-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5004874/belajar-dari-jamu-china-untuk-corona?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

Belajar dari "Jamu China" untuk Corona

Mohammad Sholekhudin - detikNews
Rabu, 06 Mei 2020 17:02 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, detikcom memuat berita yang menarik; Wakil Ketua DPR Sufmi 
Dasco Ahmad membagi-bagikan obat tradisional China berbentuk jamu kepada para 
pasien Covid-19 di rumah-rumah sakit rujukan. Tentu saja banyak pihak 
menganggap ini aneh. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional 
Indonesia dan Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia 
memprotesnya.

Di luar perkara polemiknya, fakta itu menyingkap sesuatu yang sangat penting, 
yaitu bahwa dalam urusan jamu pun produk dalam negeri masih belum begitu 
dipercaya, masih kalah oleh produk China.

Selama wabah Covid-19 ini berlangsung, kita melihat kedigdayaan China dalam 
hampir semua hal, termasuk kemajuan dunia farmasi mereka. Ketika Presiden 
Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Jokowi menyebut klorokuin 
sebagai obat Covid-19, itu adalah bentuk pengakuan tak langsung terhadap ilmu 
pengobatan China. Saat itu klorokuin baru dalam tahap uji klinis, tapi Trump 
dan Jokowi sudah mengumumkannya sebagai "obat Covid-19".

Padahal uji klinis klorokuin di beberapa negara ternyata memberi hasil yang 
kurang memuaskan. Di Brazil, misalnya, peneliti menghentikan uji klinis ini 
karena klorokuin diketahui menyebabkan gangguan irama jantung.

Selama ini kita mungkin hanya menaruh perhatian kepada klorokuin, antivirus, 
dan vaksin. Tak banyak yang memperhatikan bahwa China juga menggunakan obat 
tradisional (traditional chinese medicine/TCM) untuk pasien-pasien Covid-19. 
Ini tampak sangat jelas di Pedoman Pencegahan, Pengendalian, Diagnosis, dan 
Manajemen Covid-19. Di sana tertulis dengan jelas beberapa resep TCM yang 
digunakan bersama klorokuin, antivirus, dan obat-obat modern lainnya.

Sebagian besar bahan untuk resep ini khas TCM, misalnya tanaman efedra, biji 
aprikot, artemisia, dan aneka jamur. Sebagian lagi adalah tumbuhan-tumbuhan 
yang juga biasa dipakai untuk obat tradisional di negara kita, misalnya akar 
manis, kayu manis, jeruk nipis, tempuyung, dan sambiloto.

Yang mengagumkan, obat-obat tradisional ini tidak hanya dalam bentuk pil atau 
jamu melainkan juga dalam bentuk injeksi yang langsung dimasukkan ke dalam 
peredaran darah. Padahal larutan injeksi merupakan sediaan farmasi yang 
produksinya sangat rumit karena harus bebas dari mikroba maupun kontaminasi 
partikel mikro.

Injeksi TCM itu antara lain Xiyanping, Xuebijing, Reduning, Tanreqing, dan 
Xingnaojing. Xiyanping dibuat dari tanaman yang cukup banyak digunakan sebagai 
obat tradisional di negara kita, yaitu sambiloto. Reduning dibuat dari tiga 
macam tumbuhan. Xuebijing dan Tanreqing masing-masing dibuat dari lima macam 
tumbuhan.

Adapun Xingnaojing dibuat dari pil yang cukup terkenal di kalangan pencinta 
obat China di Indonesia, yaitu An Gong Niu Huang (biasa dilafalkan Ankung). Pil 
ini biasa digunakan untuk pasien stroke. An Gong Niu Huang adalah obat 
legendaris yang formulanya dibuat pada masa Dinasti Qing abad ke-18. Obat 
stroke ini digunakan karena pasien Covid-19 biasanya juga memiliki penyakit 
lain selain infeksi virus, termasuk stroke.

Tak diragukan lagi, China adalah negara yang paling berani menggunakan obat 
tradisional dan menempatkannya sejajar dengan obat modern. Cara ini 
dipraktikkan tidak hanya oleh individu, tapi juga oleh institusi rumah sakit 
dan didukung penuh oleh pemerintah.

Tentu saja kalau kita menggunakan standar ilmu kedokteran Barat, kita akan 
menemukan banyak peringatan mengenai praktik ini. Food and Drug Administration 
(Badan Pengawas Obat dan Makanan/BPOM AS) mengkategorikan metode pengobatan 
tradisional seperti ini sebagai metode yang berisiko.

Ini bisa dimaklumi karena metode pengobatan Barat lebih banyak menggunakan 
senyawa-senyawa tunggal yang disintesis di laboratorium. Salah satu sebabnya 
adalah karena senyawa tunggal efeknya lebih mudah diamati di dalam riset. 
Sementara satu jenis TCM bisa mengandung banyak sekali zat fitokimia yang tentu 
akan menyulitkan pengamatan saat riset. Apalagi filosofi Ying-Yang yang 
digunakan di TCM juga berbeda dari filosofi kedokteran Barat.

Untuk mengembangkan TCM, pemerintah China tak main-main. Mereka sampai membuat 
badan khusus, Administrasi Nasional Pengobatan Tradisional China, semacam BPOM 
tapi khusus untuk pengembangan obat tradisional. Lembaga ini ikut menyusun 
Pedoman Penanganan Covid-19. Tak hanya itu, Cina juga mendirikan 
universitas-universitas yang khusus berfokus pada pengembangan TCM.

Banyak ahli TCM di negara kita adalah lulusan universitas-universitas itu, 
termasuk yang meramu jamu Covid-19 yang dibagikan oleh Sufmi Dasco Ahmad.

Karena universitas-universitas di China banyak melakukan penelitian mengenai 
TCM, laporan dari riset-riset itu pun sudah cukup banyak kita jumpai di 
jurnal-jurnal ilmiah. Dukungan riset ini merupakan salah satu faktor penting 
kemajuan TCM. Bagian ini harusnya ditiru di Indonesia kalau kita menginginkan 
jamu bisa setara dengan TCM.

Dalam hal kekayaan hayati, Indonesia tak kalah kaya daripada China. Kita juga 
memiliki tradisi pengobatan herbal yang turun-menurun walaupun tidak setua 
tradisi di China. Sayangnya, perkembangan obat tradisional Indonesia masih 
kalah jauh dibandingkan dengan perkembangan obat modern yang bahan bakunya juga 
diimpor dari China.

Indonesia mungkin sulit berkompetisi dengan China dalam hal swaproduksi 
obat-obatan modern. Tapi dalam hal obat tradisional, kalau hanya selevel jamu 
dan bukan injeksi, harusnya kita bisa melakukannya. China memang memiliki aneka 
tanaman yang tidak kita miliki. Tapi kita juga memiliki aneka tanaman yang 
tidak mereka miliki.

Kita memang tidak tahu persis isi jamu Covid-19 itu. Tapi sangat mungkin 
formulanya bisa disubstitusi dengan obat herbal Indonesia. Cara Sufmi Dasco 
Ahmad membuat kesimpulan bahwa kesembuhannya dari Covid-19 karena minum jamu 
TCM itu jelas bisa dipertanyakan.

Bisa saja karena memang infeksi yang ia alami bukan kategori berat. Mungkin 
kebetulan daya tahan tubuhnya cukup bagus. Apalagi banyak laporan menunjukkan 
bahwa infeksi virus Covid-19 memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda. Ada 
yang harus sampai masuk rumah sakit. Ada pula yang cuma demam dan batuk ringan. 
Bahkan ada yang diketahui positif terinfeksi, tapi tidak merasakan gejala yang 
bermakna.

Kalau sekadar obat tradisional untuk menguatkan daya tahan tubuh, kita punya 
banyak obat herbal yang bisa dipakai, mulai dari level jamu hingga fitofarmaka 
yang tingkatnya sama dengan obat modern. Yang levelnya sudah fitofarmaka 
misalnya berasal dari tanaman meniran, yang produk komersialnya cukup laris di 
negara kita. Yang levelnya jamu lebih banyak lagi: kunyit, jahe, temulawak, 
jintan, adas, jambu biji, dan masih banyak lagi.

Dalam hal riset ilmiah, bahan-bahan tersebut mungkin masih kalah dari TCM. Tapi 
kalau cuma selevel jamu, keduanya tak berbeda jauh.

Jadi, kalau selama ini kita hanya mengimpor TCM, sudah waktunya kita juga 
"mengimpor" etos mereka dalam memajukan obat tradisional. Dan itu mungkin bisa 
dimulai dari wakil rakyat di DPR.

Mohammad Sholekhudin apoteker, penulis buku Obat Sehari-Hari

(mmu/mmu)
obat covid-19
jamu
obat tradisional








Kirim email ke