Bung Djie, rupanya kendala kesehatan memasuki tahu2020 ini belum juga beres benar, ya! Lalu ditambah dengan kesibukan pindah rumah pula, pindah dekat rumah anak-cucu. Mudah2an saja sekarang beres-beres rumah sudah beres rapih dan, ... kesehatan dirumah baru juga menjadi sembuh betuuul, kuat kembali!

Salam-sehat,

ChanCT



kh djie [email protected] [GELORA45] 於 2020/10/30 下午 04:01 寫道:
Bung Sunny,
Ya, kalau sumpah mestinya juga disebut kalau melanggar, bersedia
dia sendiri, atau keluarganya atau sampai keturunannya kena kutuk ?
Kami baru pindah apartemen. Untungnya kesehatan saya membaik
setelah hampir setahun sejak juni tahun lalu sakit mulai dari sakit maag
gara2 sudah puluhan tahun minum baby aspirin (81 mg) dan suatu hari
makan terlalu banyak jeruk sekaligus, sampai kesakitan luar biasa dan
jam 2.00 pagi dibawa ke EHBO rumah sakit. Saya minum baby aspirin
dianjuri teman seorang cardioloog menjaga diri dari serangan jantung
karena saya punya diabetes. Dokter MDL di rumah sakit bilang ya tidak
apa apa waktu usia saya antara 60-70 tahun. Tetapi begitu di atas 70
tahun harus dibarengi minum anti asam, karena lapisan lambung sudah
tipis.
Lolos, sembuh dari sakit maag, sakitnya bergeser ke kanan. Ada batu
empedu dan abces di liver. Chirurg R.S.Amstelland tidak berani mengo-
perasi, untungnya saya diserahkan ke colleganya chirurg Vrije Univerisiteit
Medisch Centrum. Setelah behandeling dua kuur antibiotika, dan menguatkan
badan di rumah, saya dioperasi precis malam tahun baru Imlik, sehingga
tidak bisa ikut pesta tahunan bersama. Dioperasi 5 jam, chirurgnya wanita
menggantikan chirurg kepala yang kecapaian. Dioperasi jam 10.00 malam,
padahal tadinya di plan jam 13.30 siang. Herannya tadinya jam 12.00 saya
merasa lapar, kok akhirnya laparnya bisa hilang sampai besok paginya jam
5.00 pagi sadar, lalu diberi makan roti dan teh manis.
Beberapa bulan kemudian saya muntah2 sampai setengah ember besar. Diastole
saya tinggal 17, waktu dibawa ambulans masuk ICU. Dokternya bilang,
hampir terlambat, tepat pada waktunya. Besok siangnya mulai membaik, dipindah
ke Medio care 3-4 hari, kemudian 3-4 hari di interne dan boleh pulang
setelah dokternya lihat saya sudah latihan jalan sendiri dengan rollator, sudah
sanggup jalan bolak balik, dan ukuran2 Hb dan tekanan darah cukup baik.
Senin yang lalu saya diambil darah, diperiksa, dan Jumát akhir minggu ini
dokternya akan telpon beritahu kesimpulannya.
Ada untungnya di zaman Covic-19, tidak perlu datang untuk bicara dengan
dokternya sendiri.
Sekarang takut kedinginan, gampang kena flu, takut kena Covic-19, jadi gerak jalan dalam apartemen dari kamar, ke kamar tamu ke pintu luar balik lagi sampai
10 kali. Sekarang massage sendiri dengan massage gun buatan Tiongkok.
Murah 50 Euro, dianjuri fysiotherapeut saya, karena saya tidak berani datang
ke prakteknya. Sudah dua kali di prakteknya ada dua patient kena Covic-19,
sehingga fysiotherapeutnya ditest dulu apa ketularan. Ternyata tidak ketularan, boleh buka praktek lagi. Tetapi saya tidak berani ke prakteknya. Jadi dia yang datang, dihitung sekali behandeling di rumah = 1.5 kali normal. Tetapi sekarang
karena pindah dari Amsterdam ke Amstelveen dekat anak, jadi terlalu jauh
bagi fysiotherapeut saya untuk datang.
Salam,
Djie

Op vr 30 okt. 2020 om 08:07 schreef Sunny ambon [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>>:


    Anehnya ikrar bersama disebut sumpah.. Apakah bukan pemalsuan?

    On Fri, Oct 30, 2020 at 1:05 AM ChanCT [email protected]
    <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
    <mailto:[email protected]>> wrote:


          Tionghoa dalam Sumpah Pemuda

        Oleh RAVANDO LIE*
        HALTE <https://www.jawapos.com/minggu/halte/>
        25 Oktober 2020, 18:59:45 WIB
        
https://www.jawapos.com/minggu/halte/25/10/2020/tionghoa-dalam-sumpah-pemuda/
        Tionghoa dalam Sumpah Pemuda
        ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)

        Pada 19 Oktober 2020, dilakukan serah terima secara simbolik
        rumah Sumpah Pemuda milik Sie Kong Lian dari keluarga Sie
        kepada negara.

        —

        *MOMEN*bersejarah tersebut dilakukan antara Dr Janti Silman
        selaku cucu Sie Kong Lian dan Dr Junus Satrio Atmodjo yang
        mewakili pemerintah Republik Indonesia.

        Peristiwa bersejarah itu dilakukan dalam sebuah webinar
        mingguan yang diselenggarakan panitia diskusi Nggosipin
        Tionghoa, yuk! (Cap Nggo Tio) dengan tema Sumpah Pemuda,
        Tionghoa Ikut? Turut hadir dua pembicara. Pertama, Prof Truman
        Simanjuntak (Center for Prehistoric and Austronesian Studies)
        yang memaparkan mengenai asal usul manusia Indonesia.

        Pembicara kedua, Udaya Halim (budayawan Tangerang), memaparkan
        tentang peran Tionghoa dalam Sumpah Pemuda yang selama ini
        mungkin kerap luput didiskusikan dalam sejarah besar
        Indonesia. Mulai tokoh-tokoh Tionghoa yang turut hadir dalam
        Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928, kisah di balik
        rumah Sie Kong Lian yang ternyata sejak lama menjadi
        ’’markas’’ para tokoh pergerakan, media yang kali pertama
        memublikasikan lagu Indonesia, hingga sosok Tionghoa yang
        memproduksi dan memperbanyak piringan hitam lagu tersebut.

        Rumah Sie Kong Lian

        Sejarah Indonesia kerap mencatat bahwa Sumpah Pemuda merupakan
        salah satu tonggak sejarah terpenting yang menjadi titik balik
        perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemuda dari berbagai
        suku bangsa berkumpul di Jalan Kramat 106, Batavia. Termasuk
        empat orang Tionghoa yang berperan sebagai pengamat, yaitu
        Kwee Thiam Hong (anggota Jong Sumatranen Bond), Oey Kay Siang,
        Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Empat sosok itu juga
        dikenal sebagai anggota kepanduan.

        Di rumah Sie Kong Lian tersebut, mereka mengikrarkan satu
        tumpah darah, satu bangsa, dan menjunjung tinggi bahasa
        Indonesia. Sejak rumah tersebut dibeli kali pertama oleh Sie
        Kong Lian pada 1908, berbagai pelajar STOVIA dan aktivis
        pergerakan Indonesia tercatat pernah indekos di sana.

        Nama-nama beken seperti Mohammad Yamin, A.K. Gani, Abu
        Hanifah, Amir Sjarifuddin, hingga Assaat pernah indekos di
        sana. Sie Kong Lian memang bermimpi agar atmosfer rumahnya
        tersebut bisa menginspirasi anak-anaknya untuk menjadi dokter
        sekaligus aktivis. Hal yang berhasil diwujudkan anak-anaknya
        kelak.

        Kepada anaknya yang bernama Sie Hok Liang (Yuliar Silman), Sie
        Kong Lian berpesan agar rumah tersebut tidak dijual lantaran
        ada nilai historis yang tak bisa dibayar dengan uang. Sang
        anak berhasil menjaga amanah tersebut dan bahkan meminta
        kepada para penerusnya untuk menghibahkan rumah itu ke negara
        bila saatnya tiba.

        Rumah Sie Kong Lian menjadi saksi perjuangan kemerdekaan dan
        pergerakan Indonesia didiskusikan di sana sehingga membuat
        rumah itu dijuluki sebagai Indonesische Clubgebouw atau
        Indonesische Clubhuis (IC). Setelah para aktivis IC memutuskan
        pindah ke Kramat Raya 156, rumah tersebut berkali-kali
        berganti penghuni baru sebelum menjadi Museum Sumpah Pemuda
        yang kita kenal saat ini.

        *Indonesia (Raya) & Sin Po*

        Kongres Pemuda II ditutup dengan lantunan syahdu lagu
        Indonesia yang dimainkan hanya dengan biola oleh Wage Rudolf
        Supratman, tanpa syair. Beberapa minggu berselang, tepatnya
        pada 10 November 1928, Sin Po Wekelijksche Editie (Sin Po
        edisi mingguan) memublikasikan lirik lagu tersebut lengkap
        dengan partiturnya.

        Keputusan itu jelas mengejutkan banyak pihak, terutama dari
        kalangan bumiputra, yang menganggap lagu tersebut seharusnya
        diterbitkan lebih dulu di koran Indonesia. Namun, sang
        penggubah lagu, W.R. Supratman, mengaku sempat menawarkan lagu
        tersebut ke beberapa surat kabar Indonesia, namun harus
        berakhir dengan penolakan. Ketakutan terhadap ancaman delik
        pers menjadi alasan kuat di balik penolakan tersebut.

        Supratman pun tidak patah semangat. Dirinya menawarkan lagu
        tersebut ke Sin Po, media tempatnya menjadi koresponden aktif.
        Setelah memainkan lagu itu di hadapan Ang Yan Goan, direktur
        Sin Po, disepakati agar lagu tersebut dimuat di Sin Po edisi
        mingguan. Di dalam memoarnya, Ang Yan Goan mengaku terkesima
        dengan alunan nada biola Supratman. Ia juga kagum dengan
        Supratman sebagai seniman sekaligus nasionalis sejati. Spirit
        itu dianggap Ang Yan Goan sejalan dengan misi Sin Po, yang
        sejak awal kemunculannya pada 1 Oktober 1910 memang dikenal
        sebagai pendukung kemerdekaan Indonesia.

        *Baca juga:*

          * Peringati Sumpah Pemuda, Anies Tekankan Kebijakan
            Berkeadilan
            
<https://www.jawapos.com/jabodetabek/28/10/2019/peringati-sumpah-pemuda-anies-tekankan-kebijakan-berkeadilan/>
          * Hari Sumpah Pemuda, KPK Ajak Elemen Bangsa Bersihkan
            Negeri
            
<https://www.jawapos.com/nasional/28/10/2019/hari-sumpah-pemuda-kpk-ajak-elemen-bangsa-bersihkan-negeri/>

        *Yo Kim Tjan*

        Setelahnya, Supratman berniat merekam dan memperbanyak lagu
        tersebut dalam bentuk piringan hitam. Setelah sempat ditolak
        Odeon dan Tio Tek Hong lantaran takut berurusan dengan polisi
        Belanda, akhirnya Yo Kim Tjan, pemilik Roxi Cinema House dan
        Lido, bersedia memproduksi dan mendistribusikan rekaman lagu
        tersebut melalui Toko Populair.

        Yo Kim Tjan jugalah yang menyarankan Supratman untuk
        memproduksi rekaman Indonesia Raya dalam dua versi. Versi
        pertama adalah versi asli yang dinyanyikan Supratman,
        sedangkan versi lainnya dibuat dalam format keroncong. Seluruh
        proses rekaman dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah Yo
        di Gunung Sahari 37, Batavia.

        Namun, rencana itu keburu terendus intelijen Belanda yang
        membuat polisi bergerak untuk menyita seluruh rekaman
        tersebut. Salah satu piringan hitam yang tersisa diselamatkan
        putri tertua Yo, Kartika Kertayasa (Yo Hoey Gwat), dalam
        evakuasi semasa pendudukan Jepang dan awal revolusi.

        Pada 1953, Yo berencana memperbanyak rekaman tersebut supaya
        Indonesia Raya dapat dikenal lebih luas. Sempat ditolak Maladi
        yang kala itu menjabat kepala djawatan RRI, beberapa tahun
        berselang, Kusbini menjanjikan Yo dapat mengupayakan lisensi
        tersebut. Ternyata, Kusbini malah menyerahkan rekaman tersebut
        ke pemerintah republik dan Yo menerima surat yang menyatakan
        seolah-olah ia menyerahkan rekaman itu dengan sukarela.

        Terlepas dari berbagai catatan sejarah tersebut, baik yang
        heroik maupun kelam, momen serah terima rumah Sie Kong Lian
        itu tentu menjadi peristiwa penting yang patut dirayakan.
        Setelah bertahun-tahun tidak jelas status kepemilikannya,
        Gedung Museum Sumpah Pemuda tersebut akhirnya resmi dihibahkan
        kepada negara oleh keluarga Sie. Di tengah pandemi yang tengah
        melanda, berita seperti ini tentu ibarat oase di tengah gurun
        pasir. (*)

        —

        *RAVANDO LIE*, Kandidat doktor di University of Melbourne,
        Australia


Kirim email ke