Saya tidak begitu tahu, dan kalau tahu, tahunya hanya terbatas di
rumah2 tangga teman yang saya pernah nginap di sana. Kalau
lihat beratnya pekerjaannya, jam kerjanya, tempat tidurnya tampaknya
banyak perbaikan. Juga karena terbantu oleh alat2 rumah tangga
yang meringankan pekerjaan seperti mesin cuci pakaian, mesin cuci
piring, stofzuiger dan rijstkoker , kompor gas, alat ngepel lantai tanpa
perlu bekerja dengan njongkok. Dan pembantu rumah tangga
sekarang banyak yang sudah lulus SD, dan gampang diajari pakai
macam2 alat.
Selain itu di suatu daerah yang banyak industrinya, ada pilihan untuk
kerja di industri dengan sehari 8 jam kerja, dan Saptu Minggu libur,
atau dengan extra sehari kerja lembur. Ada juga saya lihat di Jakarta,
ada pembantu rumah tangga datangnya hanya pagi beberapa jam
naik bromfiets, siangnya datang lagi beberapa jam, kerja lagi. Ada juga
tukang kebun kerjanya tiap hari berapa jam di satu rumah, beberapa
jam di rumah lain. Yang seperti ini tidak pernah saya lihat dulu. Kalau
zaman dulu, orang ngerjakan segala hal, srabutan dengan jam kerja luar
biasa panjang.
Tampaknya kok banyak sekali tergantung pada majikannya. Kalau dapat
majikan kaya yang baik, ya bisa hidup lumayan. Kalau dapat tamu, biasanya
tamunya tahu sendiri, tinggali uang berterimakasih. Extra ini biasanya
lumayan
kalau dapat tamu luar negeri, yang anggap segala apa murah di Indonesia
kalau dihitung balik ke Euro.
Ada istri teman, yang waktu omong2 dengan kami, dia bilang o, beres, sudah
diatur managernya. Lama2 saya heran, lho yang mana managernya, dan siapa,
masa hal kecil2 kok managernya yang urus. Dia tertawa, tunjuk managernya, e,
si pembantu rumah tangga, wanita, yang ngatur beres semuanya, tidak saja
beberapa pembantu rumah tangga wanita, juga kasih tugas pada suami si
pembantu rumah tangga sendiri dan sopir, tukang kebun.
Saya baru tahu, saya jadi tertawa. Wah, memang, si manger ini orangnya
pinter
kerja sendiri dan juga mendelegasikan pekerjaan, membagi pekerjaan. Tidak
saja ngurus villa besar di Cisarua, tetapi menemani istri boss ke Jakarta,
bantu
urus makanan di Jakarta untuk seluruh keluarga boss.
Waktu kami duduk2 dekat kolam renang, saya tanya teman saya, itu di jalanan
atas yang tinggi kok dipasangi pipa ditancapkan mendatar, untuk apa.
Dia cerita, wah, dua anak dia hampir terkubur hidup2. Untung kedua anak itu
dipanggil, disuruh masuk oleh pembantu rumah tangganya(sang manager), karena
langit sudah mendung gelap, dingin, dan kemungkinan akan ada petir.. Baru
mereka
masuk, hujan lebat turun dan tanah di tebing jalanan longsor, masuk ke
kolam renang.
Pipa2 itu dipasang oleh bagian teknik sipil perusahaan, agar kalau hujan,
air yang
masuk dalam tanah cepat keluar kembali. Kalau tidak tanahnya kan mengisap
banyak
air, jadi gembur dan longsor. Setelah dipasangi beberapa pipa datar untuk
mengeluarkan
air, tidak pernah longsor lagi.
Saya pikir cara ini perlu dipakai di daerah2 yang gampang longsor, di
samping ditanami
pohon dengan akar yang dalam. Teman dari bagian sipil bilang pada saya,
semua
mahasiswa sipil tahu cara dengan dipasangi pipa datar untuk mengeluarkan
air. Tetapi
saya heran lha, kok tidak dilakukan pencegahan dengan cara itu.
Istri teman cerita kalau anak managernya ini kerja di perusahaan mereka di
Jakarta.
Dapat suami pejabat tinggi. Teman dan istrinya dimohon mau jadi penerima
tamu.
Istri teman bilang, wah, yang datang pejabat2 tinggi.
Tetapi si manager yang anaknya sudah makmur tidak minta pensiun tinggal di
anaknya,
tetapi tetapi kerja saja seperti biasa. Si manager ini ingatannya hebat.
Dia awasi rupanya
makanan apa yang paling saya sukai. Tiap kali nginap di sana, selalu
tersedia gado2
lengkap dan sate. Istri teman bilang, o , si manager tahu presis kesukaan
tamu2 yang nginap.
Si manager ini dipercaya betul2. Waktu Idul Fitri, tiap keluarga dekat situ
dapat 2 juta rupiah.
Semua yang berikan uangnya ke keluarga2 itu si manager. Yang lucu satu anak
perempuan
dari satu penduduk di situ datang bilang terimakasih pada teman kuliah saya
dulu(wanita). Dia
jadi kaget keheranan. Setelah orangnya bilang, terimakasih dapat 2 juta,
baru dia mengerti.
O, itu bukan dari saya. Saya ini tamu. Itu lho, yang nyonya rumahnya......
Tentang Au Pair. Banyak di Belanda dari golongan muda yang punya anak dua
atau lebih pakai
Au Pair dari Filipina, dan tidak dari Indonesia karena masalah bahasa. Di
Belanda banyak sekali
yang tidak dapat berbahasa Indonesia, jadi ambil Au Pair dari Filipina.
Komunikasi dalam bahasa
Inggris. Menurut kontrak kerjanya hanya kerja 6 jam sehari. Tetapi
kebanyakan Au Pair minta jam
kerja lebih banyak, hingga 8 jam sehari untuk dapat kumpulkan uang lebih
banyak dan sekali
setahun pulang.
Salam, dan saya berharap tahun ini masih ada pertemuan, dan kita dapat
berjumpa.
Senang bisa omong2 dengan zus.
KH

Op di 30 jun. 2020 om 14:33 schreef <[email protected]>:

> Bung Djie,
>
> Semalam saya lihat film tersebut. Lumayan isinya. Beberapa hal yang bagi
> saya jadi tambahan pengetahuan. Anggapan saya , baboe/ babu itu sebutan
> yang nasibnya seperti budak, khususnya di jaman kolonial.. Tentu tergantung
> dari majikan, keluarga yang mempekerjakannya. Yang kemarin dicontohkan,
> kebetulan keluarga-majikan adalah yang baik dari segi humanis. Saya pikir
> jadi ada beberapa jenis pekerjaan baboe waktu jaman itu? Seperti kemarin
> itu si baboe mirip pembantu untuk merawat bayi, anak kecil jaman sekarang
> -au pair. Lalu jenis pekerjaan baboe yang lainnya bagaimana? Yang jelas
> tidak disebutkan berapa jam mereka kerja seharinya.
>
> Secara pendek kata, jangan ada kesan bahwa baboe jaman dulu, kolonial
> lebih enak dibanding dengan pembantu rumah tangga jaman setelah kemerdekaan
> sampai sekarang sekalipun istilahnya berlainan.
>
>
>
> Salam tukar info,
>
> Titiek Maslam
>
>
>
> *Van:* [email protected] <[email protected]>
> *Verzonden:* dinsdag 30 juni 2020 05:41
> *Aan:* undisclosed-recipients:
> *Onderwerp:* [GELORA45] Fwd: [alumniBandungJakartaCS] Documentary: "They
> call me Baboe"
>
>
>
>
>
>
>
> ---------- Forwarded message ---------
> Date: di 30 jun. 2020 om 04:37
> Subject: Documentary: "They call me Baboe"
> To:
>
>
>
>
>
> *https://www.npostart.nl/VPWON_1266083*
> <https://www.npostart.nl/VPWON_1266083>
>
> *Ze noemen me Baboe op*
>
> *Real-life documentary from the Dutch-colonial period , the Japanese
> -occupation ,*
>
> *the struggle for Indonesia’s independence.*
>
> *Narrated in Indonsian through the eyes of a *Baboe **
>
> *Must see , very touching story .*
>
>
>
> *-------------Forwarded Message -------------------------*
>
> *Date  Monday June 29, 2020     04:06:19 PM    EDT*
>
> *Subject: *
>
> 
>

Kirim email ke