Iyaaa, ... sungguh sangat PRIHATIN dan MENYEDIHKAN kalau melihat kehidupan rakyat-miskin, ... serba kekuarangan tapi banyak anak2 yang harus dikasih makan dirumah reyotnya itu! Tidak peduli mereka Tionghoa atau suku manapun, juga tidak peduli umat Agama apapun , SAMA SAJA! Yang jadi masalah, mengapa mereka selama puluhan tahun tidak juga menemukan jalan keluar merubah NASIB? Turun temurun terhimpit kemiskinan, ... dan, bagaimana pemecahannya?

Dari banyak tulisan kisah membebaskan desa-desa terbelakang dari kemiskinan dan berhasil mencapai desa makmur di Tiongkok beberapa tahun terakhir ini, kalau boleh saya rangkum, ada 3 masalah utama yang mereka hadapi:

Pertama, DANA awal untuk membuat usaha dan memperbaiki usaha yang bisa dikerjakan, dan, SELAMA ini mereka RIDAK BERHASIL dapatkan DANA itu! Bahkan banyak desa-desa tersisa yang berada diatas pegunungan dan tidak ada jalan untuk mencapai desa itu. Jadi, kelonggaran bagi mereka untuk mendapatkan kredit bank, dengan tanggungan pemerintah tidak bisa sampai ditangan mereka. Bahkan ada sementara orang jahat yang menipu, mengatas namakan ratusan keluarga miskin itu menggondol lari kredit bank yang dapatkan. Membuat desa itu jadi LEBIH-LEBIH terhimpit penderitaaan kemiskinan, ...!

Sementara desa juga gunakan BANTUAN investasi perusahaan swasta membentuk berbagai jenis usaha sesuai dengan kondisi konkrit desa itu, ....! Siapa bilang kapitalis-kapitalis itu melakukan penghisapan berlebih dan tetap membiarkan pekerja hidup papa-miskin??? Justru tidak sedikit kapitalis-kapitalis di Tiongkok, lebih 30 ribu terlibat dalam usaha membebaskan kemiskinan didesa-desa terbelakang yang tersisa 3 tahun terakhir ini, ... dan belum terdengar ada yang GAGAL, lho!

Kedua, teknologi produksi yang memadai. Umumnya, Rakyat miskin begitu rendah pendidikan dan masih mempertahankan teknologi produksi secara alami, sehingga produksi tidak maksimal bahkan karena sistim pengairan yang kurang baik, mengakibatkan gagal panen. Jadi, untuk membantu membebaskan kemiskinan, pemerintah disamping mengirim dan mendidik teknologi produksi modern, mendorong dan beri rangsang anak-anak muda lulousan Univ. kembali kekampung halaman mereka! Tentu pemerintah daerah juga harus membantu memecahkan masalah pengairan didesa, aliran listrik bahkan jalan yang cukup baik untuk mencapai desa itu!

Ketiga, membentuk koperasi-desa. Bangkitkan kesadaran berorganisasi, kebutuhan bekerjasama dalam Koperasi-desa untuk bergotong-royong memecahkan masalah produksi yang mereka hadapi sendiri, ... Dalam hal ini, peran oraganisasi Partai (PKT) didesa itu sangat menentukan! Dengan adanya kesadaran kerja-bersama dalam koperasi itulah desa-desa yang semula terbelakang dan terhimpit kemiskinan bisa berubah menjadi desa-desa yang berkecukupan, menjadi makmur.

Di Indonesia sekalipun masih SULIT, bahkan sangat SULIT untuk bisa jalankan, tapi mesetinya juga tidak akan lolos dari 3 masalah utama tersebut, hanya entah bagaimana pelaksanaan konkritnya.



'nesare' [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/2 下午 08:49 寫道:

Benar saya juga banyak melihat tionghoa miskin ini dimana2 diseluruh pelosok Indonesia. Di bangka Belitung sewaktu saya mengadakan riset disana melihat sendiri betapa rukun kehidupan orang2 disana: melayu, tionghoa, arab, islam, konghucu, Kristen, katholik, budha, animism (orang lom dari kata belum artinya belum menerima agama islam), batak dll.

Kehidupan mereka sama2 kerja, sama2 miskin, sama2 kaya. Rukun sekali. Tidak ada diskriminasi yg menyolok. Paling2 berantem secara individu. Yg sering berantem antar kampung ya antar kampung islam vs kampung islam yg tetanggaan.. Belum atau jarang kedengaran yg berantem antar tionghoa vs islam secara massal.

Kehidupan mereka yg rukun belakangan terganggu dgn masuknya orang2 dari Palembang yg saya dengar sendiri dari kalangan islam bangka bahwa orang2 palembang ini menghasut2 orang2 islam bangka utk anti tionghoa. Orang2 islam bangka yg sudah hidup toleran dgn semua agama dan suku di bangka ini kesel setengah mati sama orang2 palembang islam ini yg suka menghasut. Asimilasi perkawinan melayu tionghoa sudah sejak dari dulu terjadi dipulau ini. Kampung2 di bangka sudah sejak dulu namanya dikenal dalam Bahasa tionghoa krn ya jelas kebanyakan penduduknya adalah keturunan tionghoa. Belakangan kampung2 dgn sebutan dalam bhs tionghoa dikasih nama Indonesia, tetapi ya kampung2 tsb lebih dikenal istilah tionghoa nya.

Disulawesi tengah terutama kab. banggai luwuk sampai dengan Pagimana itu juga begitu. Di pagimana ada kampung slump terbesar didunia yg dihuni oleh suku bajo pelaut ulung yg bisa menyelam 15 menit tanpa alat dalam menangkap ikan. Kehidupan rukun. Tionghoanya tidak banyak ttp rukun krn memang dari dulu sudah begitu rukun. Masuk ke Ampana (pintu masuk ke togean island) lain udaranya krn islamnya lebih dominan. Perang poso itu banyak pemuda islam dari ampana yg datang membantu.

Susah kalau kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa rukun, gimana negara dan bangsa bisa maju?! Ya jelas enak penjajah datang menjarah. Wong didalam sendiri masih cakar2an.

Nesare

*From:* [email protected] <[email protected]>
*Sent:* Saturday, May 2, 2020 3:39 AM
*To:* Gelora45 <[email protected]>; Sunny ambon <[email protected]> *Subject:* Re: [GELORA45] How much richer is the average Chinese Indonesian compared to regular Indonesians today?

Chinese Indonesian itu yang miskin, miskin sekali, tidak ada

home-front di desa, tidak punya tanah. Banyak yang masuk

Islam, Katolik karena ditolong oleh dua organisasi ini. Banyak

yang hidup dari sumbangan, makan instant mie.

Op za 2 mei 2020 om 09:14 schreef Sunny ambon [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>>:

    <https://www.quora.com/profile/Ben-Haryo>

    *Ben Haryo* <https://www.quora..com/profile/Ben-Haryo>, Karate Teacher

    Answered Apr 12
    
<https://www.quora.com/How-much-richer-is-the-average-Chinese-Indonesian-compared-to-regular-Indonesians-today/answer/Ben-Haryo>
 · Upvoted
    by Russel Haristhio
    <https://www.quora.com/profile/Russel-Haristhio>, lives in
    Indonesia (2004-present)

    *How much richer is the average Chinese Indonesian compared to
    regular Indonesians today?*
    
<https://www.quora.com/How-much-richer-is-the-average-Chinese-Indonesian-compared-to-regular-Indonesians-today>**

    If you said “how much richer is the _AVERAGE_ Chinese Indonesians”
    compared to the “Regular” ones, I’d say, we’re all the same. Rich
    Chinese-Indonesians are more _visible_ because they live in the
    big cities and many has gone abroad. But so does the non-chinese
    Indonesians.

    And there are LOTS of poor chinese-Indonesians too. In the
    capital, behind the tall buildings, there are poor people’s
    housing complex and many amongst the are Chinese Indonesians.

    And in the suburban areas around Jakarta too.

    No different with native Indonesians. Many are fabulously wealthy,
    but there are still many of the poor among them.

    I have friends in both communities (rich Chindos & poor Chindos)
    so I won’t believe any propagandas by anybody saying that all
    Chindos are rich. Some are poor.

    10.1K views

    View Upvoters

    View Sharers


Kirim email ke