Saran untuk mengingat kembali karya Lenin “Negara dan Revolusi” jelas
tidak akan diterima, apalagi dipraktekkan oleh orang-orang reformis,
anarkis dan revisionis. Karena, mereka tidak mampu membantah
kebenaran yang diungkapkan Marx, Engels dan Lenin yang masih tetap
terbukti benar dalam kenyataan dewasa ini. Makanya antek remo bicara
tentang “kenyataan”. Tapi kenyataan penghisapan dan penindasan di
tiongkok kapitalis, juga tidak mau diakuinya....Akhirnya hanya bias
mengobral pepesan kosong!!!
Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for
Windows 10
*From: *arif harsana [email protected] [GELORA45]
<mailto:[email protected]>
*Sent: *Thursday, 30 April 2020 10:09
*To: *yahoogroups <mailto:[email protected]>;
[email protected] <mailto:[email protected]>; [email protected]
<mailto:[email protected]>; Daeng <mailto:[email protected]>;
Farida Ishaja <mailto:[email protected]>; [email protected]
<mailto:[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto
<mailto:[email protected]>; Harry Singgih
<mailto:[email protected]>; TanSie Tik URECA
<mailto:[email protected]>; Sungkono A.
<mailto:[email protected]>; [email protected]
<mailto:[email protected]>; WIN DJOYO
<mailto:[email protected]>; Lingkar Sitompul
<mailto:[email protected]>; Gelora
<mailto:[email protected]>
*Subject: *[GELORA45] AW: [temu_eropa] Lenin Bersama Kita
Dalam rangka memperingati 150 tahun hari lahir Lenin, saya kira ada
baiknya jika kita mengingat kembali karya penting Lenin, yg
dirumuskannya dlm bukunya yg berjudul "Negara dan Revolusi".
Bertolak dari ajaran Marx ttg hakekat negara dlm masyarakat berklas,
Lenin memperdalam ttg teori negara dari segi pandang marxis yg
berlawanan dg teori ttg negara yg dianut para kaum reformis dan kaum
anarkhis.
Berikut ini artikel ringkasan buku tsb.
Selamat membaca.
Klik: https://www.militanindonesia.org/analisa-perspektif/politik/8675-belajar-dari-lenin-mengenai-negara-dan-revolusi.html
Salam,
Arif H.
Gesendet von Yahoo Mail auf Android
<https://go.onelink..me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature>
Am Mi., Apr. 29, 2020 at 19:24 schrieb Tatiana Lukman
[email protected] [temu_eropa]
<[email protected]>:
enin Bersama Kita
Salah satu masalah penting yang dibahas Lenin dalam Negara dan
Revolusi adalah negara. Untuk mengerti negara, pertama-tama orang
harus memahami kelas dan kontradiksi antara kelas-kelas dalam
masyarakat yang menimbulkan perjuangan kelas
29 April 2020
•
Vladimir Ilyich Lenin/Radio Free Europe
Koran Sulindo – Pada 22 April 1870 – sekitar 150 tahun lalu –
lahir Vladimir Ilyich Lenin. Lalu, 47 tahun kemudian, dengan
sukses, Lenin memimpin revolusi kaum buruh (dikenal sebagai
Revolusi Oktober) yang pertama di dunia dengan menerapkan marxisme
sesuai dengan kondisi ekonomi dan masyarakat konkret di Rusia.
Pandangan dan pengalaman dalam mempersiapkan revolusi,
mempertahankan kekuasaan kelas proletar dan membangun sosialisme
tercurah dalam karya-karyanya yang akan terus menjadi panduan kaum
revolusioner dan rakyat yang terhina dan tertindas di dunia.
Kalau orang ingin dengan jujur memahami kebesaran dan otoritas
Lenin yang diakui oleh kaum revolusioner, mau tak mau orang harus
mempelajari karya-karya besarnya, antara lain, Apa Yang Harus
Dikerjakan, Negara dan Revolusi dan Imperialisme, Tingkat
Tertinggi Kapitalisme.
Lebih dari satu abad telah berlalu, konkretnya 113 tahun, namun
keadaan dan perkembangan ekonomi dunia di abad 21 membenarkan dan
mengkonfirmasi analisa Lenin tentang Imperialisme, Tingkat
Tertinggi Kapitalisme. Artinya kapitalisme persaingan bebas sudah
mencapai puncak perkembangannya menjadi kapitalisme monopoli.
Peralihan itu disebabkan antara lain, karena produksi semakin
terkonsentrasi dan modal semakin terpusat di tangan sejumlah kecil
kapitalis monopoli. Investasi besar dan efisiensi korporasi
multinasional yang menguasai sumber daya alam, produksi,
distribusi dan pasar membuat persaingan dari perusahaan kecil
hampir tidak mungkin.
Kita lihat kenyataannya sekarang. Produksi makanan dan minuman
dimonopoli oleh 10 korporasi berikut: Unilever, Danone, Coca Cola,
Nestle, Kellogg’s, Mars, Pepsico, General Mills, Associated
British Foods, Mondelez International. Sementara 6 korporasi
multinasional menguasai 75% pasar global agrokimia. Mereka adalah
Dow, DuPont, BASF, Syngenta, Bayer dan Monsanto. Tahun 2016,
Monsanto berfusi dengan Bayer.
Fusi dan akuisisi di kalangan korporasi multinasional membuat
modal semakin terkonsentrasi lagi; dengan demikian profit semakin
besar mengalir ke pundi-pundi kaum kapitalis monopoli dan semakin
besar juga kekuasaannya dalam ekonomi dunia. Tak heranlah kalau di
situs Global Justice Now kita menemukan pernyataan bahwa
pendapatan 10 korporasi terbesar di dunia lebih besar dari
pendapatan 180 negeri ‘miskin’. Negeri yang disebut ‘miskin’ di
sini dapat dipastikan negeri yang kaya dalam sumber daya alam tapi
rakyatnya miskin karena kekuasaan negara di tangan kelas yang
tidak mewakili kepentingan rakyat, kekayaan diboyong ke luar
negeri dan hanya dinikmati oleh kaum elite penguasa.
Bank juga mengalami proses menuju monopoli. Bank adalah perantara
dalam pembayaran. Dengan begitu, bank mengubah uang yang tidak
aktif menjadi aktif ketika diserahkan kepada kapitalis yang
kemudian menggunakannya untuk menghasilkan profit. Perkembangan
kapitalisme telah mengubah fungsi bank yang tadinya hanya sebagai
perantara. Sekarang bank tidak saja menguasai uang/modal kaum
kapitalis, pengusaha industri, pengusaha kecil dan menengah, tapi
juga alat produksi dan sumber daya alam di berbagai negeri. Dalam
proses ini bank-bank kecil “dimakan” oleh bank yang lebih besar.
Fusi dan akuisisi juga mempercepat proses konsentrasi bank.
Kapital yang dikuasai para bankir itulah yang dinamakan kapital
finansial. Kapital finansial ini digunakan dalam industri, maka
bankir sekaligus merangkap menjadi kapitalis industri.
Dari situ datangnya salah satu ciri imperialis yang diungkapkan
Lenin. Modal industri bergabung dengan modal bank dan melahirkan
modal finansial dan oligarki finansial. Artinya sekelompok kecil
kapitalis memusatkan kapital finansial di tangannya melalui
kepemilikan atas bank dan lembaga keuangan terbesar dan korporasi
industri terbesar di dunia!
Menurut Pao Yu Ching (profesor emeritus bidang ekonomi dari
Marygrove College, Amerika Serikat), globalisasi neoliberal di
mana terjadi liberalisasi dan deregulasi dalam lembaga-lembaga dan
transaksi keuangan, telah membebaskan kapital finansial dari
regulasi pemerintah. Manipulasi melalui teknologi canggih dalam
komunikasi dan kekuasaan negara-negara imperialis membuat kapital
finansial menjadi lebih mampu untuk memindahkan krisis dari satu
bagian dunia ke bagian lain seperti yang terjadi sejak krisis
1980-an sampai krisis di abad 21 yang semakin serius.
Tiongkok juga tidak lepas dari kapitalisme monopoli. Fred Engst
(profesor ekonomi dari University of International Business and
Economics, Beijing) menjelaskan bahwa perusahaan negara dimiliki
oleh birokrasi pemerintah atau konglomerat modal negara Tiongkok.
Konglomerat modal negara adalah pemilik modal terbesar dengan
kekuasaan monopoli juga terbesar di Tiongkok. Gabungan kapital
finansial dan kapital industri yang dimiliki konglomerat modal
negara Tiongkok bahkan lebih besar dari satu korporasi, atau satu
konglomerat atau kartel atau konsorsium atau multinasional di AS,
Eropa, atau Jepang!
Konglomerat modal negara ini memiliki kontrol absolut atas partai,
seluruh mesin negara dan kekuatan militer. Dengan begitu,
konglomerat modal negara dapat langsung memobilisasi kapital
industri dan kapital finansialnya di atas kekuasaan negara guna
mengabdi kepada kepentingan ekspansi modalnya.
Kapitalisme monopoli di Tiongkok juga tidak bisa menghindari
krisis kelebihan produksi sehingga mengharuskannya untuk
mengekspor modalnya ke negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika
Latin. Bertemulah kita dengan ciri lain dari imperialisme yang
sudah diungkapkan Lenin lebih dari satu abad yang lalu, yaitu
ekspor kapital!
Sudah tentu kaum revisionis modern terus menjajakan pepesan kosong
“sosialisme dengan ciri Tiongkok”. Bukan kebetulan dan sia-sia
nama revisionis yang disandangnya. Mereka merevisi dan
mencampakkan inti sari dari Marxisme-Leninisme dan menggantikannya
dengan teori revisionis, seperti misalnya, peralihan secara damai
ke sosialisme dan sosialisme pasar. Karena menganggap ajaran Lenin
sudah usang, maka mereka berkeras menolak kenyataan bahwa
kapitalisme sudah membawa Tiongkok menjadi kekuatan imperialis
yang sedang berkembang. Padahal perkembangan kapitalisme tak
terhindarkan akan berakhir pada imperialisme.
Sifat agresif imperialis Tiongkok terlihat jelas dalam usahanya
untuk menciptakan orde baru global guna menggantikan
lembaga-lembaga internasional yang dikuasai kekuatan Barat-AS
dengan berbagai lembaga di bawah dominasinya. Misalnya, New
Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank dan New
Silk Road Fund dengan tujuan memobilisasi dukungan dan mendorong
maju proyek One Belt One Road (OBOR).
Tiongkok memperkuat aliansi dengan Rusia. Melalui Shanghai
Cooperation Organization, Tiongkok berusaha memperluas pengaruhnya
di Eurasia. Ia juga tak ragu-ragu mengklaim Lautan Tiongkok
Selatan serta pulau-pulaunya sebagai miliknya. Dengan cepat ia
membangun di situ infrastruktur militer. Bahkan krisis virus
corona tidak menghentikan Tiongkok untuk terus mengkonsolidasi
kekuasaannya di pulau-pulau yang masih disengketakan dengan
negeri-negeri tetangganya. South China Morning Post memberitakan
bahwa Dewan Negara Tiongkok baru-baru ini telah menyetujui
pembentukan dua distrik baru, Distrik Xisha dan Distrik Nansha di
bawah kota Sansha.
Tak heranlah kita melihat AS kebakaran jenggot. Kedudukannya
sebagai satu-satunya kekuasaan adikuasa terancam oleh Tiongkok
yang merasa sudah tiba waktunya untuk membagi kembali dunia dengan
memberinya daerah di bawah dominasi dan pengaruhnya. Pembagian
dunia di bawah kekuasaan negara-negara besar juga tercakup dalam
karya Lenin Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme.
Kehadiran Tiongkok imperialis yang memperebutkan sumber bahan baku
bagi industrinya, pasar bagi modal dan produknya yang berlebihan,
dan daerah di bawah pengaruhnya, tak pelak telah menajamkan
kontradiksinya dengan AS.
Apa Itu Negara?
Ketika bicara tentang ajaran Marx dan Engels, Lenin menulis bahwa
setelah mereka meninggal, kelas borjuasi dan kaum oportunis
berusaha mengebiri esensi dan menumpulkan ketajaman teori
revolusioner serta memvulgarkannya. Mereka menghilangkan,
mengaburkan dan memutarbalik semangat dan roh revolusionernya.
Apa yang dikatakan Lenin tentang ajaran Marx, terjadi juga dengan
ajarannya ketika kaum revisionis modern berdominasi di Partai
Komunis Uni Soviet. Begitu juga terjadi dengan ajaran Mao Zedong
ketika Deng Xiao Ping dan kliknya berhasil menguasai Partai
Komunis Tiongkok.
Salah satu masalah penting yang dibahas Lenin dalam Negara dan
Revolusi adalah negara. Mengapa dalam sistim komune primitif tidak
ada negara?
Untuk mengerti dengan benar arti negara, pertama orang harus
memahami kelas dan kontradiksi antara kelas-kelas dalam masyarakat
yang menimbulkan perjuangan kelas.
Orang sering menuduh kaum komunis sebagai pihak yang “menciptakan”
ide tentang kelas, kontradiksi kelas dan perjuangan kelas.
Sehingga kalau orang bicara soal perjuangan kelas, langsung
dituduh komunis! Salah besar! Bahkan Marx pernah berkata bukan dia
yang menemukan adanya kelas dan perjuangan kelas dalam masyarakat
modern. Marx merasa berutang pada sejarawan borjuis liberal. Jauh
sebelum Marx, sejarawan-sejarawan borjuis-lah yang menggambarkan
dan mengerti sejarah perkembangan masyarakat melalui prisma
perjuangan kelas (Surat Marx kepada Joseph Weydemeyer, 1852).
Keberadaan kelas, kontradiksi dan perjuangan kelas sepenuhnya di
luar keinginan subjektif seseorang. Diakui atau tidak, mereka ada
dalam masyarakat berkelas secara objektif. Orang masuk kelas yang
mana, itu ditentukan oleh hubungan dengan atau kepemilikan atas
alat produksi dan harta/aset.
Ketika perkembangan masyarakat mencapai tahap yang melahirkan
kelas-kelas dengan kepentingan ekonomi yang bertolak belakang
sehingga tak terdamaikan, timbullah negara.. Negara diperlukan
untuk meredam – bukan mendamaikan – kontradiksi kelas yang tak
terdamaikan itu agar masyarakat tidak hancur. Dengan kata lain
adanya negara merupakan pengakuan akan adanya kontradiksi kelas
yang tak dapat didamaikan. Oleh karena itu, dalam sebuah
masyarakat di mana tidak terdapat bentrokan kepentingan ekonomi
yang tak dapat didamaikan, seperti komune primitif, tidak ada negara.
Negara juga berarti kekuasaan yang dilahirkan masyarakat tapi
menempatkan dirinya di atas masyarakat itu. Dan orang-orang yang
memegang kekuasaan negara sudah tentu mereka yang mewakili kelas
yang berdominasi secara ekonomi dan politik dan berada di atas
kelas yang kepentingan ekonominya bertolak belakang dengan mereka.
Bagaimana Negara Memanifestasikan Dirinya?
Negara terwujud antara lain, dalam aparat militer dan polisi,
penjara, lembaga dan produk hukum serta lembaga-lembaga politik.
Semua itu digunakan oleh kelas yang berkuasa untuk menciptakan
sebuah orde guna melegalisasi penindasan terhadap semua tindakan
yang dianggap membahayakan eksistensi negaranya. Kenyataan
sehari-hari, baik di negeri setengah jajahan setengah feodal
maupun di negeri kapitalis-imperialis, membuktikan kebenaran yang
diungkap Marx, Engels dan Lenin.
Lihat saja bagaimana kaum tani tak berdaya dalam konflik tanahnya
dengan para pengusaha asing, swasta dan juga negara. Bahkan dalam
kasus kaum tani yang memenangkan gugatannya di lembaga hukum
sampai Mahkamah Agung, keputusan tinggal di kertas saja. Tidak
saja kaum tani, juga kaum buruh, kaum miskin kota dan kelas
pekerja lainnya semakin terpuruk, hak-hak demokratis dan hak untuk
hidup layak pun terus dikebiri. Kalau berani buka mulut dan
melawan ketidakadilan yang dideritanya, ganjarannya: penjara,
penculikan, bahkan pembunuhan.
Ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Rakyat jelata di
negeri-negeri Dunia Ketiga juga menghadapi penjara dan pembunuhan
ketika mereka mengorganisasi diri untuk melawan serta menuntut
keadilan. Contohnya, Filipina, India, Turki, Haiti, Chile,
Argentina, Honduras, Paraguay. Di Kolombia tak pernah lewat satu
minggu tanpa pembunuhan satu-dua aktivis HAM, buruh, tani, dan
gerakan sosial.
Bahkan negeri-negeri Eropa Barat dengan welfare state tak
ragu-ragu melanggar “demokrasi-nya” ketika menghadapi aksi-aksi
protes militan rakyat yang menentang berbagai kebijakan dan
reformasi yang merugikan dan membuat kehidupannya semakin rentan.
Itu sebabnya, orang sering bicara tentang kekerasan negara. Sebab,
negaralah yang memiliki mesin dan perlengkapan untuk melakukan
kekerasan. [Tatiana Lukman]
Sent from Mail for Windows 10
[Non-text portions of this message have been removed]