Iyaaaa, ... entah darimana Faisal Basri dapatkan data dan bagaimana
hitungan Indonesia hanya dapatkan 5%, sedang Tiongkok menggondol 95%?
Apa sudah memperhitungkan berapa besar modal yang telah dikeluarkan
pihak Tiongkok untuk membangun tambang nikel itu dengan smelter menjadi
kawasan industri Morowali? Saya pernah baca tulisan yang mengungkap dari
awal mereka membangun wilayah industri itu, dari usaha membeli lahan
dari tuantanah setempat, betapa sulitnya karena harga terus melonjak
tinggi. Akhirnya harus menggunakan broker yang pejabat pemerintah
setempat, baru berhasil lebih cepat, sekalipun pengeluaran untuk
mengambil alih hak guna tanah jadi mahal.
Lalu, dimulai dari membangun jalan dan pelabuhan yang memadai, dan
berlanjut dengan membangun pembangkit listri dan sumur air-minum untuk
menjamin kesehatan pekerja disitu dan kemudian berlanjut dengan
pembangunan barak tempat tinggal pekerja yang memadai. Membangun ruang
klas pendidikan, pelatihan bagi pekerja lokal, membangun dapur umum
khusus untuk Muslim, ... Mesjid dsb. Entah berapa besar pengeluaran yang
telah terjadi, ...apa sudah masuk dalam perhitungan Faisal Basri? Dan
pernahkah dipikirkan, justru karena begitu BESAR pengeluaran membangun
kawasan industri, Indonesia sendiri BELUM mampu, sedang tak ada modal
asing lainyang mau dan berani kerjakan,kecuali Tiongkok!
Lalu, sekarang setelah 5 tahun bisa dapat keuntungan jauh lebih baik
ketimbang masukkan modal-asing lain masih juga ribut hendak merebut
keuntungan lebih besar lagi???
kh djie [email protected] [GELORA45] 於 2020/8/16 上午 12:46 寫道:
Bung Arief,
Benar. Kita tidak bisa mendapat data2nya dari Google untuk dapat
melakukan perhitungan.
Kita juga tidak tahu atas dasar data2 apa Faisal Basri menghitungnya.
Faisal Basri tidak
menunjukkan data2 yang dia pakai dan bagaimana peraturan yang ada,
sehingga dia tiba
pada suatu kesimpulan.
Saya kira pemerintah dapat pemasukannya dari PPN, pajak penambahan
nilai 10 %? dari
yang diexport, tetapi 0% PPH karena diberikannya Holiday tax, dan yang
dikenai PPN itu
masih dikurangi dulu dengan super deductable tax sebesar 200%. Saya
tidak tahu apa
pajak dari IMB dan pajak PPH karyawan sudah dihitung termasuk
pendapatan pemerintah
atau pajak dari IMB masuknya ke pendapatan dari pemerintah daerah.
Penerimaan pemerintah baru akan tinggi setelah masa berlakunya Holiday
tax berakhir?
https://www.online-pajak.com/tentang-pajakpay/perbedaan-tax-holiday-dan-tax-allowance
Kemenperin, kata dia, sudah menyiapkan lima insentif fiskal dan
nonfiskal untuk menarik investasi asing di 18 KI itu, antara lain tax
holiday, tax allowance, super deductible tax untuk litbang dan
teknologi sebesar 200-300%. Dia berharap, dalam waktu dekat, usulan
itu akan disetujui Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam bentuk Peraturan
Menteri Keuangan (PMK).
https://kemenperin.go.id/artikel/20198/18-Kawasan-Industri-Serap-Investasi-Rp-250-T
anatara lain kalau
perusahaan melakukan vocational education untuk karyawannya dan
sekolah untuk calon karyawan. Pe-
ngeluarannya untuk ini boleh 200% dipotongkan pada penambahan nilai
yang dipajaki 10% ?
Tax Holiday biasa diberikan pada proyek2 besar dan baru untuk menarik
investor, yang dengan tax holiday
modalnya cepat kembali.
Op za 15 aug. 2020 om 17:22 schreef [email protected]
<mailto:[email protected]> <[email protected]
<mailto:[email protected]>>:
Dari nilai ekspor 5 milyar $ (ca. 80 triliun Rp.) , Indonesia
terima pajak cuma 3 triliun Rp. atau ca. 3,75% dari nilai ekspor.
Untuk mengetahui tingkat bagi hasil dari ekspor tsb. perlu
diketahui berapa laba bersih yg dinikmati oleh pihak investor?
Tanpa adanya transparansi dlm perhitungan laba bersih, sulit
menghitung tingkat bagi hasilnya antara pihak investor dan negara
Indonesia.
------------------------------------------------------------------------
Gesendet mit der Telekom Mail App
<https://kommunikationsdienste.t-online.de/redirects/email_app_android_sendmail_footer>
--- Original-Nachricht ---
*Von: *ChanCT [email protected] <mailto:[email protected]>
[GELORA45]
*Betreff: *Re: [GELORA45] Industri Morowali
*Datum: *15. August 2020, 13:17
*An: *[email protected] <mailto:[email protected]>,
kh djie, Lusi Djerman
Baguuuus, ... nah, ternyata tahun lalu, sumbangsih pajak Kawasan
Industri Morowali (IMIP) mencapai Rp.2,7 Triliun, ... sedang
ditahun 2018, sampai Agustus saja sudah Rp. 3 Triliun! Lalu, ...
siapa yang diuntungkan??? Masih terjadi ketimpangan???
kh djie [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] 於
2020/8/15 下午 05:32 寫道:
Reporter: *Harry Muthahhari* | Editor: *Azis Husaini*
*KONTAN.CO.ID <http://KONTAN.CO.ID> -JAKARTA.* Kawasan Industri
Morowali yang dikelola oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park
(IMIP) memberikan kontribusi kenaikan pajak yang cukup signifikan.
/Managing Director/ IMIP Hamid Mina menjelaskan, pada akhir tahun
lalu sumbangsih pajak Kawasan Industri Morowali mencapai Rp 2,7
triliun. “Di tahun 2018 sampai Agustus saja sudah Rp 3 triliun,”
katanya pada Selasa (4/11).
Hamid menambahkan, berbagai perusahaan yang beroperasi di Kawasan
Industri Morowali mengalami kenaikan produksi. Sekedar tahu,
Kawasan Industri Morowali merupakan kawasan yang berfokus pada
bisnis hulu sampai hilir produk nikel.
Sebagai gambaran, kata Hamid diperkirakan jumlah pendapatan
ekspor dari industri hulu-hilir nikel di Kawasan Industri
Morowali sebanyak US$ 5 miliar. “Tahun lalu kurang dari US$ 2
miliar,” tambahnya.
Salah satu strategi IMIP sebagai pengelola KI Morowali adalah
dengan memberikan fasilitas yang bisa menunjang produksi di
Kawasan Industri tersebut. “Wisma, Bandara, dan lainnya kita
siapkan biar investor berbondong-bondong datang,” jelas Hamid..