Film A First Farewell Pertama kali ditayangkan di PBB

http://indonesian.cri.cn/20201025/12ca9e23-93c0-e864-51e1-83d22d27eb27.html
2020-10-25 11:21:28

Film Tiongkok berbahasa Uyghur yang berjudul A First Farewell ditayangkan di Istana Negara PBB, di Jeneva pada 23 Oktober yang lalu. Kegiatan penayangan ini diselenggarakan bersama oleh Utusan Tiongkok di Jeneva dan Kantor PBB di Jeneva, dengan diikuti para pejabat diplomasi dari Rusia, Belarus, Iran, Korea Utara, Laos, Mesir, Kameron, Irak dan lain-lain.

Duta Besar Tiongkok untuk Kantor PBB di Jeneva Chen Xu menyatakan: Film ini menceritakan kehidupan anak muda etnis Uyghur Xinjiang. Para penonton dapat menikmati pemandangan indah, kehidupan unik di Xinjiang, serta menikmati kegairahan rakyat setempat akan kehidupan bahagia. Semoga semakin banyak sahabat dapat berjalan-jalan ke Xinjiang, menyaksikan keindahan Xinjiang dan merasakan persahabatan rakyat Xinjiang.

Film A First Farewell karya sutradara Wang Lina telah melalang buana di berbagai pagelaran festival film. Salah satu prestasi yang diperoleh adalah memenangi Best Asian Future Film Award di Tokyo International Film Festival.

Film A First Farewell untuk Pertama Kali ditayangkan di PBB_fororder___172.100.100.3_temp_9500033_1_9500033_1_6016_530a36d0-19e6-436e-b82c-bc28f4aa65c9


 Pakar Masalah Tiongkok Uraikan Kemajuan Usaha HAM Tiongkok

http://indonesian.cri.cn/20201025/8eea6fe2-2909-2c90-e065-a2d97c633a76.html
2020-10-25 11:18:13

Tanggal 24 Oktober adalah Hari Jadi PBB. PBB yang berdiri pada 24 Oktober 1945 silam, selalu berupaya mendorong dan melindungi Hak Asasi Manusia (HAM). Di depan Sidang majelis umum ke-75 PBB, Tiongkok sekali lagi terpilih sebagai anggota Dewan HAM karena keberhasilan luar biasa yang dicapainya di bidang usaha perkembangan HAM, kini sosial Tiongkok makin adil, kehidupan rakyat makin makmur. Pakar Amerika Serikat untuk masalah Tiongkok, Robert Lawrence Kuhn berpendapat, orang Barat ingin memahami Tiongkok, harus memahami kemajuan usaha HAM Tiongkok.

Misalnya, dalam Buku Putih yang dirilis pemerintah Tiongkok pada tahun 2019, yang berjudul 70 tahun perkembangan usaha HAM Republik Rakyat Tiongkok, ketika  menyebut penjaminan HAM, Tiongkok menekankan kemajuan dicapai di bidang bahan pangan, pengobatan, pendidikan, pengentasan kemiskinan, keamanan air minum, penjaminan perumahan, serta perbaikan toilet dan lain sebagainya untuk meningkatkan taraf kehidupan rakyat. Akan tetapi bagi orang Barat, inti penjaminan HAM adalah kebebasan hak bersuara, bergerak dan hak mendapat informasi. Mengapa ada perbedaan serupa? Mengapa terdapat kesalahpahaman terhadap satu topik ini? Pada saat penanggulangan pandemi global, berbagai negara harus mempertimbangkan bagaimana menyeimbangkan pembatasan gerakan personel dan kebebasan rakyat. Pada awal terjadinya wabah, pemerintah Tiongkok melakukan pengendalian secara ketat, bertindak mencegah penyebaran hoax. Apa hasilnya? Akhirnya Tiongkok berhasil mengontrol penularan wabah virus corona.

Tiongkok menaruh perhatian besar untuk menguraikan arti intern HAM dan mempragakan kemajuan yang dicapai di bidang HAM, itu berarti Tiongkok sudah memahami kepentingan HAM. Tindakan itu justru adalah kemajuan.

Kirim email ke