Anehnya ikrar bersama disebut sumpah. Apakah bukan pemalsuan?

On Fri, Oct 30, 2020 at 1:05 AM ChanCT [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
> Tionghoa dalam Sumpah Pemuda
> Oleh RAVANDO LIE*
> HALTE <https://www.jawapos.com/minggu/halte/>
> 25 Oktober 2020, 18:59:45 WIB
>
> https://www.jawapos.com/minggu/halte/25/10/2020/tionghoa-dalam-sumpah-pemuda/
> [image: Tionghoa dalam Sumpah Pemuda]
> ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)
>
> Pada 19 Oktober 2020, dilakukan serah terima secara simbolik rumah Sumpah
> Pemuda milik Sie Kong Lian dari keluarga Sie kepada negara.
>
> —
>
> *MOMEN* bersejarah tersebut dilakukan antara Dr Janti Silman selaku cucu
> Sie Kong Lian dan Dr Junus Satrio Atmodjo yang mewakili pemerintah Republik
> Indonesia.
>
> Peristiwa bersejarah itu dilakukan dalam sebuah webinar mingguan yang
> diselenggarakan panitia diskusi Nggosipin Tionghoa, yuk! (Cap Nggo Tio)
> dengan tema Sumpah Pemuda, Tionghoa Ikut? Turut hadir dua pembicara.
> Pertama, Prof Truman Simanjuntak (Center for Prehistoric and Austronesian
> Studies) yang memaparkan mengenai asal usul manusia Indonesia.
>
> Pembicara kedua, Udaya Halim (budayawan Tangerang), memaparkan tentang
> peran Tionghoa dalam Sumpah Pemuda yang selama ini mungkin kerap luput
> didiskusikan dalam sejarah besar Indonesia. Mulai tokoh-tokoh Tionghoa yang
> turut hadir dalam Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928, kisah di balik
> rumah Sie Kong Lian yang ternyata sejak lama menjadi ’’markas’’ para tokoh
> pergerakan, media yang kali pertama memublikasikan lagu Indonesia, hingga
> sosok Tionghoa yang memproduksi dan memperbanyak piringan hitam lagu
> tersebut.
>
> Rumah Sie Kong Lian
>
> Sejarah Indonesia kerap mencatat bahwa Sumpah Pemuda merupakan salah satu
> tonggak sejarah terpenting yang menjadi titik balik perjuangan kemerdekaan
> bangsa Indonesia. Pemuda dari berbagai suku bangsa berkumpul di Jalan
> Kramat 106, Batavia. Termasuk empat orang Tionghoa yang berperan sebagai
> pengamat, yaitu Kwee Thiam Hong (anggota Jong Sumatranen Bond), Oey Kay
> Siang, Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Empat sosok itu juga dikenal
> sebagai anggota kepanduan.
>
> Di rumah Sie Kong Lian tersebut, mereka mengikrarkan satu tumpah darah,
> satu bangsa, dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Sejak rumah tersebut
> dibeli kali pertama oleh Sie Kong Lian pada 1908, berbagai pelajar STOVIA
> dan aktivis pergerakan Indonesia tercatat pernah indekos di sana.
>
> Nama-nama beken seperti Mohammad Yamin, A.K. Gani, Abu Hanifah, Amir
> Sjarifuddin, hingga Assaat pernah indekos di sana. Sie Kong Lian memang
> bermimpi agar atmosfer rumahnya tersebut bisa menginspirasi anak-anaknya
> untuk menjadi dokter sekaligus aktivis. Hal yang berhasil diwujudkan
> anak-anaknya kelak.
>
> Kepada anaknya yang bernama Sie Hok Liang (Yuliar Silman), Sie Kong Lian
> berpesan agar rumah tersebut tidak dijual lantaran ada nilai historis yang
> tak bisa dibayar dengan uang. Sang anak berhasil menjaga amanah tersebut
> dan bahkan meminta kepada para penerusnya untuk menghibahkan rumah itu ke
> negara bila saatnya tiba.
>
> Rumah Sie Kong Lian menjadi saksi perjuangan kemerdekaan dan pergerakan
> Indonesia didiskusikan di sana sehingga membuat rumah itu dijuluki sebagai
> Indonesische Clubgebouw atau Indonesische Clubhuis (IC). Setelah para
> aktivis IC memutuskan pindah ke Kramat Raya 156, rumah tersebut
> berkali-kali berganti penghuni baru sebelum menjadi Museum Sumpah Pemuda
> yang kita kenal saat ini.
>
> *Indonesia (Raya) & Sin Po*
>
> Kongres Pemuda II ditutup dengan lantunan syahdu lagu Indonesia yang
> dimainkan hanya dengan biola oleh Wage Rudolf Supratman, tanpa syair.
> Beberapa minggu berselang, tepatnya pada 10 November 1928, Sin Po
> Wekelijksche Editie (Sin Po edisi mingguan) memublikasikan lirik lagu
> tersebut lengkap dengan partiturnya.
>
> Keputusan itu jelas mengejutkan banyak pihak, terutama dari kalangan
> bumiputra, yang menganggap lagu tersebut seharusnya diterbitkan lebih dulu
> di koran Indonesia. Namun, sang penggubah lagu, W.R. Supratman, mengaku
> sempat menawarkan lagu tersebut ke beberapa surat kabar Indonesia, namun
> harus berakhir dengan penolakan. Ketakutan terhadap ancaman delik pers
> menjadi alasan kuat di balik penolakan tersebut.
>
> Supratman pun tidak patah semangat. Dirinya menawarkan lagu tersebut ke
> Sin Po, media tempatnya menjadi koresponden aktif. Setelah memainkan lagu
> itu di hadapan Ang Yan Goan, direktur Sin Po, disepakati agar lagu tersebut
> dimuat di Sin Po edisi mingguan. Di dalam memoarnya, Ang Yan Goan mengaku
> terkesima dengan alunan nada biola Supratman. Ia juga kagum dengan
> Supratman sebagai seniman sekaligus nasionalis sejati. Spirit itu dianggap
> Ang Yan Goan sejalan dengan misi Sin Po, yang sejak awal kemunculannya pada
> 1 Oktober 1910 memang dikenal sebagai pendukung kemerdekaan Indonesia.
>
> *Baca juga:*
>
>    - Peringati Sumpah Pemuda, Anies Tekankan Kebijakan Berkeadilan
>    
> <https://www.jawapos.com/jabodetabek/28/10/2019/peringati-sumpah-pemuda-anies-tekankan-kebijakan-berkeadilan/>
>    - Hari Sumpah Pemuda, KPK Ajak Elemen Bangsa Bersihkan Negeri
>    
> <https://www.jawapos.com/nasional/28/10/2019/hari-sumpah-pemuda-kpk-ajak-elemen-bangsa-bersihkan-negeri/>
>
> *Yo Kim Tjan*
>
> Setelahnya, Supratman berniat merekam dan memperbanyak lagu tersebut dalam
> bentuk piringan hitam. Setelah sempat ditolak Odeon dan Tio Tek Hong
> lantaran takut berurusan dengan polisi Belanda, akhirnya Yo Kim Tjan,
> pemilik Roxi Cinema House dan Lido, bersedia memproduksi dan
> mendistribusikan rekaman lagu tersebut melalui Toko Populair.
>
> Yo Kim Tjan jugalah yang menyarankan Supratman untuk memproduksi rekaman
> Indonesia Raya dalam dua versi. Versi pertama adalah versi asli yang
> dinyanyikan Supratman, sedangkan versi lainnya dibuat dalam format
> keroncong. Seluruh proses rekaman dilakukan secara sembunyi-sembunyi di
> rumah Yo di Gunung Sahari 37, Batavia.
>
> Namun, rencana itu keburu terendus intelijen Belanda yang membuat polisi
> bergerak untuk menyita seluruh rekaman tersebut. Salah satu piringan hitam
> yang tersisa diselamatkan putri tertua Yo, Kartika Kertayasa (Yo Hoey
> Gwat), dalam evakuasi semasa pendudukan Jepang dan awal revolusi.
>
> Pada 1953, Yo berencana memperbanyak rekaman tersebut supaya Indonesia
> Raya dapat dikenal lebih luas. Sempat ditolak Maladi yang kala itu menjabat
> kepala djawatan RRI, beberapa tahun berselang, Kusbini menjanjikan Yo dapat
> mengupayakan lisensi tersebut. Ternyata, Kusbini malah menyerahkan rekaman
> tersebut ke pemerintah republik dan Yo menerima surat yang menyatakan
> seolah-olah ia menyerahkan rekaman itu dengan sukarela.
>
> Terlepas dari berbagai catatan sejarah tersebut, baik yang heroik maupun
> kelam, momen serah terima rumah Sie Kong Lian itu tentu menjadi peristiwa
> penting yang patut dirayakan. Setelah bertahun-tahun tidak jelas status
> kepemilikannya, Gedung Museum Sumpah Pemuda tersebut akhirnya resmi
> dihibahkan kepada negara oleh keluarga Sie. Di tengah pandemi yang tengah
> melanda, berita seperti ini tentu ibarat oase di tengah gurun pasir. (*)
>
> —
>
> *RAVANDO LIE*, Kandidat doktor di University of Melbourne, Australia
>
> 
>

Kirim email ke