Lembaga HAM Tiongkok: Pelanggaran HAM Yang Serius di AS

2020-07-14 15:15:32 http://indonesian.cri.cn/20200714/df96480e-f91a-2bef-813a-a44b6022cc6a.html

Lembaga Riset HAM Tiongkok (China Society for Human Rights Studies /CSHRS) hari ini (14/7) mengeluarkan artikel yang berjudul: Kesenjangan Kaya dan Miskin Akibatkan Semakin Seriusnya Masalah HAM, artikel ini dengan kenyataan dan data mengungkapkan HAM AS yang semakin serius akibat kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin.

Artikel menunjukkan, kesenjangan pendapatan warga AS semakin membesar, skala kelas tengah semakin mengecil, dan indeks kemiskinan meningkat terus. Data terkait menunjukkan, 0,1 persen kekayaan keluarga terkaya AS sama dengan jumlah total kekayaan 90 persen keluarga kelas terendah. Pada Mei tahun 2019, Koefisien Gini mencapai 0,482, jauh lebih tinggi dari pada garis waspada internasional sebesar 0,4. Pelapor khusus PBB untuk Urusan Kemiskinan Ekstrem dan Masalah HAM Philip Olston dalam laporan pada Mei 2018 menunjukkan, AS telah menjadi negara yang paling serius kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Sekitar 40 juta orang AS hidup dalam kehidupan yang miskin, 18,5 juta orang AS hidup dalam kemiskinan yang ekstrem.

Artikel menunjukkan, kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin di AS mendatangkan dampak negatif yang serius kepada penikmatan dan realisasi HAM, hampir separo jumlah keluarga AS tidak dapat memelihara kehidupan yang pokok, kelompok dengan pendapatan yang rendah menghadapi ancaman kelaparan, dan kehilangan kesempatan pendidikan. Keadaan kehidupan orang-orang tuna wisma sangat memprihatinkan. Jutaan orang AS diusir dari rumah karena tidak mampu membayar tagihan sewa rumah. Penelitian menunjukkan, jumlah orang tuna wisma mungkin akan langsung meningkat 45 persen karena terdampak wabah, sehingga krisis kesehatan publik meningkat lebih lanjut. Selain itu, kesenjangan antara kelompok yang kaya dengan kelompok yang miskin mengakibatkan umur harapan menurun dan indeks bunuh diri meningkat. Sejak wabah virus corona merebak pada tahun 2020, kurang baiknya penanganan wabah oleh pemerintah AS mengakibatkan musibah HAM, ketidaksetaraan ekonomi dalam sosial AS meningkat lebih lanjut. Puluhan juta orang AS tidak mempunyai asuransi kesehatan, tapi biaya perawatan untuk perawatan virus corona bahkan melebihi puluhan ribu dolar AS. Hidup atau musnah menjadi pilihan riil yang dihadapi rakyat AS di lapisan paling bawah.

AS Kurang Motif Mengubah Polarisasi antara Yang Kaya dan Yang Miskin

Ditunjukkan dalam artikel bahwa penyebab yang mengakibatkan polarisasi antara kelompok yang kaya dengan kelompok yang miskin di AS bukan kebetulan atau periodik, melainkan apa yang disebut sistem demokrasi AS selalu meremehkan hak ekonomi, sosial dan budaya warga, sehingga masalah polarisasi antara yang kaya dan yang miskin di masyarakat AS semakin serius, masalah kemiskinan yang tertimpa populasi sebanyak puluhan juta jiwa tidak dapat diselesaikan dalam jangka panjang.

Artikel berpendapat bahwa masalah polarisasi antara yang kaya dan yang miskin di AS mempunyai sebab struktural. Pertama, saingan tak teratur dan pembelian berniat buruk mengakibatkan berkurangnya lowongan kerja bagi kelompok dengan pendapatan menengah. Kedua, kenaikan struktural harga properti mengakibatkan kelompok dengan pendapatan rendah semakin sulit untuk menyelesaikan masalah perumahan; ketiga, layanan medis mahal tapi tidak efisien itu mengakibatkan kondisi kesehatan kelompok dengan pendapatan rendah semakin memprihatinkan; keempat, kenaikan harga pendidikan perguruan tinggi sempat merampas peluang kelompok dengan pendapatan rendah untuk menerima pendidikan tinggi.

Akan tetapi, pemerintah AS kekurangan motif atau niat politik untuk mengubah penyebab mendasar struktural yang mengakibatkan polarisasi tersebut, melainkan mengambil serangkaian tindakan dan kebijakan yang memperburuk kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Antara lain mencabut rancangan reformasi pengobatan, menolak pencakupan penuh asuransi medis, menutup rumah sakit pedesaan, kebijakan yang ditetapkan demi menstimulasi pertumbuhan ekonomi hanya bertolak dari kepentingan kaum kaya, tapi tidak mempertimbangkan bagaimana mengurangi beban yang dipikul kelompok yang berpendapatan rendah.

Ditunjukkan dalam artikel bahwa penyebab yang lebih mendalam ialah pemerintah AS kurang motif politik untuk mengubah tren polarisasi yang terus meningkat antara yang kaya dan yang miskin. Politik Uang yang semakin berkembang membuat pemerintah AS sudah menjadi wakil kaum kaya.

Polarisasi antara yang kaya dan yang miskin di AS adalah sebuah tren stabil dalam jangka panjang, masyarakat AS tidak bisa menantikan keadaan serupa dapat dibalikkan dengan nyata dalam waktu dekat, oleh karena itu dampak negatif yang serius bagi rakyat AS demi mewujudkan dan menikmati HAM masih akan semakin memburuk.

Kirim email ke