahoogroups <mailto:[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]>; Daeng <mailto:[email protected]>; Farida Ishaja <mailto:[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto <mailto:[email protected]>; Harry Singgih <mailto:[email protected]>; TanSie Tik URECA <mailto:[email protected]>; Sungkono A. <mailto:[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]>; WIN DJOYO <mailto:[email protected]>; Lingkar Sitompul <mailto:[email protected]>; Gelora <mailto:[email protected]>
*Subject: *[GELORA45] AW: [temu_eropa] Lenin Bersama Kita

Dalam rangka memperingati 150 tahun hari lahir Lenin, saya kira ada baiknya jika kita mengingat kembali karya penting Lenin, yg dirumuskannya dlm bukunya yg berjudul  "Negara dan Revolusi".

Bertolak dari ajaran Marx ttg hakekat negara dlm masyarakat berklas, Lenin memperdalam ttg teori negara dari segi pandang marxis yg berlawanan dg teori ttg negara yg dianut para kaum reformis dan kaum anarkhis.

Berikut ini artikel ringkasan buku tsb.

Selamat membaca.

Klik: https://www.militanindonesia.org/analisa-perspektif/politik/8675-belajar-dari-lenin-mengenai-negara-dan-revolusi.html

Salam,

Arif H.

Gesendet von Yahoo Mail auf Android <https://go.onelink..me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature>

    Am Mi., Apr. 29, 2020 at 19:24 schrieb Tatiana Lukman
    [email protected] [temu_eropa]

    <[email protected]>:

    enin Bersama Kita
    Salah satu masalah penting yang dibahas Lenin dalam Negara dan
    Revolusi adalah negara. Untuk mengerti negara, pertama-tama orang
    harus memahami kelas dan kontradiksi antara kelas-kelas dalam
    masyarakat yang menimbulkan perjuangan kelas
    29 April 2020
    •
    Vladimir Ilyich Lenin/Radio Free Europe
    Koran Sulindo – Pada 22 April 1870 – sekitar 150 tahun lalu –
    lahir Vladimir Ilyich Lenin. Lalu, 47 tahun kemudian, dengan
    sukses, Lenin memimpin revolusi kaum buruh (dikenal sebagai
    Revolusi Oktober) yang pertama di dunia dengan menerapkan marxisme
    sesuai dengan kondisi ekonomi dan masyarakat konkret di Rusia.
    Pandangan dan pengalaman dalam mempersiapkan revolusi,
    mempertahankan kekuasaan kelas proletar dan membangun sosialisme
    tercurah dalam karya-karyanya yang akan terus menjadi panduan kaum
    revolusioner dan rakyat yang terhina dan tertindas di dunia.
    Kalau orang ingin dengan jujur memahami kebesaran dan otoritas
    Lenin yang diakui oleh kaum revolusioner, mau tak mau orang harus
    mempelajari karya-karya besarnya, antara lain, Apa Yang Harus
    Dikerjakan, Negara dan Revolusi dan Imperialisme, Tingkat
    Tertinggi Kapitalisme.
    Lebih dari satu abad telah berlalu, konkretnya 113 tahun, namun
    keadaan dan perkembangan ekonomi dunia di abad 21 membenarkan dan
    mengkonfirmasi analisa Lenin tentang Imperialisme, Tingkat
    Tertinggi Kapitalisme. Artinya kapitalisme persaingan bebas sudah
    mencapai puncak perkembangannya menjadi kapitalisme monopoli.
    Peralihan itu disebabkan antara lain, karena produksi semakin
    terkonsentrasi dan modal semakin terpusat di tangan sejumlah kecil
    kapitalis monopoli. Investasi besar dan efisiensi korporasi
    multinasional yang menguasai sumber daya alam, produksi,
    distribusi dan pasar membuat persaingan dari perusahaan kecil
    hampir tidak mungkin.
    Kita lihat kenyataannya sekarang. Produksi makanan dan minuman
    dimonopoli oleh 10 korporasi berikut: Unilever, Danone, Coca Cola,
    Nestle, Kellogg’s, Mars, Pepsico, General Mills, Associated
    British Foods, Mondelez International. Sementara 6 korporasi
    multinasional menguasai 75% pasar global agrokimia. Mereka adalah
    Dow, DuPont, BASF, Syngenta, Bayer dan Monsanto. Tahun 2016,
    Monsanto berfusi dengan Bayer.
    Fusi dan akuisisi di kalangan korporasi multinasional membuat
    modal semakin terkonsentrasi lagi; dengan demikian profit semakin
    besar mengalir ke pundi-pundi kaum kapitalis monopoli dan semakin
    besar juga kekuasaannya dalam ekonomi dunia. Tak heranlah kalau di
    situs Global Justice Now kita menemukan pernyataan bahwa
    pendapatan 10 korporasi terbesar di dunia lebih besar dari
    pendapatan 180 negeri ‘miskin’. Negeri yang disebut ‘miskin’ di
    sini dapat dipastikan negeri yang kaya dalam sumber daya alam tapi
    rakyatnya miskin karena kekuasaan negara di tangan kelas yang
    tidak mewakili kepentingan rakyat, kekayaan diboyong ke luar
    negeri dan hanya dinikmati oleh kaum elite penguasa.
    Bank juga mengalami proses menuju monopoli. Bank adalah perantara
    dalam pembayaran. Dengan begitu, bank mengubah uang yang tidak
    aktif menjadi aktif ketika diserahkan kepada kapitalis yang
    kemudian menggunakannya untuk menghasilkan profit. Perkembangan
    kapitalisme telah mengubah fungsi bank yang tadinya hanya sebagai
    perantara. Sekarang bank tidak saja menguasai uang/modal kaum
    kapitalis, pengusaha industri, pengusaha kecil dan menengah, tapi
    juga alat produksi dan sumber daya alam di berbagai negeri. Dalam
    proses ini bank-bank kecil “dimakan” oleh bank yang lebih besar.
    Fusi dan akuisisi juga mempercepat proses konsentrasi bank.
    Kapital yang dikuasai para bankir itulah yang dinamakan kapital
    finansial. Kapital finansial ini digunakan dalam industri, maka
    bankir sekaligus merangkap menjadi kapitalis industri.
    Dari situ datangnya salah satu ciri imperialis yang diungkapkan
    Lenin. Modal industri bergabung dengan modal bank dan melahirkan
    modal finansial dan oligarki finansial. Artinya sekelompok kecil
    kapitalis memusatkan kapital finansial di tangannya melalui
    kepemilikan atas bank dan lembaga keuangan terbesar dan korporasi
    industri terbesar di dunia!
    Menurut Pao Yu Ching (profesor emeritus bidang ekonomi dari
    Marygrove College, Amerika Serikat), globalisasi neoliberal di
    mana terjadi liberalisasi dan deregulasi dalam lembaga-lembaga dan
    transaksi keuangan, telah membebaskan kapital finansial dari
    regulasi pemerintah. Manipulasi melalui teknologi canggih dalam
    komunikasi dan kekuasaan negara-negara imperialis membuat kapital
    finansial menjadi lebih mampu untuk memindahkan krisis dari satu
    bagian dunia ke bagian lain seperti yang terjadi sejak krisis
    1980-an sampai krisis di abad 21 yang semakin serius.
    Tiongkok juga tidak lepas dari kapitalisme monopoli. Fred Engst
    (profesor ekonomi dari University of International Business and
    Economics, Beijing) menjelaskan bahwa perusahaan negara dimiliki
    oleh birokrasi pemerintah atau konglomerat modal negara Tiongkok.
    Konglomerat modal negara adalah pemilik modal terbesar dengan
    kekuasaan monopoli juga terbesar di Tiongkok. Gabungan kapital
    finansial dan kapital industri yang dimiliki konglomerat modal
    negara Tiongkok bahkan lebih besar dari satu korporasi, atau satu
    konglomerat atau kartel atau konsorsium atau multinasional di AS,
    Eropa, atau Jepang!
    Konglomerat modal negara ini memiliki kontrol absolut atas partai,
    seluruh mesin negara dan kekuatan militer. Dengan begitu,
    konglomerat modal negara dapat langsung memobilisasi kapital
    industri dan kapital finansialnya di atas kekuasaan negara guna
    mengabdi kepada kepentingan ekspansi modalnya.
    Kapitalisme monopoli di Tiongkok juga tidak bisa menghindari
    krisis kelebihan produksi sehingga mengharuskannya untuk
    mengekspor modalnya ke negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika
    Latin. Bertemulah kita dengan ciri lain dari imperialisme yang
    sudah diungkapkan Lenin lebih dari satu abad yang lalu, yaitu
    ekspor kapital!
    Sudah tentu kaum revisionis modern terus menjajakan pepesan kosong
    “sosialisme dengan ciri Tiongkok”. Bukan kebetulan dan sia-sia
    nama revisionis yang disandangnya. Mereka merevisi dan
    mencampakkan inti sari dari Marxisme-Leninisme dan menggantikannya
    dengan teori revisionis, seperti misalnya, peralihan secara damai
    ke sosialisme dan sosialisme pasar. Karena menganggap ajaran Lenin
    sudah usang, maka mereka berkeras menolak kenyataan bahwa
    kapitalisme sudah membawa Tiongkok menjadi kekuatan imperialis
    yang sedang berkembang. Padahal perkembangan kapitalisme tak
    terhindarkan akan berakhir pada imperialisme.
    Sifat agresif imperialis Tiongkok terlihat jelas dalam usahanya
    untuk menciptakan orde baru global guna menggantikan
    lembaga-lembaga internasional yang dikuasai kekuatan Barat-AS
    dengan berbagai lembaga di bawah dominasinya. Misalnya, New
    Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank dan New
    Silk Road Fund dengan tujuan memobilisasi dukungan dan mendorong
    maju proyek One Belt One Road (OBOR).
    Tiongkok memperkuat aliansi dengan Rusia. Melalui Shanghai
    Cooperation Organization, Tiongkok berusaha memperluas pengaruhnya
    di Eurasia. Ia juga tak ragu-ragu mengklaim Lautan Tiongkok
    Selatan serta pulau-pulaunya sebagai miliknya. Dengan cepat ia
    membangun di situ infrastruktur militer. Bahkan krisis virus
    corona tidak menghentikan Tiongkok untuk terus mengkonsolidasi
    kekuasaannya di pulau-pulau yang masih disengketakan dengan
    negeri-negeri tetangganya. South China Morning Post memberitakan
    bahwa Dewan Negara Tiongkok baru-baru ini telah menyetujui
    pembentukan dua distrik baru, Distrik Xisha dan Distrik Nansha di
    bawah kota Sansha.
    Tak heranlah kita melihat AS kebakaran jenggot. Kedudukannya
    sebagai satu-satunya kekuasaan adikuasa terancam oleh Tiongkok
    yang merasa sudah tiba waktunya untuk membagi kembali dunia dengan
    memberinya daerah di bawah dominasi dan pengaruhnya. Pembagian
    dunia di bawah kekuasaan negara-negara besar juga tercakup dalam
    karya Lenin Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme.
    Kehadiran Tiongkok imperialis yang memperebutkan sumber bahan baku
    bagi industrinya, pasar bagi modal dan produknya yang berlebihan,
    dan daerah di bawah pengaruhnya, tak pelak telah menajamkan
    kontradiksinya dengan AS.
    Apa Itu Negara?
    Ketika bicara tentang ajaran Marx dan Engels, Lenin menulis bahwa
    setelah mereka meninggal, kelas borjuasi dan kaum oportunis
    berusaha mengebiri esensi dan menumpulkan ketajaman teori
    revolusioner serta memvulgarkannya. Mereka menghilangkan,
    mengaburkan dan memutarbalik semangat dan roh revolusionernya.
    Apa yang dikatakan Lenin tentang ajaran Marx, terjadi juga dengan
    ajarannya ketika kaum revisionis modern berdominasi di Partai
    Komunis Uni Soviet. Begitu juga terjadi dengan ajaran Mao Zedong
    ketika Deng Xiao Ping dan kliknya berhasil menguasai Partai
    Komunis Tiongkok.
    Salah satu masalah penting yang dibahas Lenin dalam Negara dan
    Revolusi adalah negara. Mengapa dalam sistim komune primitif tidak
    ada negara?
    Untuk mengerti dengan benar arti negara, pertama orang harus
    memahami kelas dan kontradiksi antara kelas-kelas dalam masyarakat
    yang menimbulkan perjuangan kelas.
    Orang sering menuduh kaum komunis sebagai pihak yang “menciptakan”
    ide tentang kelas, kontradiksi kelas dan perjuangan kelas.
    Sehingga kalau orang bicara soal perjuangan kelas, langsung
    dituduh komunis! Salah besar! Bahkan Marx pernah berkata bukan dia
    yang menemukan adanya kelas dan perjuangan kelas dalam masyarakat
    modern. Marx merasa berutang pada sejarawan borjuis liberal. Jauh
    sebelum Marx, sejarawan-sejarawan borjuis-lah yang menggambarkan
    dan mengerti sejarah perkembangan masyarakat melalui prisma
    perjuangan kelas (Surat Marx kepada Joseph Weydemeyer, 1852).
    Keberadaan kelas, kontradiksi dan perjuangan kelas sepenuhnya di
    luar keinginan subjektif seseorang. Diakui atau tidak, mereka ada
    dalam masyarakat berkelas secara objektif. Orang masuk kelas yang
    mana, itu ditentukan oleh hubungan dengan atau kepemilikan atas
    alat produksi dan harta/aset.
    Ketika perkembangan masyarakat mencapai tahap yang melahirkan
    kelas-kelas dengan kepentingan ekonomi yang bertolak belakang
    sehingga tak terdamaikan, timbullah negara.. Negara diperlukan
    untuk meredam – bukan mendamaikan – kontradiksi kelas yang tak
    terdamaikan itu agar masyarakat tidak hancur. Dengan kata lain
    adanya negara merupakan pengakuan akan adanya kontradiksi kelas
    yang tak dapat didamaikan. Oleh karena itu, dalam sebuah
    masyarakat di mana tidak terdapat bentrokan kepentingan ekonomi
    yang tak dapat didamaikan, seperti komune primitif, tidak ada negara.
    Negara juga berarti kekuasaan yang dilahirkan masyarakat tapi
    menempatkan dirinya di atas masyarakat itu. Dan orang-orang yang
    memegang kekuasaan negara sudah tentu mereka yang mewakili kelas
    yang berdominasi secara ekonomi dan politik dan berada di atas
    kelas yang kepentingan ekonominya bertolak belakang dengan mereka.
    Bagaimana Negara Memanifestasikan Dirinya?
    Negara terwujud antara lain, dalam aparat militer dan polisi,
    penjara, lembaga dan produk hukum serta lembaga-lembaga politik.
    Semua itu digunakan oleh kelas yang berkuasa untuk menciptakan
    sebuah orde guna melegalisasi penindasan terhadap semua tindakan
    yang dianggap membahayakan eksistensi negaranya. Kenyataan
    sehari-hari, baik di negeri setengah jajahan setengah feodal
    maupun di negeri kapitalis-imperialis, membuktikan kebenaran yang
    diungkap Marx, Engels dan Lenin.
    Lihat saja bagaimana kaum tani tak berdaya dalam konflik tanahnya
    dengan para pengusaha asing, swasta dan juga negara. Bahkan dalam
    kasus kaum tani yang memenangkan gugatannya di lembaga hukum
    sampai Mahkamah Agung, keputusan tinggal di kertas saja. Tidak
    saja kaum tani, juga kaum buruh, kaum miskin kota dan kelas
    pekerja lainnya semakin terpuruk, hak-hak demokratis dan hak untuk
    hidup layak pun terus dikebiri. Kalau berani buka mulut dan
    melawan ketidakadilan yang dideritanya, ganjarannya: penjara,
    penculikan, bahkan pembunuhan.
    Ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Rakyat jelata di
    negeri-negeri Dunia Ketiga juga menghadapi penjara dan pembunuhan
    ketika mereka mengorganisasi diri untuk melawan serta menuntut
    keadilan. Contohnya, Filipina, India, Turki, Haiti, Chile,
    Argentina, Honduras, Paraguay. Di Kolombia tak pernah lewat satu
    minggu tanpa pembunuhan satu-dua aktivis HAM, buruh, tani, dan
    gerakan sosial.
    Bahkan negeri-negeri Eropa Barat dengan welfare state tak
    ragu-ragu melanggar “demokrasi-nya” ketika menghadapi aksi-aksi
    protes militan rakyat yang menentang berbagai kebijakan dan
    reformasi yang merugikan dan membuat kehidupannya semakin rentan.
    Itu sebabnya, orang sering bicara tentang kekerasan negara. Sebab,
    negaralah yang memiliki mesin dan perlengkapan untuk melakukan
    kekerasan. [Tatiana Lukman]

    Sent from Mail for Windows 10

    [Non-text portions of this message have been removed]


Kirim email ke