Dari milis tetangga/Amerika:Menuju Cahaya Joko Widodo
Istri saya datang dari keluarga yang sangat sederhana. Iriana adalah sahabat 
baik adik saya. Ia sering main ke rumah kami dulu di Solo dan lama-kelamaan 
saya jatuh cinta padanya. Sekilas Iriana tampak seperti perempuan yang tidak 
tegar jika dihadapkan pada dunia politik yang keras dan penuh cercaan. Tapi, 
sebetulnya ia adalah perempuan yang teramat sangat kuat.
Kekuatan Iriana sudah terbukti sejak kami mengarungi tahun-tahun awal biduk 
rumah tangga. Tanpa banyak bicara dan keluhan, ia mendampingi saya bekerja di 
hutan pedalaman Aceh. Saya berani bertaruh, jarang perempuan yang mau berada di 
dalam kehidupan seperti itu. Tinggal di barak di dalam hutan sepanjang hari, 
menanti suami yang tengah bekerja di belantara rimba. Sementara itu, di barak 
kehidupan sangat monoton. Kamar tidak luas. Dapur yang ada hanya satu dan 
dipakai beramai-ramai. Kamar mandi juga dipakai bersama pekerja lain. Tak ada 
pasar yang bisa membuatnya asyik memasak ini dan itu. Sementara mau 
jalan-jalan, hendak ke mana? Suara binatang buas atau sekadar babi hutan saja 
bisa membuat diri bergidik. Bayangkan, ia melewati kehidupan seperti itu selama 
dua tahun. Tiada keluhan sama sekali, Iriana telah membuktikan kesetiaan dan 
pengertiannya terhadap saya dan karier yang saya jalani. Ia melebur masuk ke 
dalam diri saya tanpa syarat. Cintanya begitu murni dan kuat.
Itu sebabnya selalu saya wanti-wanti ke dalam diri, jangan sampai ia merasa 
tersakiti atau tersiksa karena karier saya. Sebab ia telah begitu mulia 
membuktikan pendampingannya yang luar biasa di sisi saya.
Yang saya kagumi, ia begitu luwes bisa menyesuaikan diri dengan lika-liku 
perjalanan karier saya. Ketika saya kerja di hutan, ia bisa menyesuaikan, 
mengenyahkan rasa takutnya dan membangun ketegaran. Ketika saya masih menjadi 
tukang di bengkel kayu kecil, ia juga ikhlas mendengar suara berisik ketika 
saya menyerut kayu hingga lewat tengah malam dan ruang tamu kami yang penuh 
debu serbuk bekas gergaji. Ketika saya membangun pabrik mebel, ia juga bisa 
menyesuaikan diri. Sampai menjadi wali kota, ia pun mampu membangun dirinya 
untuk bisa berperan baik sebagai istri wali kota. Bahkan ketika saya maju ke 
pilkada DKI Jakarta, ia juga bisa mengantar dirinya untuk masuk ke dunia baru 
dengan ujian yang luar biasa. Pilkada DKI Jakarta sangat keras. Penuh dengan 
serangan politik dalam aneka bentuk. Jika mental tidak kuat, pasti akan 
menyerah. Tapi Iriana tangguh.
Semua tahapan itu rupanya terus memperkuat mentalnya. Sehingga ketika saya 
menjadi Presiden, Iriana telah menjelma menjadi perempuan yang teruji oleh 
pengalaman. Ia sangat kuat membaca postingan atau hoaks berisi fitnah tentang 
saya. Ia juga tak emosi ketika membaca tulisan-tuilisan yang mencemooh atau 
menghina saya dan keluarga. Sikap Iriana sangat menenteramkan hati saya.. Sebab 
itulah sesungguhnya yang sangat saya khawatirkan, yakni dampak politik terhadap 
kedamaian keluarga. Nyatanya justru Iriana yang menyumbang perasaan damai 
terhadap diri saya. Betapa ia sosok yang luar biasa. 
Status menjadi Ibu Negara juga tidak membuat Iriana keblinger. Ia tidak serta 
merta mengarahkan dirinya untuk menjadi sosok yang memancing sorotan atau 
mengambil porsi khusus yang mengandung power. Tidak, Iriana tetap menjadi 
dirinya sendiri. Ia seorang ibu rumah tangga yang sederhana. Sehari-hari jika 
berada di rumah ia mengenakan daster. Memasak, menyapu, dan bebenah. Tak ada 
yang berubah. Ia hanya mendampingi saya di berbagai acara, baik di Jakarta, 
luar kota, maupun luar negeri, jika kehadirannya memang dibutuhkan. Ada acara 
tertentu yang memang tidak mengundang Ibu Negara. Mayoritas kunjungan kerja 
saya tidak didampingi Iriana karena memang urusannya hanya meninjau proyek.
Ia sangat mengerti bahwa jabatan Presiden merupakan tanggung jawab yang berat. 
Bukan simbol kedudukan mahatinggi yang boleh membuatnya berubah arogan. Bahwa 
Iriana tetap menjadi dirinya dengan karakter yang tak berubah juga merupakan 
bukti kekuatan dirinya menghadapi perubahan hidup kami.
Inspirasi Indonesia...
*Sekilas Ibu Negara kita*.

Kirim email ke