Kebohongan Pernyataan AS Terkait Xinjiang:


 Wanita Yang Melanggar KB Diantar ke Kamp Edukasi

http://indonesian.cri.cn/20200914/17d1cd1b-cdb1-d8c3-fa2e-87dd4e765be1.html
2020-09-14 16:54:00

Pada 29 Juni 2020, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengeluarkan apa yang disebut pernyataan, dengan judulnya Soal Keluarga Berencana Paksa dan Sterilisasi Paksa Pemerintah Tiongkok di Xinjiang. Sementara itu, kantor berita AP merilis laporan survei yang berjudul “Tiongkok Laksanakan Pengendalian Kelahiran Paksa terhadap Penduduk Etnis Uyghur. Pernyataan Mike Pompeo maupun laporan dari kantor berita AP mengklaim pemerintah Tiongkok telah melaksanakan kebijakan sterilisasi yang ketat untuk menekan tingkat kelahiran penduduk etnis Uyghur dan etnis-etnis minoritas lainnya, dalam rangka membendung peningkatan populasi etnis-etnis minoritas secara keseluruhan. Konten relevan terutama mengutip isi dan statistik yang termuat dalam laporan penelitian yang berjudul Sterilisasi, IUDS dan Kontrol Kelahiran Paksa: Gerakan Penekanan Angka Kelahiran di Xinjiang oleh PKT  yang ditulis oleh Adrian Zenz dan dipublikasikan oleh Jamestown Foundation pada Juni lalu. Akan tetapi, klaim tersebut hanyalah mengulangi kata-kata klise yang dilontarkan yayasan dan sarjana yang berhaluan anti Tiongkok. Apa yang disebarkannya adalah berita bohong dan informasi palsu yang sama sekali tidak berdasar dengan mereka-reka fakta dan memulas data statistik.

Penulis laporan tersebut, Adrian Zenz dipekerjakan oleh The Victims of Communism Memorial Foundation sayap kanan yang didukung oleh pemerintah AS. Yayasan tersebut didirikan pada 1983, dan berkali-kali memberikan apa yang disebut “Hadiah HAM” kepada kaum teroris yang berkejahatan bertubi-tubi tanpa mengindahkan kenyataan, serta memfitnah sumbangan Tiongkok dalam pembenahan Xinjiang dan penanggulangan pandemi COVID-19.

Dalam laporannya, Adrian Zenz mengutip sejumlah dokumen mengenai Keluarga Berencana di berbagai tingkat pemerintah Xinjiang, dengan sengaja menghubungi pendirian pusat pendidikan dan penataran keterampilan dengan pelanggaran kebijakan Keluarga Berencana, dengan demikian memfitnah prestasi yang dicapai pusat pendidikan dan penataran ketrampilan di biang anti-terorisme dan deekstremisasi, dan dengan sengaja menyerangi kebijakan pokok negara Keluarga Berencana.

Menanggapi hal ini, Profesor Muda Akademi Politik dan Pengelolaan Publik Universitas Xinjiang, Lin Fangfei hari ini (14/09) dalam artikelnya yang dipublikasikan di situs web resmi Universitas Xinjiang menyatakan, semua dokumen yang dikutip Adrian Zenz tidak pernah muncul perkataan mengenai orang yang melanggar kebijakan Keluarga Berencana akan disuruh belajar di pusat pendidikan dan penataran ketrampilan. Sebaliknya, dokumen tersebut berkali-kali menekankan seharusnya melakukan pekerjaan KB dengan berdasarkan hukum dan peraturan setempat.

Buku putih yang berjudul Pendidikan Vokasional dan Penataran Keterampilan Xinjiang yang diumumkan Kantor Penerangan Dewan Negara Tiongkok Juni tahun 2019 dengan tegas menunjukkan, pendirian pusat pendidikan dan penataran ketrampilan Xinjiang bertujuan untuk “menghapus sumber terorisme, ekstremisme agama, dengan efektif mengekang kecenderungan terjadinya kegiatan teror, demi semaksimum menjamin hak pokok seperti hak kelangsungan hidup, hak kesehatan serta hak perkembangan rakyat berbagai etnis ”. Buku putih ini dengan sepenuhnya memperlihatkan prinsip Tiongkok yang menyelenggarakan negara berdasarkan hukum dan ciri khasnya yang manusiawi.


 Fluktuasi Angka Pertumbuhan Populasi di Xinjiang Berada dalam Kategori
 Perubahan Yang Normal

http://indonesian.cri.cn/20200914/a33d5626-417b-d2d8-a0a6-2915fb8df9f3.html
2020-09-14 15:43:23

Pada 29 Juni 2020, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengeluarkan apa yang disebut pernyataan, dengan judulnya Soal Keluarga Berencana Paksa dan Sterilisasi Paksa Pemerintah Tiongkok di Xinjiang. Sementara itu, kantor berita AP merilis laporan survei yang berjudul “Tiongkok Laksanakan Pengendalian Kelahiran Paksa terhadap Penduduk Etnis Uyghur. Pernyataan Mike Pompeo maupun laporan dari kantor berita AP mengklaim pemerintah Tiongkok telah melaksanakan kebijakan sterilisasi yang ketat untuk menekan tingkat kelahiran penduduk etnis Uyghur dan etnis-etnis minoritas lainnya, dalam rangka membendung peningkatan populasi etnis-etnis minoritas secara keseluruhan. Konten relevan terutama mengutip isi dan statistik yang termuat dalam laporan penelitian yang berjudul/Sterilisasi, IUDS dan Kontrol Kelahiran Paksa: Gerakan Penekanan Angka Kelahiran di Xinjiang oleh PKT/  yang ditulis oleh Adrian Zenz dan dipublikasikan oleh Jamestown Foundation pada Juni lalu. Akan tetapi, klaim tersebut hanyalah mengulangi kata-kata klise yang dilontarkan yayasan dan sarjana yang berhaluan anti Tiongkok. Apa yang disebarkannya adalah berita bohong dan informasi palsu yang sama sekali tidak berdasar dengan mereka-reka fakta dan memulas data statistik.

Penulis laporan tersebut, Adrian Zenz dipekerjakan oleh The Victims of Communism Memorial Foundation sayap kanan yang didukung oleh pemerintah AS. Yayasan tersebut didirikan pada 1983, dan berkali-kali memberikan apa yang disebut “Hadiah HAM” kepada kaum teroris yang berkejahatan bertubi-tubi tanpa mengindahkan kenyataan, serta memfitnah sumbangan Tiongkok dalam pembenahan Xinjiang dan penanggulangan pandemi COVID-19.

Menanggapi hal itu, Profesor Muda Lin Fangfei dari Akademi Administrasi Politik dan Publik Universitas Xinjiang menulis sebuah artikel di situs web Universitas Xinjiang pada 14 September, di mana ia menunjukkan bahwa sejak 2010, tingkat kelahiran populasi di Xinjiang memang cenderung menurun, namun gejala itu mutlak bukan hasil dari apa yang disebut “pemandulan paksa” yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok terhadap warga etnis Uyghur, seperti apa yang direka oleh sejumlah lembaga dan politikus dengan tujuan jahat. Sebaliknya, gejala tersebut justru mencerminkan hasil-hasil penting yang dicapai Tiongkok dalam pelaksanaan kebijakan yang melindungi hak dan kepentingan wanita dan anak-anak di daerah etnis minoritas dalam jangka panjang.

Merujuk perbaikan yang terjadi pada sepuluh tahun terakhir, di satu pihak warga etnis minoritas di Xinjiang terus menikmati kebijakan kependudukan dan kebijakan keluarga berencana yang lebih preferensial, di pihak lain, Xinjiang, khususnya bagian selatan Xinjiang mengalami perkembangan pesat ekonomi dan sosial, apa lagi berkat pendorongan paket kebijakan pemerintah pusat yang mendukung kesetaraan gender , khususnya perlindungan hak dan kepentingan wanita, kaum wanita etnis minoritas di daerah Xinjiang sepenuhnya menikmati hak penerimaan pendidikan dan bekerja. Hal ini membantu kaum wanita etnis minoritas menunjukkan perubahan pikiran dalam hal persalinan. Ini juga berarti mereka menikmati lebih banyak hak mandiri dalam masalah persalinan. Meningkatnya pendidikan yang diterima oleh kaum wanita etnis minoritas juga ikut berdampak pada wanita sehingga semakin banyak perempuan secara sukarela menangguhkan usia nikah dan usia melahirkan anak-anak.

Selain itu, kaum wanita kini memiliki lebih banyak kesempatan bekerja dan ini adalah sebab yang lain mengapa semakin banyak wanita etnis minoritas di pedesaan berubah kesadarannya tentang perkawinan dan persalinan. Pada tahun-tahun belakangan ini, daerah pedalaman dengan aktif memberikan bantuan kepada Xinjiang untuk mendongkrak perekonomian setempat. Semakin banyak wanita dari pedesaan tidak lagi berdiam di rumah, malah melalui pengalaman bekerja atau belajar di luar kampung halaman telah semakin menyadari dan mengerti kebijakan keluarga berencana yang dilaksanakan oleh pemerintah, sehingga lebih mementingkan mutu edukasi yang diterima anak-anaknya, tidak lagi mengejar jumlah anak yang dilahirkan.

Kasus-kasus tersebut sepenuhnya menunjukkan bahwa perubahan konsepsi kaum wanita tentang persalinan bukanlah hasil kebijakan paksa, melainkan hasil wajar yang terjadi sejalan dengan peningkatan kesadaran mandiri kaum wanita etnis minoritas berkat pelaksanaan serangkaian kebijakan oleh pemerintah terkait perlindungan hak dan kepentingan kaum wanita. Perubahan itu seharusnya dipandang sebagai hasil penting yang dicapai Tiongkok melalui pelaksanaan kebijakan kesetaraan antar gender dan antar etnis,merupakan kepatuhan dan ketaatan Tiongkok sebagai negara besar dan bertanggung jawab terhadap Deklarasi HAM Sedunia dan Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Wanita PBB.

Akan tetapi, sejumlah negara termasuk lembaga riset terus menodai dan memfitnah Tiongkok dengan merekayasa atau menelurkan data yang palsu dengan tujuan yang jahat. Kami yakin kebenaran akan menghalau segala kebohongan. Kebijakan sederajat antar etnis yang dilakukan pemerintah Tiongkok pasti akan mendorong Xinjiang menjadi lebih makmur dan stabil, dan rakyat berbagai etnis akan menempuh kehidupan bahagia dan sejahtera.



 Kebohongan Dalam Pernyataan AS Terkait Xinjiang:


 Tentang Tingkat Pertumbuhan Alami Penduduk Xinjiang

http://indonesian.cri.cn/20200914/bcc835f3-71fb-f40f-5554-19acc1fcb21e.html
2020-09-14 15:31:17

Pada 29 Juni 2020, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengeluarkan apa yang disebut pernyataan, dengan judulnya Soal Keluarga Berencana Paksa dan Sterilisasi Paksa Pemerintah Tiongkok di Xinjiang. Sementara itu, kantor berita AP merilis laporan survei yang berjudul “Tiongkok Laksanakan Pengendalian Kelahiran Paksa terhadap Penduduk Etnis Uyghur. Pernyataan Mike Pompeo maupun laporan dari kantor berita AP mengklaim pemerintah Tiongkok telah melaksanakan kebijakan sterilisasi yang ketat untuk menekan tingkat kelahiran penduduk etnis Uyghur dan etnis-etnis minoritas lainnya, dalam rangka membendung peningkatan populasi etnis-etnis minoritas secara keseluruhan. Konten relevan terutama mengutip isi dan statistik yang termuat dalam laporan penelitian yang berjudul Sterilisasi, IUDS dan Kontrol Kelahiran Paksa: Gerakan Penekanan Angka Kelahiran di Xinjiang oleh PKT  yang ditulis oleh Adrian Zenz dan dipublikasikan oleh Jamestown Foundation pada Juni lalu. Akan tetapi, klaim tersebut hanyalah mengulangi kata-kata klise yang dilontarkan yayasan dan sarjana yang berhaluan anti Tiongkok. Apa yang disebarkannya adalah berita bohong dan informasi palsu yang sama sekali tidak berdasar dengan mereka-reka fakta dan memulas data statistik.

Penulis laporan tersebut, Adrian Zenz dipekerjakan oleh The Victims of Communism Memorial Foundation sayap kanan yang didukung oleh pemerintah AS. Yayasan tersebut didirikan pada 1983, dan berkali-kali memberikan apa yang disebut “Hadiah HAM” kepada kaum teroris yang berkejahatan bertubi-tubi tanpa mengindahkan kenyataan, serta memfitnah sumbangan Tiongkok dalam pembenahan Xinjiang dan penanggulangan pandemi COVID-19.

Dalam laporan itu, Adrian Zenz menganggap, sejak tahun 2015, tingkat pertumbuhan alami penduduk Xinjiang menurun tajam, di antaranya tingkat pertumbuhan alami penduduk di Hotan dan Kashqar pada tahun 2018 hanya 2,58 persen. Dia menodai kebijakan penduduk kesetaraan etnis di Xinjiang sebagai “pemusnahan ras” atau genosida.

Mengenai tuduhan itu, Profesor Muda Lin Fangfei dari Akademi Politik dan Administrasi Publik Universitas Xinjiang mengungkapkan seperti apa duduk perkara dalam artikelnya yang dirilis di situs web resmi Universitas Xinjiang pada 14 September. Berdasarkan Catatan Tahunan Statistik Xinjiang Tahun 2019, tingkat pertumbuhan alami penduduk di empat kota dan daerah Xinjiang Selatan pada tahun 2018 sebagai berikut: tingkat kelahiran di Prefektur  Otonom Kizilsu Kirgiz mencapai 11,45 persen, di Aksu tercatat 5,67 persen, di Kashqar tercatat 6,93 persen, di Hotan tercatat 2,96 persen. Angka yang diambil Adrian Zenz tidak sesuai dengan kenyataan. Selain itu, dia tidak menunjukkan sumber angka yang diambilnya, maka kebenaran angka itu sangat dicurigai.

Sejak tahun 2015, tingkat pertumbuhan alami penduduk Xinjiang memang relatif menurun, tapi tidak begitu “tajam” seperti apa yang dikatakan Adrian Zenz dalam laporannya. Tahun 2018, tingkat pertumbuhan alami penduduk Xinjiang tercatat 6,13 persen, lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhan alami penduduk seluruh Tiongkok yaitu 3,81 persen.


Kirim email ke