*Ekonomi NKRI terkonsentrasi pada pulau Jawa, karena pada dasarnya semua
industri dan kegiatan ekonomi terpusat di pulau Jawa, maka oleh sebab itu
disebut Jawasentris. Wilayah diluar pulau Jawa pada umumnya mensupply bahan
mentah atau menghasil bahan mentah. Jadi hubungan ekonomi antara pusat
(Jawasentris ) dan daerah diluar pulau Jawa tidak banyak bedanya dengan
hubungan zaman kolonial, yaitu wilayah jajahan mengirim bahan mentah ke
negerri induk untuk diproses atau diekspor ke luarnegeri oleh negeri induk.
Begitulah sedikit obserasi dibalik hiruk pikuk perayaan 75 tahun NKRI
merdeka.*


*https://https://katadata.co.id/desysetyowati/finansial/5f2a526070103/pertumbuhan-ekonomi-pulau-jawa-terkontraksi-paling-dalam-imbas-corona?utm_source=Social&utm_medium=pushnotif&utm_campaign=Makro_Okakatadata.co.id/desysetyowati/finansial/5f2a526070103/pertumbuhan-ekonomi-pulau-jawa-terkontraksi-paling-dalam-imbas-corona?utm_source=Social&utm_medium=pushnotif&utm_campaign=Makro_Oka
<https://katadata.co.id/desysetyowati/finansial/5f2a526070103/pertumbuhan-ekonomi-pulau-jawa-terkontraksi-paling-dalam-imbas-corona?utm_source=Social&utm_medium=pushnotif&utm_campaign=Makro_Okakatadata.co.id/desysetyowati/finansial/5f2a526070103/pertumbuhan-ekonomi-pulau-jawa-terkontraksi-paling-dalam-imbas-corona?utm_source=Social&utm_medium=pushnotif&utm_campaign=Makro_Oka>*


Pertumbuhan Ekonomi Pulau Jawa Terkontraksi Paling Dalam Imbas Corona
Pertumbuhan ekonomi di hampir seluruh pulau di Indonesia minus.
Perekonomian pulau Jawa terkontraksi paling dalam.


Oleh Agatha Olivia Victoria 5 Agustus 2020, 13:32


Pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32% secara tahunan (year on year/yoy)
pada kuartal II 2020. Pulau Jawa menjadi wilayah yang pertumbuhannya
terkontraksi paling dalam, yakni 6,69%. Padahal, Pulau Jawa berkontribusi
58,55% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kepala Badan Pusat
Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, pandemi corona berdampak luar biasa
buruk terhadap kesehatan hingga perekonomian, terutama konsumsi masyarakat.

"Struktur perekonomian Indonesia secara spasial, pada triwulan II, masih
didominasi kelompok provinsi di Pulau Jawa," ujar Suhariyanto saat
konferensi pers secara virtual, Rabu (5/8). Pertumbuhan ekonomi di hampir
seluruh pulau Tanah Air negatif sepanjang April-Juni. Pulau Sumatera
terkontraksi 3,01%, Bali dan Nusa Tenggara 6,29%, Pulau Kalimantan 4,35%,
serta Pulau Sulawesi 2,76%. BACA JUGA Konsumsi Rumah Tangga Anjlok, Ekonomi
RI Kuartal II Tumbuh Minus 5,32% Hanya Pulau Maluku dan Papua yang bisa
tumbuh positif 2,37% pada kuartal II. Pertumbuhan ini utamanya ditopang
oleh provinsi Papua dan Papua Barat. "Pada dasarnya, kedua provinsi ini
tumbuh negatif pada kuartal II 2019," kata dia. Ekonomi provinsi Papua
tumbuh 4,52% pada kuartal II. Pertumbuhan ini jauh lebih baik ketimbang
periode yang sama tahun lalu, yang terkontraksi 23,91%. Salah satu
pendorong pertumbuhan ekonomi provinsi Papua yakni produksi bijih tambang
dan emas meningkat. Hal serupa terjadi di provinsi Papua Barat.

Alhasil, ekonomi provinsi Papua Barat tumbuh tipis. Padahal,
perekonomiannya minus 0,49% pada kuartal II 2019. BACA JUGA Ekonomi Kuartal
II Negatif 5,32%, Apakah Indonesia Sudah Resesi? Kendati begitu,
pertumbuhan ekonomi kedua provinsi yang positif itu tak mampu mendongkrak
perekonomian nasional. Sebab, Pulau Jawa dan Sumatera yang berkontribusi
besar terhadap PDB Indonesia. Jika Jawa berkontribusi 58,55%, porsi
Sumatera 21,49%. "Dengan begitu, Jawa dan Sumatera berkontribusi 80,04%,"
ujar Suhariyanto. Sedangkan Pulau Kalimantan menyumbang 8,04%. Lalu
Sulawesi 6,55%, Bali dan Nusa Tenggara 3%, serta Maluku dan Papua 2,37%.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II minus
5,32% yoy. Realisasi ini lebih buruk dibandingkan prediksi pemerintah yang
minus 4,3% maupun realisasi kuartal I yang masih positif 2,97%.  Penyebab
utama perekonomian Indonesia terkontraksi yakni pandemi Covid-19. BACA JUGA
Pertumbuhan Ekonomi Diramal Minus 6%, Indonesia Masuk Resesi Teknikal
Reporter: Agatha Olivia Victoria Editor: Desy Setyowati

Kirim email ke