Bung Sunny,
Ya, kalau sumpah mestinya juga disebut kalau melanggar, bersedia
dia sendiri, atau keluarganya atau sampai keturunannya kena kutuk ?
Kami baru pindah apartemen. Untungnya kesehatan saya membaik
setelah hampir setahun sejak juni tahun lalu sakit mulai dari sakit maag
gara2 sudah puluhan tahun minum baby aspirin (81 mg) dan suatu hari
makan terlalu banyak jeruk sekaligus, sampai kesakitan luar biasa dan
jam 2.00 pagi dibawa ke EHBO rumah sakit. Saya minum baby aspirin
dianjuri teman seorang cardioloog menjaga diri dari serangan jantung
karena saya punya diabetes. Dokter MDL di rumah sakit bilang ya tidak
apa apa waktu usia saya antara 60-70 tahun. Tetapi begitu di atas 70
tahun harus dibarengi minum anti asam, karena lapisan lambung sudah
tipis.
Lolos, sembuh dari sakit maag, sakitnya bergeser ke kanan. Ada batu
empedu dan abces di liver. Chirurg R.S.Amstelland tidak berani mengo-
perasi, untungnya saya diserahkan ke colleganya chirurg Vrije
Univerisiteit
Medisch Centrum. Setelah behandeling dua kuur antibiotika, dan menguatkan
badan di rumah, saya dioperasi precis malam tahun baru Imlik, sehingga
tidak bisa ikut pesta tahunan bersama. Dioperasi 5 jam, chirurgnya wanita
menggantikan chirurg kepala yang kecapaian. Dioperasi jam 10.00 malam,
padahal tadinya di plan jam 13.30 siang. Herannya tadinya jam 12.00 saya
merasa lapar, kok akhirnya laparnya bisa hilang sampai besok paginya jam
5.00 pagi sadar, lalu diberi makan roti dan teh manis.
Beberapa bulan kemudian saya muntah2 sampai setengah ember besar. Diastole
saya tinggal 17, waktu dibawa ambulans masuk ICU. Dokternya bilang,
hampir terlambat, tepat pada waktunya. Besok siangnya mulai membaik,
dipindah
ke Medio care 3-4 hari, kemudian 3-4 hari di interne dan boleh pulang
setelah dokternya lihat saya sudah latihan jalan sendiri dengan
rollator, sudah
sanggup jalan bolak balik, dan ukuran2 Hb dan tekanan darah cukup baik.
Senin yang lalu saya diambil darah, diperiksa, dan Jumát akhir minggu ini
dokternya akan telpon beritahu kesimpulannya.
Ada untungnya di zaman Covic-19, tidak perlu datang untuk bicara dengan
dokternya sendiri.
Sekarang takut kedinginan, gampang kena flu, takut kena Covic-19, jadi
gerak
jalan dalam apartemen dari kamar, ke kamar tamu ke pintu luar balik
lagi sampai
10 kali. Sekarang massage sendiri dengan massage gun buatan Tiongkok.
Murah 50 Euro, dianjuri fysiotherapeut saya, karena saya tidak berani
datang
ke prakteknya. Sudah dua kali di prakteknya ada dua patient kena Covic-19,
sehingga fysiotherapeutnya ditest dulu apa ketularan. Ternyata tidak
ketularan,
boleh buka praktek lagi. Tetapi saya tidak berani ke prakteknya. Jadi
dia yang
datang, dihitung sekali behandeling di rumah = 1.5 kali normal. Tetapi
sekarang
karena pindah dari Amsterdam ke Amstelveen dekat anak, jadi terlalu jauh
bagi fysiotherapeut saya untuk datang.
Salam,
Djie
Op vr 30 okt. 2020 om 08:07 schreef Sunny ambon [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>>:
Anehnya ikrar bersama disebut sumpah.. Apakah bukan pemalsuan?
On Fri, Oct 30, 2020 at 1:05 AM ChanCT [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>> wrote:
Tionghoa dalam Sumpah Pemuda
Oleh RAVANDO LIE*
HALTE <https://www.jawapos.com/minggu/halte/>
25 Oktober 2020, 18:59:45 WIB
https://www.jawapos.com/minggu/halte/25/10/2020/tionghoa-dalam-sumpah-pemuda/
Tionghoa dalam Sumpah Pemuda
ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)
Pada 19 Oktober 2020, dilakukan serah terima secara simbolik
rumah Sumpah Pemuda milik Sie Kong Lian dari keluarga Sie
kepada negara.
—
*MOMEN*bersejarah tersebut dilakukan antara Dr Janti Silman
selaku cucu Sie Kong Lian dan Dr Junus Satrio Atmodjo yang
mewakili pemerintah Republik Indonesia.
Peristiwa bersejarah itu dilakukan dalam sebuah webinar
mingguan yang diselenggarakan panitia diskusi Nggosipin
Tionghoa, yuk! (Cap Nggo Tio) dengan tema Sumpah Pemuda,
Tionghoa Ikut? Turut hadir dua pembicara. Pertama, Prof Truman
Simanjuntak (Center for Prehistoric and Austronesian Studies)
yang memaparkan mengenai asal usul manusia Indonesia.
Pembicara kedua, Udaya Halim (budayawan Tangerang), memaparkan
tentang peran Tionghoa dalam Sumpah Pemuda yang selama ini
mungkin kerap luput didiskusikan dalam sejarah besar
Indonesia. Mulai tokoh-tokoh Tionghoa yang turut hadir dalam
Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928, kisah di balik
rumah Sie Kong Lian yang ternyata sejak lama menjadi
’’markas’’ para tokoh pergerakan, media yang kali pertama
memublikasikan lagu Indonesia, hingga sosok Tionghoa yang
memproduksi dan memperbanyak piringan hitam lagu tersebut.
Rumah Sie Kong Lian
Sejarah Indonesia kerap mencatat bahwa Sumpah Pemuda merupakan
salah satu tonggak sejarah terpenting yang menjadi titik balik
perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pemuda dari berbagai
suku bangsa berkumpul di Jalan Kramat 106, Batavia. Termasuk
empat orang Tionghoa yang berperan sebagai pengamat, yaitu
Kwee Thiam Hong (anggota Jong Sumatranen Bond), Oey Kay Siang,
Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Empat sosok itu juga
dikenal sebagai anggota kepanduan.
Di rumah Sie Kong Lian tersebut, mereka mengikrarkan satu
tumpah darah, satu bangsa, dan menjunjung tinggi bahasa
Indonesia. Sejak rumah tersebut dibeli kali pertama oleh Sie
Kong Lian pada 1908, berbagai pelajar STOVIA dan aktivis
pergerakan Indonesia tercatat pernah indekos di sana.
Nama-nama beken seperti Mohammad Yamin, A.K. Gani, Abu
Hanifah, Amir Sjarifuddin, hingga Assaat pernah indekos di
sana. Sie Kong Lian memang bermimpi agar atmosfer rumahnya
tersebut bisa menginspirasi anak-anaknya untuk menjadi dokter
sekaligus aktivis. Hal yang berhasil diwujudkan anak-anaknya
kelak.
Kepada anaknya yang bernama Sie Hok Liang (Yuliar Silman), Sie
Kong Lian berpesan agar rumah tersebut tidak dijual lantaran
ada nilai historis yang tak bisa dibayar dengan uang. Sang
anak berhasil menjaga amanah tersebut dan bahkan meminta
kepada para penerusnya untuk menghibahkan rumah itu ke negara
bila saatnya tiba.
Rumah Sie Kong Lian menjadi saksi perjuangan kemerdekaan dan
pergerakan Indonesia didiskusikan di sana sehingga membuat
rumah itu dijuluki sebagai Indonesische Clubgebouw atau
Indonesische Clubhuis (IC). Setelah para aktivis IC memutuskan
pindah ke Kramat Raya 156, rumah tersebut berkali-kali
berganti penghuni baru sebelum menjadi Museum Sumpah Pemuda
yang kita kenal saat ini.
*Indonesia (Raya) & Sin Po*
Kongres Pemuda II ditutup dengan lantunan syahdu lagu
Indonesia yang dimainkan hanya dengan biola oleh Wage Rudolf
Supratman, tanpa syair. Beberapa minggu berselang, tepatnya
pada 10 November 1928, Sin Po Wekelijksche Editie (Sin Po
edisi mingguan) memublikasikan lirik lagu tersebut lengkap
dengan partiturnya.
Keputusan itu jelas mengejutkan banyak pihak, terutama dari
kalangan bumiputra, yang menganggap lagu tersebut seharusnya
diterbitkan lebih dulu di koran Indonesia. Namun, sang
penggubah lagu, W.R. Supratman, mengaku sempat menawarkan lagu
tersebut ke beberapa surat kabar Indonesia, namun harus
berakhir dengan penolakan. Ketakutan terhadap ancaman delik
pers menjadi alasan kuat di balik penolakan tersebut.
Supratman pun tidak patah semangat. Dirinya menawarkan lagu
tersebut ke Sin Po, media tempatnya menjadi koresponden aktif.
Setelah memainkan lagu itu di hadapan Ang Yan Goan, direktur
Sin Po, disepakati agar lagu tersebut dimuat di Sin Po edisi
mingguan. Di dalam memoarnya, Ang Yan Goan mengaku terkesima
dengan alunan nada biola Supratman. Ia juga kagum dengan
Supratman sebagai seniman sekaligus nasionalis sejati. Spirit
itu dianggap Ang Yan Goan sejalan dengan misi Sin Po, yang
sejak awal kemunculannya pada 1 Oktober 1910 memang dikenal
sebagai pendukung kemerdekaan Indonesia.
*Baca juga:*
* Peringati Sumpah Pemuda, Anies Tekankan Kebijakan
Berkeadilan
<https://www.jawapos.com/jabodetabek/28/10/2019/peringati-sumpah-pemuda-anies-tekankan-kebijakan-berkeadilan/>
* Hari Sumpah Pemuda, KPK Ajak Elemen Bangsa Bersihkan
Negeri
<https://www.jawapos.com/nasional/28/10/2019/hari-sumpah-pemuda-kpk-ajak-elemen-bangsa-bersihkan-negeri/>
*Yo Kim Tjan*
Setelahnya, Supratman berniat merekam dan memperbanyak lagu
tersebut dalam bentuk piringan hitam. Setelah sempat ditolak
Odeon dan Tio Tek Hong lantaran takut berurusan dengan polisi
Belanda, akhirnya Yo Kim Tjan, pemilik Roxi Cinema House dan
Lido, bersedia memproduksi dan mendistribusikan rekaman lagu
tersebut melalui Toko Populair.
Yo Kim Tjan jugalah yang menyarankan Supratman untuk
memproduksi rekaman Indonesia Raya dalam dua versi. Versi
pertama adalah versi asli yang dinyanyikan Supratman,
sedangkan versi lainnya dibuat dalam format keroncong. Seluruh
proses rekaman dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah Yo
di Gunung Sahari 37, Batavia.
Namun, rencana itu keburu terendus intelijen Belanda yang
membuat polisi bergerak untuk menyita seluruh rekaman
tersebut. Salah satu piringan hitam yang tersisa diselamatkan
putri tertua Yo, Kartika Kertayasa (Yo Hoey Gwat), dalam
evakuasi semasa pendudukan Jepang dan awal revolusi.
Pada 1953, Yo berencana memperbanyak rekaman tersebut supaya
Indonesia Raya dapat dikenal lebih luas. Sempat ditolak Maladi
yang kala itu menjabat kepala djawatan RRI, beberapa tahun
berselang, Kusbini menjanjikan Yo dapat mengupayakan lisensi
tersebut. Ternyata, Kusbini malah menyerahkan rekaman tersebut
ke pemerintah republik dan Yo menerima surat yang menyatakan
seolah-olah ia menyerahkan rekaman itu dengan sukarela.
Terlepas dari berbagai catatan sejarah tersebut, baik yang
heroik maupun kelam, momen serah terima rumah Sie Kong Lian
itu tentu menjadi peristiwa penting yang patut dirayakan.
Setelah bertahun-tahun tidak jelas status kepemilikannya,
Gedung Museum Sumpah Pemuda tersebut akhirnya resmi dihibahkan
kepada negara oleh keluarga Sie. Di tengah pandemi yang tengah
melanda, berita seperti ini tentu ibarat oase di tengah gurun
pasir. (*)
—
*RAVANDO LIE*, Kandidat doktor di University of Melbourne,
Australia