Yaaa, BETUUUL, nampaknya penterjemah di Radio Beijing, CRI sekarang ini anak-anak muda yang belajar bhs. Indonesia dari sekolah saja. Seringkali jadi agak janggal bahasa yang digunakan.

Sekalipun saya tidak menemukan tulisan dalam bhs. Tionghoanya, tapi dibaca dari pengertian isi tulisan, bisa dikatakan tepatnya menghubungkan, bukan menghubungi.


kh djie 於 2020/9/15 上午 09:45 寫道:
Apa yang di bawah ini tidak salah terjemahannya ?
Dalam laporannya, Adrian Zenz mengutip sejumlah dokumen mengenai Keluarga Berencana di berbagai tingkat pemerintah Xinjiang, dengan sengaja menghubungi ( Kok menghubungi, apa bukan menghubungkan -- yang tidak ada hubungannya?) pendirian pusat pendidikan dan penataran keterampilan dengan pelanggaran kebijakan Keluarga Berencana, dengan demikian memfitnah prestasi yang dicapai pusat pendidikan dan penataran ketrampilan di biang anti-terorisme dan deekstremisasi, dan dengan sengaja menyerangi kebijakan pokok negara Keluarga Berencana.

Op di 15 sep. 2020 om 03:12 schreef ChanCT [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>>:


      Kebohongan Pernyataan AS Terkait Xinjiang:


      Wanita Yang Melanggar KB Diantar ke Kamp Edukasi

    http://indonesian.cri.cn/20200914/17d1cd1b-cdb1-d8c3-fa2e-87dd4e765be1.html

    2020-09-14 16:54:00

    Pada 29 Juni 2020, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike
    Pompeo mengeluarkan apa yang disebut pernyataan, dengan judulnya
    Soal Keluarga Berencana Paksa dan Sterilisasi Paksa Pemerintah
    Tiongkok di Xinjiang. Sementara itu, kantor berita AP merilis
    laporan survei yang berjudul “Tiongkok Laksanakan Pengendalian
    Kelahiran Paksa terhadap Penduduk Etnis Uyghur. Pernyataan Mike
    Pompeo maupun laporan dari kantor berita AP mengklaim pemerintah
    Tiongkok telah melaksanakan kebijakan sterilisasi yang ketat untuk
    menekan tingkat kelahiran penduduk etnis Uyghur dan etnis-etnis
    minoritas lainnya, dalam rangka membendung peningkatan populasi
    etnis-etnis minoritas secara keseluruhan. Konten relevan terutama
    mengutip isi dan statistik yang termuat dalam laporan penelitian
    yang berjudul Sterilisasi, IUDS dan Kontrol Kelahiran Paksa:
    Gerakan Penekanan Angka Kelahiran di Xinjiang oleh PKT  yang
    ditulis oleh Adrian Zenz dan dipublikasikan oleh Jamestown
    Foundation pada Juni lalu. Akan tetapi, klaim tersebut hanyalah
    mengulangi kata-kata klise yang dilontarkan yayasan dan sarjana
    yang berhaluan anti Tiongkok. Apa yang disebarkannya adalah berita
    bohong dan informasi palsu yang sama sekali tidak berdasar dengan
    mereka-reka fakta dan memulas data statistik.

    Penulis laporan tersebut, Adrian Zenz dipekerjakan oleh The
    Victims of Communism Memorial Foundation sayap kanan yang didukung
    oleh pemerintah AS. Yayasan tersebut didirikan pada 1983, dan
    berkali-kali memberikan apa yang disebut “Hadiah HAM” kepada kaum
    teroris yang berkejahatan bertubi-tubi tanpa mengindahkan
    kenyataan, serta memfitnah sumbangan Tiongkok dalam pembenahan
    Xinjiang dan penanggulangan pandemi COVID-19.

    Dalam laporannya, Adrian Zenz mengutip sejumlah dokumen mengenai
    Keluarga Berencana di berbagai tingkat pemerintah Xinjiang, dengan
    sengaja menghubungi pendirian pusat pendidikan dan penataran
    keterampilan dengan pelanggaran kebijakan Keluarga Berencana,
    dengan demikian memfitnah prestasi yang dicapai pusat pendidikan
    dan penataran ketrampilan di biang anti-terorisme dan
    deekstremisasi, dan dengan sengaja menyerangi kebijakan pokok
    negara Keluarga Berencana.

    Menanggapi hal ini, Profesor Muda Akademi Politik dan Pengelolaan
    Publik Universitas Xinjiang, Lin Fangfei hari ini (14/09) dalam
    artikelnya yang dipublikasikan di situs web resmi Universitas
    Xinjiang menyatakan, semua dokumen yang dikutip Adrian Zenz tidak
    pernah muncul perkataan mengenai orang yang melanggar kebijakan
    Keluarga Berencana akan disuruh belajar di pusat pendidikan dan
    penataran ketrampilan. Sebaliknya, dokumen tersebut berkali-kali
    menekankan seharusnya melakukan pekerjaan KB dengan berdasarkan
    hukum dan peraturan setempat.

    Buku putih yang berjudul Pendidikan Vokasional dan Penataran
    Keterampilan Xinjiang yang diumumkan Kantor Penerangan Dewan
    Negara Tiongkok Juni tahun 2019 dengan tegas menunjukkan,
    pendirian pusat pendidikan dan penataran ketrampilan Xinjiang
    bertujuan untuk “menghapus sumber terorisme, ekstremisme agama,
    dengan efektif mengekang kecenderungan terjadinya kegiatan teror,
    demi semaksimum menjamin hak pokok seperti hak kelangsungan hidup,
    hak kesehatan serta hak perkembangan rakyat berbagai etnis ”. Buku
    putih ini dengan sepenuhnya memperlihatkan prinsip Tiongkok yang
    menyelenggarakan negara berdasarkan hukum dan ciri khasnya yang
    manusiawi.


      Fluktuasi Angka Pertumbuhan Populasi di Xinjiang Berada dalam
      Kategori Perubahan Yang Normal

    http://indonesian.cri.cn/20200914/a33d5626-417b-d2d8-a0a6-2915fb8df9f3.html

    2020-09-14 15:43:23

    Pada 29 Juni 2020, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike
    Pompeo mengeluarkan apa yang disebut pernyataan, dengan judulnya
    Soal Keluarga Berencana Paksa dan Sterilisasi Paksa Pemerintah
    Tiongkok di Xinjiang. Sementara itu, kantor berita AP merilis
    laporan survei yang berjudul “Tiongkok Laksanakan Pengendalian
    Kelahiran Paksa terhadap Penduduk Etnis Uyghur. Pernyataan Mike
    Pompeo maupun laporan dari kantor berita AP mengklaim pemerintah
    Tiongkok telah melaksanakan kebijakan sterilisasi yang ketat untuk
    menekan tingkat kelahiran penduduk etnis Uyghur dan etnis-etnis
    minoritas lainnya, dalam rangka membendung peningkatan populasi
    etnis-etnis minoritas secara keseluruhan. Konten relevan terutama
    mengutip isi dan statistik yang termuat dalam laporan penelitian
    yang berjudul/Sterilisasi, IUDS dan Kontrol Kelahiran Paksa:
    Gerakan Penekanan Angka Kelahiran di Xinjiang oleh PKT/  yang
    ditulis oleh Adrian Zenz dan dipublikasikan oleh Jamestown
    Foundation pada Juni lalu. Akan tetapi, klaim tersebut hanyalah
    mengulangi kata-kata klise yang dilontarkan yayasan dan sarjana
    yang berhaluan anti Tiongkok. Apa yang disebarkannya adalah berita
    bohong dan informasi palsu yang sama sekali tidak berdasar dengan
    mereka-reka fakta dan memulas data statistik.

    Penulis laporan tersebut, Adrian Zenz dipekerjakan oleh The
    Victims of Communism Memorial Foundation sayap kanan yang didukung
    oleh pemerintah AS. Yayasan tersebut didirikan pada 1983, dan
    berkali-kali memberikan apa yang disebut “Hadiah HAM” kepada kaum
    teroris yang berkejahatan bertubi-tubi tanpa mengindahkan
    kenyataan, serta memfitnah sumbangan Tiongkok dalam pembenahan
    Xinjiang dan penanggulangan pandemi COVID-19.

    Menanggapi hal itu, Profesor Muda Lin Fangfei dari Akademi
    Administrasi Politik dan Publik Universitas Xinjiang menulis
    sebuah artikel di situs web Universitas Xinjiang pada 14
    September, di mana ia menunjukkan bahwa sejak 2010, tingkat
    kelahiran populasi di Xinjiang memang cenderung menurun, namun
    gejala itu mutlak bukan hasil dari apa yang disebut “pemandulan
    paksa” yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok terhadap warga
    etnis Uyghur, seperti apa yang direka oleh sejumlah lembaga dan
    politikus dengan tujuan jahat. Sebaliknya, gejala tersebut justru
    mencerminkan hasil-hasil penting yang dicapai Tiongkok dalam
    pelaksanaan kebijakan yang melindungi hak dan kepentingan wanita
    dan anak-anak di daerah etnis minoritas dalam jangka panjang.

    Merujuk perbaikan yang terjadi pada sepuluh tahun terakhir, di
    satu pihak warga etnis minoritas di Xinjiang terus menikmati
    kebijakan kependudukan dan kebijakan keluarga berencana yang lebih
    preferensial, di pihak lain, Xinjiang, khususnya bagian selatan
    Xinjiang mengalami perkembangan pesat ekonomi dan sosial, apa lagi
    berkat pendorongan paket kebijakan pemerintah pusat yang mendukung
    kesetaraan gender , khususnya perlindungan hak dan kepentingan
    wanita, kaum wanita etnis minoritas di daerah Xinjiang sepenuhnya
    menikmati hak penerimaan pendidikan dan bekerja. Hal ini membantu
    kaum wanita etnis minoritas menunjukkan perubahan pikiran dalam
    hal persalinan. Ini juga berarti mereka menikmati lebih banyak hak
    mandiri dalam masalah persalinan. Meningkatnya pendidikan yang
    diterima oleh kaum wanita etnis minoritas juga ikut berdampak pada
    wanita sehingga semakin banyak perempuan secara sukarela
    menangguhkan usia nikah dan usia melahirkan anak-anak.

    Selain itu, kaum wanita kini memiliki lebih banyak kesempatan
    bekerja dan ini adalah sebab yang lain mengapa semakin banyak
    wanita etnis minoritas di pedesaan berubah kesadarannya tentang
    perkawinan dan persalinan. Pada tahun-tahun belakangan ini, daerah
    pedalaman dengan aktif memberikan bantuan kepada Xinjiang untuk
    mendongkrak perekonomian setempat. Semakin banyak wanita dari
    pedesaan tidak lagi berdiam di rumah, malah melalui pengalaman
    bekerja atau belajar di luar kampung halaman telah semakin
    menyadari dan mengerti kebijakan keluarga berencana yang
    dilaksanakan oleh pemerintah, sehingga lebih mementingkan mutu
    edukasi yang diterima anak-anaknya, tidak lagi mengejar jumlah
    anak yang dilahirkan.

    Kasus-kasus tersebut sepenuhnya menunjukkan bahwa perubahan
    konsepsi kaum wanita tentang persalinan bukanlah hasil kebijakan
    paksa, melainkan hasil wajar yang terjadi sejalan dengan
    peningkatan kesadaran mandiri kaum wanita etnis minoritas berkat
    pelaksanaan serangkaian kebijakan oleh pemerintah terkait
    perlindungan hak dan kepentingan kaum wanita. Perubahan itu
    seharusnya dipandang sebagai hasil penting yang dicapai Tiongkok
    melalui pelaksanaan kebijakan kesetaraan antar gender dan antar
    etnis,merupakan kepatuhan dan ketaatan Tiongkok sebagai negara
    besar dan bertanggung jawab terhadap Deklarasi HAM Sedunia dan
    Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Wanita PBB.

    Akan tetapi, sejumlah negara termasuk lembaga riset terus menodai
    dan memfitnah Tiongkok dengan merekayasa atau menelurkan data yang
    palsu dengan tujuan yang jahat. Kami yakin kebenaran akan
    menghalau segala kebohongan. Kebijakan sederajat antar etnis yang
    dilakukan pemerintah Tiongkok pasti akan mendorong Xinjiang
    menjadi lebih makmur dan stabil, dan rakyat berbagai etnis akan
    menempuh kehidupan bahagia dan sejahtera.



      Kebohongan Dalam Pernyataan AS Terkait Xinjiang:


      Tentang Tingkat Pertumbuhan Alami Penduduk Xinjiang

    http://indonesian.cri.cn/20200914/bcc835f3-71fb-f40f-5554-19acc1fcb21e.html

    2020-09-14 15:31:17

    Pada 29 Juni 2020, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike
    Pompeo mengeluarkan apa yang disebut pernyataan, dengan judulnya
    Soal Keluarga Berencana Paksa dan Sterilisasi Paksa Pemerintah
    Tiongkok di Xinjiang. Sementara itu, kantor berita AP merilis
    laporan survei yang berjudul “Tiongkok Laksanakan Pengendalian
    Kelahiran Paksa terhadap Penduduk Etnis Uyghur. Pernyataan Mike
    Pompeo maupun laporan dari kantor berita AP mengklaim pemerintah
    Tiongkok telah melaksanakan kebijakan sterilisasi yang ketat untuk
    menekan tingkat kelahiran penduduk etnis Uyghur dan etnis-etnis
    minoritas lainnya, dalam rangka membendung peningkatan populasi
    etnis-etnis minoritas secara keseluruhan. Konten relevan terutama
    mengutip isi dan statistik yang termuat dalam laporan penelitian
    yang berjudul Sterilisasi, IUDS dan Kontrol Kelahiran Paksa:
    Gerakan Penekanan Angka Kelahiran di Xinjiang oleh PKT  yang
    ditulis oleh Adrian Zenz dan dipublikasikan oleh Jamestown
    Foundation pada Juni lalu. Akan tetapi, klaim tersebut hanyalah
    mengulangi kata-kata klise yang dilontarkan yayasan dan sarjana
    yang berhaluan anti Tiongkok. Apa yang disebarkannya adalah berita
    bohong dan informasi palsu yang sama sekali tidak berdasar dengan
    mereka-reka fakta dan memulas data statistik.

    Penulis laporan tersebut, Adrian Zenz dipekerjakan oleh The
    Victims of Communism Memorial Foundation sayap kanan yang didukung
    oleh pemerintah AS. Yayasan tersebut didirikan pada 1983, dan
    berkali-kali memberikan apa yang disebut “Hadiah HAM” kepada kaum
    teroris yang berkejahatan bertubi-tubi tanpa mengindahkan
    kenyataan, serta memfitnah sumbangan Tiongkok dalam pembenahan
    Xinjiang dan penanggulangan pandemi COVID-19.

    Dalam laporan itu, Adrian Zenz menganggap, sejak tahun 2015,
    tingkat pertumbuhan alami penduduk Xinjiang menurun tajam, di
    antaranya tingkat pertumbuhan alami penduduk di Hotan dan Kashqar
    pada tahun 2018 hanya 2,58 persen. Dia menodai kebijakan penduduk
    kesetaraan etnis di Xinjiang sebagai “pemusnahan ras” atau genosida.

    Mengenai tuduhan itu, Profesor Muda Lin Fangfei dari Akademi
    Politik dan Administrasi Publik Universitas Xinjiang mengungkapkan
    seperti apa duduk perkara dalam artikelnya yang dirilis di situs
    web resmi Universitas Xinjiang pada 14 September. Berdasarkan
    Catatan Tahunan Statistik Xinjiang Tahun 2019, tingkat pertumbuhan
    alami penduduk di empat kota dan daerah Xinjiang Selatan pada
    tahun 2018 sebagai berikut: tingkat kelahiran di Prefektur  Otonom
    Kizilsu Kirgiz mencapai 11,45 persen, di Aksu tercatat 5,67
    persen, di Kashqar tercatat 6,93 persen, di Hotan tercatat 2,96
    persen. Angka yang diambil Adrian Zenz tidak sesuai dengan
    kenyataan. Selain itu, dia tidak menunjukkan sumber angka yang
    diambilnya, maka kebenaran angka itu sangat dicurigai.

    Sejak tahun 2015, tingkat pertumbuhan alami penduduk Xinjiang
    memang relatif menurun, tapi tidak begitu “tajam” seperti apa yang
    dikatakan Adrian Zenz dalam laporannya. Tahun 2018, tingkat
    pertumbuhan alami penduduk Xinjiang tercatat 6,13 persen, lebih
    tinggi daripada tingkat pertumbuhan alami penduduk seluruh
    Tiongkok yaitu 3,81 persen.


Kirim email ke