-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://www.antaranews.com/berita/1559156/wamenlu-sebut-covid-19-ciptakan-disrupsi-geopolitik-dunia



Wamenlu sebut COVID-19 ciptakan disrupsi geopolitik dunia

Rabu, 17 Juni 2020 18:04 WIB

Tangkapan layar Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Mahendra Siregar, 
saat menyampaikan kuliah umum virtual bertajuk "Politik Luar Negeri Bebas Aktif 
Indonesia Pasca-Pandemi" yang diadakan oleh sekelompok anak muda, I'm GenZ, 
lewat aplikasi Zoom, Rabu (17/6/2020). ANTARA/Tangkapan layar Youtube I'M GenZ 
Official/pri.
Beberapa tren yang terjadi saat COVID-19 sebenarnya akselerasi  dari tren yang 
terjadi sebelumnya, antara lain perang dagang antara China dan Amerika Serikat. 
Ada juga tren anti globalisasi
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Mahendra 
Siregar, pada sesi kuliah umum virtual, Rabu, mengatakan pandemi COVID-19 
menciptakan perubahan drastis atau disrupsi pada dinamika geopolitik dunia.

Mahendra menjelaskan pengaruh COVID-19 salah satunya terlihat dari makin 
tajamnya persaingan antara dua raksasa dunia, yaitu Amerika Serikat dan China..

"Beberapa tren yang terjadi saat COVID-19 sebenarnya akselerasi  dari tren yang 
terjadi sebelumnya, antara lain perang dagang antara China dan Amerika Serikat. 
Ada juga tren anti globalisasi,"  terang Mahendra menjelaskan pengaruh COVID-19 
pada perkembangan peta politik dunia.

Ia menjelaskan pandemi kerap digunakan sebagai alat politik untuk menjatuhkan 
satu negara tertentu. "COVID-19 ini membuat dua negara (AS dan China) saling 
menyalahkan dan implikasinya bisa melebar," tambah dia.

Baca juga: Harga minyak turun di tengah meredanya ketegangan geopolitik global
Baca juga: Krisis pengungsi dapat jadi "a new normal" geopolitik dunia

Namun, Indonesia tetap mempertahankan arah politik luar negeri bebas aktif, 
yang artinya tidak berpihak pada satu kubu tertentu, kata Mahendra menegaskan.

"Kita pada masa lalu bukan bagian dari (Uni) Soviet atau Amerika Serikat, 
sekarang kita tidak punya kepentingan jadi bagian dari AS atau China, karena 
kita punya prinsip sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Dalam hal ini, 
kepentingan kita, tentunya (memelihara) perdamaian dunia, khususnya di 
kawasan," terang dia.

Mahendra  menjelaskan perdamaian dan stabilitas di Asia Tenggara, khususnya di 
Laut China Selatan, serta wilayah Indo-Pasifik, yaitu perairan yang membentang 
dari Samudera Hindia sampai Samudera Pasifik, senantiasa jadi prioritas politik 
luar negeri Pemerintah Indonesia.

"Indonesia berperan sangat aktif dengan melahirkan protokol-protokol penting 
untuk seluruh negara di kawasan atau negara yang berkepentingan di kawasan agar 
memakainya sebagai cara bersama, tidak pakai cara sendiri. Ini yang kita 
lakukan secara konsisten," terang Mahendra.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyebut pandemi turut menguatkan gerakan 
anti globalisasi yang dulunya banyak ditemukan di negara berkembang, tetapi 
saat ini justru tumbuh di negara maju.

"Di waktu lalu, anti globalisasi ini muncul di negara berkembang karena banyak 
masyarakatnya kurang mampu, sehingga tertinggal. Namun yang menarik belakangan 
ini, anti globalisasi justru muncul di negara paling maju atau yang paling 
tinggi dilihat dari GDP (produk domesti bruto), yaitu Amerika Serikat, secara 
teoritis, masyarakat AS semestinya paling diuntungkan karena globalisasi, 
tetapi justru anti," ujar dia.

Menurut Mahendra, tumbuhnya sikap anti globalisasi di AS kemungkinan didorong 
oleh tingkat ketimpangan tinggi.

Rasio gini di AS jauh lebih tinggi daripada Indonesia, tambah dia.

Rasio gini atau koefisien gini merupakan indikator yang mengukur tingkat 
ketimpangan ekonomi suatu negara. Angka rasio gini yang mendekati nol 
menunjukkan kekayaan suatu negara terdistribusi secara merata. Sebaliknya, 
perekonomian suatu negara disebut timpang jika rasio gini mendekati angka satu.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan rasio gini Indonesia per September 2019 
berada di angka 0,380. Sementara itu, Biro Sensus AS mengumumkan tahun lalu 
rasio gini Amerika Serikat pada 2018 mencapai 0,485, angka tertinggi dalam 50 
tahun terakhir.

"Sedikit banyak, politik mempengaruhi hal ini, sehingga (ada pihak) menyalahkan 
globalisasi. Sikap anti globalisasi ini yang menyebabkan beberapa negara 
cenderung melakukan sikap unilateral (sepihak)," terang Mahendra.

Baca juga: IHSG berpotensi melemah dipicu meningkatnya tensi geopolitik AS-China
Baca juga: Ketegangan geopolitik mereda, harga emas di New York terus menurun

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020







Kirim email ke