Di Balik Jokowi Dekati Gatot
Seri pemikiran Francis Fukuyama #22
R53 - Thursday, November 5, 2020 8:48
https://www.pinterpolitik.com/di-balik-jokowi-dekati-gatot-1
Presiden Jokowi bersama dengan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo (foto: CNN 
Indonesia) 
7 min read

Setelah tidak lagi menjabat sebagai Panglima TNI, Gatot Nurmantyo seolah 
menunjukkan dirinya sebagai oposisi pemerintah. Saat ini, Gatot bahkan begitu 
vokal bersama dengan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Menariknya, 
pemerintah akan memberikan Gatot bintang tanda jasa dalam waktu dekat. 
Mungkinkah terdapat intrik politik di balik pemberian tersebut?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Keep your friends close, and keep your enemies closer” – Sun Tzu

Di kalangan eks Panglima TNI, Gatot Nuarmantyo tampaknya harus diakui sebagai 
sosok yang paling memperlihatkan ambisi politiknya. Ini misalnya disorot oleh 
John McBeth dalam tulisannya yang berjudul Military Ambitions Shake Indonesia’s 
Politics. Ia menyebut bahwa Gatot merupakan satu-satunya Panglima TNI yang 
secara terang-terangan menunjukkan ambisi politiknya saat masih menjabat.

Manuver politik Gatot, misalnya, mulai terlihat ketika dirinya berusaha 
mengonsolidasi kondusivitas keamanan bersama dengan Polri saat terjadinya 
demonstrasi 411 dan 212 pada 2016 silam. Sejak saat itu, Gatot dinilai telah 
membangun hubungan dengan kelompok-kelompok Islam yang memang tengah 
mendapatkan momentum kebangkitannya, khususnya sejak kasus penistaan agama yang 
dilakukan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau 
Ahok.

Selepas menjabat sebagai pemimpin pucuk tertinggi di TNI, manuver politik Gatot 
terlihat semakin kentara. Ia bahkan masuk dalam bursa kandidat presiden pada 
Pilpres 2019 lalu. Saat ini Gatot seolah memosisikan dirinya sebagai oposisi 
pemerintahan. Pergerakannya bersama Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) 
dengan jelas menunjukkan posisi tersebut.

Namun menariknya, setelah berbagai aktivis KAMI ditangkap belakangan ini, 
pemerintah justru terlihat seperti sedang mendekati Gatot. Bagaimana tidak? 
Dalam cuitan Menko Polhukam Mahfud MD pada 3 November, Gatot disebut akan 
dianugerahi gelar Bintang Mahaputera pada peringatan Hari Pahlawan pada 10-11 
November nanti.

Kemungkinan untuk menepis dugaan terdapat intrik politik di balik tanda jasa 
tersebut, Mahfud melanjutkan bahwa semua mantan panglima dan semua mantan 
menteri serta pimpinan lembaga negara yang selesai satu periode juga 
mendapatkan Bintang Mahaputera. Tegasnya, itu harus diberikan tanpa pandang 
bulu..

Namun, publik agaknya paham terdapat pre-teks dalam setiap teks. Artinya, 
sangat terbuka peluang bahwa memang terdapat tujuan politik tertentu di balik 
pemberian tanda jasa tersebut. Lantas, kemungkinan apa yang sekiranya paling 
mungkin?


Reciprocity dan Politik Penghargaan
Sebelum Gatot, pemberian bintang tanda jasa kepada Fahri Hamzah dan Fadli Zon 
juga sempat menuai perhatian publik. Tentu publik paham, keduanya adalah sosok 
yang begitu vokal dalam mengkritik pemerintahan Jokowi. Sehingga tidak heran, 
pemberian Bintang Mahaputra Nararya kepada keduanya pada 13 Agustus lalu jamak 
disebut memiliki tujuan politik.

Secara teoritis, konteks tersebut pernah disinggung oleh Kyle C. Kopko, dan 
kawan-kawan tulisan mereka yang berjudul The Politics of the Presidential Medal 
of Freedom. Menurut mereka, terdapat beberapa alasan politis yang mungkin 
mendasari pemberian suatu bintang penghargaan dari presiden. Mulai dari untuk 
membentuk warisan politik, meningkatkan kepercayaan publik (approval rating), 
menguatkan dukungan di antara kelompok konstituen, menarik kelompok konstituen 
baru, atau memberikan sinyal tertentu pada aktor-aktor politik lain.

Rolf Dobelli dalam bukunya The Art of Thinking Clearly memberikan kita konsep 
menarik mengapa tujuan politik dari diberikannya penghargaan dapat terwujud, 
yakni reciprocity. Mengutip psikolog Robert Cialdini, Dobelli menyebut selalu 
terdapat perasaan tidak enak apabila seseorang memiliki utang terhadap orang 
lain. Perasaan ini kemudian melahirkan fenomena yang disebut dengan balas jasa.

Pada praktiknya sehari-hari, reciprocity atau hubungan timbal-balik adalah 
konsep yang mendasari setiap hubungan sosial. Ini memungkinkan berbagai ikatan 
sosial, seperti pertemanan, kesetiaan, gotong-royong, dan pernikahan dapat 
terjadi.

Mengacu pada Kopko dan Dobelli, boleh jadi pemberian Bintang Mahaputera kepada 
Gatot memiliki tujuan politik tertentu, dan diharapkan akan mendapatkan timbal 
balik dari Gatot nantinya. Selain itu, konteks yang lebih menarik dapat kita 
lihat dari siapa sosok yang pertama kali mengumumkan pemberian bintang jasa 
tersebut.

Sama dengan kasus Fahri dan Fadli, sosok yang memberi pengumuman pemberian 
penghargaan adalah Menko Polhukam Mahfud MD. Pertanyaannya, mengapa harus 
Mahfud? Mengapa tidak sosok seperti Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) 
Pratikno, misalnya?

Dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Mahfud untuk menyampaikan informasi 
terkait keamanan, dan kepakarannya dalam bidang politik hukum, jelas terdapat 
suatu makna yang dapat ditelaah.


Ciptakan Ketertiban?
Selaku pakar politik hukum, tentu Mahfud sangat paham bahwa pada praktiknya 
hukum kerap kali dijadikan sebagai alat politik, khususnya untuk menciptakan 
ketertiban (order) di tengah masyarakat. Terlebih dengan posisinya sebagai 
Menko Polhukam saat ini, Ia tentunya harus memikirkan cara bagaimana membuat 
hukum dapat mencapai tujuannya sebagai pembuat ketertiban.

Dengan gaduhnya situasi politik saat ini dengan pergerakan KAMI, pemerintah 
mungkin merasa perlu memberikan semacam penawaran tertentu kepada tokoh 
prominen dalam gerakan tersebut, yang tidak lain adalah Gatot. Jika menggunakan 
langkah represif, seperti menjerat dengan pasal tertentu, ini tentu akan 
semakin menciptakan kegaduhan. Oleh karenanya, pemberian tanda jasa, boleh jadi 
merupakan langkah alternatif yang jauh lebih lunak.

Konteks ini juga disinggung oleh Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Research 
and Analysis (Sudra), Fadhli Harahab, yang menyebutkan bahwa pemberian 
penghargaan tersebut dapat memiliki potensi untuk mengendurkan intensitas 
kritik Gatot kepada pemerintah.

Melihat sepak terjang politik Presiden Jokowi selama ini, mantan Wali Kota Solo 
tersebut memang terlihat mengupayakan berbagai cara agar situasi politik tidak 
menjadi gaduh dengan cara merangkul oposisi.

Pada 16 Juli lalu, misalnya, Presiden Jokowi merangkul Partai Golkar dan PAN 
masuk ke kabinet melalui reshuffle. Saat itu, kursi Menteri Perindustrian 
diberikan ke Airlangga Hartarto dari Golkar, sementara PAN mendapat kursi 
Menpan RB yang diduduki Asman Abnur.

Lalu, rangkulan yang begitu fenomenal publik saksikan adalah ketika Prabowo 
Subianto dan Partai Gerindra justru ditarik masuk ke dalam koalisi 
pemerintahan. Setelah bersaing ketat di dua gelaran Pilpres, masuknya Prabowo 
jelas merupakan gerakan politik yang benar-benar tidak disangka oleh banyak 
publik.

Pada kasus Gatot, sepertinya pemerintah mengambil langkah cepat untuk segera 
mendekatinya karena melihat besarnya potensi gangguan politik yang dapat muncul 
nantinya. Ini tidak hanya karena pergerakan Gatot bersama KAMI, melainkan juga 
kedekatan sang jenderal dengan kelompok-kelompok Islam yang beroposisi dengan 
pemerintah, seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Presidium Alumni (PA) 212.

Melihat langkah pemerintah dalam merespons kelompok-kelompok Islam tersebut, 
terlihat jelas terdapat usaha untuk meredupkan pemimpin sentralnya. Seperti 
yang kita ketahui, Imam Besar FPI yang begitu disegani, Habib Rizieq Shihab, 
bahkan sampai sekarang masih berdiam di Arab Saudi.

Menariknya, sosok-sosok potensial untuk menjadi pemimpin kelompok tersebut juga 
diredupkan sejak dini. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang diketahui dekat 
dengan mereka, misalnya, terus mendapat serangan. Lalu, Prabowo yang didukung 
dalam Pilpres 2019 justru dirangkul masuk ke dalam pemerintahan. Praktis itu 
membuat mantan Danjen Kopassus tersebut dicoret dari daftar pemimpin potensial.

Nah sekarang, Gatot sepertinya dilihat sebagai sosok potensial untuk menjadi 
pemimpin kelompok-kelompok tersebut. Apalagi, kelompok-kelompok Islam tersebut 
tampaknya mulai sadar bahwa mereka membutuhkan kekuatan politis berupa pemimpin 
yang mendukung pergerakan mereka. Dengan kata lain, mereka perlu meng-endorse 
sosok tertentu untuk menjadi presiden. Di sini, Gatot jelas merupakan kandidat 
potensial.

Jika nantinya Gatot berhasil “dijinakkan” oleh pemerintah, kelompok-kelompok 
Islam yang selama ini beroposisi terhadap pemerintah jelas tidak akan memiliki 
kekuatan politik yang berarti. Pada akhirnya, tujuan untuk menciptakan 
ketertiban atau setidaknya mengurangi kegaduhan politik menjadi tercapai.

Apalagi, kelompok-kelompok Islam tersebut jamak dinilai sebagai sumber dari 
menajamnya polarisasi politik dan politik identitas dalam beberapa tahun 
belakangan ini. Francis Fukuyama dalam bukunya Identity: The Demand for Dignity 
and the Politics of Resentment menyebutkan bahwa masalah utama pembusukan 
demokrasi saat ini adalah terus menajamnya politik identitas.

Politik identitas adalah ganjalan besar dalam tujuan demokrasi yang disebut 
Fukuyama, yakni untuk menciptakan kualitas pengakuan yang sama terhadap setiap 
individu. Terus dipromosikannya identitas-identitas yang bersifat partikular 
telah membuat masyarakat tenggelam dalam sekat-sekat yang justru memperlebar 
ketimpangan hak.

Pasalnya, setiap kelompok mestilah mempromosikan identitasnya masing-masing dan 
memiliki harapan yang tinggi agar identitasnya mendapatkan pengakuan yang 
lebih. Masalahnya, Fukuyama menyebut tidak terdapat suatu batasan yang jelas 
sejauh mana identitas tersebut harus diakui.

Mengacu pada Fukuyama, adanya usaha meredam kelompok-kelompok Islam, seperti 
FPI dan PA 212, bukan hanya karena mereka merupakan oposisi pemerintah yang 
bising, melainkan juga karena aktivitasnya yang mempertajam politik identitas 
justru berbahaya bagi keberlangsungan demokrasi itu sendiri.

Akan tetapi, tentu kita paham, sekelumit analisis yang ada hanyalah hipotesis 
belaka. Gatot sendiri hanya merespons pasif saat ditanya perihal dirinya yang 
akan mendapatkan Bintang Mahaputera. Selain itu, Fahri dan Fadli yang telah 
mendapatkan bintang tanda jasa pada Agustus lalu nyatanya tetap berlaku kritis 
terhadap pemerintah.

Dengan demikian, seperti yang dikemukakan oleh Mahfud, pemberian penghargaan 
ini memang karena Gatot merupakan sosok yang memenuhi kualifikasi untuk 
mendapatkannya. (R53)

Kirim email ke