Wabah Cerminkan Dua Aspek AS

http://indonesian.cri.cn/20200809/64b66441-2b22-cea6-e1df-e1671238ec04.html
2020-08-09 16:05:47

Pada hari Sabtu kemarin (8/8), jumlah kasus positif virus corona di AS secara akumulasi mendekati 5 juta orang, AS menjadi negara yang paling serius wabahnya. Akan tetapi, orang AS terhadap wabah mempunyai dua sikap yang berbeda. Jika wabah adalah sebuah cermin, jadi akan tercermin dua aspek AS yang berbeda.

Festival Balap Sepeda Motor yang Konyol

Wabah Cerminkan Dua Aspek AS_fororder_mei1

Dari tanggal 7 Agustus lalu, puluhan ribu penyetir sepeda motor memasuki Sturgis, kota kecil di Dakota Selatan untuk menyertai Festival Balap Sepeda Motor tahunan. Acara ini dimulai dari tahun 1938, merupakan festival karnaval penggemar balap sepeda motor di AS. Festival selama 10 hari tahun ini akan menarik 250 ribu orang, ini merupakan perkumpulan skala terbesar di AS sejak wabah virus corona merebak.

Wabah Cerminkan Dua Aspek AS_fororder_mei2

Banyak orang turun ke jalan, papan promosi dengan emblem Harly Davison dan logo pilpres Trump 2020 kelihatan di mana-mana, ada orang yang memakai kaos hitam yang bertulisan Biarkan Virus Corona ke Mana-mana, Saya Nekad Ke Sturgis. Mereka tidak memakai masker, juga tidak peduli protokol menjaga jarak sosial. Demikian dilaporkan wartawan New York Times.

Wabah Cerminkan Dua Aspek AS_fororder_mei3

 Gubernur dari Partai Publik Kristi Noem menantikan festival sepeda motor dapat mendatangkan lebih banyak pendapatan, dan melalui media meninta orang-orang dengan aktif ikut serta acara kali ini.

Akan tetapi, penduduk setempat sangat mengkhawatirkan keamanan mereka. Para ahli kesehatan memperingatkan, para pendatang dari  berbagai penjuru AS dengan perlakuannya miripseperti mesin penyebar virus. Tapi mereka tidak menghiraukan hal ini. Jim Bush mengatakan, dirinya merasa suasana yang tegang saat ini sengaja diciptakan orang tertentu yang mempunyai motif tak bisa diumumkan.

Wasiat Guru Terhadap Pembukaan Sekolah

Dibandingkan dengan pembalap sepeda motor yang tidak takut akan mati, perpisahan di antar sejumlah guru sangat tragis.

Untuk memprotes pembukaan sekolah pada Musim Gugur, guru-guru di berbagai tempat AS dengan acara yang ektrem yakni menulis berita kematian untuk menyatakan ketidakpuasan mereka.

Wabah Cerminkan Dua Aspek AS_fororder_mei4

Belakangan ini, di hadapan media, seorang guru dari Florida bernama Whitney Reddick membacakan berita kematiannya

“ dengan rasa sedih yang mendalam, saya mengumumkan Whitney Reddick meninggal dunia. Pada 7 Agustus 2020, dia meninggalkan kami di atas ventilator di rumah sakit.”

Pada awal bulan ini, sejumlah guru di Iowa menyerahkan berita kematian mereka kepada gubernur, dan mengharapkan pemerintah dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan pembukaan sekolah kembali. Sebagai seorang guru, Sarah Backstrom mengatakan untuk pertama kali dia merasa takut kembali ke sekolah. Dia memberitahukan CNN,” saya harus berhati-hati, benar-benar mengharapkan gubernur dapat membaca dan memaham, jika terjadi masalah, saya akan mati.”

Wabah Cerminkan Dua Aspek AS_fororder_mei6

Backstrom dalam berita kematiannya mengatakan, “Sarah sangat mencintai sanak keluarga dan teman. Kesenyumannya terpesona, walaupun di saat paling gelap, dia pun menemukan sinnar matahari.”

Wabah Memisahkan AS dalam Dua Kubu

Pembalap sepeda motor yang gila dan guru yang memprotes memanifestasikan kenyataan AS saat ini--wabah ini telah memisahkan mnasyarakat dalam dua kubu, ada yang tidak menghiraukan, ada yang merasa sedih, sperti sebuah ngarai yang memisahkan orang-orang di kedua sisinya.

Washington Post mengatakan, saat ini, banyak orang AS berpendapat, penyakit menular ini dilbuat-buat dengan berlebihan. Gejala yang menentang ilmu pengetahuan telah menjadi teori konspirasi, dan menganggap kebohongan ahli adalah bagian politik.

Keadaan serupa Diakibatkan Pemerintah Federal

Sejarawan AS James Grossman menyatakan, para ahli historis akan mencatat keterpisahan saat ini dalam kitab sejarah seperti apa adanya, dan menyimpulkan hal itu sebagai kesalahan pemerintah sekarang. Dia mengatakan, menengok kembali masa depresi besar, Presiden Roosevelt melalui kebijakan baru mempersatukan negara ini. Ini adalah reaksi naluriah setiap presiden, walau tidak sukses, tapi harus berupaya mempersatukan rakyat.

Selain Tujuan Politik, Tradisi Individualisme AS Juga Dorong Pemecahan Sosial

Komentar New York Times berpendapat, tradisi AS memprioritaskan individualisme jika dibandingkan dengan tindakan pembatasan yang diambil pemerintah. Tradisi ini adalah salah satu sebab yang mengakibatkan tidaksetaranya sistem pengobatan AS. Kepala Institut Kesehatan Publik di bawah Universitas Washington Jared Baeten mengatakan, sebagai warga AS, saya mau mengatakan, tradisi kebebasan kita mempunyai banyak keunggulan, tapi akibatnya tidak akan mencapai sukses dibandingkan aksi kolektif.

Wabah Cerminkan Dua Aspek AS_fororder_mei7

Pada tanggal 7, Faucci kepada CNN menyerukan orang AS besatu padu, bersama melawan wabah. Tapi Faucci sedikit tidak berdaya. Dia mengatakan, dirinya akan terus menyerukan masyarakat agar memakai masker, tidak berkerumun dan lain sebagainya  sampai dia “terkikis tenaga terakhir”.



 Mau Kontrol Kepemilikan Senjata? Siapa Pun Tak Mau Bertanggung Jawab

2020-08-09 15:42:03 http://indonesian.cri.cn/20200809/ba7598d2-7294-529d-a7e6-9130754683b7.html

Sejak memasuki tahun ini, volume penjualan senjata di AS melonjak tajam seiring dengan maraknya wabah virus corona dan demonstrasi serta merosoknya ekonomi. Peningkatan penjualan senjata juga dibarengi dengan kekerasan, penembakan, bahkan pembunuhan yang kerap kali terjadi di berbagai sudut AS.

Penjualan senjata biasanya akan meningkat pada tahun pilpres di mana masyarakat khawatir kebijakan dari pemerintah baru akan berubah. Akan tetapi, fenomena tersebut tampaknya lebih kompleks.

Mau Kontrol Kepemilikan Senjata? Siapa Pun Tak Mau Bertanggung Jawab_fororder_qiang1

Pada 6 Agustus waktu setempat, Jaksa Agung New York mengajukan gugatan agar National Rifle Association (NRA) dibubarkabn, dengan alasan korupsi dan masalah belanja yang sudah lama mengganggu operasi aosiasi tersebut sebagai lembaga nirlaba. Akan tetapi, gugatan dengan dalih korupsi internal itu tidak akan menyelesaikan masalah karena menyimpang dari sumber akarnya.

Fakta menunjukkan, di AS muncul semakin banyak kasus kejahatan yang bersangkutan dengan kepemilikan senjata, namun polemik masyarakat mengenai kepemilikan senjata tidak pernah membuahkan hasil apa pun. Masalah itu selalu diperdebatkan para politikus untuk memenuhi permintaan masyarakat, tapi jarang ada politikus yang benar-benar memperhatikan seruan para korban dari serangan senjata.

National Rifle Association (NRA), Organisasi Kepemilikan Senjata Terbesar AS

Mau Kontrol Kepemilikan Senjata? Siapa Pun Tak Mau Bertanggung Jawab

Presiden AS Donald Trump lebih-lebih menentang keras pelarangan senjata. Tak heran, begitu gugatan terkait kepemilikan senjata diajukan, Kejaksaan New York yang dipimpin oleh tokoh Partai Demokrat langsung dihujani kritik dari Donald Trump, yang menyatakan dukungan kuat kepada NRA. Sebagai aosiasi kepemilikan senjata terbesar di AS, NRA beranggotakan 5 juta orang dan berpengaruh pada tatanan pemilihan negara bagian atau bahkan pemilihan tingkat federal, dan dianggap sebagai salah satu grup yang paling berwibawa dalam melakukan lobi di Washington. Bahkan NRA sering dijuluki dengan sebutan “polar keempat kekuasaan negara”. NRA secara terbuka mendukung Trump untuk terpilih kembali, dan memujinya telah membela amandemen kedua UUD yang mendukung kepemilikan senjata oleh warga negara AS. Kasus gugatan terkait kepemilikan senjata tersebut diperkirakan akan berlarut hingga beberapa tahun lamanya, dan lantas dianggap hanyalah alat perjuangan antara Partai Demokrat dan Partai Republik pada tahun pilpres.

Ketika menghadiri kampanye pemilihan pada Agustus lalu, Trump diberondongi pertanyaan wartawan tentang kebijakannya untuk mengontrol senjata. Ia menjawab, kasus-kasus penembakan brutal yang terjadi sebelumnya tidak boleh disalahkan kepada kepemilikan senjata, melainkan si pemilik senjata itu “sakit mental”, dan oleh karena itulah, ia mengusulkan pembangunan lebih banyak lembaga rehabilitasi psikis. Trump berujar bahwa dia tidak akan membiarkan adanya kebijakan yang “memperlemah daya bela diri warga tak berdosa”.

Amandemen Kedua UUD AS mendukung warga negara memiliki senjata. Walaupun masyarakat AS tahu benar bahwa UUD serupa harus dirombak, namun perbaikan itu berlangsung amat alot. Kepala Institut AS Akademi Masalah Internasional Tiongkok, Teng Jianquan berpendapat, kepemilikan senjata sepertinya sudah menjadi salah satu wujud bela diri warga AS.

Mau Kontrol Kepemilikan Senjata? Siapa Pun Tak Mau Bertanggung Jawab_fororder_qiang3

Kepala Institut AS Akademi Masalah Internasional Tiongkok, Teng Jianquan

Teng Jianqun mengatakan, “Sebenarnya kontradiksi di masyarakat AS sudah semakin meruncing dan kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin semakin lebar. Dalam keadaan itulah kepemilikan senjata telah berubah menjadi wujud untuk bela diri. Di pihak lain, kepemilikan senjata di AS adalah warisan historis di AS. Bagi warga AS, tidak apa-apa jika tidak ada makanan dan tidak ada tempat berteduh, namun harus memiliki sepucuk senjata untuk membela diri. Hal ini juga berkaitan erat dengan realitas AS. Seperti apa yang diketahui, masyarakat AS memiliki dua kepercayaan, yakni pertama, God dan kedua, senjata. Pada hal AS adalah sebuah sosial polisi. Bagi polisi maupun masyarakat, kepemilikan senjata adalah pilihan untuk keamanan, sekaligus pilihan yang melambangkan hak sahnya.”

Mau Kontrol Kepemilikan Senjata? Siapa Pun Tak Mau Bertanggung Jawab_fororder_qiang5

Masyarakat AS Membeli Senjata karena Kekhawatiran Keamanan

Sejak wabah virus corona merebak, penjualan senjata di AS meningkat tajam. Harian The Washington Post menunjukkan, pada Maret hingg Juni lalu, lembaga investigas federal atau FBI total melakukan 7,8 juta kali investigasi terkait permohonan pembelian senjata. Hanya pada Juni saja, investigasi terkait pembelian senjata bertambah 136 persen dibanding periode sama tahun lalu, yang mencapai rekor terbaru sejak dimulainya investigasi serupa pada tahun 2000.

Harian The Washington Post menunjukkan, pada Maret hingg Juni lalu, lembaga investigas federal atau FBI total melakukan 7,8 juta kali investigasi terkait permohonan pembelian senjata.

Pada Mei 2020, penjualan senjata di AS naik 80 persen dibanding periode sama tahun lalu. National Shooting Sports Foundation (NSSF) dalam sebuah hasil surveinya yang diumumkan pada 21 Juli menunjukkan, dibanding periode sama tahun lalu, penjualan senjata di seluruh wilayah AS pada semester pertama tahun ini naik 95 persen, dengan penjualan amunisi naik 139 persen.

NSSF menyatakan, sebanyak 40 persen dari pembeli senjata adalah wajah baru. Seorang pemilik toko senjata memprakirakan penambahan volume penjualan senjata tahun ini akan naik 300 pesen. Ia mengatakan, melonjaknya penjualan senjata secara signifikan disebabkan berbagai unsur, antara lain, wabah virus corona, demonstrasi anti rasialisme, apa lagi tahun ini bertepatan pilpres. Oleh karena produsen sudah kewalahan memenuhi permintaan pasar, maka kenaikan harga senjata juga melambung tinggi.

Mau Kontrol Kepemilikan Senjata? Siapa Pun Tak Mau Bertanggung Jawab_fororder_qiang6

Kekerasan Senjata di AS Sulit Terhapus

Kekerasan terkait penembakan senjata sejak lama sudah menjadi “tumor” masyarakat AS, dan polemik terkait masalah itu semakin meruncing sejak 2019. Pada tahun lalu, di AS terjadi sebanyak 400 kasus penembakan dengan korban tewasnya melebihi 4 orang, yang merupkan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Menurut laporan CNN, dibanding tahun lalu, kasus penembakan di sejumlah kota besar di AS pada semester pertama mengalami peningkatan tajam, dengan tingkat kenaikan di Philadelphia, New York dan Chicago masing-masing tercatat 57 persen, 44 persen dan 45 persen.

Mau Kontrol Kepemilikan Senjata? Siapa Pun Tak Mau Bertanggung Jawab_fororder_qiang7

Media AS memberitakan, kasus penembakan di AS tahun ini lebih serius.

Kekerasan senjata di AS adalah tragedi yang terulang berkali-kali di AS, namun adapun masalah kepemilikan senjata, hal itu tidak hanya melibatkan hukum, tapi juga opini umum dan politik.

Biasanya seruan tentang pelarangan senjata hanya terdengar setelah terjadi kasus penembakan massal. Namun setelah itu, lama-kelamaan seruan itu akan semakin kendur, bahkan hilang tanpa jejaknya hingga terjadinya sekali lagi kasus penemakan.

Semakin banyak kasus penembakan berarti semakin banyak masyarakat yang memiliki senjata, dengan tingkat kepemilikan senjata yang tinggi, tingkat kejadian kasus penembakan pun terus meningkat. Teng Jianqun berpendapat bahwa sirkulasi setan itu telah menjadi fenomena unik di AS.


Teng Jianqun: “Sekarang sirkulasi setan itu telah membawa AS memasuki jalan buntu, yakni terus terjadi kasus penembakan, terus membeli senjata, sehingga AS menjadi negara dengan kepemilikan senjata oleh individu yang terbanyak di dunia. Hal ini akan membawa dampak negatif serius bagi keselamatan jiwa dan keamanan harta benda seluruh masyarakat. Ini adalah satu gejala yang unik di dunia.”

Mengapa pengontrolan senjata sulit dilakukan di AS?

Sejak pemerintah Donald Trump naik panggung, pengendalian kepemilikan senjata jarang dibahas sebagai agenda pembahasan. Hasil survei pada 2018 menunjukkan, 77 persen responden berpendapat bahwa DPR masih sangat tidak kompeten dalam mencegah peristiwa penembakan massal, sedangkan 62 persen responden menyatakan Trump masih jauh dari permintaan masyarakat.

Mau Kontrol Kepemilikan Senjata? Siapa Pun Tak Mau Bertanggung Jawab_fororder_qiang9

Para ahli menunjukkan, pencegahan kejahatan kekerasan yang melibatkan senjata baru akan dilakukan secara efektif hanya apabila diadakan diskusi yang mendalam terkait kepemilikan senjata di seluruh AS. Akan tetapi yang menyesalkan ialah, masalah senjata sudah telanjur dipolitisasi, dan tak peduli siapa yang terpilih sebagai presiden mendatang, diskusi serupa tidak mungkin terjadi.

Teng Jianqun: “Masalah pengontrolan senjata merupakan salah satu topik politik yang sensitif di AS. Walaupun masalah ini berkaitan erat dengan keamanan masyarakat, namun para politikus sudah terbiasa bertolak dari kepentingan dirinya sendiri, misalnya atas pertimbangan menarik dukungan para pemilih. Bagi para politikus, yang penting bukanlah keamanan masyarakat, bukan kemakmuran AS, melainkan kebutuhan politiknya. Itulah sebabnya mengapa begitu sulit dilakukan pengontrolan senjata di AS.”

Kirim email ke