Mengapa Video Kemarahan Jokowi Baru Dirilis?
https://www.pinterpolitik.com/mengapa-video-kemarahan-jokowi-baru-dirilis/
By
R53 <https://www.pinterpolitik.com/author/r53/>
-
Tuesday, June 30, 2020 15:19
Presiden Joko WidodoPresiden Joko Widodo (Foto: Kabar24)
/6 minute read/
*Setelah 10 hari berselang, video rapat internal kabinet yang
menunjukkan ketidakpuasan Presiden Jokowi terhadap kinerja para
menteri dalam menangani pandemi Covid-19 mendapat sorotan dari
berbagai pihak. Namun,**pertanyaannya, mengapa video tersebut
baru dirilis sekarang?*
------------------------------------------------------------------------
*PinterPolitik.com*
Rasa-rasanya, kita semua pasti setuju bahwa pandemi virus Corona
(Covid-19) telah mengubah kehidupan kita dari berbagai sisi. Mulai dari
menghambat, bahkan menggagalkan rencana yang telah dibuat, ataupun
terkait interaksi keseharian dengan teman, keluarga, dan kolega.
Tidak sedikit pula pihak-pihak yang dibuat frustrasi oleh virus yang
satu ini. Ini tentunya tidak lepas dari meningkatnya angka pemutusan
hubungan kerja (PHK), ataupun sulitnya mendapatkan pendapatan di tengah
situasi pandemi.
Rasa frustrasi ini juga yang sepertinya tengah menghinggapi Presiden
Joko Widodo (Jokowi) saat ini. Bagaimana tidak, dalam video yang dirilis
oleh Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden pada 28 Juni,
dengan jelas memperlihatkan*ketidakpuasaan*
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200629065435-32-518437/ancam-reshuffle-dan-marah-jokowi-pada-kinerja-lamban-menteri>sang
presiden terhadap kinerja menteri dalam menangani pandemi Covid-19.
Mulai dari mengungkit bantuan sosial (bansos), anggaran Kementerian
Kesehatan (Kemenkes) yang baru terserap 1,53 persen dari Rp 75 triliun
(Rp 1,1475 triliun), hingga menegaskan dapat mengambil langkah tegas
seperti mengeluarkan Perppu, membubarkan lembaga tertentu, ataupun
melakukan/reshuffle/kabinet.
Dengan nada yang meninggi, Presiden Jokowi menegaskan bahwa jajarannya
harus memiliki rasa pengorbanan yang sama terkait krisis kesehatan dan
ekonomi yang dialami Indonesia saat ini. Menurut mantan Wali Kota Solo
tersebut, masih terdapat menteri yang memandang situasi secara
biasa-biasa saja, sehingga belum keluar kebijakan-kebijakan luar biasa
untuk menangani pandemi Covid-19.
Kita tentu sepakat, berbeda dengan rivalnya dalam dua gelaran Pilpres
terakhir, Presiden Jokowi adalah sosok yang mengeluarkan pernyataan
dengan nada tinggi hanya dalam situasi tertentu. Atas hal tersebut,
banyak pihak kemudian melihat bahwa sang presiden tengah memberikan
sinyal bahwa situasi tengah genting saat ini.
Image
Konteks tersebut misalnya dapat disimpulkan dari pernyataan Deputi
Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden RI, Bey Triadi
Machmudin yang menegaskan bahwa video rapat internal itu dibuka karena
menilai banyak hal baik dari pernyataan Presiden Jokowi yang*bagus
diketahui*
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200628201839-32-518391/istana-sengaja-rilis-video-teguran-jokowi-agar-publik-tahu>oleh
publik.
Akan tetapi, tentu pertanyaannya adalah, mengapa video ini baru
diputuskan keluar setelah 10 hari berselang? Mengapa memakan waktu
selama itu?
*Amarah Pemimpin Saat Krisis*
Banyak dari kita mungkin menilai bahwa meluapkan emosi seperti kemarahan
dan frustrasi merupakan hal yang tidak seharusnya ditunjukkan oleh
seorang pemimpin. Akan tetapi, Jeff Haden dalam tulisannya/Why Great
Leaders Get Angry—and Show It/justru menjelaskan bahwa meluapkan emosi
semacam itu dapat*berdampak baik*
<https://www.inc.com/jeff-haden/why-great-leaders-get-angry-and-show-it.html>bagi
seorang pemimpin.
Mengutip penelitian pakar kecerdasan emosi Henry Evans dan Colm Foster,
Haden menyebutkan bahwa melepaskan amarah setidaknya berdampak positif
pada dua hal, yakni meningkatkan fokus dan menciptakan kepercayaan diri.
Ketika amarah diluapkan, itu akan meningkatkan drastis fokus pada objek
yang menjadi sasaran amarah. Peningkatan fokus ini yang kemungkinan
besar ingin dibangun oleh Presiden Jokowi. Pasalnya, berulang kali sang
presiden menekankan pada harus adanya perasaan yang sama, harus
ada/sense of crisis/yang sama agar tidak terdapat pihak yang memandang
situasi saat ini biasa-biasa saja.
Dengan kata lain, jika perasaan atau emosi diluapkan pada pandemi
Covid-19, tentunya itu akan meningkatkan fokus pada penanganan pandemi
tersebut. Luapan emosi Presiden Jokowi tersebut jelas menunjukkan bahwa
ia tengah begitu fokus untuk mengawasi kinerja menteri terkait
penanganan pandemi.
Ini tentunya menjadi penegasan keras bagi para menteri untuk membenahi
kinerja agar “ancaman”/reshuffle/yang didengungkan Presiden Jokowi tidak
menghampiri mereka.
Selain meningkatkan fokus, amarah juga dapat menciptakan kepercayaan
diri. Menurut Haden, amarah dapat meningkatkan produksi hormon adrenalin
dalam tubuh sehingga dapat mengurangi kekangan mental, dan sekaligus
meningkatkan kepercayaan diri.
Image
Dengan meluapkan amarah, kepercayaan diri Presiden Jokowi jelas terlihat
meningkat, di mana dengan terbuka dan tegas, ia mengevaluasi kinerja
para menteri. Bagi mereka yang kerap menyaksikan pidato mantan Wali Kota
Solo tersebut, terlihat jelas terdapat perbedaan nada suara yang
signifikan daripada pidato sebelumnya.
Apalagi, Presiden Jokowi juga menekankan bahwa ia berani untuk
mempertaruhkan reputasi politiknya, misalnya dengan mengeluarkan Perppu.
Jelas, ini menunjukkan bahwa kekangan mental, terkait perlu
kehati-hatian ekstra dalam mengeluarkan kebijakan telah menurun.
Pada titik ini, mungkin dapat disimpulkan bahwa pelepasan amarah
Presiden Jokowi memiliki dampak positif. Seperti yang juga disebutkan
oleh Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden RI, Bey
Triadi Machmudin, terdapat informasi baik dalam video tersebut yang
bagus diketahui oleh publik.
Akan tetapi, anehnya, dengan gentingnya informasi yang ada, mengapa
video sampai membutuhkan waktu 10 hari untuk dirilis? Bukankah di tengah
situasi pandemi Covid-19 dibutuhkan tindakan yang cepat, tanggap, dan
tegas? Atas keganjilan ini, mungkin perlu dipertanyakan, adakah pesan
politik di balik rilis video tersebut?
*Pesan untuk Pihak Tertentu?*
Jika bertanya perihal adanya intrik politik, mungkin akan ada pihak yang
menyebutkan rilis video tersebut berguna untuk menarik simpati publik
terhadap Presiden Jokowi. Asumsi semacam ini memang cukup beralasan.
Pasalnya, jika video tersebut dirilis, itu dapat mengurangi titik berat
kesalahan penanganan pandemi Covid-19 dari Presiden Jokowi ke para menteri.
Akan tetapi, asumsi semacam ini agaknya cukup prematur dan dangkal untuk
disimpulkan. Melihat tampilan video, seperti/editing/sudut kamera,
mungkin dapat disimpulkan bahwa video ini adalah pesan terbuka bagi
pihak tertentu.
Cukup menarik melihat bahwa terdapat dua sosok menteri yang mendapatkan
sorotan kamera khusus dalam video tersebut, yakni Menteri Kesehatan
(Menkes) Terawan Agus Putranto, dan Menteri Koordinator Bidang
Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.
Sorotan kamera tersebut kemudian banyak dikaitkan dengan
“ancaman”/reshuffle/yang disebutkan oleh Presiden Jokowi. Indonesia
Police Watch (IPW) misalnya, turut merespons cepat dengan menyebutkan
setidaknya terdapat*12 menteri*
<https://wartakota.tribunnews.com/2020/06/29/ipw-nilai-jaksa-agung-harus-jadi-prioritas-selain-12-menteri-dalam-reshuffle-kabinet-jokowi?page=3>yang
harus diganti, dan salah satunya adalah Menko Marves Luhut karena
dinilai kerap menimbulkan kontroversi dan kegaduhan.
Kemudian terkait Menkes Terawan, namanya sebenarnya telah banyak
didengungkan berbagai pihak sejak awal penanganan pandemi Covid-19
karena dinilai memberikan informasi asal bapak senang (ABS). Pada
21*Maret lalu*
<https://www.wartaekonomi.co.id/read277460/dianggap-salah-langkah-soal-corona-pengamat-anjurkan-presiden>misalnya,
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah
turut berpendapat bahwa Presiden Jokowi tengah kebingungan menghadapi
situasi karena terlanjur percaya dengan laporan Menkes yang menyebut
Indonesia bebas dari Covid-19.
Tentunya, jika benar apa yang disebutkan oleh Dedi, maka kurangnya
persiapan Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19 – yang baru-baru
ini*diakui*
<https://politik.rmol.id/read/2020/06/29/441161/luhut-akui-awalnya-indonesia-tidak-siap-hadapi-covid-19>oleh
Luhut – berakar dari laporan ABS Terawan.
Sebelum video ini rilis,*gestur*
<https://www.pinterpolitik.com/membaca-gestur-jokowi-lawan-corona/>Presiden
Jokowi bahwa ia terlihat sudah mulai meragukan informasi dari para
menterinya sebenarnya sudah terlihat. Itu misalnya ketika sang presiden
beberapa kali tampil sendiri dalam menyampaikan pidato terkait Covid-19.
Padahal, kalau melihat pada urgensi pidato, serta membandingkannya
dengan pemimpin negara lain seperti Donald Trump dan Xi Jinping,
terlihat jelas penyampaian pidato sepenting itu selalu didampingi oleh
pejabat lain, seperti Wakil Presiden ataupun Menteri Kesehatan.
Dengan kata lain, rilis video ini sepertinya dapat dibaca sebagai puncak
dari keraguan Presiden Jokowi, sehingga ia menyetujui video rapat
internal tersebut dibuka ke hadapan publik.
Ya, bagaimanapun juga, benar tidaknya rilis video tersebut merupakan
pesan terselubung untuk Terawan dan Luhut, ataupun pihak lainnya
tentunya hanya interpretasi belaka. Kita nantikan saja, apakah akan ada
akselerasi perubahan kebijakan penanganan pandemi Covid-19 yang lebih
baik ke depannya.
Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)