Iya bung di Indonesia sekarang soal Pembantu Rumah Tangga (PRT) juga menjadi issue yang butuh diperhatikan. Saya baca mereka juga punya organisasi untuk perbaikan status maupun pemasukan upahnya. Harapan, memanusiakan manusia..
Bener bung, mudah-mudahan corona cepat lewat, kita bisa bertemu lagi dengan teman-teman. Salam hangat untuk Bertha. Salam sehat, Titiek Maslam Van: [email protected] <[email protected]> Verzonden: dinsdag 30 juni 2020 15:46 Aan: suharti maslam <[email protected]>; Gelora45 <[email protected]> Onderwerp: Re: [GELORA45] Fwd: [alumniBandungJakartaCS] Documentary: "They call me Baboe" Saya tidak begitu tahu, dan kalau tahu, tahunya hanya terbatas di rumah2 tangga teman yang saya pernah nginap di sana. Kalau lihat beratnya pekerjaannya, jam kerjanya, tempat tidurnya tampaknya banyak perbaikan. Juga karena terbantu oleh alat2 rumah tangga yang meringankan pekerjaan seperti mesin cuci pakaian, mesin cuci piring, stofzuiger dan rijstkoker , kompor gas, alat ngepel lantai tanpa perlu bekerja dengan njongkok. Dan pembantu rumah tangga sekarang banyak yang sudah lulus SD, dan gampang diajari pakai macam2 alat. Selain itu di suatu daerah yang banyak industrinya, ada pilihan untuk kerja di industri dengan sehari 8 jam kerja, dan Saptu Minggu libur, atau dengan extra sehari kerja lembur. Ada juga saya lihat di Jakarta, ada pembantu rumah tangga datangnya hanya pagi beberapa jam naik bromfiets, siangnya datang lagi beberapa jam, kerja lagi.. Ada juga tukang kebun kerjanya tiap hari berapa jam di satu rumah, beberapa jam di rumah lain. Yang seperti ini tidak pernah saya lihat dulu. Kalau zaman dulu, orang ngerjakan segala hal, srabutan dengan jam kerja luar biasa panjang. Tampaknya kok banyak sekali tergantung pada majikannya. Kalau dapat majikan kaya yang baik, ya bisa hidup lumayan. Kalau dapat tamu, biasanya tamunya tahu sendiri, tinggali uang berterimakasih. Extra ini biasanya lumayan kalau dapat tamu luar negeri, yang anggap segala apa murah di Indonesia kalau dihitung balik ke Euro. Ada istri teman, yang waktu omong2 dengan kami, dia bilang o, beres, sudah diatur managernya. Lama2 saya heran, lho yang mana managernya, dan siapa, masa hal kecil2 kok managernya yang urus. Dia tertawa, tunjuk managernya, e, si pembantu rumah tangga, wanita, yang ngatur beres semuanya, tidak saja beberapa pembantu rumah tangga wanita, juga kasih tugas pada suami si pembantu rumah tangga sendiri dan sopir, tukang kebun. Saya baru tahu, saya jadi tertawa. Wah, memang, si manger ini orangnya pinter kerja sendiri dan juga mendelegasikan pekerjaan, membagi pekerjaan. Tidak saja ngurus villa besar di Cisarua, tetapi menemani istri boss ke Jakarta, bantu urus makanan di Jakarta untuk seluruh keluarga boss. Waktu kami duduk2 dekat kolam renang, saya tanya teman saya, itu di jalanan atas yang tinggi kok dipasangi pipa ditancapkan mendatar, untuk apa. Dia cerita, wah, dua anak dia hampir terkubur hidup2. Untung kedua anak itu dipanggil, disuruh masuk oleh pembantu rumah tangganya(sang manager), karena langit sudah mendung gelap, dingin, dan kemungkinan akan ada petir.. Baru mereka masuk, hujan lebat turun dan tanah di tebing jalanan longsor, masuk ke kolam renang. Pipa2 itu dipasang oleh bagian teknik sipil perusahaan, agar kalau hujan, air yang masuk dalam tanah cepat keluar kembali. Kalau tidak tanahnya kan mengisap banyak air, jadi gembur dan longsor. Setelah dipasangi beberapa pipa datar untuk mengeluarkan air, tidak pernah longsor lagi. Saya pikir cara ini perlu dipakai di daerah2 yang gampang longsor, di samping ditanami pohon dengan akar yang dalam. Teman dari bagian sipil bilang pada saya, semua mahasiswa sipil tahu cara dengan dipasangi pipa datar untuk mengeluarkan air. Tetapi saya heran lha, kok tidak dilakukan pencegahan dengan cara itu. Istri teman cerita kalau anak managernya ini kerja di perusahaan mereka di Jakarta. Dapat suami pejabat tinggi. Teman dan istrinya dimohon mau jadi penerima tamu. Istri teman bilang, wah, yang datang pejabat2 tinggi. Tetapi si manager yang anaknya sudah makmur tidak minta pensiun tinggal di anaknya, tetapi tetapi kerja saja seperti biasa. Si manager ini ingatannya hebat. Dia awasi rupanya makanan apa yang paling saya sukai. Tiap kali nginap di sana, selalu tersedia gado2 lengkap dan sate. Istri teman bilang, o , si manager tahu presis kesukaan tamu2 yang nginap. Si manager ini dipercaya betul2. Waktu Idul Fitri, tiap keluarga dekat situ dapat 2 juta rupiah. Semua yang berikan uangnya ke keluarga2 itu si manager.. Yang lucu satu anak perempuan dari satu penduduk di situ datang bilang terimakasih pada teman kuliah saya dulu(wanita). Dia jadi kaget keheranan. Setelah orangnya bilang, terimakasih dapat 2 juta, baru dia mengerti. O, itu bukan dari saya. Saya ini tamu. Itu lho, yang nyonya rumahnya...... Tentang Au Pair. Banyak di Belanda dari golongan muda yang punya anak dua atau lebih pakai Au Pair dari Filipina, dan tidak dari Indonesia karena masalah bahasa. Di Belanda banyak sekali yang tidak dapat berbahasa Indonesia, jadi ambil Au Pair dari Filipina. Komunikasi dalam bahasa Inggris. Menurut kontrak kerjanya hanya kerja 6 jam sehari. Tetapi kebanyakan Au Pair minta jam kerja lebih banyak, hingga 8 jam sehari untuk dapat kumpulkan uang lebih banyak dan sekali setahun pulang. Salam, dan saya berharap tahun ini masih ada pertemuan, dan kita dapat berjumpa. Senang bisa omong2 dengan zus. KH Op di 30 jun. 2020 om 14:33 schreef <[email protected] <mailto:[email protected]> >: Bung Djie, Semalam saya lihat film tersebut. Lumayan isinya. Beberapa hal yang bagi saya jadi tambahan pengetahuan. Anggapan saya , baboe/ babu itu sebutan yang nasibnya seperti budak, khususnya di jaman kolonial.. Tentu tergantung dari majikan, keluarga yang mempekerjakannya. Yang kemarin dicontohkan, kebetulan keluarga-majikan adalah yang baik dari segi humanis. Saya pikir jadi ada beberapa jenis pekerjaan baboe waktu jaman itu? Seperti kemarin itu si baboe mirip pembantu untuk merawat bayi, anak kecil jaman sekarang -au pair. Lalu jenis pekerjaan baboe yang lainnya bagaimana? Yang jelas tidak disebutkan berapa jam mereka kerja seharinya. Secara pendek kata, jangan ada kesan bahwa baboe jaman dulu, kolonial lebih enak dibanding dengan pembantu rumah tangga jaman setelah kemerdekaan sampai sekarang sekalipun istilahnya berlainan. Salam tukar info, Titiek Maslam Van: [email protected] <mailto:[email protected]> <[email protected] <mailto:[email protected]> > Verzonden: dinsdag 30 juni 2020 05:41 Aan: undisclosed-recipients: Onderwerp: [GELORA45] Fwd: [alumniBandungJakartaCS] Documentary: "They call me Baboe" ---------- Forwarded message --------- Date: di 30 jun. 2020 om 04:37 Subject: Documentary: "They call me Baboe" To: <https://www.npostart.nl/VPWON_1266083> https://www.npostart.nl/VPWON_1266083 Ze noemen me Baboe op Real-life documentary from the Dutch-colonial period , the Japanese -occupation , the struggle for Indonesia’s independence. Narrated in Indonsian through the eyes of a *Baboe * Must see , very touching story . -------------Forwarded Message ------------------------- Date Monday June 29, 2020 04:06:19 PM EDT Subject:
