-------- 轉寄郵件 --------
主旨:     [GELORA45] Meredam Amarah Rakyat
日期:     Wed, 15 Jul 2020 20:36:16 +0200
從: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] <[email protected]>

        

        





--
j.gedearka <[email protected]>

https://news.detik.com/kolom/d-5094298/meredam-amarah-rakyat?tag_from=wp_cb_kolom_list

Mimbar Mahasiswa

*Meredam Amarah Rakyat*

Muhammad Nur Faizi - detikNews

Rabu, 15 Jul 2020 14:00 WIB

Ilustrasi kerusuhan
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Polisi menetapkan tiga tersangka dalam kasus kerusuhan dalam terjadinya unjuk rasa di Desa Mompang Julu, Kecamatan Penyabungan, Kabupaten Mandaling Natal, Sumatera Utara, Senin (29/6). Kerusuhan tersebut menyebabkan dua mobil dan sepeda motor hangus terbakar. Kerusuhan disebabkan oleh unjuk rasa warga yang menuntut pemberhentian kepala desa yang dinilai menyimpang terkait pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan penggunaan dana desa yang memblokade jalan lintas Sumatera.

Cara-cara kekerasan yang dilakukan masyarakat menjadi justifikasi negatif bahwa bangsa Indonesia selalu mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. Aparat kian dituntut untuk memutus mata rantai konflik yang ada di masyarakat. Namun yang terjadi, aparat hanya dapat meredam bentuk konflik yang muncul ke permukaan. Faktor yang menjadi akar permasalahan belum bisa diselesaikan. Akibatnya, konflik sewaktu-waktu bisa meletus kembali.

Maka, pluralitas bangsa berupa keragaman suku, budaya, nilai, dan agama menjadi modal kuat menuju kerukunan bangsa. Namun, di sisi lain pluralitas bangsa bisa disalahgunakan sebagai pemicu prasangka yang bisa menyebabkan konflik yang luar biasa. Selain pluralitas bangsa, konflik juga dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi bangsa yang belum juga mencapai kestabilan.

Kesenjangan antarkelompok masyarakat terutama dalam bidang pelayanan masyarakat, misalnya pendidikan, kesehatan, dan berbagai layanan sosial lainnya dapat memicu kecemburuan. Kecemburuan tersebut bila dibumbui oleh identitas kelompok dapat menyebabkan konflik. Setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah ataupun seluruh elemen bangsa untuk melerai konflik sosial di masyarakat.

Pertama, saat ini Indonesia mengalami situasi rawan aksi kekerasan. Pendapatan yang berkurang dan kebutuhan yang terus meningkat pesat menyebabkan depresi yang diungkapkan melalui amarah. Jika hal ini terus menerus dibiarkan, konflik atas nama kebebasan tidak dapat lagi dikendalikan. Bukan tidak mungkin, konflik ini terjadi karena oknum dari tokoh politik ikut memprovokasi masyarakat untuk bertindak amoral.

Kedua, berbagai konflik yang terjadi di tengah masyarakat disebabkan hilangnya keteladanan dari elite politik atau pemimpin di setiap level pemerintahan. Minimnya contoh perilaku terpuji dari elite politik membuat rakyat tidak lagi percaya dan memilih bersikap apatis. Hal ini belum termasuk provokasi yang dilakukan oknum tertentu untuk menaikkan emosi rakyat.

Ketiga, permasalahan minoritas dan mayoritas kerap menjadi problema sosial yang memicu konflik. Kelompok minoritas digolongkan sebagai kelompok yang menerima pelayanan minim dibandingkan kelompok lainnya. Stereotip mengenai minoritas dan mayoritas selalu menjadi pembeda dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ketidakadilan yang didapat dapat memicu konflik.

Keempat, ketidakberdayaan dan ketidakadilan dalam penegakan hukum, yang dilatarbelakangi tumpang tindihnya aturan ataupun regulasi yang tidak jelas. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menjadi luntur. Hal itu bisa terjadi karena kurangnya sinergi antarinstansi yang masih meluncurkan ego masing-masing tanpa memikirkan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah secara tuntas.

Menjadi tugas bersama untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kehidupan masyarakat melalui perubahan paradigma dari yang sebelumnya bersifat konvensional menuju pendekatan proaktif. Dengan begitu, konsep pemahaman yang timbul tidak hanya dilihat dari kejadian di hilir saja. Namun secara bijak masalah dilihat dan dipahami secara utuh untuk melihat seberapa besar potensi konflik kemudian menemukan solusi terbaik menyelesaikan permasalahan.

Jika hal ini berhasil dilakukan, maka kebijakan dan solusi penanganan konflik tidak hanya berfokus kepada permasalahan yang muncul ke permukaan, melainkan akar permasalahan juga dapat ditangani dan diatasi supaya tidak menjadi faktor pemicu konflik yang lebih besar. Dialog-dialog dan keputusan tepat dalam proses negosiasi menjadi kunci penting dalam penghentian kekerasan.

Sementara itu, pendekatan keamanan juga harus selaras dan tidak mungkin dilepaskan dari pendekatan kesejahteraan. Mutu tinggi dari tingkat kesejahteraan dapat melahirkan situasi yang kondusif bagi pembangunan bangsa. Kedua dimensi ini akan saling bergandengan tangan untuk mencegah konflik bertaburan.

Oleh karena itu, pemangku kebijakan seperti kepala desa, camat, gubernur, maupun presiden harus peka dalam melihat berbagai gejolak dan dinamika, serta mencari solusi terbaik di wilayahnya. Pemerintah sendiri perlu menggiatkan penyebaran konten positif di media sosial sebagai konsumsi sehat rakyat. Penyebaran ini nantinya dapat mendorong kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, sehingga masyarakat akan berbondong-bondong mendukung kebijakan yang diambil pemerintah.

Perlindungan bangsa terhadap konflik sangat membutuhkan proses perencanaan, pembinaan, pengembangan, serta penggabungan seluruh elemen bangsa. Namun yang lebih penting dari itu adalah langkah untuk menyamakan tujuan dan paradigma menjaga keamanan bangsa antara pemerintah dengan seluruh masyarakat.

Muhammad Nur Faizi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, reporter di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Metamorfosa

(mmu/mmu)



 Kemarin, Presiden kejar pemulihan ekonomi dan ujicoba green diesel

Kamis, 16 Juli 2020 06:53 WIB

Kemarin, Presiden kejar pemulihan ekonomi dan ujicoba green diesel

Menperin Agus Gumiwang (kiri) sosialisasi hasil ujicoba bahan bakar D-100 di Dumai, Rabu (15/7/2020). ANTARA/Abdul Razak/aa.

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah informasi penting menghiasi berita ekonomi pada Rabu (15/7) kemarin, mulai dari Presiden Jokowi yang terus mengejar pemulihan ekonomi di kuartal III hingga ujicoba bahan bakar/green diesel/D-100.

Berikut rangkuman berita selengkapnya yang masih menarik untuk dibaca:

*1. Kejar pemulihan, Presiden minta ungkit kegiatan ekonomi kuartal III*

Presiden Joko Widodo mengingatkan para gubernur untuk mengungkit kegiatan perekonomian di kuartal III 2020 karena periode itu merupakan momentum pemulihan ekonomi Tanah Air pada tahun ini.

Presiden menyampaikan hal tersebut setelah memperoleh proyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal II 2020 kemungkinan menurun ke minus 4,3 persen, setelah di kuartal I 2020 masih bisa bertumbuh positif di 2,97 persen.

Baca selengkapnya disini <https://m.antaranews.com/berita/1612978/kejar-pemulihan-presiden-minta-ungkit-kegiatan-ekonomi-kuartal-iii>

*2. LKBN Antara-PFN-BP teken MoU integrasi klaster media BUMN*

Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Perum Produksi Film Negara (PFN) dan PT Balai Pustaka (Persero) menandatangani nota kesepahaman (MoU) integrasi dalam satu klaster media Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan Direktur Utama Perum LKBN Antara Meidyatama Suryodiningrat, Direktur Utama PFN Judith J Dipodiputro, dan Direktur Utama PT Balai Pustaka Achmad Fachrodji di Gedung Antara di Pasar Baru, Jakarta, Rabu.

Baca selengkapnya disini <https://m.antaranews.com/berita/1612022/lkbn-antara-pfn-bp-teken-mou-integrasi-klaster-media-bumn>

*3. Menperin sosialisasi dan ujicoba bahan bakar D-100 di Dumai*

Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita menjajal ruas jalan Kota Dumai dengan mengendarai mobil yang sudah memakai produk bahan bakar baru diproduksi di kilang minyak Pertamina RU II yaitu/green diesel/atau D-100, Rabu.

Menperin setiba di Bandara Pinang Kampai Dumai, langsung menuju Kilang Minyak Putri Tujuh Pertamina RU II Dumai di Jalan Putri Tujuh dengan kendaraan mobil jenis minibus berbahan bakar D-100, dan hasilnya diakui Agus sangat memuaskan dengan suara mesin halus.

Baca selengkapnya disini <https://m.antaranews.com/berita/1612418/menperin-sosialisasi-dan-ujicoba-bahan-bakar-d-100-di-dumai>

*4. Komisi VI DPR setujui pencairan utang pemerintah kepada sembilan BUMN*

Komisi VI DPR RI menyetujui usulan dan besaran pencairan utang pemerintah kepada sembilan BUMN yang diputuskan dalam Rapat Kerja bersama Menteri BUMN Erick Thohir pada Rabu (15/7).

"Komisi VI DPR RI menyetujui besaran pencairan utang pemerintah pada BUMN tahun anggaran 2020 untuk disampaikan ke Badan Anggaran DPR RI sesuai dengan peraturan perundang-undangan," ujar Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima di Jakarta, Rabu.

Baca selengkapnya disini <https://m.antaranews.com/berita/1612414/komisi-vi-dpr-setujui-pencairan-utang-pemerintah-kepada-sembilan-bumn>

*5. Gugus Tugas terima Rp3,4 triliun dari Kemenkeu untuk tangani COVID-19*

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)/Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo menyatakan pihaknya telah menerima dana sebesar Rp3,4 triliun dari Kementerian Keuangan.

Pernyataan tersebut disampaikan Doni dalam Raker Banggar DPR RI bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, dan Menteri Sosial Juliari P Batubara.

Baca selengkapnya disini <https://m.antaranews.com/berita/1612190/gugus-tugas-terima-rp34-triliun-dari-kemenkeu-untuk-tangani-covid-19>

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Subagyo


Kirim email ke