Antek remo ini juga seorang pelawak konyol! Mana bias diharapkan orang yang 
sangat pro penghisapan, perampasan nilai lebih akan bias membedakan 
kediktaturan proletariat dari kediktaturan konglomerat negara monopoli..Ya 
nggak bias lah!! Akan terus nyerocos seolah-olah kediktaturan proletariat bias 
hidup berdampingan dengan perampokan nilai lebih kaum buruh!! Pembawa acara 
Aljazeera yang bukan seorang progresif, apalagi komunis, tidak bias ditipu 
dengan slogan “sosialisme dengan ciri tkk”.... Itulah orang yang berpikiran 
waras dan logis, Sosialisme tapi para pejabatnya adalah milyuner dan bilyuner 
yang menguasai asset bahkan sampai di luar negeri. Lelucon yang sangat tidak 
lucu!!! Yang bias percaya hanyalah pemabuk!!!!

Sent from Mail for Windows 10

From: ChanCT [email protected] [GELORA45]
Sent: Sunday, 3 May 2020 01:46
To: [email protected]; Tatiana Lukman; [email protected]; 
yahoogroups; [email protected]; [email protected]; Daeng; Farida Ishaja; 
[email protected]; Rachmat Hadi-Soetjipto; Harry Singgih; TanSie Tik URECA; 
Sungkono A.; [email protected]; WIN DJOYO; Lingkar Sitompul
Subject: Re: [GELORA45] AW: [temu_eropa] Lenin Bersama Kita

  
Lho, ... kenyataan Lenin 150 Tahun di Tiongkok juga kembali mengangkat karya 
"NEGARA dan REVOLUSI" ini, ...! Dengan mengangkat dibutuhkannya DIKTATUR 
PROLETARIAT dan kebenaran kekuasaan Partai Tunggal, PKT di Tiongkok! Dengan 
ketegasan menentang pemikiran Sosdem yang hendak mengembangkan "demokrasi" 
barat yang membagi kekuasaan negara dalam 3 kekuasaan, Yudikatif, Legislatif, 
Eksekutif dan menganjurkan adanya multi partai, ...!
Darimana ada kenyataan HASIL PERJUANGAN 1,4 Milyar Rakyat Tiongkok dikatakan 
pepesan kosong dan merupakan penghisapan dan penindasan di Tiongkok kapitalis? 
Begitu MENDERITA penindasan dan kemiskinan yang masih terjadi, ... padahal 
kenyataan Tiongkok mampu MEMBUKA PINTU, BERANI membebaskan ratusan juta rakyat 
keluar negeri, baik melancong maupun belajar/sekolah! TIDAK lagi seperti masa 
Stalin dan 30 tahun masa Mao harus MENUTUP DIRI, membangun Tembok Berlin, agar 
rakyat tidak lari keluar! Mampu bersaing didunia internasional, termasuk di WTO 
dan WHO, ... BERHASIL nyata mencapai kemenangan Perang Melawan Covid-19! Itulah 
kenyataan HASIL NYATA perjuangan 1,4milyar rakyat Tiongkok yang telah menjadi 
pesaing BERAT Amerika didunia ini!


Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/3 上午 12:35 寫道:
  
Saran untuk mengingat kembali karya Lenin “Negara dan Revolusi” jelas tidak 
akan diterima, apalagi dipraktekkan oleh orang-orang reformis, anarkis dan 
revisionis. Karena, mereka tidak  mampu membantah kebenaran yang diungkapkan 
Marx, Engels dan Lenin yang masih tetap terbukti benar dalam kenyataan dewasa 
ini. Makanya antek remo bicara tentang “kenyataan”. Tapi kenyataan penghisapan 
dan penindasan di tiongkok kapitalis, juga tidak mau diakuinya....Akhirnya 
hanya bias mengobral pepesan kosong!!!
 
Sent from Mail for Windows 10
 
From: arif harsana [email protected] [GELORA45]
Sent: Thursday, 30 April 2020 10:09
To: yahoogroups; [email protected]; [email protected]; Daeng; Farida Ishaja; 
[email protected]; Rachmat Hadi-Soetjipto; Harry Singgih; TanSie Tik URECA; 
Sungkono A.; [email protected]; WIN DJOYO; Lingkar Sitompul; Gelora
Subject: [GELORA45] AW: [temu_eropa] Lenin Bersama Kita
 
  
Dalam rangka memperingati 150 tahun hari lahir Lenin, saya kira ada baiknya 
jika kita mengingat kembali karya penting Lenin, yg dirumuskannya dlm bukunya 
yg berjudul  "Negara dan Revolusi".
Bertolak dari ajaran Marx ttg hakekat negara dlm masyarakat berklas, Lenin 
memperdalam ttg teori negara dari segi pandang marxis yg berlawanan dg teori 
ttg negara yg dianut para kaum reformis dan kaum anarkhis.
Berikut ini artikel ringkasan buku tsb.
Selamat membaca. 
 
Klik: 
https://www.militanindonesia.org/analisa-perspektif/politik/8675-belajar-dari-lenin-mengenai-negara-dan-revolusi.html
 
 
Salam, 
Arif H.
Gesendet von Yahoo Mail auf Android
 
Am Mi., Apr. 29, 2020 at 19:24 schrieb Tatiana Lukman [email protected] 
[temu_eropa]
<[email protected]>:
  
enin Bersama Kita
Salah satu masalah penting yang dibahas Lenin dalam Negara dan Revolusi adalah 
negara. Untuk mengerti negara, pertama-tama orang harus memahami kelas dan 
kontradiksi antara kelas-kelas dalam masyarakat yang menimbulkan perjuangan 
kelas
29 April 2020
• 
Vladimir Ilyich Lenin/Radio Free Europe
Koran Sulindo – Pada 22 April 1870 – sekitar 150 tahun lalu – lahir Vladimir 
Ilyich Lenin. Lalu, 47 tahun kemudian, dengan sukses, Lenin memimpin revolusi 
kaum buruh (dikenal sebagai Revolusi Oktober) yang pertama di dunia dengan 
menerapkan marxisme sesuai dengan kondisi ekonomi dan masyarakat konkret di 
Rusia. Pandangan dan pengalaman dalam mempersiapkan revolusi, mempertahankan 
kekuasaan kelas proletar dan membangun sosialisme tercurah dalam karya-karyanya 
yang akan terus menjadi panduan kaum revolusioner dan rakyat yang terhina dan 
tertindas di dunia.
Kalau orang ingin dengan jujur memahami kebesaran dan otoritas Lenin yang 
diakui oleh kaum revolusioner, mau tak mau orang harus mempelajari karya-karya 
besarnya, antara lain, Apa Yang Harus Dikerjakan, Negara dan Revolusi dan 
Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme.
Lebih dari satu abad telah berlalu, konkretnya 113 tahun, namun keadaan dan 
perkembangan ekonomi dunia di abad 21 membenarkan dan mengkonfirmasi analisa 
Lenin tentang Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme. Artinya kapitalisme 
persaingan bebas sudah mencapai puncak perkembangannya menjadi kapitalisme 
monopoli. Peralihan itu disebabkan antara lain, karena produksi semakin 
terkonsentrasi dan modal semakin terpusat di tangan sejumlah kecil kapitalis 
monopoli. Investasi besar dan efisiensi korporasi multinasional yang menguasai 
sumber daya alam, produksi, distribusi dan pasar membuat persaingan dari 
perusahaan kecil hampir tidak mungkin.
Kita lihat kenyataannya sekarang. Produksi makanan dan minuman dimonopoli oleh 
10 korporasi berikut: Unilever, Danone, Coca Cola, Nestle, Kellogg’s, Mars, 
Pepsico, General Mills, Associated British Foods, Mondelez International. 
Sementara 6 korporasi multinasional menguasai 75% pasar global agrokimia. 
Mereka adalah Dow, DuPont, BASF, Syngenta, Bayer dan Monsanto. Tahun 2016, 
Monsanto berfusi dengan Bayer.
Fusi dan akuisisi di kalangan korporasi multinasional membuat modal semakin 
terkonsentrasi lagi; dengan demikian profit semakin besar mengalir ke 
pundi-pundi kaum kapitalis monopoli dan semakin besar juga kekuasaannya dalam 
ekonomi dunia. Tak heranlah kalau di situs Global Justice Now kita menemukan 
pernyataan bahwa pendapatan 10 korporasi terbesar di dunia lebih besar dari 
pendapatan 180 negeri ‘miskin’. Negeri yang disebut ‘miskin’ di sini dapat 
dipastikan negeri yang kaya dalam sumber daya alam tapi rakyatnya miskin karena 
kekuasaan negara di tangan kelas yang tidak mewakili kepentingan rakyat, 
kekayaan diboyong ke luar negeri dan hanya dinikmati oleh kaum elite penguasa.
Bank juga mengalami proses menuju monopoli. Bank adalah perantara dalam 
pembayaran. Dengan begitu, bank mengubah uang yang tidak aktif menjadi aktif 
ketika diserahkan kepada kapitalis yang kemudian menggunakannya untuk 
menghasilkan profit. Perkembangan kapitalisme telah mengubah fungsi bank yang 
tadinya hanya sebagai perantara. Sekarang bank tidak saja menguasai uang/modal 
kaum kapitalis, pengusaha industri, pengusaha kecil dan menengah, tapi juga 
alat produksi dan sumber daya alam di berbagai negeri. Dalam proses ini 
bank-bank kecil “dimakan” oleh bank yang lebih besar. Fusi dan akuisisi juga 
mempercepat proses konsentrasi bank. Kapital yang dikuasai para bankir itulah 
yang dinamakan kapital finansial. Kapital finansial ini digunakan dalam 
industri, maka bankir sekaligus merangkap menjadi kapitalis industri.
Dari situ datangnya salah satu ciri imperialis yang diungkapkan Lenin. Modal 
industri bergabung dengan modal bank dan melahirkan modal finansial dan 
oligarki finansial. Artinya sekelompok kecil kapitalis memusatkan kapital 
finansial di tangannya melalui kepemilikan atas bank dan lembaga keuangan 
terbesar dan korporasi industri terbesar di dunia!
Menurut Pao Yu Ching (profesor emeritus bidang ekonomi dari Marygrove College, 
Amerika Serikat), globalisasi neoliberal di mana terjadi liberalisasi dan 
deregulasi dalam lembaga-lembaga dan transaksi keuangan, telah membebaskan 
kapital finansial dari regulasi pemerintah. Manipulasi melalui teknologi 
canggih dalam komunikasi dan kekuasaan negara-negara imperialis membuat kapital 
finansial menjadi lebih mampu untuk memindahkan krisis dari satu bagian dunia 
ke bagian lain seperti yang terjadi sejak krisis 1980-an sampai krisis di abad 
21 yang semakin serius.
Tiongkok juga tidak lepas dari kapitalisme monopoli. Fred Engst (profesor 
ekonomi dari University of International Business and Economics, Beijing) 
menjelaskan bahwa perusahaan negara dimiliki oleh birokrasi pemerintah atau 
konglomerat modal negara Tiongkok. Konglomerat modal negara adalah pemilik 
modal terbesar dengan kekuasaan monopoli juga terbesar di Tiongkok. Gabungan 
kapital finansial dan kapital industri yang dimiliki konglomerat modal negara 
Tiongkok bahkan lebih besar dari satu korporasi, atau satu konglomerat atau 
kartel atau konsorsium atau multinasional di AS, Eropa, atau Jepang!
Konglomerat modal negara ini memiliki kontrol absolut atas partai, seluruh 
mesin negara dan kekuatan militer. Dengan begitu, konglomerat modal negara 
dapat langsung memobilisasi kapital industri dan kapital finansialnya di atas 
kekuasaan negara guna mengabdi kepada kepentingan ekspansi modalnya.
Kapitalisme monopoli di Tiongkok juga tidak bisa menghindari krisis kelebihan 
produksi sehingga mengharuskannya untuk mengekspor modalnya ke negeri-negeri 
Asia, Afrika dan Amerika Latin. Bertemulah kita dengan ciri lain dari 
imperialisme yang sudah diungkapkan Lenin lebih dari satu abad yang lalu, yaitu 
ekspor kapital!
Sudah tentu kaum revisionis modern terus menjajakan pepesan kosong “sosialisme 
dengan ciri Tiongkok”. Bukan kebetulan dan sia-sia nama revisionis yang 
disandangnya. Mereka merevisi dan mencampakkan inti sari dari 
Marxisme-Leninisme dan menggantikannya dengan teori revisionis, seperti 
misalnya, peralihan secara damai ke sosialisme dan sosialisme pasar. Karena 
menganggap ajaran Lenin sudah usang, maka mereka berkeras menolak kenyataan 
bahwa kapitalisme sudah membawa Tiongkok menjadi kekuatan imperialis yang 
sedang berkembang. Padahal perkembangan kapitalisme tak terhindarkan akan 
berakhir pada imperialisme.
Sifat agresif imperialis Tiongkok terlihat jelas dalam usahanya untuk 
menciptakan orde baru global guna menggantikan lembaga-lembaga internasional 
yang dikuasai kekuatan Barat-AS dengan berbagai lembaga di bawah dominasinya. 
Misalnya, New Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank dan New 
Silk Road Fund dengan tujuan memobilisasi dukungan dan mendorong maju proyek 
One Belt One Road (OBOR).
Tiongkok memperkuat aliansi dengan Rusia. Melalui Shanghai Cooperation 
Organization, Tiongkok berusaha memperluas pengaruhnya di Eurasia. Ia juga tak 
ragu-ragu mengklaim Lautan Tiongkok Selatan serta pulau-pulaunya sebagai 
miliknya. Dengan cepat ia membangun di situ infrastruktur militer. Bahkan 
krisis virus corona tidak menghentikan Tiongkok untuk terus mengkonsolidasi 
kekuasaannya di pulau-pulau yang masih disengketakan dengan negeri-negeri 
tetangganya. South China Morning Post memberitakan bahwa Dewan Negara Tiongkok 
baru-baru ini telah menyetujui pembentukan dua distrik baru, Distrik Xisha dan 
Distrik Nansha di bawah kota Sansha.
Tak heranlah kita melihat AS kebakaran jenggot. Kedudukannya sebagai 
satu-satunya kekuasaan adikuasa terancam oleh Tiongkok yang merasa sudah tiba 
waktunya untuk membagi kembali dunia dengan memberinya daerah di bawah dominasi 
dan pengaruhnya. Pembagian dunia di bawah kekuasaan negara-negara besar juga 
tercakup dalam karya Lenin Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme.
Kehadiran Tiongkok imperialis yang memperebutkan sumber bahan baku bagi 
industrinya, pasar bagi modal dan produknya yang berlebihan, dan daerah di 
bawah pengaruhnya, tak pelak telah menajamkan kontradiksinya dengan AS.
Apa Itu Negara?
Ketika bicara tentang ajaran Marx dan Engels, Lenin menulis bahwa setelah 
mereka meninggal, kelas borjuasi dan kaum oportunis berusaha mengebiri esensi 
dan menumpulkan ketajaman teori revolusioner serta memvulgarkannya. Mereka 
menghilangkan, mengaburkan dan memutarbalik semangat dan roh revolusionernya.
Apa yang dikatakan Lenin tentang ajaran Marx, terjadi juga dengan ajarannya 
ketika kaum revisionis modern berdominasi di Partai Komunis Uni Soviet. Begitu 
juga terjadi dengan ajaran Mao Zedong ketika Deng Xiao Ping dan kliknya 
berhasil menguasai Partai Komunis Tiongkok.
Salah satu masalah penting yang dibahas Lenin dalam Negara dan Revolusi adalah 
negara. Mengapa dalam sistim komune primitif tidak ada negara?
Untuk mengerti dengan benar arti negara, pertama orang harus memahami kelas dan 
kontradiksi antara kelas-kelas dalam masyarakat yang menimbulkan perjuangan 
kelas.
Orang sering menuduh kaum komunis sebagai pihak yang “menciptakan” ide tentang 
kelas, kontradiksi kelas dan perjuangan kelas. Sehingga kalau orang bicara soal 
perjuangan kelas, langsung dituduh komunis! Salah besar! Bahkan Marx pernah 
berkata bukan dia yang menemukan adanya kelas dan perjuangan kelas dalam 
masyarakat modern. Marx merasa berutang pada sejarawan borjuis liberal. Jauh 
sebelum Marx, sejarawan-sejarawan borjuis-lah yang menggambarkan dan mengerti 
sejarah perkembangan masyarakat melalui prisma perjuangan kelas (Surat Marx 
kepada Joseph Weydemeyer, 1852).
Keberadaan kelas, kontradiksi dan perjuangan kelas sepenuhnya di luar keinginan 
subjektif seseorang. Diakui atau tidak, mereka ada dalam masyarakat berkelas 
secara objektif. Orang masuk kelas yang mana, itu ditentukan oleh hubungan 
dengan atau kepemilikan atas alat produksi dan harta/aset.
Ketika perkembangan masyarakat mencapai tahap yang melahirkan kelas-kelas 
dengan kepentingan ekonomi yang bertolak belakang sehingga tak terdamaikan, 
timbullah negara.. Negara diperlukan untuk meredam – bukan mendamaikan – 
kontradiksi kelas yang tak terdamaikan itu agar masyarakat tidak hancur. Dengan 
kata lain adanya negara merupakan pengakuan akan adanya kontradiksi kelas yang 
tak dapat didamaikan. Oleh karena itu, dalam sebuah masyarakat di mana tidak 
terdapat bentrokan kepentingan ekonomi yang tak dapat didamaikan, seperti 
komune primitif, tidak ada negara.
Negara juga berarti kekuasaan yang dilahirkan masyarakat tapi menempatkan 
dirinya di atas masyarakat itu. Dan orang-orang yang memegang kekuasaan negara 
sudah tentu mereka yang mewakili kelas yang berdominasi secara ekonomi dan 
politik dan berada di atas kelas yang kepentingan ekonominya bertolak belakang 
dengan mereka.
Bagaimana Negara Memanifestasikan Dirinya?
Negara terwujud antara lain, dalam aparat militer dan polisi, penjara, lembaga 
dan produk hukum serta lembaga-lembaga politik. Semua itu digunakan oleh kelas 
yang berkuasa untuk menciptakan sebuah orde guna melegalisasi penindasan 
terhadap semua tindakan yang dianggap membahayakan eksistensi negaranya. 
Kenyataan sehari-hari, baik di negeri setengah jajahan setengah feodal maupun 
di negeri kapitalis-imperialis, membuktikan kebenaran yang diungkap Marx, 
Engels dan Lenin.
Lihat saja bagaimana kaum tani tak berdaya dalam konflik tanahnya dengan para 
pengusaha asing, swasta dan juga negara. Bahkan dalam kasus kaum tani yang 
memenangkan gugatannya di lembaga hukum sampai Mahkamah Agung, keputusan 
tinggal di kertas saja. Tidak saja kaum tani, juga kaum buruh, kaum miskin kota 
dan kelas pekerja lainnya semakin terpuruk, hak-hak demokratis dan hak untuk 
hidup layak pun terus dikebiri. Kalau berani buka mulut dan melawan 
ketidakadilan yang dideritanya, ganjarannya: penjara, penculikan, bahkan 
pembunuhan.
Ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Rakyat jelata di negeri-negeri Dunia 
Ketiga juga menghadapi penjara dan pembunuhan ketika mereka mengorganisasi diri 
untuk melawan serta menuntut keadilan. Contohnya, Filipina, India, Turki, 
Haiti, Chile, Argentina, Honduras, Paraguay. Di Kolombia tak pernah lewat satu 
minggu tanpa pembunuhan satu-dua aktivis HAM, buruh, tani, dan gerakan sosial.
Bahkan negeri-negeri Eropa Barat dengan welfare state tak ragu-ragu melanggar 
“demokrasi-nya” ketika menghadapi aksi-aksi protes militan rakyat yang 
menentang berbagai kebijakan dan reformasi yang merugikan dan membuat 
kehidupannya semakin rentan. Itu sebabnya, orang sering bicara tentang 
kekerasan negara. Sebab, negaralah yang memiliki mesin dan perlengkapan untuk 
melakukan kekerasan. [Tatiana Lukman]

Sent from Mail for Windows 10

[Non-text portions of this message have been removed]
 


Kirim email ke