-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5121991/7-catatan-penting-agar-ekonomi-ri-nggak-nyungsep-ke-jurang-resesi?tag_from=wp_nhl_8





7 Catatan Penting Agar Ekonomi RI Nggak Nyungsep ke Jurang Resesi

Tim detikcom - detikFinance

Rabu, 05 Agu 2020 23:36 WIB
3 komentar
SHARE
URL telah disalin
Poster
Ilustrasi ekonomi di tengah Corona/Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi menukik semakin 
kritis pada level minus 5,32 persen kuartal II-2020. Ini jelas merupakan 
kenyataan yang tidak bisa dihindari.

Ekonom senior Didik J Rachbini mengatakan pemerintah dan tim ekonomi tidak bisa 
dituntut lebih jauh untuk mempertahankan pertumbuhan positif dalam keadaan 
pandemi sekarang ini. Tetapi yang harus dituntut oleh publik kepada pemerintah 
adalah respons kebijakan apa yang harus dilakukan menghadapi kenyataan seperti 
ini ?

Pertama, krisis ini pada dasarnya adalah masalah yang cukup berat sekaligus 
peluang yang luar biasa bagi yang berdaya pikir dalam dan panjang ke depan. 
Yang harus dikritisi pada saat ini, masalahnya tidak dapat dihindari oleh 
pemerintah, tetapi peluangnya dibiarkan begitu saja dan tidak dikembangkan 
karena respons kebijakan tidak memadai.

Sektor transportasi, jasa pergudangan, akomodasi dan makanan, minuman dan 
jasa-jasa laiannya terkena dampak paling parah sehingga tumbuh minus antara -15 
persen sampai 22 persen.

"Tetapi peluang pada sektor lainnya dibiarkan tidak berkembang, seperti sektor 
informasi dan komunikasi hanya tumbuh 3,44 persen. Padahal peluang pertumbuhan 
sektor ini luar biasa besar karena hampir keseluruhan yang tidak bisa dilakukan 
dengan transportasi mestinya bisa digantikan oleh sektor informasi dan 
komunikasi," ujar Didik yang juga pendiri INDEF (Institute for Development of 
Economics and Finance) Didik J Rachbini, dalam keterangan tertulis Rabu 
(5/8/2020).

Kedua, peluang seperti ini hilang karena kebijakan diam di tempat dan tidak 
muncul inovasi dari dalam yang memberi jalan dan peluang agar sektor informasi 
dan komunikasi tumbuh pesat. Beberapa perusahaan informasi dan komunikasi yang 
menurut pengamatan Didik mendapat rezeki luar biasa dengan pandemi ini karena 
transportasi mandek, teknologi IT sebagai gantinya.
Baca juga:
Ekonomi RI -5,32%, Lebih Parah dari Prediksi Sri Mulyani dan Airlangga

Jadi wajar jika perusahaan IT bisa tumbuh sampai tiga ratus persen. Tetapi 
mengapa sektor ini secara keseluruhan hanya tumbuh 3,44 persen? Jawabnya karena 
miskin ide dan inovasi, tuna kebijakan. Coba aktifkan palapa ring secara 
maksimal dan tiang-tiang listrik berikan gratis untuk sementara kepada Telkom 
dan Telkomsel serta perusahaan swasta agar segera mengembangkan jaringan di 
seluruh penjuru negeri.

"Jika hal sederhana ini bisa dilakukan, maka sektor infokom akan berkembang 
pesat, karena tuna kebijakan maka sektor ini tumbuh sangat rendah, tumbuh 
seadanya seperti sekarang karena tidak punya daya pikir dalam. Sebagai catatan, 
tingkat elektrifikasi kita sudah di atas 90 persen, yang siap menjadi penopang 
sektor infokom. Jika saran kebijakan ini juga tidak laku, maka saya pastikan 
ada penyakit bebal kebijakan," terang Didik

Ketiga, krisis ini sesungguhnya adalah peluang bagi "sektor drakula" penghisap 
devisa, yaitu sektor kesehatan. Kebutuhan sektor kesehatan hampir mutlak 
didatangkan dari luar negeri, sektor pengimpor mutlak dari negara lain, yang 
juga ditingkahi setan monopoli dan rente yang luar biasa besar.

Sektor ini adalah sektor neraka bagi ekonomi karena menghisap devisa, 
melemahkan rupiah, menggerus perolehan ekspor, dan memelihara hutan rente 
ekonomi, yang menyakitkan. Krisis ini adalah peluang untuk merontokkan drakula 
dan setan rente tersebut, yang menyebabkan biaya kesehatan dan harga obat mahal.

Keempat, selain sektor kesehatan peluang krisis ini ada pada sektor pendidikan. 
"Saya sebagai guru hampir tidak pernah mendapat hambatan dalam mengajar, 
menguji, dan praktik terutama untuk jurusan ilmu-ilmu humaniora. Kuncinya 
adalah mekanisme pendidikan normal baru secara daring," kata Didik

"Tetapi pendidikan di kota dan Jakarta berbeda dengan pendidikan di desa dan 
luar jawa, yang macet karena tidak ada jaringan internet. Jaringan internet 
tidak ada karena pemerintah kurang daya pikir, padahal di sini peluang itu 
ada," sambungnya.

Langsung klik halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2
                        ===========


https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5121991/7-catatan-penting-agar-ekonomi-ri-nggak-nyungsep-ke-jurang-resesi/2



7 Catatan Penting Agar Ekonomi RI Nggak Nyungsep ke Jurang Resesi

Tim detikcom - detikFinance

Rabu, 05 Agu 2020 23:36 WIB
3 komentar
SHARE
URL telah disalin
Poster
Ilustrasi ekonomi di tengah Corona/Foto: Edi Wahyono

Kelima, revolusi tiang listrik. Seperti saya kritik di atas tadi dimana 
pertumbuhan sektor infokom lembek karena daya pikir kebijakan lemah dan lamban. 
Saya memberikan saran revolusi dari tiang listrik, yang dirancang murah. 
Pemerintah meminta kepada seluruh perusahaan IT penyedia layanan untuk masuk ke 
seluruh daerah dengan kabel fiber optiknya melalui jaringan tiang listrik.

Tiang-tiang listrik itu sebenarnya sudah masuk ke seluruh pelosok negeri , 
tingkat elektrifikasi di atas 90 persen. Sistem palapa ring harus dipakai untuk 
mendukungnya. Berikan tiang listrik itu gratis, atau diskon, atau disubsidi 
pemerintah kepada perusahaan IT agar seluruh negeri bisa dialiri internet. 
Sebaliknya pemerintah mewajibkan perusahaan IT untuk memberikan harga murah 
kepada masyarakat karena sekarang sudah untuk berlipat.

Keenam, pemerintah dan tim ekonomi sibuk dengan permasalahan internalnya 
sendiri, koordinasi dan komunikasi yang buruk, kemarahan presiden yang tidak 
perlu, serta anggaran yang tidak terealisasi dengan memadai, tidak wajar. Dari 
awal komunikasi pemerintah sangat kacau dimana ada puluhan blunder komunikasi 
yang membingungkan dalam kebijakan COVID-19.

Akhirnya meskipun kasus COVID-19 terus meningkat, pemerintah pusat dipimpin 
Presiden tetap membuka PSBB lockdown sehingga kasus covid-19 sudah di atas 100 
ribu. Tidak lama lagi kasus itu akan mencapai 200 ribu bahkan sampai 3 kali 
dari kasus yang terjadi di China, tempat asal virus ini.
Baca juga:
Sri Mulyani Pastikan Ekonomi Indonesia Belum Resesi!

Ketujuh, jika ini terus terjadi, tim pemerintah kacau dalam komunikasi, 
pemimpinnya gusar terhadap anak buah, tim tidak solid, maka COVID-19 mustahil 
bisa diatasi dengan baik. Jika COVID-19 tidak bisa diatasi, jangan bermimpi 
bisa mengatasi resesi.

"Tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa mengatasi pandemi. Jika pandemi terus 
berkembang seperti sekarang, maka resesi akan berkepanjangan. Pemerintah akan 
kesulitan mengembalikan ekonomi tumbuh kembali," tutur Didik.
Halaman
1 2 










Kirim email ke