-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5094298/meredam-amarah-rakyat?tag_from=wp_cb_kolom_list




Mimbar Mahasiswa

Meredam Amarah Rakyat

Muhammad Nur Faizi - detikNews

Rabu, 15 Jul 2020 14:00 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Ilustrasi kerusuhan
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Polisi menetapkan tiga tersangka dalam kasus kerusuhan dalam terjadinya unjuk 
rasa di Desa Mompang Julu, Kecamatan Penyabungan, Kabupaten Mandaling Natal, 
Sumatera Utara, Senin (29/6). Kerusuhan tersebut menyebabkan dua mobil dan 
sepeda motor hangus terbakar. Kerusuhan disebabkan oleh unjuk rasa warga yang 
menuntut pemberhentian kepala desa yang dinilai menyimpang terkait pembagian 
Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan penggunaan dana desa yang memblokade jalan 
lintas Sumatera.

Cara-cara kekerasan yang dilakukan masyarakat menjadi justifikasi negatif bahwa 
bangsa Indonesia selalu mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan setiap 
persoalan. Aparat kian dituntut untuk memutus mata rantai konflik yang ada di 
masyarakat. Namun yang terjadi, aparat hanya dapat meredam bentuk konflik yang 
muncul ke permukaan. Faktor yang menjadi akar permasalahan belum bisa 
diselesaikan. Akibatnya, konflik sewaktu-waktu bisa meletus kembali.

Maka, pluralitas bangsa berupa keragaman suku, budaya, nilai, dan agama menjadi 
modal kuat menuju kerukunan bangsa. Namun, di sisi lain pluralitas bangsa bisa 
disalahgunakan sebagai pemicu prasangka yang bisa menyebabkan konflik yang luar 
biasa. Selain pluralitas bangsa, konflik juga dilatarbelakangi oleh kondisi 
ekonomi bangsa yang belum juga mencapai kestabilan.

Kesenjangan antarkelompok masyarakat terutama dalam bidang pelayanan 
masyarakat, misalnya pendidikan, kesehatan, dan berbagai layanan sosial lainnya 
dapat memicu kecemburuan. Kecemburuan tersebut bila dibumbui oleh identitas 
kelompok dapat menyebabkan konflik. Setidaknya ada empat hal yang harus 
diperhatikan oleh pemerintah ataupun seluruh elemen bangsa untuk melerai 
konflik sosial di masyarakat.

Pertama, saat ini Indonesia mengalami situasi rawan aksi kekerasan. Pendapatan 
yang berkurang dan kebutuhan yang terus meningkat pesat menyebabkan depresi 
yang diungkapkan melalui amarah. Jika hal ini terus menerus dibiarkan, konflik 
atas nama kebebasan tidak dapat lagi dikendalikan. Bukan tidak mungkin, konflik 
ini terjadi karena oknum dari tokoh politik ikut memprovokasi masyarakat untuk 
bertindak amoral.

Kedua, berbagai konflik yang terjadi di tengah masyarakat disebabkan hilangnya 
keteladanan dari elite politik atau pemimpin di setiap level pemerintahan. 
Minimnya contoh perilaku terpuji dari elite politik membuat rakyat tidak lagi 
percaya dan memilih bersikap apatis. Hal ini belum termasuk provokasi yang 
dilakukan oknum tertentu untuk menaikkan emosi rakyat.

Ketiga, permasalahan minoritas dan mayoritas kerap menjadi problema sosial yang 
memicu konflik. Kelompok minoritas digolongkan sebagai kelompok yang menerima 
pelayanan minim dibandingkan kelompok lainnya. Stereotip mengenai minoritas dan 
mayoritas selalu menjadi pembeda dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 
Ketidakadilan yang didapat dapat memicu konflik.

Keempat, ketidakberdayaan dan ketidakadilan dalam penegakan hukum, yang 
dilatarbelakangi tumpang tindihnya aturan ataupun regulasi yang tidak jelas. 
Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menjadi luntur. Hal itu 
bisa terjadi karena kurangnya sinergi antarinstansi yang masih meluncurkan ego 
masing-masing tanpa memikirkan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah 
secara tuntas.

Menjadi tugas bersama untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kehidupan 
masyarakat melalui perubahan paradigma dari yang sebelumnya bersifat 
konvensional menuju pendekatan proaktif. Dengan begitu, konsep pemahaman yang 
timbul tidak hanya dilihat dari kejadian di hilir saja. Namun secara bijak 
masalah dilihat dan dipahami secara utuh untuk melihat seberapa besar potensi 
konflik kemudian menemukan solusi terbaik menyelesaikan permasalahan.

Jika hal ini berhasil dilakukan, maka kebijakan dan solusi penanganan konflik 
tidak hanya berfokus kepada permasalahan yang muncul ke permukaan, melainkan 
akar permasalahan juga dapat ditangani dan diatasi supaya tidak menjadi faktor 
pemicu konflik yang lebih besar. Dialog-dialog dan keputusan tepat dalam proses 
negosiasi menjadi kunci penting dalam penghentian kekerasan.

Sementara itu, pendekatan keamanan juga harus selaras dan tidak mungkin 
dilepaskan dari pendekatan kesejahteraan. Mutu tinggi dari tingkat 
kesejahteraan dapat melahirkan situasi yang kondusif bagi pembangunan bangsa. 
Kedua dimensi ini akan saling bergandengan tangan untuk mencegah konflik 
bertaburan.

Oleh karena itu, pemangku kebijakan seperti kepala desa, camat, gubernur, 
maupun presiden harus peka dalam melihat berbagai gejolak dan dinamika, serta 
mencari solusi terbaik di wilayahnya. Pemerintah sendiri perlu menggiatkan 
penyebaran konten positif di media sosial sebagai konsumsi sehat rakyat. 
Penyebaran ini nantinya dapat mendorong kepercayaan masyarakat terhadap 
pemerintah, sehingga masyarakat akan berbondong-bondong mendukung kebijakan 
yang diambil pemerintah.

Perlindungan bangsa terhadap konflik sangat membutuhkan proses perencanaan, 
pembinaan, pengembangan, serta penggabungan seluruh elemen bangsa. Namun yang 
lebih penting dari itu adalah langkah untuk menyamakan tujuan dan paradigma 
menjaga keamanan bangsa antara pemerintah dengan seluruh masyarakat.

Muhammad Nur Faizi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, reporter di Lembaga Pers 
Mahasiswa (LPM) Metamorfosa

(mmu/mmu)
blt dana desa
blt corona
kerusuhan






Kirim email ke