Hahahaha ... pusing bung, jadi nggak usah dipikirin ya. Bolehlah, bagus
mempertahankan kesederhanaan, relatif to.Salam santai,Titiek Maslam.Verzonden
vanaf mijn Samsung Galaxy-smartphone.
-------- Oorspronkelijk bericht --------Van: "kh djie [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> Datum: 18-06-20 10:31 (GMT+01:00) Aan:
Gelora45 <[email protected]>, suharti maslam <[email protected]>
Onderwerp: Re: [GELORA45] Iriana, First Lady
Suaminya koningin Beatrix dulu, sebutannya bukan koning, melainkan
Prins.Suaminya ratu Elizabeth, juga sebutannya Prince.Kalau disebut Koning, kan
dia jadikepala negaranya?Istrinya koning Alexander, sebutannya anehnya ? bukan
Prinses, tetapi koningin......Istrinya Presiden, disebut First LadySuaminya
presiden wanita, bukan first Gentleman....?Presiden disebut Kepala negara,
bukan Bapak Negara ? Kok istrinya bisa disebut Ibu Negara.....?Memangnya pernah
melahirkan Negara?Kalau Presidennya wanita tetap Kepala Negara, bukan ibu
negara ? Kalau ibu Negara, kan suaminyajadi bapak Negara...?Bahasa yang indah2,
muluk2, bisa bikin bingung juga. Seperti menimba ilmu ? Memangnya ilmu
itubarang cair ? Menggali sumur : Kalau sudah ada sumur, apa masih digali lagi.
Tetapi kalau menggalitanah membuat sumur, wah kok panjang sekali..... Menanak
nasi : Kalau sudah jadi nasi apa masihditanak. Apa mestinya menanak beras?
Memanjatkan doa : Apa ya doa itu dapat disuruh memanjatke atas seperti
memanjatkan kera untuk memetik buah kelapa. Bingung, jadi pusing.....sendiri.Op
do 18 jun. 2020 om 09:53 schreef [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>:
Jadi sebenarnya apa perbedaan antara istri presiden dengan Ibu Negara,
sedikit saya kutip ,,Status menjadi Ibu Negara……..”Waktu Megawati jadi
presiden, Taufik Kiemas menyandang nama apa? Salam,Titiek MaslamVan:
[email protected] <[email protected]> Verzonden: donderdag 18
juni 2020 06:27Aan: [email protected]: [GELORA45] Iriana, First
Lady Dari milis tetangga/Amerika:Menuju Cahaya Joko Widodo Istri saya datang
dari keluarga yang sangat sederhana. Iriana adalah sahabat baik adik saya. Ia
sering main ke rumah kami dulu di Solo dan lama-kelamaan saya jatuh cinta
padanya. Sekilas Iriana tampak seperti perempuan yang tidak tegar jika
dihadapkan pada dunia politik yang keras dan penuh cercaan. Tapi, sebetulnya ia
adalah perempuan yang teramat sangat kuat. Kekuatan Iriana sudah terbukti sejak
kami mengarungi tahun-tahun awal biduk rumah tangga. Tanpa banyak bicara dan
keluhan, ia mendampingi saya bekerja di hutan pedalaman Aceh. Saya berani
bertaruh, jarang perempuan yang mau berada di dalam kehidupan seperti itu.
Tinggal di barak di dalam hutan sepanjang hari, menanti suami yang tengah
bekerja di belantara rimba.. Sementara itu, di barak kehidupan sangat monoton.
Kamar tidak luas. Dapur yang ada hanya satu dan dipakai beramai-ramai. Kamar
mandi juga dipakai bersama pekerja lain. Tak ada pasar yang bisa membuatnya
asyik memasak ini dan itu. Sementara mau jalan-jalan, hendak ke mana? Suara
binatang buas atau sekadar babi hutan saja bisa membuat diri bergidik.
Bayangkan, ia melewati kehidupan seperti itu selama dua tahun. Tiada keluhan
sama sekali, Iriana telah membuktikan kesetiaan dan pengertiannya terhadap saya
dan karier yang saya jalani. Ia melebur masuk ke dalam diri saya tanpa syarat.
Cintanya begitu murni dan kuat. Itu sebabnya selalu saya wanti-wanti ke dalam
diri, jangan sampai ia merasa tersakiti atau tersiksa karena karier saya. Sebab
ia telah begitu mulia membuktikan pendampingannya yang luar biasa di sisi saya.
Yang saya kagumi, ia begitu luwes bisa menyesuaikan diri dengan lika-liku
perjalanan karier saya. Ketika saya kerja di hutan, ia bisa menyesuaikan,
mengenyahkan rasa takutnya dan membangun ketegaran. Ketika saya masih menjadi
tukang di bengkel kayu kecil, ia juga ikhlas mendengar suara berisik ketika
saya menyerut kayu hingga lewat tengah malam dan ruang tamu kami yang penuh
debu serbuk bekas gergaji. Ketika saya membangun pabrik mebel, ia juga bisa
menyesuaikan diri. Sampai menjadi wali kota, ia pun mampu membangun dirinya
untuk bisa berperan baik sebagai istri wali kota. Bahkan ketika saya maju ke
pilkada DKI Jakarta, ia juga bisa mengantar dirinya untuk masuk ke dunia baru
dengan ujian yang luar biasa. Pilkada DKI Jakarta sangat keras. Penuh dengan
serangan politik dalam aneka bentuk. Jika mental tidak kuat, pasti akan
menyerah. Tapi Iriana tangguh. Semua tahapan itu rupanya terus memperkuat
mentalnya. Sehingga ketika saya menjadi Presiden, Iriana telah menjelma menjadi
perempuan yang teruji oleh pengalaman. Ia sangat kuat membaca postingan atau
hoaks berisi fitnah tentang saya. Ia juga tak emosi ketika membaca
tulisan-tuilisan yang mencemooh atau menghina saya dan keluarga. Sikap Iriana
sangat menenteramkan hati saya. Sebab itulah sesungguhnya yang sangat saya
khawatirkan, yakni dampak politik terhadap kedamaian keluarga. Nyatanya justru
Iriana yang menyumbang perasaan damai terhadap diri saya. Betapa ia sosok yang
luar biasa. Status menjadi Ibu Negara juga tidak membuat Iriana keblinger. Ia
tidak serta merta mengarahkan dirinya untuk menjadi sosok yang memancing
sorotan atau mengambil porsi khusus yang mengandung power. Tidak, Iriana tetap
menjadi dirinya sendiri. Ia seorang ibu rumah tangga yang sederhana.
Sehari-hari jika berada di rumah ia mengenakan daster. Memasak, menyapu, dan
bebenah. Tak ada yang berubah. Ia hanya mendampingi saya di berbagai acara,
baik di Jakarta, luar kota, maupun luar negeri, jika kehadirannya memang
dibutuhkan. Ada acara tertentu yang memang tidak mengundang Ibu Negara.
Mayoritas kunjungan kerja saya tidak didampingi Iriana karena memang urusannya
hanya meninjau proyek. Ia sangat mengerti bahwa jabatan Presiden merupakan
tanggung jawab yang berat. Bukan simbol kedudukan mahatinggi yang boleh
membuatnya berubah arogan. Bahwa Iriana tetap menjadi dirinya dengan karakter
yang tak berubah juga merupakan bukti kekuatan dirinya menghadapi perubahan
hidup kami. Inspirasi Indonesia... *Sekilas Ibu Negara kita*.