Makasih BUng Pandu infonya, sangat bermanfaat...

AL

On 7/13/08, Pandu Nusantara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Semoga bermanfaat
>
> Penulis : Adithya Mulya (penulis novel 'Jomblo', 'Gege Mengejar Cinta', dan
> beberapa novel lainnya)
>
> ~~~
>
> Membeli Masa Depan
> Tuesday, February 26, 2008
>
> Di Singapura sini kita bisa nonton RCTI dan SCTV. Di suatu malam gua lagi
> memindai channel dan melihat sebuah iklan yang menggugah. Iklan itu adalah
> iklan dari tabungan rencana Bank Mandiri.
>
> Adegan pertama: Ada anak kecil lari-lari keliling meja makan. Di meja makan
> itu, ada pasangan muda meminjam uang ke orang tua mereka dan ada insert
> tulisan "Untuk biaya masuk SD". Di akhir adegan itu, kita melihat liontin
> emas ibu muda.
>
> Adegan kedua: pasangan tersebut sudah terlihat lebih dewasa dan sang ibu
> melepaskan liontin emas itu dengan muka urung. Insert: "Untuk biaya masuk
> SMP"
>
> Adegan ketiga: Anak itu sudah dewasa, membuka garasi dan anak itu murung
> melihat garasi mereka kosong. Sang bapak keluar dengan vespa. "Untuk biaya
> SMA".
>
> Adegan ini diakhiri dengan sang bapak hujan-hujan pergi kerja naik vespa, di
> depan rumahnya ada tulisan "rumah dijual" insert: "untuk masuk kuliah"
>
> Ini adalah satu iklan yang sangat-sangat kuat. Hati gua belum pernah ngerasa
> terenggut melihat sebuah iklan. Bener banget.
>
> Hidup untuk Masa Depan
> Iklan di atas sempat membuat gua tidak tenang melihat apa yang sudah ada di
> tangan. Tapi gua berusaha merasa qana'ah karena tidak ada yang lebih buruk
> di hadapan Allah selain orang-orang yang kufur nikmat. Bener kata
> temen-temen yang komentar di bawah bahwa kalo kita takut, kita tidak akan
> pernah merasa cukup dan akhirnya menghabiskan waktu kita khawatir ketimbang
> bersyukur.
>
> Kita itu (seharusnya) hidup untuk masa depan. Bokap gua pernah ngasih tau
> statistik di bawah:
> 5 dari 10 pensiunan hidup bergantung pada anak dan kerabat
> 2 dari 10 pensiunan masih harus kerja unutk membiayai sisa hidupnya
> 1 dari 10 pensiunan punya uang pas-pasan untuk mandiri setelah pensiun
> 1 dari 10 pensiunan punya uang berlebih di saat pensiun
>
> (commented by leo: yang 1 lagi jangan ditanya yah..hehehe)
>
> Mengerikan ya? Dari yang gua lihat dalam hidup, memang begitu. Sebenernya
> bukan karena kita miskin-miskin amat sih tapi kita itu sering belanja
> hal-hal yang kalo dipikir baik-baik, gak perlu.
>
> Sekarang gimana caranya kita pensiun dengan baik? Dan di atas itu, membekali
> anak dengan pendidikan yang cukup? Iya kalo anaknya satu. Kalo 3?
> Satu lagi ungkapan yang gua pernah dengar yang sangat-sangat memotivasi gua
> untuk nabung:
>
> Kecil, gak nyusahin orang tua
> Tua, gak nyusahin anak
>
> Iya kalo anak kita sukses. Kalo gak sukses kan kasian dia. Mencukupi dirinya
> sendiri aja mungkin susah, apalagi nalangin kita? Masa muda anak kita adalah
> masa dia mencari penghidupan untuk mensecure hari tua dia, bukan hari tua
> kita.
>
> Nah gua mau share sesuatu di bawah. Bukan karena gua sukses melakukannya,
> atau telah berhasil menyelesaikannya. Tapi gua pengen aja sharing karena
> penting untuk diketahui dan semoga memberikan insight yang baik bagi yang
> belum tahu.
>
> Tentukan gaya Hidup Kita
> Di umur 30 ini gua belajar begini: gaya hidup itu menentukan survivality
> kita di hari tua. Maksudnya gini:
>
> Ini skema hidup keluarga A
> Gaji = 100%
> Living cost yang kita jalankan selama ini = 80%
> Tabungan = 20%
>
> Guess what? Setelah pensiun nanti, A akan kesulitan mengadjust gaya hidupnya
> karena setelah pensiun, dia gak punya atau punya sedikit income.
> Dan dia harus hidup berbiaya 80%. Tapi masalahnya dia cuman punya 20%.
> Mending kalo 20% ini bisa nutupin basicnya, kalo nggak gimana?
>
> Jadi yang perlu kita tentukan sekarang adalah bagaimana gaya hidup yang kita
> inginkan dan berapa yang ingin kita tabung.
>
> Basic Consumption & Life style
> Persentase di atas tidak linier. Maksudnya, orang yang penghasilannya rendah
> akan mencak-mencak melihat persentase di atas karena memang ada biaya hidup
> pokok minimal. Mungkin bagi orang yang penghasilannya 20 juta setahun,
> persentase di atas gak jalan. baca: minimum living cost katakanlah 10 juta
> setahun. Jadi mending persentasenya kita kembalikan aja pada diri
> masing-masing.
>
> Yang berusaha gua jelskan di sini adalah, living cost itu ada dua komponen.
>
> Living cost = lifestyle x basic consumption.
>
> Contoh, orang sama-sama butuh mobil ke kantor. Yang satu beli mobil second,
> yang satu beli Alphard. Orang sama-sama butuh dinner. Yang satu sering dine
> out, yang satu masak. Orang sama-sama butuh tas. Yang satu beli satu 60
> juta, yang satu 600 ribu.
>
> Basic consumption semua orang sama. Tapi yang membuat living cost kita
> berbeda adalah gaya hidup kita. Apa beli tas mahal salah? Nggak kok.
> Terserah, gua gak ngejudge. kalo memang mampu ya by all means, beli aja.
> Hanya saja, di kebanyakan kasus, gaya hidup kita lah yang membuat living
> cost tinggi. Bukan basic consumptionnya.
>
> Bagi pembaca yang tergerak untuk menerapkan hal yang sama, harap diingat
> bahwa makin banyak anak, ya gajinya makin terbagi kecil. Bisa jadi seperti
> ini:
>
> 45% cost
> 35% pensiun
> 10% anak 1
> 10% anak 2
>
> 45% cost
> 30% pensiun
> 8% anak 1
> 8% anak 2
> 8% anak 3
>
> Masalahnya dengan skema ini adalah, skema ini tidak berlaku pada keluarga
> yang incomenya terlalu kecil. Gua pernah bergaji sangat kecil dan bahkan
> untuk menghidupi diri gua aja susah.
>
> Automate your Savings
> Sekarang kita udah menentukan gaya hidup kita dan bertekad menabung beberapa
> % income kita. Next step? Kebanyakan orang, termasuk gua, gak bisa nabung.
> Beberapa orang bikin channel tabungan. Termasuk gua. Gua gak tau apakah ini
> manjur karena resultnya kita lihat 25 tahun lagi tapi setidaknya ini yang
> gua percaya dan gua lakukan.
>
> Setelah menentukan berapa yang harus ditabung, kita otomatisasikan tabungan
> kita. Manusia itu pada dasarnya susah nabung. David Bach dalam bukunya
> 'Automatic Millionaire' mengatakan bahwa semua pemerintah di dunia ini
> langsung otomatis motong pajak dari gaji kita karena mereka tau kita suka
> lupa bayar pajak. Hal yang sama kita terapkan saja pada diri kita. Kita bisa
> request ke bank agar setiap tanggal 1, gaji kita dipotong ke tabungan
> pensiun kita, ke tabungan pendidikan anak kita dan ke mana saja yang kta
> mau. Akhirnya yang ada di tabungan utama hanyalah sisa untuk living cost
> kita. Jadi di awal bulan, yang pertama kita amankan adalah masa depan kita,
> bukan masa depan mango, zara atau honda jazz kita. Kalo tidak dipagari
> seperti ini, kecenderungannya adalah habis. Untuk ini, gua rekomendasikan
> banget buku David Bach 'Automatic Millionaire'
>
> Security
> Oke, sekarang ada tabungan pensiun. Bagus. Eh besok kita ditabrak bus.
> Pupuslah harapan anak untuk terus sekolah. Istri juga kalo gak
> berpenghasilan bisa repot. Yang tadinya kita bermimpi anak kita bisa sekolah
> di universitas top indonesia, jadi bisa gak kuliah sama sekali.
>
> Dan tahukah kita bahwa statistik membuktikan bahwa rata-rta suami meninggal
> 6 tahun lebih cepat dari istrinya? Dari sini datanglah pentingnya asuransi.
>
> Gimana cara milih asuransi yang baik? http://priyadi. net sudah membahasnya
> dengan baik. Mending baca di sana. Di sini, gua cuman pengen sharing apa
> yang gua tau (yang mana sedikit), agar mungkin temen-temen bisa untung dari
> sini.
>
> Yang jelas, menentukan asuransi itu sebaiknya gini:
>
> Uang pertanggungan = living cost / tahun x 20 tahun (atau terserah mau
> berapa tahun).
>
> Dengan formula ini, maka jika kita meninggal, insya allah keluarga kita
> dapat hidup selama 12-20 tahun. Lho kenapa gak full 20 tahun? Karena
> inflasi. Living cost tahun 2008 mungkin 4 juta. Di tahun 2020 bisa jadi 10
> juta.
>
> Masalahnya, makin tinggi uang pertanggungan, makin tinggi premi pertahunnya.
> Untuk itu, menentukan nilai asuransi ini juga harus bijak dan harus dalam
> kemampuan kita juga. Misalnya kita tabung 40% gaji. Kita split 40% ini jadi
> 10 dan 30.
>
> 30% pensiun
> 10% insurance
> Toh keduanya sama-sama berbunga kok.
>
> Dulu asuransi ini sepi peminat karena asuransi tidak melink dana kita ke
> investasi. Yang ada, uang kita menyusut tanpa bunga. Mending taro di bank.
> Gitu pikiran banyak orang. Sekarang unit link ini menjadi buruan banyak
> orang. Gua dulu alergi yang namanya memercayakan uang keringet gua sama
> asuransi. Sekarang kenapa tidak? Not bad kalo gua bilang. Jika kepala
> keluarga meninggal, kepala keluarga akan mendapatkan mana yang lebih tinggi
> antara uang pertanggungan dan nilai investasi. Lumayan kan? Btw,
> http://priyadi. net sih tidak menganjurkan. Tapi gua sih merasa aman sekali
> dengan skema ini.
>
> You may disagree with this ya. Tapi gua sih jalanin.
>
> Invest
> Di posting gua yang terdahulu gua udah bilang bahwa musuh gua setidaknya
> adaalah inflasi. Mau income kita 1 juta per bulan atau 100 juta, kita taro
> di bank, tetap aja kalah sama inflasi. Contoh:
>
> Inflasi = 10%
> Bunga bank = 2%
> Tabungan kita = 1000
> Harga telur 2007 = 1000
> Harga telur 2008 = 1100
> Uang kita 2008 = 1020
> Tahun 2008 kita gak mampu makan telur.
>
> Di sini lah pentingnya investasi. Instrumen investasi apa yang dipilih?
> Beberapa sudah gua tulis di posting sebelumnya. Berapa yang mesti kita
> invest? Nah ini tergantung dari seberapa ambisiusnya kita dalam hidup. Yang
> jelas, ada beberapa pointers:
>
> - asset & liability
> Robert Kiyosaki dalam Rich dad poor dad bilang "rich dad buys assets. Poor
> dad buys liability". Ini bener banget. Banyak sekali orang tua yang
> menghabiskan uang 200 juta membelikan anak mereka mobil. Masalahnya, mobil
> itu mengalami penyusutan 20% per tahun. Harganya tahun depan langsung 180
> juta. Umur mobil juga 5 tahunan. Itu bukan aset. Itu liability.
>
> Kalo memang ingin memberikan anak 200 juta, kenapa gak belikan dia rumah
> susun? Atau BTN? "Nak, ini ayah belikan rumah 1 bukan untuk ditempatin. Sana
> kamu kontrakin dan uangnya buat kamu tabung." Rumah, di 80% kasus, adalah
> aset.
> Aset adalah sesuatu yang memberikan kita return. Yang kalo kita jual lagi,
> nilainya bertambah dan memberikan kita proft.
>
> Liability adalah sesuatu yang setelah kita beli, nilainya susut. Yang kalo
> kita jual lagi, kita mendapatkan loss.
>
> - Biggest & Most Basic Investment
> Hal pertama yang harus disukseskan dalam investasi, dan ini yang gua setuju
> ya, terserah kalo gak setuju, adalah rumah. Direkomendasikan untuk rumah
> sendiri. Jangan sampe ngontrak seumur hidup. Di kala kita ngontrak, kita
> membuat orang lain kaya tanpa memberikan kita hak kepemilikan. Bisa-bisa
> setelah pensiun, kita gak punya penghasilan untuk membayar kontraknya.
> Setelah itu mau tinggal di mana?
> Kalo kita cicil rumah, sejelek apa pun rumah itu, rumah itu adalah hak milik
> kita. Tidak ada rasa aman yang lebih baik dari pada memiliki rumah tempat
> kita tumbuh tua nanti.
>
> Kalo nggak gini, kasian anak. Mereka nanti nikah dan butuh ruang, waktu dan
> energi untuk membangun keluarga kecil mereka. Kalo kita tinggal bersama
> mereka, kasian. Lenyaplah impian istri untuk ML di dapur huahahaha. Gak
> deng. Memang di kebanyakan kasus, orang Indonesia menganut kebudayaan orang
> timur di mana:
>
> Ketika kita kecil, mereka merawat kita.
> Ketika dia tua, kita merawat dia.
>
> Ini sebabnya banyak sekali temen gua yang bungsu yang bersikeras gak mau
> keluar rumah. Kasian ninggalin ibunya. Si bungsu lah yang bayarin listrik,
> air, kabelvision dll.
>
> Ini sebabnya banyak temen gua yang sering bilang "Udah, mamah di sini aja
> sama saya"
>
> Semua itu bagus. Semua itu mulia. Semua itu dianjurkan agama. Tapi semua itu
> adalah cerita temen-temen gua yang mapan secara finansial dan berniat
> mengembalikan budinya. Temen-temen gua yang kesulitan finansialnya? Well,
> beda cerita.
> Setidaknya di mata gua, sebagai anak yang baik, harus selalu siap untuk
> menampung orang tua. Itu harus. Bokap gua menyisihkan 25% gajinya selama
> belasan tahun untuk hidupi orang tua dia.
>
> Tapi sebagai orang tua yang baik, rasanya gak tega ngeliat anak ngerawat
> kita sementara dia bisa menghabiskan waktu muda dia mengejar impian-impian.
> Makanya, invest your money. Nah sekarang pertanyaan, berapa yang mesti kita
> investasikan dari income kita? Sekali lagi, terserah.
>
> Tadi di atas sudah ada ini:
> 30% pensiun
> 10% insurance
>
> Kenapa nggak,
> 10% atau 20% pensiun
> 10% insurance
> 20% atau 10% investasi
>
> Ingat aja, makin kecil uang yang disisihkan untuk investasi makin lambat
> investasi itu bisa berbuah. Kalo sisihan untuk invetasi terlalu kecil,
> ditakutkan malah gak pernah terwujud impiannya. Contohnya, mau beli emas
> batangan. Tapi harganya naik lebih cepat ketimbang jumlah uang yang kita
> sisihkan perbulannya. Yang ada kejar-kejaran.
>
> Sekali lagi, instrumen investasi sudah gua tulis di postingan sebelumnya dan
> juga banyak terdapat di blog http://priyadi. net
>
> Hutang
> Disarankan untuk jangan punya hutang, kecuali hutang itu untuk membeli rumah
> perdana dan itu pun jangan terlalu banyak. Banyak orang yang bermimpi
> memiliki rumah megah dan bersikeras beli cicil. Masalahnya,
>
> Rumah gede = biaya maintenance gede
> Rumah gede = cicilannya puluhan tahun
>
> Temen gua ada yang lumayan jenius. Dia beli rumah kecil, 5 tahun lunas.
> Sementara 5 tahun itu dia juga nabung dengan istri. Setelah lunas ternyata
> mereka punya cukup tabungan untuk nyicil rumah ketiga yang lebih baik.
> Rumah pertama mereka kontrakin dan mereka tinggal di rumah cicilan kedua.
> Sebentar lagi meeka akan melakukan yang ketiga.
>
> Ada lagi kasus yang lumayan miris. Rumahnya terlalu besar tapi gajinya
> terlalu kecil, sehingga dia butuh 20 tahun untuk lunasin. Itu semua gaji
> habis hanya untuk rumah. Jujur aja, kalo cicilan sampe 20 tahunan, yang ada
> kita bayar rumah itu 2x harga beli kita. 2 kali! Itu sama dengan kita beli 2
> rumah! Tapi ini nggak. Akhirnya orang itu pensiun tanpa sempat menggunakan
> uangnya untuk investasi.
>
> Intinya, hutang itu boleh tapi terbatas dengan:
>
> pembelian aset
> pastikan beli rumah yang sesuai dengan gaji kita. Jangan ngoyo. pastikan
> cicilannya tidak terlalu banyak sehingga kita masih punya umur produktif
> untuk investasi yang lain juga. Again, ini hanya dari pengalaman dan
> observasi pribadi gua. mungkin pembaca yang berwawasan lebih, boleh kasih
> input. Biasanya syarat umum Bank di indonesia adalah: uang cicilan = 1/3
> dari income gabungan suami istri. Kalo gitu, skemanya jadi berubah:
>
> 45% cost
> 33% cicilan rumah
> 8% anak 1
> 8% anak 2
> 6% insurance atau investasi atau pensiun
>
> Skemanya terserah tapi kita bisa lihat bahwa semua komponen itu penting. Dan
> bisa kita lihat juga bahwa adanya cicilan rumah benar-benar memotong
> keleluasaan kita dalam berinvestasi kan. Dan bahkan untuk cicil rumah, bukan
> gak mungkin kita harus memotong biaya hidup jadi lebih kecil dari 45%.
> Makanya cicilannya jangan terlalu lama dan telalu besar. Metode Yang Beda
> Metode di atas hanyalah 1 dari jutaan metode yang kita bisa jalankan.
> Contoh metode lain adalah:
>
> 1. 5 tahun pertama konsen beli rumah
> 2. 5 tahun kedua konsen nabung buat investasi
> 3. 5 tahun ketiga konsen nabung pensiun
>
> Beberapa temen gua malah hanya bergantung pada jamsostek untuk pensiun. Uang
> bebasnya semuanya dia investasikan di rumah kedua dan bilang "Ya ini sapi
> pensiun gua." Agar nanti kalo udah pensiun, uang kontrakan rumah itu dapat
> nyambung hidup dia.
>
> Upside
> Dengan cara seperti ini, orang biasanya lebih cepat mendapatkan
> masing-masing target. 55% gaji dia dimasukin untuk investasi. Denga modal
> sebesar ini, returnnya juga bisa besar dan lebih cepat. Sound good. Tapi ada
> kelemahannya.
>
> Downside
> Kalo misalnya pas lagi ngejar lunasin rumah, kepala keluarganya meninggal,
> gak ada dana back up dong.
>
> Kalo misalnya pas 5 tahun investasi ternyata reksadana crash, habis semua
> uang. Kalo 5 tahun nabung dollar ternyata dollar jadi 2000 perak, the end.
> Lenyap udah itu semua.
>
> Kalo misalnya keasikan beli rumah dan investasi, bukan gak mungkin kita
> telat nabung buat pensiun. Kenapa sih pensiun itu penting meski sudah ada
> investasi yang berbuah?
>
> Karena kita tidak bisa memprediksi masa depan. Kita bergantung sama 3 rumah
> kontrakan. Suatu hari 2 dari 3 digusur.
>
> Intinya sih keuntungan dari diversifikasi adalah kalo kita sial di satu hal,
> kita masih bisa bergantung dengan hal lain. Memang gak banyak, tapi itu
> safe. Kerugian diversifikasi adalah menunggu semuanya berbuaha bisa belasan
> tahun. Gimana nggak? Secepat apa kita bisa memperbaiki taraf hidup kalo kita
> hanya mampu sisihkan gaji 2% untuk investasi? Semuanya dikembalikan ke
> masing-masing lah. Gak ada yang benar dan salah.
> Gua yakin semua yang baca blog ini by now sudah mikir, skema apa yang selama
> ini mereka jalani dan gak defensif atau ofensif jika tidak setuju dengan
> penjelasan di atas. Toh semuanya dikembalikan ke diri dan kondisi
> masing-masing yang mana kondisi itu gak mungkin sama.
>
> Gua sendiri menjalankan sebuah skema. Gua gak tau apakah skema itu akan
> berhasil. Yang penting, kalo niatnya baik, ikhtiarnya giat, dan sabar
> menghadapi cobaan, itu berarti kita sudah menjalankan skemanya dengan benar.
>
> Penutup
> Yang jelas, gua berpegang sama proverb di bawah:
>
> Kecil, gak nyusahin orang tua
> Tua, gak nyusahin anak
>
> Kita Sebagai Anak
> Sadarkah kita kenapa orang tua naik haji di usia senja? Karena orang tua
> kita ingin memastikan dulu kita mentas. Betapa mulianya ya mereka.
>
> Sekedar sharing aja, temen gua dulu ada yang ngobat. Sekarang nyesel seumur
> hidup. Dia nyesel karena sampai akhir hayat mereka sang orang tua tidak
> pernah sempat menunaikan ibadah haji. Kenapa? Karena tabungan haji mereka
> habis membayar rehab temen gua. Setelah sembuh mentas dan kerja, hal pertama
> yang temen gua lakukan adalah haji dan mendoakan mereka.
>
> Dari dia gua belajar untuk sebisa mungkin gak pernah nyusahin orang tua.
> Kalo gak bisa sukses, minimal gua gak bikin mereka sedih.
>
> Kita Sebagai orang tua
> Tantangan tiap jaman itu beda. Dan semakin ke sini, semakin hebat. Dulu
> bapak kita cukup dengan S1 dan dapat berkarir seorang diri membiayai semua
> keluarga.
>
> Jaman kita? Dibutuhkan suami dan istri untuk kerja mencukupi kebutuhan
> hidup. Belum lagi kualifikasi sekarang banyak yang harus S2. Ambil koran,
> baca bagian karir dan hiotung berapa banyak yang kualifikasi S2? Chances
> are, many. Dan supply lulusan S2 pun banyak yang masih struggle
> mendapatkannya (yang mana menjadi constant reminder gua untuk harus sekolah
> lagi).
>
> Jaman anak kita? Gak kebayang kan? Ini sebabnya pensiun itu sangat penting.
> Anak-anak kita menghadapi apa yang tidak terbayangkan oleh kita susahnya
> gimana. On top of that, mereka harus mencukupi diri mereka sendiri. Memang
> gua yakin banget kita sebagai masyarakat timur, mereka pasti tidak keberatan
> mengurusi kita. Masalahnya, kitanya tega gak?
>
> Kecil, gak nyusahin orang tua
> Tua, gak nyusahin anak
>
> Ada mau sharing bagaimana bentuk pembelian masa depan yang lain?
>

Kirim email ke