http://tabaos.id/masyarakat-adat-mbd-garuda-di-dada-ku-perut-di-timor-leste/
Masyarakat Adat MBD : Garuda di Dada-Ku, Perut di Timor Leste

By *Redaksi* <http://tabaos.id/author/redaksi/> 22/09/2020

<https://i2.wp.com/tabaos.id/wp-content/uploads/Garuda-di-dadaku-Perutku-di-timor-Leste.jpg?fit=4160%2C3120>Terlihat
beberapa pamflet aksi bertuliskan, “Aksi Joget blok Masela hilang Perawan”
dan “Garuda di Dadaku Perutku di Timor Leste” mewarnai jalannya aksi
masyarakt maluku barat daya (MBD), senin pagi di depan kantor gubernur
Maluku.

*TABAOS.ID <http://TABAOS.ID>*,- Aksi unjuk rasa puluhan masyarakat dan
mahasiswa MBD ditunjukan dalam sejumlah pamfel dan juga spanduk penolakan
terhadap AMDAL Blok Masela.

Terlihat beberapa Pamflet aksi bertuliskan, “Aksi Joget Blok Masela hilang
Perawan” dan “Garuda di Dadaku Perutku di Timor Leste” mewarnai jalannya
aksi mereka. Mahasiswa ingin menunjukan bahwa, Pemerintah tidak pro
terhadap masyarakat MBD yang secara geografis, blok masela berada di bumi
Kalwedo.

Salah satu orator, Jordan Samloy menilai  pemprov Maluku dan PT Inpeks
selaku operator telah membuat kebijakan tidak melibatkan Kabupaten MBD
adalah sesuatu yang salah.

Masyarakat MBD sangatlah diisolasikan, sementara kajian analisis dampak
lingkungan (Amdal), MBD termasuk daerah terdampak. “Tinggal di Indonesia,
Perut Kita di Timor Leste,” tegas Jordan dalam orasinya itu.

Dimana, dari segi kesehatan, sosial dan ekonomi di Kabupaten MBD, selalu
datangnya dari Timor Leste. Fasilitas kesehatan sangatlah tidak memadai.

“beta mau bilang, Garuda di dadaku perut kita Timor Leste. Persoalan sosial
selalu di bahwa ke Timor Leste sementara hasil bumi kita banyak,” teriak
Jordan Samloy.

Sehingga mahasiswa dalam tuntutannya itu menilai, adanya diskriminasi
Pemeprov Maluku PT inpeks, dalam pengelolaan blok masela. Karena, pemprov
dan PT Inpeks tidak menghadirkan pemdah MBD dalam apembahasan blok masela.

Begitu pula, tidak ada keterlibatan Unpatti dalam pembahasan analisis
dampak lingkunga gas abadi masela. Sehingga, puluhan mahasiswa ini menolak
analisis dampak lingkungan oleh pemerintah maupun perusahan PT. Inpex di
bumi Kalwedo. Karena, tidak dimasukan MBD sebagai daerah terdampak.

Seruan menemui Murad Ismail belum juga ditemukan. Masa aksi yang saling
berlawanan dengan petugas Sat Pol PP dan personil Polresta Pulau Ambon dan
Pp Lease. Pintu pagar depen kantor Gubernur Maluku itu, digoyang dan aksi
bakar-mebakar didepan Kagub Maluku.

*Baca Juga*  *Tidak Patuhi Anjuran Soal Covid-19 dan Miras Tempat Kumpul
Pemuda Ditertibkan*
<http://tabaos.id/tidak-patuhi-anjuran-soal-covid-19-dan-miras-tempat-kumpul-pemuda-ditertibkan/>

Murad Ismail kunjungan keluar. Aksi terus memanas hingga siang ini, mereka
menyebut ” Gubernur Penghianat. Gubernur Pengecut,” teriak massa aksi
dengan lantang. Hingga senin sore, aksi masih terus berjalan. Mereka terus
berupaya untuk menemui Murad Ismail selaku Gubernur Maluku.

Aksi unjuk rasa dari gabungan dari puluhan mahasiswa dan masyarakat asal
Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) untuk menyuarakan kekesalan mereka
terhadap kebijakan pemerintah Provinsi Maluku dan PT Inpeks yang tidak
menghadirkan Kabuapten MBD dalam pembahasan Blok Masela.

Para aksi yang dikordinatori oleh, Benny Yermias dan Jhon Karuna itu
menggelar aksi sejak pukul 09.30 wit, didepan pintu pagar, kantor Gubernur
Maluku. Mereka ingin menjumpai Gubernur Maluku, Murad Ismail yang gagal
dalam membuat kebijakan pengembangan Blok Masela. (*T-06*)

Kirim email ke