Menurut berita dikatakan bahwa vaksin asal Tiongkok juga diuji coba di Bangladesh.
On Sun, Jul 26, 2020 at 7:19 AM Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote: > > > ada teman lama (sejak SMP) di WA grup yang bilang perlu uji coba > diterapkan pada berbagai ras/ethnicity "disini di test bukan cuma dapat > izin produksi di lokal tapi juga untuk melihat cocok gak. Itu tiap suku di > Indonesia ada wakilnya buat di test," masuk akal juga sih. tapi > masalahnya teman itu Ir. elektro bukan dokter. > > > On Saturday, July 25, 2020, 09:26:48 PM PDT, 'B.H. Jo' [email protected] > [GELORA45] <[email protected]> wrote: > > > > > *Said Sidu (dan golongan dan simpatisannya)* menuduh uji klinis phase 3 > utk covid-19 vaksin dari Sinovac/Tiongkok di Indonesia (yg akan dilakukan > oleh pemerintah Jokowi) adalah *sebagai kelinci percobaan*. Pendapat > mereka adalah *"dungu"* (dan berlagak pintar) dan barangkali juga ada > unsur rasialisnya. > > *Brasil* telah bersedia menyediakan sukarelawan 9000 orang. Kutipan: According > to Anvisa, the vaccine to be tested in Brazil is made from inactivated > strains of SARS-CoV-2. “The proposal provides for testing 9,000 people in > the country. > > https://www.bioworld.com/articles/436374-chinas-sinovac-phase-iii-trials-in-brazil-could-last-as-little-as-three-months > > *Bangladesh* menyediakan 4200 relawan utk uji klinis ini. > https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-bangladesh/bangladesh-allows-late-stage-trial-of-chinas-sinovac-covid-19-vaccine-idUSKCN24L0KO > > *Kanada* akan mengikuti uji klinis ini dan beberapa negara lain (antara > lain *Rusia, Chile, Arab Saudi*). > > Utk uji klinis phase 3 akan diperlukan paling sedikit 30000 orang/relawan > supaya bisa menghasilkan hasil statistik yg bisa dipercaya ("statistical > significance" dlm istilah statistiknya). Kenapa perlu begitu banyak relawan? > Biasanya uji klinis phase 3 (III) dilakukan sebagai uji klinis yg namanya: > "prospective randomized double-blinded, placebo-controlled clinical > trial".. Dari 30000 relawan ini, setiap relawan, misal, akan mendapat 1 > amplop, yg isinya bisa akan: mendapat "vaksin (betul)" atau bisa mendapat > "vaksin palsu". Jadi kira2 15000 relawan yg akan mendapat vaksin betul dan > 15000 mendapat vaksin palsu (placebo). Jadi jumlahnya yg di tes dgn vaksin > sebetulnya cuma 15000. Mereka (30000) semua diawasi dalam waktu tertentu. > Dan setelah beberapa bulan dilihat hasilnya, misal, siapa yg sakit (ringan > atau berat) dan meninggal dll. selain dilihat darahnya telah mengandung > antibody, T-cell thd covid-19 dsb. Setelah waktu uji klinisnya selesai, > datanya dianalisa dgn perhitungan statistik/matematik apakah vaksin betul > ini telah memberikan hasil klinis yg lebih baik daripada vaksin palsu > (placebo). Misal, golongan relawan "vaksin betul" hasilnya lebih baik dari > golongan "placebo". Hasil ini harus dianalisa (sub-analysis) lagi apakah > vaksin telah berguna/manjur utk semua umur (misal; antara umur 10-30, > 31-60, lebih tua dari 60), utk lelaki versus perempuan, ras apa, golongan > darah apa dll. Jadi kita bisa mengetahui keuntungan dari vaksin utk siapa > yg terbaik. > > Dulu institusi saya di Kanada (juga banyak institusi lain di Kanada dan > Amerika), boleh mengikuti uji klinis dari Mayo Clinic (Amerika) yg terkenal > didunia. Utk uji klinis perlu jumlah relawan yg cukup banyak utk bisa > menghasil hasil statistik yg bisa dipercaya. Maka dari itu Mayo Clinic > perlu relawan2 dari tempat/negara lain. Dan relawan2 adalah bukan kelinci > percobaan tetapi boleh dibilang mempunyai kemanusiaan yg baik selain bisa > mendapat keuntungan dari uji klinis ini. *Dan ini adalah suatu kehormatan > utk bisa ber-asosiasi dgn Mayo Clinic.* > > *Kesimpulan: para pengkritik (dan simpatisannya) terhadap keputusan > pemerintah Jokowi utk mengikuti uji klinis phase 3 (sebagai kelinci > percobaan) adalah pikiran yg dungu dan barangkali ada faktor rasialis > (karena vaksin ini dari Sinovac/Tiongkok). Kalau institusi/dokter2 peneliti > di Indonesia boleh mengikuti/mengawasi uji klinis thd Covid-19 adalah suatu > kehormatan karena telah dipercaya kesangupannya (seperti Brasil, Kanada > dll).* > > BH Jo > > > > > > > > > > On Friday, July 24, 2020, 04:37:54 PM MDT, Jonathan Goeij > [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote: > > > > > Kalau saya baca sih ini merupakan research Indonesia sendiri, untuk bikin > vaccine di Indo juga. > Jumlah volunteer yang diperlukan +/- 1500 orang.. > > On Friday, July 24, 2020, 12:56:55 PM PDT, 'Lusi D.' [email protected] > [GELORA45] <[email protected]> wrote: > > > > > Nasional > Vaksin Covid-19 dari China, Said Didu Heran: > Kok Ujicoba Massal di Bawa ke Indonesia? > Guruh Permadi > Tuesday, 21 July 2020 | 09:04 WIB > > https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&ved=2ahUKEwj9mJiSwObqAhXS5KQKHUU3ADI4PBAWMAV6BAgGEAE&url=http%3A%2F%2Fwww.repelita.com%2Fvaksin-covid-19-dari-china-said-didu-heran-kok-ujicoba-massal-di-bawa-ke-indonesia%2F&usg=AOvVaw0i6GDEaOeI4malEGZE4p0r > > > > > POJOKSATU.id, JAKARTA – Kedatangan Vaksin Covid-19 asal China di > Indonesia memicu pertanyaan dan tanggapan dari banyak pihak. > Apalagi nyatanya, vaksin yang oleh pemerintah didatangkan dari > perusahaan Sinovac itu jelas-jelas belum siap edar. > > Sebaliknya, vaksin itu harus lebih dulu menjalani uji klinis tahap III > Nantinya, uji klinis tahap III itu akan dilakukan PT Bio Farma, > Universitas Padjadjaran, dan Badan Penelitian dan Pengembangan > Kesehatan (Balitbangkes). > > Pemerintah juga menargetkan vaksin tersebut bisa digunakan dalam > keadaan darurat pada kuartal pertama 2021 mendatang. > > Logikanya, yang akan menjadi bahan ujicoba tentu saja adalah rakyat > Indonesia. > “Kenapa tahap I dan II diuji coba di China dan tahap III yang massal > dibawa ke Indonesia untuk diujicoba oleh rakyat Indonesia,” heran dia, > Selasa (21/7/2020). > > Hal itu lantas membuat publik bertanya-tanya. Keheranan datang salah > satunya dari Said Didu. > Melalui akun Twitter pribadinya, @msaid_didu, mantan Sekretaris BUMN > ini mempertanyakan kebijakan pemerintah. > > Said mengaku heran kenapa ujicoba tahap I dan II dilakukan di China. > Sedangkan ujicoba tahap III yang menjadi ujicoba massal dibawa ke > Indonesia. > > Karena itu, Said pun berharap ada penjelasan yang gamblang dari > pemerintah terkait hal tersebut. > > “Semoga ada yang bisa jelaskan,” harapnya. > > Hal senada juga dilontarkan anggota Ombudsman RI, Alvin Lie yang malah > melontarkan kritik pedas. Alvin pun mempertanyakan keampuhan vaksin > dimaksud. > > “Apakah vaksin ini sudah lolos uji klinis negaranya dan mendapat > sertifikasi?” ujarnya di akun Twitter pribadi Senin (20/7). > > Pasalnya, yang menjadi bahan percobaan vaksin itu tidak lain adalah > rakyat Indonesia. > > “Jangan sampai WNRI jadi kelinci percobaan,” tegasnya. > (ruh/pojoksatu) > > > ------------------------------------ > Posted by: "Lusi D." <[email protected]> > ------------------------------------ > > Berita dan Tulisan yang disiarkan GELORA45-Group, sekadar untuk diketahui > dan sebagai bahan pertimbangan kawan-kawan, tidak berarti pasti mewakili > pendapat dan pendirian GELORA45. > > Untuk merubah status pengiriman berita/tulisan, kirim saja email kosong > kealamat: Hanya saja ingat, status baru berubah setelah bung me-reply email > konfirmasi dari yahoogroup! > No Mail : [email protected] > Normal : [email protected] > Daily Digest: [email protected] (Diterima dalam SATU email > dari sekian kumpulan email yg masuk di grup-milis) > ------------------------------------ > > Yahoo Groups Links > > > > > >
