Hasil perjuangan 1,4 Rakyat Tiongkok dibawah PKT selama 70 tahun terakhir ini adalah KENYATAAN NYAT yang TIDAK bisa disangkal oleh siapapun, apalagi hanya oleh seorang nenek Tatiana! Hasil perjuangan RAKYAT tentu dirasakan dan dinikmati seluruh rakyat Tiongkok, TANPA harus mendapat pengakuan orang lain, bangsa lain, ...! Namun SETIAP orang yang menamakan diri pejuang rakyat, tentu bisa menghargai dengan baik perjuangan Rakyat negara lain! BUKAN melecehkan apalagi menghujat seenak udelnya sendiri, ...

Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/3 下午 07:11 寫道:

Antek remo ini juga seorang pelawak konyol! Mana bias diharapkan orang yang sangat pro penghisapan, perampasan nilai lebih akan bias membedakan kediktaturan proletariat dari kediktaturan konglomerat negara monopoli..Ya nggak bias lah!! Akan terus nyerocos seolah-olah kediktaturan proletariat bias hidup berdampingan dengan perampokan nilai lebih kaum buruh!! Pembawa acara Aljazeera yang bukan seorang progresif, apalagi komunis, tidak bias ditipu dengan slogan “sosialisme dengan ciri tkk”.... Itulah orang yang berpikiran waras dan logis, Sosialisme tapi para pejabatnya adalah milyuner dan bilyuner yang menguasai asset bahkan sampai di luar negeri. Lelucon yang sangat tidak lucu!!! Yang bias percaya hanyalah pemabuk!!!!

Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]>
*Sent: *Sunday, 3 May 2020 01:46
*To: *[email protected] <mailto:[email protected]>; Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]>; yahoogroups <mailto:[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]>; Daeng <mailto:[email protected]>; Farida Ishaja <mailto:[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto <mailto:[email protected]>; Harry Singgih <mailto:[email protected]>; TanSie Tik URECA <mailto:[email protected]>; Sungkono A. <mailto:[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]>; WIN DJOYO <mailto:[email protected]>; Lingkar Sitompul <mailto:[email protected]>
*Subject: *Re: [GELORA45] AW: [temu_eropa] Lenin Bersama Kita

Lho, ... kenyataan Lenin 150 Tahun di Tiongkok juga kembali mengangkat karya "NEGARA dan REVOLUSI" ini, ...! Dengan mengangkat dibutuhkannya DIKTATUR PROLETARIAT dan kebenaran kekuasaan Partai Tunggal, PKT di Tiongkok! Dengan ketegasan menentang pemikiran Sosdem yang hendak mengembangkan "demokrasi" barat yang membagi kekuasaan negara dalam 3 kekuasaan, Yudikatif, Legislatif, Eksekutif dan menganjurkan adanya multi partai, ...!

Darimana ada kenyataan HASIL PERJUANGAN 1,4 Milyar Rakyat Tiongkok dikatakan pepesan kosong dan merupakan penghisapan dan penindasan di Tiongkok kapitalis? Begitu MENDERITA penindasan dan kemiskinan yang masih terjadi, ... padahal kenyataan Tiongkok mampu MEMBUKA PINTU, BERANI membebaskan ratusan juta rakyat keluar negeri, baik melancong maupun belajar/sekolah! TIDAK lagi seperti masa Stalin dan 30 tahun masa Mao harus MENUTUP DIRI, membangun Tembok Berlin, agar rakyat tidak lari keluar! Mampu bersaing didunia internasional, termasuk di WTO dan WHO, ... BERHASIL nyata mencapai kemenangan Perang Melawan Covid-19! Itulah kenyataan HASIL NYATA perjuangan 1,4milyar rakyat Tiongkok yang telah menjadi pesaing BERAT Amerika didunia ini!

Tatiana Lukman [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 2020/5/3 上午 12:35 寫道:

    Saran untuk mengingat kembali karya Lenin “Negara dan Revolusi”
    jelas tidak akan diterima, apalagi dipraktekkan oleh orang-orang
    reformis, anarkis dan revisionis. Karena, mereka tidak  mampu
    membantah kebenaran yang diungkapkan Marx, Engels dan Lenin yang
    masih tetap terbukti benar dalam kenyataan dewasa ini. Makanya
    antek remo bicara tentang “kenyataan”. Tapi kenyataan penghisapan
    dan penindasan di tiongkok kapitalis, juga tidak mau
    diakuinya....Akhirnya hanya bias mengobral pepesan kosong!!!

    Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986>
    for Windows 10

    *From: *arif harsana [email protected] [GELORA45]
    <mailto:[email protected]>
    *Sent: *Thursday, 30 April 2020 10:09
    *To: *yahoogroups <mailto:[email protected]>;
    [email protected] <mailto:[email protected]>; [email protected]
    <mailto:[email protected]>; Daeng <mailto:[email protected]>;
    Farida Ishaja <mailto:[email protected]>; [email protected]
    <mailto:[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto
    <mailto:[email protected]>; Harry Singgih
    <mailto:[email protected]>; TanSie Tik URECA
    <mailto:[email protected]>; Sungkono A.
    <mailto:[email protected]>; [email protected]
    <mailto:[email protected]>; WIN DJOYO
    <mailto:[email protected]>; Lingkar Sitompul
    <mailto:[email protected]>; Gelora
    <mailto:[email protected]>
    *Subject: *[GELORA45] AW: [temu_eropa] Lenin Bersama Kita

    Dalam rangka memperingati 150 tahun hari lahir Lenin, saya kira
    ada baiknya jika kita mengingat kembali karya penting Lenin, yg
    dirumuskannya dlm bukunya yg berjudul  "Negara dan Revolusi".

    Bertolak dari ajaran Marx ttg hakekat negara dlm masyarakat
    berklas, Lenin memperdalam ttg teori negara dari segi pandang
    marxis yg berlawanan dg teori ttg negara yg dianut para kaum
    reformis dan kaum anarkhis.

    Berikut ini artikel ringkasan buku tsb.

    Selamat membaca.

    Klik:
    
https://www.militanindonesia.org/analisa-perspektif/politik/8675-belajar-dari-lenin-mengenai-negara-dan-revolusi.html


    Salam,

    Arif H.

    Gesendet von Yahoo Mail auf Android
    
<https://go.onelink..me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature>

        Am Mi., Apr. 29, 2020 at 19:24 schrieb Tatiana Lukman
        [email protected] <mailto:[email protected]>
        [temu_eropa]

        <[email protected]> <mailto:[email protected]>:

        enin Bersama Kita
        Salah satu masalah penting yang dibahas Lenin dalam Negara dan
        Revolusi adalah negara. Untuk mengerti negara, pertama-tama
        orang harus memahami kelas dan kontradiksi antara kelas-kelas
        dalam masyarakat yang menimbulkan perjuangan kelas
        29 April 2020
        •
        Vladimir Ilyich Lenin/Radio Free Europe
        Koran Sulindo – Pada 22 April 1870 – sekitar 150 tahun lalu –
        lahir Vladimir Ilyich Lenin. Lalu, 47 tahun kemudian, dengan
        sukses, Lenin memimpin revolusi kaum buruh (dikenal sebagai
        Revolusi Oktober) yang pertama di dunia dengan menerapkan
        marxisme sesuai dengan kondisi ekonomi dan masyarakat konkret
        di Rusia. Pandangan dan pengalaman dalam mempersiapkan
        revolusi, mempertahankan kekuasaan kelas proletar dan
        membangun sosialisme tercurah dalam karya-karyanya yang akan
        terus menjadi panduan kaum revolusioner dan rakyat yang
        terhina dan tertindas di dunia.
        Kalau orang ingin dengan jujur memahami kebesaran dan otoritas
        Lenin yang diakui oleh kaum revolusioner, mau tak mau orang
        harus mempelajari karya-karya besarnya, antara lain, Apa Yang
        Harus Dikerjakan, Negara dan Revolusi dan Imperialisme,
        Tingkat Tertinggi Kapitalisme.
        Lebih dari satu abad telah berlalu, konkretnya 113 tahun,
        namun keadaan dan perkembangan ekonomi dunia di abad 21
        membenarkan dan mengkonfirmasi analisa Lenin
        tentang Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme. Artinya
        kapitalisme persaingan bebas sudah mencapai puncak
        perkembangannya menjadi kapitalisme monopoli. Peralihan itu
        disebabkan antara lain, karena produksi semakin terkonsentrasi
        dan modal semakin terpusat di tangan sejumlah kecil kapitalis
        monopoli. Investasi besar dan efisiensi korporasi
        multinasional yang menguasai sumber daya alam, produksi,
        distribusi dan pasar membuat persaingan dari perusahaan kecil
        hampir tidak mungkin.
        Kita lihat kenyataannya sekarang. Produksi makanan dan minuman
        dimonopoli oleh 10 korporasi berikut: Unilever, Danone, Coca
        Cola, Nestle, Kellogg’s, Mars, Pepsico, General Mills,
        Associated British Foods, Mondelez International. Sementara 6
        korporasi multinasional menguasai 75% pasar global agrokimia.
        Mereka adalah Dow, DuPont, BASF, Syngenta, Bayer dan Monsanto.
        Tahun 2016, Monsanto berfusi dengan Bayer.
        Fusi dan akuisisi di kalangan korporasi multinasional membuat
        modal semakin terkonsentrasi lagi; dengan demikian profit
        semakin besar mengalir ke pundi-pundi kaum kapitalis monopoli
        dan semakin besar juga kekuasaannya dalam ekonomi dunia. Tak
        heranlah kalau di situs Global Justice Now kita menemukan
        pernyataan bahwa pendapatan 10 korporasi terbesar di dunia
        lebih besar dari pendapatan 180 negeri ‘miskin’. Negeri yang
        disebut ‘miskin’ di sini dapat dipastikan negeri yang kaya
        dalam sumber daya alam tapi rakyatnya miskin karena kekuasaan
        negara di tangan kelas yang tidak mewakili kepentingan rakyat,
        kekayaan diboyong ke luar negeri dan hanya dinikmati oleh kaum
        elite penguasa.
        Bank juga mengalami proses menuju monopoli. Bank adalah
        perantara dalam pembayaran. Dengan begitu, bank mengubah uang
        yang tidak aktif menjadi aktif ketika diserahkan kepada
        kapitalis yang kemudian menggunakannya untuk menghasilkan
        profit. Perkembangan kapitalisme telah mengubah fungsi bank
        yang tadinya hanya sebagai perantara. Sekarang bank tidak saja
        menguasai uang/modal kaum kapitalis, pengusaha industri,
        pengusaha kecil dan menengah, tapi juga alat produksi dan
        sumber daya alam di berbagai negeri. Dalam proses ini
        bank-bank kecil “dimakan” oleh bank yang lebih besar. Fusi dan
        akuisisi juga mempercepat proses konsentrasi bank. Kapital
        yang dikuasai para bankir itulah yang dinamakan kapital
        finansial. Kapital finansial ini digunakan dalam industri,
        maka bankir sekaligus merangkap menjadi kapitalis industri.
        Dari situ datangnya salah satu ciri imperialis yang
        diungkapkan Lenin. Modal industri bergabung dengan modal bank
        dan melahirkan modal finansial dan oligarki finansial. Artinya
        sekelompok kecil kapitalis memusatkan kapital finansial di
        tangannya melalui kepemilikan atas bank dan lembaga keuangan
        terbesar dan korporasi industri terbesar di dunia!
        Menurut Pao Yu Ching (profesor emeritus bidang ekonomi dari
        Marygrove College, Amerika Serikat), globalisasi neoliberal di
        mana terjadi liberalisasi dan deregulasi dalam lembaga-lembaga
        dan transaksi keuangan, telah membebaskan kapital finansial
        dari regulasi pemerintah. Manipulasi melalui teknologi canggih
        dalam komunikasi dan kekuasaan negara-negara imperialis
        membuat kapital finansial menjadi lebih mampu untuk
        memindahkan krisis dari satu bagian dunia ke bagian lain
        seperti yang terjadi sejak krisis 1980-an sampai krisis di
        abad 21 yang semakin serius.
        Tiongkok juga tidak lepas dari kapitalisme monopoli. Fred
        Engst (profesor ekonomi dari University of International
        Business and Economics, Beijing) menjelaskan bahwa perusahaan
        negara dimiliki oleh birokrasi pemerintah atau konglomerat
        modal negara Tiongkok. Konglomerat modal negara adalah pemilik
        modal terbesar dengan kekuasaan monopoli juga terbesar di
        Tiongkok. Gabungan kapital finansial dan kapital industri yang
        dimiliki konglomerat modal negara Tiongkok bahkan lebih besar
        dari satu korporasi, atau satu konglomerat atau kartel atau
        konsorsium atau multinasional di AS, Eropa, atau Jepang!
        Konglomerat modal negara ini memiliki kontrol absolut atas
        partai, seluruh mesin negara dan kekuatan militer. Dengan
        begitu, konglomerat modal negara dapat langsung memobilisasi
        kapital industri dan kapital finansialnya di atas kekuasaan
        negara guna mengabdi kepada kepentingan ekspansi modalnya.
        Kapitalisme monopoli di Tiongkok juga tidak bisa menghindari
        krisis kelebihan produksi sehingga mengharuskannya untuk
        mengekspor modalnya ke negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika
        Latin. Bertemulah kita dengan ciri lain dari imperialisme yang
        sudah diungkapkan Lenin lebih dari satu abad yang lalu, yaitu
        ekspor kapital!
        Sudah tentu kaum revisionis modern terus menjajakan pepesan
        kosong “sosialisme dengan ciri Tiongkok”. Bukan kebetulan dan
        sia-sia nama revisionis yang disandangnya. Mereka merevisi dan
        mencampakkan inti sari dari Marxisme-Leninisme dan
        menggantikannya dengan teori revisionis, seperti misalnya,
        peralihan secara damai ke sosialisme dan sosialisme pasar.
        Karena menganggap ajaran Lenin sudah usang, maka mereka
        berkeras menolak kenyataan bahwa kapitalisme sudah membawa
        Tiongkok menjadi kekuatan imperialis yang sedang berkembang.
        Padahal perkembangan kapitalisme tak terhindarkan akan
        berakhir pada imperialisme.
        Sifat agresif imperialis Tiongkok terlihat jelas dalam
        usahanya untuk menciptakan orde baru global guna menggantikan
        lembaga-lembaga internasional yang dikuasai kekuatan Barat-AS
        dengan berbagai lembaga di bawah dominasinya. Misalnya, New
        Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank dan New
        Silk Road Fund dengan tujuan memobilisasi dukungan dan
        mendorong maju proyek One Belt One Road (OBOR).
        Tiongkok memperkuat aliansi dengan Rusia. Melalui Shanghai
        Cooperation Organization, Tiongkok berusaha memperluas
        pengaruhnya di Eurasia. Ia juga tak ragu-ragu mengklaim Lautan
        Tiongkok Selatan serta pulau-pulaunya sebagai miliknya. Dengan
        cepat ia membangun di situ infrastruktur militer. Bahkan
        krisis virus corona tidak menghentikan Tiongkok untuk terus
        mengkonsolidasi kekuasaannya di pulau-pulau yang masih
        disengketakan dengan negeri-negeri tetangganya. South China
        Morning Post memberitakan bahwa Dewan Negara Tiongkok
        baru-baru ini telah menyetujui pembentukan dua distrik baru,
        Distrik Xisha dan Distrik Nansha di bawah kota Sansha.
        Tak heranlah kita melihat AS kebakaran jenggot. Kedudukannya
        sebagai satu-satunya kekuasaan adikuasa terancam oleh Tiongkok
        yang merasa sudah tiba waktunya untuk membagi kembali dunia
        dengan memberinya daerah di bawah dominasi dan pengaruhnya.
        Pembagian dunia di bawah kekuasaan negara-negara besar juga
        tercakup dalam karya Lenin Imperialisme, Tingkat Tertinggi
        Kapitalisme.
        Kehadiran Tiongkok imperialis yang memperebutkan sumber bahan
        baku bagi industrinya, pasar bagi modal dan produknya yang
        berlebihan, dan daerah di bawah pengaruhnya, tak pelak telah
        menajamkan kontradiksinya dengan AS.
        Apa Itu Negara?
        Ketika bicara tentang ajaran Marx dan Engels, Lenin menulis
        bahwa setelah mereka meninggal, kelas borjuasi dan kaum
        oportunis berusaha mengebiri esensi dan menumpulkan ketajaman
        teori revolusioner serta memvulgarkannya. Mereka
        menghilangkan, mengaburkan dan memutarbalik semangat dan roh
        revolusionernya.
        Apa yang dikatakan Lenin tentang ajaran Marx, terjadi juga
        dengan ajarannya ketika kaum revisionis modern berdominasi di
        Partai Komunis Uni Soviet. Begitu juga terjadi dengan ajaran
        Mao Zedong ketika Deng Xiao Ping dan kliknya berhasil
        menguasai Partai Komunis Tiongkok.
        Salah satu masalah penting yang dibahas Lenin dalam Negara dan
        Revolusi adalah negara. Mengapa dalam sistim komune primitif
        tidak ada negara?
        Untuk mengerti dengan benar arti negara, pertama orang harus
        memahami kelas dan kontradiksi antara kelas-kelas dalam
        masyarakat yang menimbulkan perjuangan kelas.
        Orang sering menuduh kaum komunis sebagai pihak yang
        “menciptakan” ide tentang kelas, kontradiksi kelas dan
        perjuangan kelas. Sehingga kalau orang bicara soal perjuangan
        kelas, langsung dituduh komunis! Salah besar! Bahkan Marx
        pernah berkata bukan dia yang menemukan adanya kelas dan
        perjuangan kelas dalam masyarakat modern. Marx merasa berutang
        pada sejarawan borjuis liberal. Jauh sebelum Marx,
        sejarawan-sejarawan borjuis-lah yang menggambarkan dan
        mengerti sejarah perkembangan masyarakat melalui prisma
        perjuangan kelas (Surat Marx kepada Joseph Weydemeyer, 1852).
        Keberadaan kelas, kontradiksi dan perjuangan kelas sepenuhnya
        di luar keinginan subjektif seseorang. Diakui atau tidak,
        mereka ada dalam masyarakat berkelas secara objektif. Orang
        masuk kelas yang mana, itu ditentukan oleh hubungan dengan
        atau kepemilikan atas alat produksi dan harta/aset.
        Ketika perkembangan masyarakat mencapai tahap yang melahirkan
        kelas-kelas dengan kepentingan ekonomi yang bertolak belakang
        sehingga tak terdamaikan, timbullah negara.. Negara diperlukan
        untuk meredam – bukan mendamaikan – kontradiksi kelas yang tak
        terdamaikan itu agar masyarakat tidak hancur. Dengan kata lain
        adanya negara merupakan pengakuan akan adanya kontradiksi
        kelas yang tak dapat didamaikan. Oleh karena itu, dalam sebuah
        masyarakat di mana tidak terdapat bentrokan kepentingan
        ekonomi yang tak dapat didamaikan, seperti komune primitif,
        tidak ada negara.
        Negara juga berarti kekuasaan yang dilahirkan masyarakat tapi
        menempatkan dirinya di atas masyarakat itu. Dan orang-orang
        yang memegang kekuasaan negara sudah tentu mereka yang
        mewakili kelas yang berdominasi secara ekonomi dan politik dan
        berada di atas kelas yang kepentingan ekonominya bertolak
        belakang dengan mereka.
        Bagaimana Negara Memanifestasikan Dirinya?
        Negara terwujud antara lain, dalam aparat militer dan polisi,
        penjara, lembaga dan produk hukum serta lembaga-lembaga
        politik. Semua itu digunakan oleh kelas yang berkuasa untuk
        menciptakan sebuah orde guna melegalisasi penindasan terhadap
        semua tindakan yang dianggap membahayakan eksistensi
        negaranya. Kenyataan sehari-hari, baik di negeri setengah
        jajahan setengah feodal maupun di negeri kapitalis-imperialis,
        membuktikan kebenaran yang diungkap Marx, Engels dan Lenin.
        Lihat saja bagaimana kaum tani tak berdaya dalam konflik
        tanahnya dengan para pengusaha asing, swasta dan juga negara.
        Bahkan dalam kasus kaum tani yang memenangkan gugatannya di
        lembaga hukum sampai Mahkamah Agung, keputusan tinggal di
        kertas saja. Tidak saja kaum tani, juga kaum buruh, kaum
        miskin kota dan kelas pekerja lainnya semakin terpuruk,
        hak-hak demokratis dan hak untuk hidup layak pun terus
        dikebiri. Kalau berani buka mulut dan melawan ketidakadilan
        yang dideritanya, ganjarannya: penjara, penculikan, bahkan
        pembunuhan.
        Ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Rakyat jelata di
        negeri-negeri Dunia Ketiga juga menghadapi penjara dan
        pembunuhan ketika mereka mengorganisasi diri untuk melawan
        serta menuntut keadilan. Contohnya, Filipina, India, Turki,
        Haiti, Chile, Argentina, Honduras, Paraguay. Di Kolombia tak
        pernah lewat satu minggu tanpa pembunuhan satu-dua aktivis
        HAM, buruh, tani, dan gerakan sosial.
        Bahkan negeri-negeri Eropa Barat dengan welfare state tak
        ragu-ragu melanggar “demokrasi-nya” ketika menghadapi
        aksi-aksi protes militan rakyat yang menentang berbagai
        kebijakan dan reformasi yang merugikan dan membuat
        kehidupannya semakin rentan. Itu sebabnya, orang sering bicara
        tentang kekerasan negara. Sebab, negaralah yang memiliki mesin
        dan perlengkapan untuk melakukan kekerasan. [Tatiana Lukman]

        Sent from Mail for Windows 10

        [Non-text portions of this message have been removed]


Kirim email ke