Yang jelas sampai hari ini BELUM ada obat mujarab mengatasi COVID-19,
....! Dan yang aneh, biasanya pasien yang sembuh bisa terjadi imunitas
dalam tubuhnya, tapi ternyata terjadi ratusan, bahkan ada tulisan yang
menyatakan seribu lebih pasien yang positif Covid-19 dan berhasil
sembuh, TIDAK terjadi imunitas dalam tubuhnya! Bahkan ada beberapa
pasien yang setelah sembuh, kambuh kembali, ...!
Sudah banyak ahli bidang kedokteran mengakui KENYATAAN, pengobatan
dengan jamu-jamu sekalipun reaksinya lambat tapi sedikit bahkan tak ada
side-efek nya. Dalam menghadapi wabah Covid-19 di Wuhan, lebih 80 ribu
pasien Covid-19 itu, persentasi yang sembuh gunakan jamu lebih besar
dari berbagai obat barat yang diuji-coba. Sebaliknya gunakan pengobatan
barat dengan bahan kimia sekalipun reaksi cepat tapi terjadi side-efek
yang negatif bagi kesehatan manusia! Nampaknya ada penolakan tubuh
manusia terhadap bahan kimia, dan kalau berlebih jadi mengganggu dan
merusak organ manusia. Jadi, memang harus ada uji klinik yang serius
dalam menggunakan obat2an kimia, kadar kimia yang terkandung cukup
mematikan virus tapi tidak sampai terlalu merusak organ tubuh manusia
pada umumnya! Termasuk kalau menggunakan chloroquine, ...
Tapi, ... apa betul setelah Trump ucapkan gunakan chloroquine ada korban
yang jatuh di Amerika? Masak iya ada orang yang begitu bodoh dan gegabah
ngobati sendiri dengan chloroquine? Diminum atau disuntikkan chloroquine
itu?
Tapi lagi, saya terkadang tidak juga bisa mengerti bagaimana sikap orang
Amerika yang dikatakan cukup tinggi kebudayaannya itu, ternyata bisa
terjadi jatuh KORBAN jiwa hanya karena masalah pakai masker! Kabarnya di
Michiegan (?), seorang ibu dengan anaknya ke supermarket ditegur
pengawas karena anaknya tidak masker! Terjadi pertengkaran sengit, ...
si ibu pulang kerumah, datang lagi bersama suami dan anak lelaki nya
membawa senjata, menembak mati petugas tadi! Sungguh tidak bisa
dibayangkan dinegara yang beradab dan selalu mengangkat kemanusiaan di
Amerika, bisa terjadi masalah sepele begitu bisa menembak mati orang!
Betuuul tidak berita itu???
Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/7 上午 04:57
寫道:
Aduh... mateng
Jangan promosikan chloroquine utk Covid-19 itu si Trump ngawur banget,
sekarang si Trump bungkam masalah chloroquine setelah korban2 berjatuhan.
On Wednesday, May 6, 2020, 09:25:16 AM PDT, 'j.gedearka'
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
--
j.gedearka <[email protected] <mailto:[email protected]>>
https://news.detik.com/kolom/d-5004874/belajar-dari-jamu-china-untuk-corona?tag_from=wp_cb_kolom_list
Kolom
*Belajar dari "Jamu China" untuk Corona*
Mohammad Sholekhudin - detikNews
Rabu, 06 Mei 2020 17:02 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Jakarta -
Beberapa waktu lalu, detikcom memuat berita yang menarik; Wakil Ketua
DPR Sufmi Dasco Ahmad membagi-bagikan obat tradisional China berbentuk
jamu kepada para pasien Covid-19 di rumah-rumah sakit rujukan. Tentu
saja banyak pihak menganggap ini aneh. Ketua Umum Gabungan Pengusaha
Jamu dan Obat Tradisional Indonesia dan Perkumpulan Dokter Pengembang
Obat Tradisional dan Jamu Indonesia memprotesnya.
Di luar perkara polemiknya, fakta itu menyingkap sesuatu yang sangat
penting, yaitu bahwa dalam urusan jamu pun produk dalam negeri masih
belum begitu dipercaya, masih kalah oleh produk China.
Selama wabah Covid-19 ini berlangsung, kita melihat kedigdayaan China
dalam hampir semua hal, termasuk kemajuan dunia farmasi mereka. Ketika
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Jokowi
menyebut klorokuin sebagai obat Covid-19, itu adalah ben tuk pengakuan
tak langsung terhadap ilmu pengobatan China. Saat itu klorokuin baru
dalam tahap uji klinis, tapi Trump dan Jokowi sudah mengumumkannya
sebagai "obat Covid-19".
Padahal uji klinis klorokuin di beberapa negara ternyata memberi hasil
yang kurang memuaskan. Di Brazil, misalnya, peneliti menghentikan uji
klinis ini karena klorokuin diketahui menyebabkan gangguan irama jantung.
Selama ini kita mungkin hanya menaruh perhatian kepada klorokuin,
antivirus, dan vaksin. Tak banyak yang memperhatikan bahwa China juga
menggunakan obat tradisional (traditional chinese medicine/TCM) untuk
pasien-pasien Covid-19. Ini tampak sangat jelas di Pedoman Pencegahan,
Pengendalian, Diagnosis, dan Manajemen Covid-19. Di sana tertulis
dengan jelas beberapa resep TCM yang digunakan bersama klorokuin,
antivirus, dan obat-obat modern lainnya.
Sebagian b esar bahan untuk resep ini khas TCM, misalnya tanaman
efedra, biji aprikot, artemisia, dan aneka jamur. Sebagian lagi adalah
tumbuhan-tumbuhan yang juga biasa dipakai untuk obat tradisional di
negara kita, misalnya akar manis, kayu manis, jeruk nipis, tempuyung,
dan sambiloto.
Yang mengagumkan, obat-obat tradisional ini tidak hanya dalam bentuk
pil atau jamu melainkan juga dalam bentuk injeksi yang langsung
dimasukkan ke dalam peredaran darah. Padahal larutan injeksi merupakan
sediaan farmasi yang produksinya sangat rumit karena harus bebas dari
mikroba maupun kontaminasi partikel mikro.
Injeksi TCM itu antara lain Xiyanping, Xuebijing, Reduning, Tanreqing,
dan Xingnaojing. Xiyanping dibuat dari tanaman yang cukup banyak
digunakan sebagai obat tradisional di negara kita, yaitu sambiloto.
Reduning dibuat dari tiga macam tumbuhan. Xuebijing dan Tanreqing
masing-masing dibuat dari lima mac am tumbuhan.
Adapun Xingnaojing dibuat dari pil yang cukup terkenal di kalangan
pencinta obat China di Indonesia, yaitu An Gong Niu Huang (biasa
dilafalkan Ankung). Pil ini biasa digunakan untuk pasien stroke. An
Gong Niu Huang adalah obat legendaris yang formulanya dibuat pada masa
Dinasti Qing abad ke-18. Obat stroke ini digunakan karena pasien
Covid-19 biasanya juga memiliki penyakit lain selain infeksi virus,
termasuk stroke.
Tak diragukan lagi, China adalah negara yang paling berani menggunakan
obat tradisional dan menempatkannya sejajar dengan obat modern. Cara
ini dipraktikkan tidak hanya oleh individu, tapi juga oleh institusi
rumah sakit dan didukung penuh oleh pemerintah.
Tentu saja kalau kita menggunakan standar ilmu kedokteran Barat, kita
akan menemukan banyak peringatan mengenai praktik ini. Food and Drug
Administration (Bada n Pengawas Obat dan Makanan/BPOM AS)
mengkategorikan metode pengobatan tradisional seperti ini sebagai
metode yang berisiko.
Ini bisa dimaklumi karena metode pengobatan Barat lebih banyak
menggunakan senyawa-senyawa tunggal yang disintesis di laboratorium.
Salah satu sebabnya adalah karena senyawa tunggal efeknya lebih mudah
diamati di dalam riset. Sementara satu jenis TCM bisa mengandung
banyak sekali zat fitokimia yang tentu akan menyulitkan pengamatan
saat riset. Apalagi filosofi Ying-Yang yang digunakan di TCM juga
berbeda dari filosofi kedokteran Barat.
Untuk mengembangkan TCM, pemerintah China tak main-main. Mereka sampai
membuat badan khusus, Administrasi Nasional Pengobatan Tradisional
China, semacam BPOM tapi khusus untuk pengembangan obat tradisional.
Lembaga ini ikut menyusun Pedoman Penanganan Covid-19. Tak hanya itu,
Cina juga mendirikan universitas-universitas yang khusus berfokus pada
pengembangan TCM.
Banyak ahli TCM di negara kita adalah lulusan universitas-universitas
itu, termasuk yang meramu jamu Covid-19 yang dibagikan oleh Sufmi
Dasco Ahmad.
Karena universitas-universitas di China banyak melakukan penelitian
mengenai TCM, laporan dari riset-riset itu pun sudah cukup banyak kita
jumpai di jurnal-jurnal ilmiah. Dukungan riset ini merupakan salah
satu faktor penting kemajuan TCM. Bagian ini harusnya ditiru di
Indonesia kalau kita menginginkan jamu bisa setara dengan TCM.
Dalam hal kekayaan hayati, Indonesia tak kalah kaya daripada China.
Kita juga memiliki tradisi pengobatan herbal yang turun-menurun
walaupun tidak setua tradisi di China. Sayangnya, perkembangan obat
tradisional Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan
perkembangan obat modern yang bahan bakunya juga diimpor dari China.
Indonesia mungkin sulit berkompetisi dengan China dalam hal
swaproduksi obat-obatan modern. Tapi dalam hal obat tradisional, kalau
hanya selevel jamu dan bukan injeksi, harusnya kita bisa melakukannya.
China memang memiliki aneka tanaman yang tidak kita miliki. Tapi kita
juga memiliki aneka tanaman yang tidak mereka miliki.
Kita memang tidak tahu persis isi jamu Covid-19 itu. Tapi sangat
mungkin formulanya bisa disubstitusi dengan obat herbal Indonesia.
Cara Sufmi Dasco Ahmad membuat kesimpulan bahwa kesembuhannya dari
Covid-19 karena minum jamu TCM itu jelas bisa dipertanyakan.
Bisa saja karena memang infeksi yang ia alami bukan kategori berat.
Mungkin kebetulan daya tahan tubuhnya cukup bagus. Apalagi banyak
laporan menunjukkan bahwa infeksi virus Covid-19 memiliki tingkat
keparahan yang berbeda-beda. Ada yang harus sampai masuk rumah sakit.
Ad a pula yang cuma demam dan batuk ringan. Bahkan ada yang diketahui
positif terinfeksi, tapi tidak merasakan gejala yang bermakna.
Kalau sekadar obat tradisional untuk menguatkan daya tahan tubuh, kita
punya banyak obat herbal yang bisa dipakai, mulai dari level jamu
hingga fitofarmaka yang tingkatnya sama dengan obat modern. Yang
levelnya sudah fitofarmaka misalnya berasal dari tanaman meniran, yang
produk komersialnya cukup laris di negara kita. Yang levelnya jamu
lebih banyak lagi: kunyit, jahe, temulawak, jintan, adas, jambu biji,
dan masih banyak lagi.
Dalam hal riset ilmiah, bahan-bahan tersebut mungkin masih kalah dari
TCM. Tapi kalau cuma selevel jamu, keduanya tak berbeda jauh.
Jadi, kalau selama ini kita hanya mengimpor TCM, sudah waktunya kita
juga "mengimpor" etos mereka dalam memajukan obat tradisional. Dan itu
mungkin bisa di mulai dari wakil rakyat di DPR.
Mohammad Sholekhudin apoteker, penulis buku Obat Sehari-Hari
(mmu/mmu)
obat covid-19
jamu
obat tradisional
------------------------------------
Posted by: "j.gedearka" <[email protected]
<mailto:[email protected]>>
------------------------------------
Berita dan Tulisan yang disiarkan GELORA45-Group, sekadar untuk
diketahui dan sebagai bahan pertimbangan kawan-kawa n, tidak berarti
pasti mewakili pendapat dan pendirian GELORA45.
Untuk merubah status pengiriman berita/tulisan, kirim saja email
kosong kealamat: Hanya saja ingat, status baru berubah setelah bung
me-reply email konfirmasi dari yahoogroup!
No Mail : [email protected]
<mailto:[email protected]>
Normal : [email protected]
<mailto:[email protected]>
Daily Digest: [email protected]
<mailto:[email protected]> (Diterima dalam SATU email
dari sekian kumpulan email yg masuk di grup-milis)
------------------------------------
Yahoo Groups Links
<mailto:[email protected]>