Intrik AS  “Membajak” TikTok Pasti Gagal

http://indonesian.cri.cn/20200927/b35931ba-ee96-b8e4-65a7-57b7974f9967.html
2020-09-27 13:31:21

Intrik AS untuk “Bajak” TikTok Pasti Gagal_fororder_672590940

Menurut berita, perusahaan pemilik TikTok telah mencapai kesepakatan prinsipal dengan Oracle dan  WalMart. Akan tetapi, menurut sumber dari AS, ternyata kesepakatan ini adalah “perjanjian tidak setara”,  AS sedang merampok TikTok dengan alasan “koperasi bisnis”. Makanya pemerintah telah beraksi untuk menanganinya, perusahaan Tiongkok pun tidak akan tunduk pada tekanan AS.

Padahal modus AS untuk memblokir TikTok telah tidak asing bagi komunitas internasional. Pada 1980an, dengan modus yang sama AS pernah mengekang perusahaan Toshiba Jepang yang memiliki keunggulan di bidang semikonduktor serta perusahaan Alstom Prancis.

Intrik AS untuk “Bajak” TikTok Pasti Gagal_fororder_2074911922

Patut dicatat bahwa memblokir TikTok  adalah tindakan bullying ekonomi terorganisasi dan sistematik yang dijalankan AS terhadap perusahaan  yang melebihi perusahaan AS. Akan tetapi negara manapun di dunia tidak memiliki kekuasaan hegemoni dan bullying secara semau-maunya. Intrik  “Bajak Laut” AS yang merampok TikTok pasti gagal.


 Hakikat “Amerika First” adalah “Ancaman Amerika”

http://indonesian.cri.cn/20200927/4949ba60-94db-9b6e-8aa9-2b4ec7d14a7e.html
2020-09-27 13:22:56

Hakikat “Amerika First” adalah “Ancaman Amerika”_fororder_1995202708

Di depan Sidang Majelis Umum PBB ke-75, pemimpin AS menyampaikan pidato yang bersifat sombong, prasangka dan kebohongan. Dengan mengandalkan tentara “yang terkuat” di dunia, pemimpin AS mengeluarkan narasi unilateral yang bertentangan dengan sidang PBB, sambil lalu juga membual diri sendiri sebagai pencipta perdamaian terkait masalah nuklir Iran dan porsi  belanja militer NATO, “Amerika First” yang egois dan hegemonis telah menimbulkan kesal umum dari komunitas internasional.

Hakikat “Amerika First” adalah “Ancaman Amerika”_fororder_150388774

Sebagai diketahui umum,  AS telah kehilangan status sebagai pihak keterlibatan dalam masalah nuklir Iran karena pada Mei 2018 AS telah secara sepihak mundur diri dari persetujuan nuklir Iran. Akan tetapi, tak lama yang lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyampaikan surat kepada Dewan Keamanan PBB dan secara kasar meminta PBB menghidupkan sistem “pemulihan pesat sanksi” terhadap Iran berdasarkan resolusi nomor 2231 PBB, namun ditolak mayoritas anggota Dewan Keamanan. Setelah itu AS secara sepihak mengenakan sanksi terhadap Iran dengan melawan seluruh dunia, hal ini sekali lagi membelejeti AS sebagai pensabot perdamaian dan kestabilan dunia.

Pidato pemimpin AS itu sekali lagi memperlihat hakikat  “Amerika First” adalah unilateralisme dan hegemonisme, yang sedang menjadi ancaman bagi perdamaian dunia. Di bawah latar belakang itu, multilateralisme yang dikomitmenkan internasional pada sidang majelis umum PBB kali ini boleh dikatakan sebagai hantam kolektif terhadap unilateralisme. Lelucon politik “Amerika First” yang dimainkan AS sudah waktunya berakhir.



Kirim email ke