Kursus dan Promosi Virtual di Kecamatan Qingshi
2020-08-11 17:10:58
http://indonesian.cri.cn/20200811/a56e473d-7e57-232d-c072-9af2603fcb7f.html
Kursus dan Promosi Virtual di Kecamatan
Qingshi_fororder___172.100.100.3_temp_9500049_1_9500049_1_1_88b9e766-ba66-4092-8c79-34fe69761f40
Belakangan ini, pembawa acara promosi produk pertanian yang baru Liu
Xianlong selalu tampil di ruang siaran langsung di jalan siaran langsung
kampung Qingshi, kabupaten Changshan, Kota Quzhou Propinsi Zhejiang.
Dibandingkan dengan dua bulan yang lalu, dia lebih yakin diri.
Kursus dan Promosi Virtual di Kecamatan
Qingshi_fororder___172.100.100.3_temp_9500049_1_9500049_1_6012_24b984a8-631a-4b32-9a49-51f3261893b2
Liu Xianlong yang berusia 41 tahun ini dulu berdagang di luar Qingshi.
Tahun ini terpengaruh oleh wabah Covid-19, produk pertanian tidak begitu
laris, jadi dia punyai ide untuk promosi produknya melalui siaran
langsung. Karena Qingshi membangun pangkalan siaran langsung kampung,
memberi kebijakan preferensial antara lain bebas biaya sewaan, penataran
secara gratis dan lain-lain.
Petani menjadi pembawa acara, ponsel menjadi alat pertanian, siaran
langsung menjadi aktivitas pertanian, data menjadi material pertanian.
Jauh pada Juli tahun lalu, beberapa pembawa acara siaran langsung
dibina, dengan cara ini membuka pasar penjualan.
Kursus dan Promosi Virtual di Kecamatan
Qingshi_fororder___172.100.100.3_temp_9500049_1_9500049_1_6012_64d2cc6a-e0bc-4338-9001-a534bbedd237
Selama satu tahun ini, Kota Quzhou kombinasi kursus kembangkitan di
pedesaan dan perkembangan industri di desa, dengan demikian
mengembangkan industri siaran langsung di kampung.
Dengan dorongan penataran kursus kebangkitan pedesaan di kampung,
semester pertama tahun ini, peningkatan pendapatan perkapita petani di
Quzhou mendudui nomor kedua di seluruh propinsi.
Kisah Orang Asing yang Melawan Wabah di Tiongkok: Toko Kue Diam milik
Om Jerman
2020-08-11 15:31:34
Di Changsha, Propinsi Hunan, terdapat sebuah Cake Shop (Toko Kue dan
Roti) yang sudah bersejarah 9 tahun tapi hampir tidak ada profitnya.
Di sini ada seorang Om Jerman yang tidak hanya fasih berbahasa Mandarin
dan juga mahir menggunakan bahasa isyarat Tiongkok .
Di took roti di lorong sunyi ini, Anda dapat menikmati roti wangi dan
kopi hangat, dapat juga terasa cintanya dan ketetapan hatinya.
Toko ini tidak besar, karyawannya pun tidak banyak, pelanggan kebanyakan
adalah pelanggan setia.
Pemilik toko ini adalah Uwe Brutzer (atau Wu Zhengrong dalam Bahasa
Manarin), seorang warga Jerman yang berusia berusia lebih dari 50 tahun.
Dia fasih berbahasa Mandarin yang kadang-kadang bercampur dengan dialek
Hunan. Dia dipanggil sebagai Bos Wu atau Om Wu.
Selain suara benturan peralatan dapur, tak terdengar suara berbicara di
dapur toko itu. Semua tukang roti sibuk bekerja.
Bos Wu selalu berdiri di samping oven, sedengar bunyi timer oven, dia
akan mengeluarkan roti hangat dari oven itu. Dikatakannya, mereka semua
adalah orang tuli dan bisu, tidak bisa mendengar bunyi timer, jadi
dialah yang bertugas di samping oven.
Meskipun tokonya tidak begitu ramai, tapi tokonya cukup menghangatkan
hati orang.
18 tahun yang lalu, Uwe Brutzer sama isterinya Dorothee Brutzer
meninggalkan pekerjaan stabil di Jerman, datang ke Changsha untuk
membantu anak yang mengalami gangguan pendengaran. Menurut perkenalan
Uwe Brutzer, ketika itu dirinya dan istrinya mengikuti sebuah program
bantuan anak tuli Tiongkok yang disponsori suatu organisasi amal
non-pemerintah di Jerman. Karena lokasi program itu di Hunan, maka
mereka datang ke Hunan. Tak tersangka, sejak itu mereka tinggal di
Changsa selama 18 tahun.
Selama 18 tahun ini, dia dan istrinya telah membantu hamper 500 anak
tuli, mengajari mereka berbicara dan membantu mereka bersekolah. Uwe
Brutzer mengatakan, waktu baru datang, pasti tidak terbiasa dengan cuaca
yang terlalu panas di Changsha. Dia merasa apa yang dilakukannya sangat
berarti, jadi tak terasa sudah tinggal lama di Changsha.
Pada 2011, Uwe Brutzer mempunyai ide untuk membuka sebuah toko, dalam
rangka mengajari orang tuli membikin kue dan roti, agar dapat membantu
kehidupan mereka.
Dengan upaya jerih payah, Uwe Brutzer akhirnya menemukan seorang tukang
kue dan roti Jerman yang dapat mengajari dirinya dan karyawan tuli di
koto itu membikin kue dan roti.
Pada semulanya, tokonya berlokasi di tempat ramai, tapi karena kurang
banyak profitnya untuk membayar uang sewaan, maka dia terpaksa
memindahkan tokonya ke suatu lorong sunyi.
Pada tahun 2014, tukang kue dan roti toko itu pulang Jerman, maka Uwe
Brutzer sendiri mengajari orang tuli membikin kue dan roti. Sejauh ini,
20 orang tuli telah menjadi tukang kue dan roti yang berkualifikasi.
Uwe Brutzer mengatakan kepada wartawan, tahun-tahun ini, pendapatan
tokonya hanya dapat menutupi pengeluarannya. Tapi dia tidak pernah
berpikir untuk menyerah. Uwe Brutzer mengatakan, ia selalu menyewa rumah
di Changsha, kehidupannya tidak begitu memadai. Sudah lama meninggalkan
kampung, kadang-kadang pun rindu sama sanak kelurganya. Dulu yang paling
dirindunya adalah roti Brezen Jerman, sekarang dia sendiri sudah bisa
membikin roti itu. Lama kelamaan di Changsha, ia juga mengenal sejumlah
teman baru, kebanyakannya adalah pelanggan tokonya.
Dikatakannya, terima kasih kepada istrinya yang selalu menemaninya agar
dia tak merasa kesepian lagi. Sanak keluarga yang jauh di Jerman itu
juga sangat mendukung keputusan mereka. Ketika tokonya mengalami
kesulitan, sanak keluarganya di Jerman akan membantu mereka.
Selama masa wabah Covid-19 tahun ini, tokonya selalu rugi, tapi Uwe
Brutzer tidak memberhentikan karyawannya dan tidak menaikkan harga
rotinya. Karena dia khawatir tidak mudahnya karyawannya mencari
pekerjaan di tempat lain.
Sepotong roti, secangkir kopi, sekelompok orang. Ketika memasuki toko
diam ini, Anda akan menemukan bahasa spesial di sana yang menghangatkan
dan mengharukan orang.