Siang itu, kami berpisah sangat mesra, selain cium tangan, Santi juga mendaratkan ciuman di pipiku sambil menyolek daguku, sebuah pemandangan baru jika ada orang yang kenal kami dan melihat adegan ini. “Mas, aku tunggu besok pagi sebelum ke kantor ya, aku di rumah menyiapkan sarapan untukmu… bye”. Sambil melambaikan tangan, Santi pergi meninggalkan aku yang nunggu bill dari pelayan café. (bersambung) (Bagian ketiga) Aku berusaha tidur lebih awal malam ini, biar besok pagi bisa bersiap-siap lebih pagi dan berpenampilan lebih segar.. he he.. kasmaran ceritanya. Tapi apa yang terjadi? Ketika mata dipejamkan, bukannya gelap yang aku lihat, tetapi justru bayangan Santi yang terus menghiasi pandanganku. Mula-mula aku ikuti saja bayangan itu, aku ikuti bayangan sejak bertemu tadi pagi, hingga perpisahan dengan janji akan ketemu esok pagi. Setelah bayangan itu berulang-ulang, tanpa aku sadari, aku terkejut dengan suara alarm hp ku yang berbunyi cukup kencang. Jam 8.00 pagi aku sudah beres, udah mandi, pakaian yang strikanya licin, dasi dan tak lupa minyak wangi kesayanganku. Aku baru memakai sepatu, ketika sms masuk ke hp ku, “pagi Mas… sudah bangun?:)”, langsung aku balas, “ya sudah dong, kan ada janji dengan pacar he he.” Tidak nunggu komentas lagi, langsung aku kirim pesan berikutnya, “suamimu sudah pergi?”. Agak lama Santi menjawab, lalu sms itupun datang, “Belum Mas, masih sarapan, tahu nih, lelet banget, suami ga punya perasaan…” balas dia. Perasaanku sama dengan dia, akupun gelisah, karena suaminya ga cepat pergi, padahal aku sudah kangen banget sama Santi. Tak lama kemudian, santi kirim sms lagi, “Mas, suamiku sudah turun, satu menit yang lalu, kapan Mas datang ke rumah?. “sekarang aku langsung ke rumahmu” balasku singkat. Perasaanku tak karuan ketika aku akan memejet bel rumah Santi, dag dig dug. Aku rapikan dulu bajuku, dasiku, lalu aku pejet bel itu. Tak lama kemudian pintu dibuka, dan Santi nongol, “wow sangat anggung dan seksi” gumamku dalam hati. Santi memakai gaun rumah yang warnanya sangat serasi, rambutnya tergerai sebahu, disisir sangat rapi. Kancing bajunya agak ke bawah, sehingga sebagaian besar lehernya tampak, putih mulus. “Mas, ayo masuk, tuh sarapannya udah siap…” Santi menarik tanganku. Di meja makan sudah terhidang nasi rawon, dengan krupuk udang. Aku santap rawon dengan cepat, dan aku susul the panas yang ada disampingnya, tidak lebih dari 10 menit sudah beres semua. “Kok cepet makannya Mas?” Tanya santi yang masih menggoreng pisang untuk temen ngobrol. “Iya, habis rawonnya enak banget”, aku asal njawab. Di ruang tamu yang cukup asri, aku menunggu Santi sambil membaca-baca majalah di meja tamu. Tak lama kemudian, Santi datang dengan air putih dan satu piring pisang goring., “nih pisang kesenangan Mas, sengaja aku goring sekarang biar ga dihabisin suami”, kata santi sambil meletakkan piring di atas meja. Aku tarik tangan Santi untuk duduk disampingku, terasa agak kaku, tapi dia menuruti yang aku mau. “Kamu cantik sekali San, pakaianmu sangat serasi, aromamu harum sekali”, sambil aku remas tangannya. Santi menunduk sambil membalas remasan tanganku. “ha ha ha, bener nih kita pacaran?” kataku agak tiba-tiba untuk mencairkan suasana. Santi melepas tangannya dari genggamanku, sambil memukul pahaku, “ah, bikin kaget aja, kirain ada apa”. Aku langsung peluk tubuh Santi, erat sekali, aku cium lehernya, sambil aku usap-usap punggungnya. Santi membalas pelukanku, dan dia memelukku lebih erat, sambil menggesek-gesekkan wajahnya di bahuku, “San, apa aku bisa tiap hari mampir ke rumahmu seperti ini?” aku bisikkan di telinganya. Santi mengangguk, lalu mengangkat wajahnya. Aku cium pipinya, hidungnya, lalu aku cium bibirnya. Bibirnya sangat lembut, basah, aku gigit-gigit bibir atas, lalu bawah, lalu lidahnya masuk ke mulutku, sangat lama aku berdiri saling berciuman dengan Santi, di hari pertama kami berpacaran. (bersambung)
________________________________ From: Lhalaopo Bleh <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Sent: Monday, 22 October 2012, 12:08 Subject: [GM:8485] Dia yang pernah aku dambakan = Bagian Dua “San, aku sedang meeting, nanti aku telephone ya” smsku berusaha menutup pembicaraan. Ternyata baru dua detik sudh datang jawaban, “Mas, aku tunggu di café dekat kantormu pada jam istirahat nanti ya… bye”… (bersambung) Bagian Kedua Sepanjang rapat, pikiranku terus berkecamuk… kenapa tiba-tiba Santi mengungkapkan seperti itu? Apa betul memang dia suka padaku dan kenapa baru sekarang dia mengungkapkannya. Apa yang terjadi di rapat akupun tidak bisa mengikutinya dengan baik, hanya mengikuti suasana, kalau semua ketawa akupun ikut ketawa, jika yang lain manggut-manggut akupun berusaha bisa manggut-manggut, tapi jujur saja aku tidak tahu apa yang dibicarakan dalam rapat. Pikiranku hanya tertuju pada Santi, wanita cantik yang menjadi dambaan banyak pria, namun lelaki yang beruntung menjadi suaminya, sama sekali tidak bisa menghayati memiliki istri secantik Santi. Rapat selesai, akupun langsung menuju ruang kerjaku, aku lihat arloji, ternyata baru jam 11.30, ini break masih setengah jam lagi. Mau buka laptop sudah ga minat, aku masih menebak-nebak apa yang akan disampaikan oleh Santi dalam pertemuan nanti. Aku memang tertarik sama dia, karena kecantikan, kecerdasan, keakraban, cara bercanda, terlebih body nya yang siapapun pasti pendapatnya sama, yahuuuut. Tapi suami dia itu kawan dekatku, masak aku harus memacarinya?. Meskipun kemaren-kemaren aku yakin bisa merebut hatinya, tapi aku ga tega sama suaminya yang lugu dan tampak sering mengalah di hadapan istrinya, dan aku juga ga bisa bayangin keluarganya yang harmonis terganggu oleh kehadiranku. Aku ke kamar mandi, nyisir, merapikan dasi, lalu ngecek dompek, siapa tahu harus makan-makan, masak ga bayarin. Begitu melihat dompek, photo istriku yang sedang tersenyum manis menyapaku, aku tertegun, akankan aku mengkhianati istriku yang setia?. Tit tut tit….. sms masuk “mas aku udah di café, aku duduk di ruang yang agak dalam, dekat toilet, aku dapat tempat yang pas untuk kita” santi mengingatkanku bahwa saat break sudah tiba. Meninggalkan kantor, aku berpesan sama teman sekerjaku, “Jim, aku ke Café dulu ya, mungkin agak telah dikit”, Jimmy yang aku pamitin nyengir, “gebetan baru ya…kok grogi banget?... Tak menghiraukan Jimmy, aku ngeloyor keluar. Tujuh menit kemudian aku sudah di depan café yang dimaksud. Tak seperti biasa, aku ada rasa grogi campur penasaran memasuki café. Dari jauh aku sudah nebak, bahwa yang memakai gaun biru muda dengan model sisiran rambut lurus di ujung jalan yang aku lalui itu adalah Santi. Dari belakang aku bisa melihat, body nya yang serasi, betis mulus dan leher jenjang itu, selalu menarik untuk dipandangi. Setelah dekat dari bangku tempat ia duduk, aku tegur pelan “Santi….”, yang kupanggil kontak nengok ke belakang sambil berdiri “Mas … kamu kok dari arah sana, aku piker kamu akan lewat pintu belakang”, Santi mengulurkan tangan bersalaman. Beberapa detik aku pegang tangannya sambil memandangi wajahnya yang tampak memerah dan tubuh agak gemetar. Lalu aku persilahkan duduk dan bertanya apakah dia sudah memesan sesuatu. “Belum Mas, aku nunggu kamu, biar pesanan kita bareng” sambil membuka daftar menu, “kamu mesen apa Mas?” suara Santi berat memendam rasa grogi, sambil sesekali memandangku. “aku coppucino medium, sama croasan keju… kamu mesen apa”. “Aku sama deh Mas, kayaknya enak juga… dirimu mau salad Mas?.” Akupun menunjuk Cessar salad. “Mas, sorry ya mengganggu…” Santi tahu aku masih bertanya-tanya dalam hatiku tentang undangan ke café mendadak ini. “Tahu nggak Mas, sudah lama aku memendam rasa suka sama dirimu, aku selalu mencari tahu tentang dirimu, hari ini sedang apa? Makan apa? Kemana? Sama siapa?, dan puncaknya semalam.” Masih ga habis piker, kok Santi begitu pede mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku jadi ragu, jangan-jangan dia tahu kalau aku juga suka sama dia. “mimpi apa semalam San?”. Setelah menarik nafas dalam, Santi bercerita, “mungkin karena bayanganku kali ya, aku semalam mimpi sedang menemani dirimu makan di sebuah acara party teman sekantormu, kamu menggandengku, mengenalkan kepada teman-temanmu bahwa aku adalah pacarmu, aku pun menggelayut di pundakmu, dan kamu kelihatan suka banget”. Berenti sejenak, aku bertanya, “San, itu kan mimpi”. “Sorry Mas, makanya aku ga tahan ingin mengungkapkannya padamu, apapun reaksimu, tapi aku sudah lama memendam rasa suka dan sayang sama Kamu Mas”. Dueeerrrrr Aku jujur, ketika tangannya yang mulus putih lembut menarik tanganku, aku sedikit gemetar, dia mendekapnya dalam gemggaman tangannya. Aku secara reflex nengok kiri kanan, kalau-kalau ada teman yang melihatnya. Sebab café ini tidak jauh dari kantorku, maka tidak mustahil ada teman yang melihat, bisa jadi skandal he he Bagiku, ini adalah kesempatan emas untuk berpacaran dengan Santi yang cantik ini, “Santi, kamu pasti juga tahu kalau aku sebenarnya sudah lama memendam rasa suka sama kamu, tapi nasibku kurang bagus karena kamu sudah menjadi miliki orang lain”. Santi menyambut haru, “Bener Mas, dirimu juga perhatian ama diriku? Kok ga pernah ngajak berdua sama aku”, dekapan tangannya lebih kuat. Sejenak kami saling membisu. “San, kalau kita sama-sama suka, kita kan ga bisa ngapa-ngapain, karena kita sama-sama punya keluarga, menurutmu gimana”. Sambil nunduk, Santi menjawab pasti, “kita pacaran aja Mas, di belakang keluarga kita, karena ga mungkin aku memendam rasa cinta ini terus-menerus, tapa melampiaskannya dengan orang yang aku cintai”. Aku ga percaya dengan apa yang aku dengarkan lewat telingaku, sambil membayangkan, masak iya aku akan berpacaran sama Santi, wanita cantik yang menjadi istri teman karibku, pacaran kayak apa ya yang bisa kami jalani, pasti ribet bin beresiko tinggi. Pesanan kami datang, dan kami pura-pura sibuk makan dengan tetap berkecamuk dalam pikiran untuk prosesi pacaran. Hanya dalam setengah jam, kami sudah deal pacaran dan saling menyayangi, tanpa piker panjang. Aku sempat berfikir, kalau gadis biasanya gengsi mengungkapkan cinta duluan, tapi ini kan wanita juga, kok bisa dia dengan tegasnya mengungkapkan rasa cintanya tanpa gengsi atau malu. Apa tipe wanita sudah menikah kali ya, kalau ngebet sama cowok lain berani bilang terus terang. Siang itu, kami berpisah sangat mesra, selain cium tangan, Santi juga mendaratkan ciuman di pipiku sambil menyolek daguku, sebuah pemandangan baru jika ada orang yang kenal kami dan melihat adegan ini. “Mas, aku tunggu besok pagi sebelum ke kantor ya, aku di rumah menyiapkan sarapan untukmu… bye”. Sambil melambaikan tangan, Santi pergi meninggalkan aku yang nunggu bill dari pelayan café. (bersambung) From: Syahrudin Amir <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sunday, 21 October 2012, 19:56 Subject: Re: [GM:8484] Dia yang pernah aku dambakan = Bagian Satu Kanyaknya ngajak ML neh...........gua tunggu lanjutannya bro Pada 20 Okt 2012 13.07, "Lhalaopo Bleh" <[email protected]> menulis: kawan-kawan, >Numpang Cerita di sini bisa dong... minta komentarnya ya... > > >DIA YANG PERNAH AKU DAMBAKAN >Bagian Pertama >Pagi itu ga biasa aku menerima ucapan selamat yang agak kaku dari seorang wanita, “pagi Mas… lagi ngapain?”. Aku balas biasa aja, seperti banyak teman yang basa-basi di pagi dan sore hari, “pagi, aku lagi berkemas untuk meeting… kamu sendiri lagi ngapain?”. Lalu aku menutup pintu kantorku dan pergi menuju ruang pertemuan pimpinan. > > >Aku sudah lupa ucapan selamat pagi yang mungkin ada dua atau tiga dengan ucapan yang mirip. Tapi yang satu ini kirim sms lagi membalas pertanyaan basa-basiku dalam sms tadi. Semua peserta meeting menengok ke arahku, karena suara sms yang begitu keras, aku lupa ngeset silent di hpku. Aku pura-pura tak perhatian dengan hp ku untuk menetralisir pandangan teman-teman dalam rapat. Setelah netral, dan aku sudah merasa rilaks, aku lihat hp ku dan aku set silet, lalu aku buka is isms. > > >“Aku sedang selonjoran di ranjang Mas, sambil ngebayangin dirimu…” derrrr, aku khawatir rasa kagetku dibaca oleh teman-teman dalam rapat, lalu aku lihat mereka satu persatu, tapi tak seorangpun yang melihatnya. Sms Santi membuatku belangsatan, seorang wanita cantik yang adalah teman istriku dan istri dari sahabat karibku, dengan polosnya kirim sms seperti itu. Setalah melihat situasi aman, aku balas sms dia, “sbentar ya, maksudmu ngebayangin diriku itu apa, aku ga faham?”. > > >Santi adalah wanita anak orang kaya yang cantik, anggun dan lincah, pandai bergaul dan banyak teman baik laki maupun perempuan. Siapapun yang berkesempatan ngobrol ama dia pasti suka dan enggan untuk berhenti, kecuali teman-teman wanita dia yang merasa kalah saingan di lingkungan perumahan tempat aku tinggal. Santi yang bersuamikan Juan, di lingkungan kami adalah sepasang keluarga muda yang sangat ideal, mereka tampil mesra di setiap acara yang kami selenggarakan. Maka wajar kalau semua warga di sini menghormati mereka. > > >“Mas, kamu selama ini ga ngerasa ya kalau aku perhatiin, aku deketin, bahkan di saat-saat aku sedang berdua sama suamiku. Sosok kamu itu selalu menggoda pikiranku Mas,” gubrak, aku semakin ga percaya dengan isi sms ini. Aku lalu mengingat-ingat tingkah laku dia kepadaku, apa ada yang aneh, atau lain dari yang lain. Satu-satu aku inget, ketika dia datang ke rumah, sedang ngobrol sama istriku, dia tidak memalingkan pandangannya dariku. Kalau aku sedang main ke rumah mereka, dia selalu memasakkan yang istimewa untuk kami, dan hanya aku yang dia perhatikan. Lama-lama memang aku temukan banyak hal yang menandakan dia berupaya ingin berduaan dengan aku. Terakhir waktu suaminya sedang tugas ke luar kota, dia sempat minta aku mampir ke rumahnya sebelum ke kantor, dia minta tolong ke aku untuk membetulkan posisi tv di rumahnya, dan ia menggunakan pakaian yang tidak biasanya dipakai untuk menerima tamu, serba menonjol. Aku sempat berfikir yang enggak-enggak, tetapi melihat kondisi rumah tangganya yang sangat harmonis, lalu aku buang pikiranku yang nggak wajar. > > >“San, aku sedang meeting, nanti aku telephone ya” smsku berusaha menutup pembicaraan. Ternyata baru dua detik sudh datang jawaban, “Mas, aku tunggu di café dekat kantormu pada jam istirahat nanti ya… bye”… (bersambung) -- >GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi || >- >Site Milis: >http://groups.google.com/group/gudangmedia >Blog: >http://gudangmedia.blogspot.com/ >Facebook Page: >http://www.facebook.com/MilisGM >Twitter: >http://twitter.com/MilisGM >Donasi: >http://pendek.in/0xn7 >- > > > -- GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi || - Site Milis: http://groups.google.com/group/gudangmedia Blog: http://gudangmedia.blogspot.com/ Facebook Page: http://www.facebook.com/MilisGM Twitter: http://twitter.com/MilisGM Donasi: http://pendek.in/0xn7 - -- GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi || - Site Milis: http://groups.google.com/group/gudangmedia Blog: http://gudangmedia.blogspot.com Facebook Page: http://www.facebook.com/MilisGM Twitter: http://twitter.com/MilisGM Donasi: http://pendek.in/0xn7 - -- GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi || - Site Milis: http://groups.google.com/group/gudangmedia Blog: http://gudangmedia.blogspot.com Facebook Page: http://www.facebook.com/MilisGM Twitter: http://twitter.com/MilisGM Donasi: http://pendek.in/0xn7 - --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GudangMedia" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gudangmedia+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
