Bung Manap,
Terimakasih atas uraian pengalamannya. Ya, kita yang
tak pernah kerja di bidang itu sekarang baru mengerti,
meskipun sebvelumnya saya rasakan "kok aneh" waktu
baca artikel itu.
Tentang minum hanya air sulingan dari air laut, kalau
murni hanya dari air sulingan rasanya tidak seenak air
biasa, yang ada ion2 nya. Kami pernah dengan bung Ilyas,
May Swan dan 2 pasangan lain dari California ikut cruise
sepanjang pantai New Zealand dengan Holland American Line.
 Selama cruise kami minum nya air sulingan (destillatie)
dari air laut, tetapi supaya rasanya enak seperti air biasa
(air sumur, air leiding), aqua destillatanya dipompa dulu
ke batu mineral, supaya rasanya sama sepereti air biasa.
Kalau air mandi dan untuk toilet tidak dipompa dulu lewat batu
mineral. Karena kesadahannya nol, lama sekali shampoo
dan sabunnya baru hilang dari badan.
Itu saya lihat sendiri bersama satu teman. Kami diijinkan lihat
instalasinya dengan prinsip Multiple effect evaporator yang dipanasi
dan juga divacuum. Dijelaskan oleh kepala bagian tekniknya,
insinyur  mesin lulusan Delft. Operatornya semuanya lulusan STM
dari Indonesia.
Saya tanya kok tidak beli saja dari perusahaan air minum kalau
kapal berlabuh. Dia bilang, kalau di situ harganya murah dan
kwalitasnya untuk kesehatan bagus, ya bisa. Tetapi dia mesti
perhitungkan juga kalau installasinya tidak bekerja, operator2nya
harus tetap dibayar.
Salam,
Djie

Op vr 8 mei 2020 om 12:27 schreef S Manap [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>
>    Untuk teman-teman penulis maupun pembaca milist Gelora 45.
>
>    Saya berkesan, cukup banyak berita yang kita bisa baca yang dimuat oleh
> teman-teman di milist ini. Juga cukup banyak teman-teman yang mampu
> menulis  entah apapun isinya, di mana setiap pembaca bisa melakukan
> penilaian sesuai dengan isi hati dan pikiran masing-masing.
>
>    Hanya saja menurut saya, dalam membaca berita ataupun tulisan di sini
> diperlukan kekritisan, tidak terlalu mudah menerima, juga tidak perlu
> apriori dalam membaca berita yang belum tentu kebenarannya.
>
>    Dalam menanggapi berita tentang WNI  sampai berdiri 30 jam atau bekerja
> 18 jam sehari di kapal penangkap ikan, bagi saya hal  yang demikian itu
> sulit untuk diterima oleh akal sehat, entah itu kapal Tiongkok ataupun itu
> kapal Korea Selatan. Pemilik perusahaan penangkap ikan entah negeri mana
> yang memerlukan tenaga kerja,  tidak akan sekejam itu memperlakukan
> pekerjanya.
>
>    Saya ada sedikit pemahaman cara kerja awak kapal penangkap ikan.Karena
> di samping tugas pokok yang harus saya lakukan, saya juga turut serta
> melakukan tugas menangkap ikan bersama awak kapal  yang tugasnya memang
> hanya menangkap ikan. Saya sendiri banyak teman yang tugas utamanya hanya
> mengurus ikan.
>    Biasanya, nachoda kapal ikan akan membawa kapal ketempat yang
> dianggapnya banyak ikannya. Setelah tiba di tempat itu maka dia akan
> memerintahkan para awak kapal menurunkan pukat (jaring) ke laut. Setelah
> pukat diturunkan, maka semua awak kapal  bisa istirahat beberapa jam sesuai
> dengan perkiraan sudah ada berapa banyak ikan yang masuk kedalam pukat.
> Pada periode beberapa jam itu yang tetap harus bekerja hanya nachoda,
> stirman, dan seorang masinis. Yang lainnya semua istirahat dan umumnya
> mereka tidur selama tidak ada pekerjaan.
>
>    Tibalah saatnya  mengangkat pukat (jaring ikan). Tugas ini dilakukan
> bersama-sama oleh awak kapal. Berapapun ikan yang masuk ke dalam pukat,
> akan dimasukkan kedalam peti es yang sudah tersedia. Kemudian pukat
> diturunkan lagi. Setelah pukat diturunkan lagi, maka awak kapal  bisa
> istirahat lagi karena pekerjaan sudah selesai. Demikian seterusnya selama
> beberapa hari  baik siang maupun malam. Sedangkan nachoda, stirman (yang
> menyetir kapal) maupun masinis, selalu tersedia penggantinya supaya yang
> sudah bekerja beberapa jam bisa istirahat.
>
>    Sedangkan masalah makan, di kapal penangkap ikan tidak akan kekurangan
> gizi, karena baik ikan maupun hewan laut lainnya  yang masuk kedalam pukat
> ikan  tidak akan kurang dan bisa dimakan.
>    Setelah beberapa hari berjalan demikian, maka kapal akan pulang ke
> pelabuhan untuk menurunkan ikan.
> Pada saat itulah awak kapal  bisa turun, bisa melihat daratan dan bahkan
> bisa jalan-jalan untuk menunggu pelayaran yang berikutnya.
>     Dugaan saya awak kapal ikan yang terdiri dari orang Indonesia itu,
> tidak waspada ketika turun ke darat, disitulah ada yang kejangkitan virus
> corona  yang mereka bawa lagi keatas kapal dalam pelayaran yang berikutnya.
> Lalu apa yang terjadi? Sampai ada yang mati diatas kapal karena penyakit
> yang menjangkiti mereka  di pelabuhan  tanpa merejka sadari.
>
>    Apakah begitu prosesnya sampai awak kapal dari Indonesia sampai mati di
> atas kapal, hanya mereka yang diatas kapal yang terdiri dari nachoda,
> stirman,masinis. para pengatur hubungan dengan darat, tukang masak, serta
> semua awak kapal yang ada di situlah yang bisa menjelaskannya.
>
>    Begitulah sedikit gambaran yang dilakukan oleh pekerja penangkap ikan
> di kapal penangkap ikan yang awak kapalnya cukup banyak, baik itu Tiongkok,
> Korea, maupun Jepang tidak banyak berbeda.
>
>      Salam
>
>    S.Manap
>
>
>
> Den fredag 8 maj 2020 02:32:59 CEST, ChanCT [email protected]
> [GELORA45] <[email protected]> skrev:
>
>
>
>
> Berita yang entah sampai dimana kebenarannya??? Pemberitaan dibagian atas
> lebih jelas ngaco nya! Bagaimana mungkin orang disuruh bekerja BERDIRI
> selama 30 jam tanpa istirahat, ... sedang sebelumnya dinyatakan bekerja 18
> jam/hari! Sedang dari 18 WNI yang bekerja disitu 4 orang meninggal dengan
> jenasah membengkak-biru dibuang kelaut saja! Dengan tuduhan begitu KEJAM
> nya Cina???
>
> Anehnya, kapal dikatakan milik China, Longxing - 629, tapi nampaknya
> diusahakan orang Korea-Selatan, gaji mereka dihitung dan dibayar 150 ribu
> Won? Dan seorang lagi yang meninggal di RS Korsel. Sedang pemberitaan
> dibagian bawah, nampak lebih jelas, kalau itu kapal penangkap ikan Tuna!
> Yang kerjanya sibuk saat jala ditarik dan hasil tangkapan ikan ditumpahkan
> digladak kapal saja, ... dan itu biasanya beberapa jam saja, tidak akan
> mencapai 18 jam berdiri mengerjakan ikan2 itu setiap harinya, dan, ... yang
> meninggal itu diduga terserang virus Corona! Bukan kelelahan, ...
>
>
>
> 'Lusi D.' [email protected] <[email protected]> [GELORA45] 於 2020/5/8 上午
> 03:18 寫道:
>
>
>
> Berita viral hari ini.
>
> Kejamnya China, 18 jam kerja ABK RI hanya dibayar 180 ribu sebulan
>
> Photo of Anisa Widiarini Anisa Widiarini Send an email
>
> 07/05/2020
> https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=2ahUKEwiu-I_vuKLpAhWSjqQKHbX3BWcQFjAAegQIARAB&url=https%3A%2F%2Fwww.hops.id%2Fkejamnya-china-18-jam-kerja-abk-ri-hanya-dibayar-180-ribu-sebulan%2F&usg=AOvVaw0s2ymnnK8zNUq6sHKrMab2
>
>
> https://www.hops.id/kejamnya-china-18-jam-kerja-abk-ri-hanya-dibayar-180-ribu-sebulan/
>
> 
>

Kirim email ke