Aduh... matengJangan promosikan chloroquine utk Covid-19 itu si Trump ngawur
banget, sekarang si Trump bungkam masalah chloroquine setelah korban2
berjatuhan.
On Wednesday, May 6, 2020, 09:25:16 AM PDT, 'j.gedearka'
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
--
j.gedearka <[email protected]>
https://news.detik.com/kolom/d-5004874/belajar-dari-jamu-china-untuk-corona?tag_from=wp_cb_kolom_list
Kolom
Belajar dari "Jamu China" untuk Corona
Mohammad Sholekhudin - detikNews
Rabu, 06 Mei 2020 17:02 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Jakarta -
Beberapa waktu lalu, detikcom memuat berita yang menarik; Wakil Ketua DPR Sufmi
Dasco Ahmad membagi-bagikan obat tradisional China berbentuk jamu kepada para
pasien Covid-19 di rumah-rumah sakit rujukan. Tentu saja banyak pihak
menganggap ini aneh. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional
Indonesia dan Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia
memprotesnya.
Di luar perkara polemiknya, fakta itu menyingkap sesuatu yang sangat penting,
yaitu bahwa dalam urusan jamu pun produk dalam negeri masih belum begitu
dipercaya, masih kalah oleh produk China.
Selama wabah Covid-19 ini berlangsung, kita melihat kedigdayaan China dalam
hampir semua hal, termasuk kemajuan dunia farmasi mereka. Ketika Presiden
Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Jokowi menyebut klorokuin
sebagai obat Covid-19, itu adalah bentuk pengakuan tak langsung terhadap ilmu
pengobatan China. Saat itu klorokuin baru dalam tahap uji klinis, tapi Trump
dan Jokowi sudah mengumumkannya sebagai "obat Covid-19".
Padahal uji klinis klorokuin di beberapa negara ternyata memberi hasil yang
kurang memuaskan. Di Brazil, misalnya, peneliti menghentikan uji klinis ini
karena klorokuin diketahui menyebabkan gangguan irama jantung.
Selama ini kita mungkin hanya menaruh perhatian kepada klorokuin, antivirus,
dan vaksin. Tak banyak yang memperhatikan bahwa China juga menggunakan obat
tradisional (traditional chinese medicine/TCM) untuk pasien-pasien Covid-19.
Ini tampak sangat jelas di Pedoman Pencegahan, Pengendalian, Diagnosis, dan
Manajemen Covid-19. Di sana tertulis dengan jelas beberapa resep TCM yang
digunakan bersama klorokuin, antivirus, dan obat-obat modern lainnya.
Sebagian besar bahan untuk resep ini khas TCM, misalnya tanaman efedra, biji
aprikot, artemisia, dan aneka jamur. Sebagian lagi adalah tumbuhan-tumbuhan
yang juga biasa dipakai untuk obat tradisional di negara kita, misalnya akar
manis, kayu manis, jeruk nipis, tempuyung, dan sambiloto.
Yang mengagumkan, obat-obat tradisional ini tidak hanya dalam bentuk pil atau
jamu melainkan juga dalam bentuk injeksi yang langsung dimasukkan ke dalam
peredaran darah. Padahal larutan injeksi merupakan sediaan farmasi yang
produksinya sangat rumit karena harus bebas dari mikroba maupun kontaminasi
partikel mikro.
Injeksi TCM itu antara lain Xiyanping, Xuebijing, Reduning, Tanreqing, dan
Xingnaojing. Xiyanping dibuat dari tanaman yang cukup banyak digunakan sebagai
obat tradisional di negara kita, yaitu sambiloto. Reduning dibuat dari tiga
macam tumbuhan. Xuebijing dan Tanreqing masing-masing dibuat dari lima macam
tumbuhan.
Adapun Xingnaojing dibuat dari pil yang cukup terkenal di kalangan pencinta
obat China di Indonesia, yaitu An Gong Niu Huang (biasa dilafalkan Ankung)..
Pil ini biasa digunakan untuk pasien stroke. An Gong Niu Huang adalah obat
legendaris yang formulanya dibuat pada masa Dinasti Qing abad ke-18. Obat
stroke ini digunakan karena pasien Covid-19 biasanya juga memiliki penyakit
lain selain infeksi virus, termasuk stroke.
Tak diragukan lagi, China adalah negara yang paling berani menggunakan obat
tradisional dan menempatkannya sejajar dengan obat modern. Cara ini
dipraktikkan tidak hanya oleh individu, tapi juga oleh institusi rumah sakit
dan didukung penuh oleh pemerintah.
Tentu saja kalau kita menggunakan standar ilmu kedokteran Barat, kita akan
menemukan banyak peringatan mengenai praktik ini. Food and Drug Administration
(Badan Pengawas Obat dan Makanan/BPOM AS) mengkategorikan metode pengobatan
tradisional seperti ini sebagai metode yang berisiko.
Ini bisa dimaklumi karena metode pengobatan Barat lebih banyak menggunakan
senyawa-senyawa tunggal yang disintesis di laboratorium. Salah satu sebabnya
adalah karena senyawa tunggal efeknya lebih mudah diamati di dalam riset.
Sementara satu jenis TCM bisa mengandung banyak sekali zat fitokimia yang tentu
akan menyulitkan pengamatan saat riset. Apalagi filosofi Ying-Yang yang
digunakan di TCM juga berbeda dari filosofi kedokteran Barat.
Untuk mengembangkan TCM, pemerintah China tak main-main. Mereka sampai membuat
badan khusus, Administrasi Nasional Pengobatan Tradisional China, semacam BPOM
tapi khusus untuk pengembangan obat tradisional. Lembaga ini ikut menyusun
Pedoman Penanganan Covid-19. Tak hanya itu, Cina juga mendirikan
universitas-universitas yang khusus berfokus pada pengembangan TCM.
Banyak ahli TCM di negara kita adalah lulusan universitas-universitas itu,
termasuk yang meramu jamu Covid-19 yang dibagikan oleh Sufmi Dasco Ahmad.
Karena universitas-universitas di China banyak melakukan penelitian mengenai
TCM, laporan dari riset-riset itu pun sudah cukup banyak kita jumpai di
jurnal-jurnal ilmiah. Dukungan riset ini merupakan salah satu faktor penting
kemajuan TCM. Bagian ini harusnya ditiru di Indonesia kalau kita menginginkan
jamu bisa setara dengan TCM.
Dalam hal kekayaan hayati, Indonesia tak kalah kaya daripada China. Kita juga
memiliki tradisi pengobatan herbal yang turun-menurun walaupun tidak setua
tradisi di China. Sayangnya, perkembangan obat tradisional Indonesia masih
kalah jauh dibandingkan dengan perkembangan obat modern yang bahan bakunya juga
diimpor dari China.
Indonesia mungkin sulit berkompetisi dengan China dalam hal swaproduksi
obat-obatan modern. Tapi dalam hal obat tradisional, kalau hanya selevel jamu
dan bukan injeksi, harusnya kita bisa melakukannya. China memang memiliki aneka
tanaman yang tidak kita miliki. Tapi kita juga memiliki aneka tanaman yang
tidak mereka miliki.
Kita memang tidak tahu persis isi jamu Covid-19 itu. Tapi sangat mungkin
formulanya bisa disubstitusi dengan obat herbal Indonesia. Cara Sufmi Dasco
Ahmad membuat kesimpulan bahwa kesembuhannya dari Covid-19 karena minum jamu
TCM itu jelas bisa dipertanyakan.
Bisa saja karena memang infeksi yang ia alami bukan kategori berat. Mungkin
kebetulan daya tahan tubuhnya cukup bagus. Apalagi banyak laporan menunjukkan
bahwa infeksi virus Covid-19 memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda. Ada
yang harus sampai masuk rumah sakit. Ada pula yang cuma demam dan batuk ringan.
Bahkan ada yang diketahui positif terinfeksi, tapi tidak merasakan gejala yang
bermakna.
Kalau sekadar obat tradisional untuk menguatkan daya tahan tubuh, kita punya
banyak obat herbal yang bisa dipakai, mulai dari level jamu hingga fitofarmaka
yang tingkatnya sama dengan obat modern. Yang levelnya sudah fitofarmaka
misalnya berasal dari tanaman meniran, yang produk komersialnya cukup laris di
negara kita. Yang levelnya jamu lebih banyak lagi: kunyit, jahe, temulawak,
jintan, adas, jambu biji, dan masih banyak lagi.
Dalam hal riset ilmiah, bahan-bahan tersebut mungkin masih kalah dari TCM. Tapi
kalau cuma selevel jamu, keduanya tak berbeda jauh.
Jadi, kalau selama ini kita hanya mengimpor TCM, sudah waktunya kita juga
"mengimpor" etos mereka dalam memajukan obat tradisional. Dan itu mungkin bisa
dimulai dari wakil rakyat di DPR.
Mohammad Sholekhudin apoteker, penulis buku Obat Sehari-Hari
(mmu/mmu)
obat covid-19
jamu
obat tradisional
------------------------------------
Posted by: "j.gedearka" <[email protected]>
------------------------------------
Berita dan Tulisan yang disiarkan GELORA45-Group, sekadar untuk diketahui dan
sebagai bahan pertimbangan kawan-kawan, tidak berarti pasti mewakili pendapat
dan pendirian GELORA45.
Untuk merubah status pengiriman berita/tulisan, kirim saja email kosong
kealamat: Hanya saja ingat, status baru berubah setelah bung me-reply email
konfirmasi dari yahoogroup!
No Mail : [email protected]
Normal : [email protected]
Daily Digest: [email protected] (Diterima dalam SATU email dari
sekian kumpulan email yg masuk di grup-milis)
------------------------------------
Yahoo Groups Links