-- 
j.gedearka <[email protected]>

https://www.antaranews.com/berita/1482117/peneliti-temukan-korelasi-vitamin-d-dan-kematian-covid-19



Peneliti temukan korelasi vitamin D dan kematian COVID-19

Minggu, 10 Mei 2020 11:12 WIB

Ilustrasi (Shutterstock)
Inilah yang tampaknya membunuh sebagian besar pasien COVID-19, bukan 
penghancuran paru-paru oleh virus itu sendiri. Ini adalah komplikasi dari api 
yang salah arah dari sistem kekebalan tubuh
Jakarta (ANTARA) - Setelah mempelajari data global dari pandemi coronavirus 
(COVID-19), para peneliti menemukan korelasi kuat antara kekurangan vitamin D 
yang parah dengan tingkat kematian.

Dipimpin oleh Northwestern University, tim peneliti menganalisis statistik data 
dari rumah sakit dan klinik di seluruh China, Prancis, Jerman, Italia, Iran, 
Korea Selatan, Spanyol, Swiss, Inggris Raya (Inggris), dan Amerika Serikat.

Para peneliti mencatat bahwa pasien dari negara-negara dengan tingkat kematian 
COVID-19 yang tinggi, seperti Italia, Spanyol dan Inggris, memiliki tingkat 
konsumsi vitamin D yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien di 
negara-negara yang tidak terkena dampak parah.

Ini tidak berarti bahwa setiap orang--terutama yang belum dipastikan 
kekurangan--perlu mulai menimbun suplemen, para peneliti mengingatkan.

"Walaupun saya pikir penting bagi orang untuk mengetahui bahwa kekurangan 
vitamin D mungkin berperan dalam kematian, kita tidak perlu mendorong vitamin D 
pada semua orang," kata Vadim Backman dari Northwestern, yang memimpin 
penelitian, seperti dilaporkan Medical Xpress.

Ini perlu penelitian lebih lanjut, dan Backman berharap penelitiannya akan 
merangsang minat di bidang ini. Data juga dapat menjelaskan mekanisme kematian, 
yang, jika terbukti, dapat mengarah pada target terapi baru.

Makalah penelitian ini tersedia di medRxiv, server pracetak untuk ilmu 
kesehatan.

Backman adalah profesor teknik biomedis di McCormick School of Engineering 
Northwestern. Ali Daneshkhah, rekan penelitian pascadoktoral di laboratorium 
Backman, adalah penulis pertama makalah ini.

Backman dan timnya terinspirasi untuk memeriksa kadar vitamin D setelah 
mengetahui perbedaan tingkat kematian COVID-19 yang tidak dapat dijelaskan dari 
satu negara ke negara lainnya.

Beberapa orang berhipotesis bahwa perbedaan dalam kualitas layanan kesehatan, 
distribusi usia dalam populasi, tingkat pengujian atau jenis virus corona yang 
berbeda mungkin bertanggung jawab. Namun, Backman tetap skeptis.

"Tidak satu pun dari faktor-faktor ini yang tampaknya memainkan peran penting," 
kata Backman, mengutip Medical Xpress, Minggu.

"Sebaliknya, kami melihat korelasi yang signifikan dengan kekurangan vitamin 
D," katanya.

Dengan menganalisis data pasien yang tersedia untuk umum dari seluruh dunia, 
Backman dan timnya menemukan korelasi yang kuat antara kadar vitamin D dan 
badai sitokin--suatu kondisi peradangan yang disebabkan oleh sistem kekebalan 
yang terlalu aktif-- serta korelasi antara kekurangan vitamin D dan kematian.

"Badai sitokin dapat sangat merusak paru-paru dan menyebabkan sindrom gangguan 
pernapasan akut dan kematian pada pasien," kata Daneshkhah. "Inilah yang 
tampaknya membunuh sebagian besar pasien COVID-19, bukan penghancuran paru-paru 
oleh virus itu sendiri. Ini adalah komplikasi dari api yang salah arah dari 
sistem kekebalan tubuh."

Di sinilah Backman percaya vitamin D memainkan peran utama. Vitamin D tidak 
hanya meningkatkan sistem kekebalan tubuh bawaan kita, tetapi juga mencegah 
sistem kekebalan tubuh kita menjadi terlalu aktif.

Ini berarti memiliki kadar vitamin D yang sehat dapat melindungi pasien dari 
komplikasi parah, termasuk kematian yang dipicu COVID-19.

"Itu tidak akan mencegah pasien dari tertular virus, tetapi dapat mengurangi 
komplikasi dan mencegah kematian pada mereka yang terinfeksi," jelas Backman.

Backman mengatakan korelasi ini mungkin membantu menjelaskan banyak misteri di 
sekitar COVID-19, seperti mengapa anak-anak memiliki kemungkinan lebih keci 
untuk mati.

Anak-anak belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang dikembangkan sepenuhnya, 
yang merupakan garis pertahanan kedua sistem kekebalan tubuh dan lebih 
cenderung bereaksi berlebihan.

"Anak-anak terutama mengandalkan sistem kekebalan tubuh bawaan mereka," kata 
Backman. "Ini mungkin menjelaskan mengapa tingkat kematian mereka lebih rendah."

Backman berhati-hati untuk mengomentari bahwa orang tidak boleh mengonsumsi 
vitamin D dalam dosis berlebihan, yang mungkin memiliki efek samping negatif. 
Dia mengatakan subjek perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana 
vitamin D dapat digunakan paling efektif untuk melindungi terhadap komplikasi 
COVID-19.

"Sulit untuk mengatakan dosis mana yang paling bermanfaat untuk COVID-19," kata 
Backman yang mengatakan bahwa ini mungkin kunci untuk melindungi populasi yang 
rentan, seperti pasien Afrika-Amerika dan pasien lanjut usia, yang memiliki 
prevalensi vitamin D kurang.


Baca juga: Studi baru, kucing bisa terinfeksi virus corona

Baca juga: Studi terbaru ungkap anak-anak tak alami kasus COVID-19 parah

Baca juga: Studi menunjukkan 3% populasi Belanda produksi antibodi virus corona

 

Penerjemah: Suryanto
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020





Kirim email ke