New Free Social Networking Community Site!
Connect & Share Your Interests With Others.
http://www.staylonger.net
---------
For More Pics Please Check These Hot Adult Groups;
http://groups.google.com/forum/?fromgroups#!forum/BentOverPoses
http://groups.google.com/forum/?fromgroups#!forum/Best-Adult-Contents
----------
Fast Growing and Free Dating Website. Join Free!
Search Free For Your Love Or A Friend.Free Chat.
http://find-your-partner.net
----------
Ambrina : Most Powerfull Herbal Erection Enhancer Pill!
GET ROCK HARD ERECTIONS, MAXIMUM LENGTH & STAY LONGER!
http://ambrina.com



________________________________
From: Lhalaopo Bleh <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Tuesday, March 19, 2013 7:08 PM
Subject: Re: [GM:8671] Dia yang pernah aku dambakan = Bagian Tiga


Siang itu, kami berpisah sangat mesra,
selain cium tangan, Santi juga mendaratkan ciuman di pipiku sambil menyolek
daguku, sebuah pemandangan baru jika ada orang yang kenal kami dan melihat
adegan ini. “Mas, aku tunggu besok pagi sebelum ke kantor ya, aku di rumah
menyiapkan sarapan untukmu… bye”. Sambil melambaikan tangan, Santi pergi
meninggalkan aku yang nunggu bill dari pelayan café. (bersambung)

(Bagian ketiga)
Aku berusaha tidur lebih awal malam ini,
biar besok pagi bisa bersiap-siap lebih pagi dan berpenampilan lebih segar.. he
he.. kasmaran ceritanya. Tapi  apa yang
terjadi? Ketika mata dipejamkan, bukannya gelap yang aku lihat, tetapi justru
bayangan Santi yang terus menghiasi pandanganku. Mula-mula aku ikuti saja
bayangan itu, aku ikuti bayangan sejak bertemu tadi pagi, hingga perpisahan
dengan janji akan ketemu esok pagi. Setelah bayangan itu berulang-ulang, tanpa
aku sadari, aku terkejut dengan suara alarm hp ku yang berbunyi cukup kencang.

Jam 8.00 pagi aku sudah beres, udah
mandi, pakaian yang strikanya licin, dasi dan tak lupa minyak wangi
kesayanganku. Aku baru memakai sepatu, ketika sms masuk ke hp ku, “pagi Mas…
sudah bangun?:)”, langsung aku balas, “ya sudah dong, kan ada janji dengan
pacar he he.” Tidak nunggu komentas lagi, langsung aku kirim pesan berikutnya, 
“suamimu
sudah pergi?”. Agak lama Santi menjawab, lalu sms itupun datang, “Belum Mas,
masih sarapan, tahu nih, lelet banget, suami ga punya perasaan…” balas dia.

Perasaanku sama dengan dia, akupun
gelisah, karena suaminya ga cepat pergi, padahal aku sudah kangen banget sama
Santi. Tak lama kemudian, santi kirim sms lagi, “Mas, suamiku sudah turun, satu
menit yang lalu, kapan Mas datang ke rumah?. “sekarang aku langsung ke rumahmu”
balasku singkat.

Perasaanku tak karuan ketika aku akan
memejet bel rumah Santi, dag dig dug. Aku rapikan dulu bajuku, dasiku, lalu aku
pejet bel itu. Tak lama kemudian pintu dibuka, dan Santi nongol, “wow sangat
anggung dan seksi” gumamku dalam hati. Santi memakai gaun rumah yang warnanya
sangat serasi, rambutnya tergerai sebahu, disisir sangat rapi. Kancing bajunya
agak ke bawah, sehingga sebagaian besar lehernya tampak, putih mulus. “Mas, ayo
masuk, tuh sarapannya udah siap…” Santi menarik tanganku.

Di meja makan sudah terhidang nasi rawon,
dengan krupuk udang. Aku santap rawon dengan cepat, dan aku susul the panas
yang ada disampingnya, tidak lebih dari 10 menit sudah beres semua. “Kok cepet
makannya Mas?” Tanya santi yang masih menggoreng pisang untuk temen ngobrol. 
“Iya,
habis rawonnya enak banget”, aku asal njawab.

Di ruang tamu yang cukup asri, aku
menunggu Santi sambil membaca-baca majalah di meja tamu. Tak lama kemudian,
Santi datang dengan air putih dan satu piring pisang goring., “nih pisang
kesenangan Mas, sengaja aku goring sekarang biar ga dihabisin suami”, kata
santi sambil meletakkan piring di atas meja. Aku tarik tangan Santi untuk duduk
disampingku, terasa agak kaku, tapi dia menuruti yang aku mau. “Kamu cantik
sekali San, pakaianmu sangat serasi, aromamu harum sekali”, sambil aku remas
tangannya. Santi menunduk sambil membalas remasan tanganku. “ha ha ha, bener
nih kita pacaran?” kataku agak tiba-tiba untuk mencairkan suasana. Santi
melepas tangannya dari genggamanku, sambil memukul pahaku, “ah, bikin kaget
aja, kirain ada apa”. Aku langsung peluk tubuh Santi, erat sekali, aku cium
lehernya, sambil aku usap-usap punggungnya.

Santi membalas pelukanku, dan dia
memelukku lebih erat, sambil menggesek-gesekkan wajahnya di bahuku, “San, apa
aku bisa tiap hari mampir ke rumahmu seperti ini?” aku bisikkan di telinganya.
Santi mengangguk, lalu mengangkat wajahnya. Aku cium pipinya, hidungnya, lalu
aku cium bibirnya. Bibirnya sangat lembut, basah, aku gigit-gigit bibir atas,
lalu bawah, lalu lidahnya masuk ke mulutku, sangat lama aku berdiri saling
berciuman dengan Santi, di hari pertama kami berpacaran. (bersambung)


________________________________
From: Lhalaopo Bleh <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Monday, 22 October 2012, 12:08
Subject: [GM:8485] Dia yang pernah aku dambakan = Bagian Dua


“San,
aku sedang meeting, nanti aku telephone ya” smsku berusaha menutup pembicaraan.
Ternyata baru dua detik sudh datang jawaban, “Mas, aku tunggu di café dekat
kantormu pada jam istirahat nanti ya… bye”… (bersambung)

Bagian Kedua

Sepanjang rapat,
pikiranku terus berkecamuk… kenapa tiba-tiba Santi mengungkapkan seperti itu? 
Apa
betul memang dia suka padaku dan kenapa baru sekarang dia mengungkapkannya. Apa
yang terjadi di rapat akupun tidak bisa mengikutinya dengan baik, hanya 
mengikuti
suasana, kalau semua ketawa akupun ikut ketawa, jika yang lain manggut-manggut
akupun berusaha bisa manggut-manggut, tapi jujur saja aku tidak tahu apa yang
dibicarakan dalam rapat. Pikiranku hanya tertuju pada Santi, wanita cantik yang
menjadi dambaan banyak pria, namun lelaki yang beruntung menjadi suaminya, sama
sekali tidak bisa menghayati memiliki istri secantik Santi.

Rapat selesai,
akupun langsung menuju ruang kerjaku, aku lihat arloji, ternyata baru jam
11.30, ini break masih setengah jam lagi. Mau buka laptop sudah ga minat, aku
masih menebak-nebak apa yang akan disampaikan oleh Santi dalam pertemuan nanti.
Aku memang tertarik sama dia, karena kecantikan, kecerdasan, keakraban, cara
bercanda, terlebih body nya yang siapapun pasti pendapatnya sama, yahuuuut.
Tapi suami dia itu kawan dekatku, masak aku harus memacarinya?. Meskipun
kemaren-kemaren aku yakin bisa merebut hatinya, tapi aku ga tega sama suaminya
yang lugu dan tampak sering mengalah di hadapan istrinya, dan aku juga ga bisa
bayangin keluarganya yang harmonis terganggu oleh kehadiranku.

Aku ke kamar
mandi, nyisir, merapikan dasi, lalu ngecek dompek, siapa tahu harus
makan-makan, masak ga bayarin. Begitu melihat dompek, photo istriku yang sedang
tersenyum manis menyapaku, aku tertegun, akankan aku mengkhianati istriku yang
setia?. Tit tut tit….. sms masuk “mas aku udah di café, aku duduk di ruang yang
agak dalam, dekat toilet, aku dapat tempat yang pas untuk kita” santi 
mengingatkanku
bahwa saat break sudah tiba.

Meninggalkan
kantor, aku berpesan sama teman sekerjaku, “Jim, aku ke Café dulu ya, mungkin
agak telah dikit”, Jimmy yang aku pamitin nyengir, “gebetan baru ya…kok grogi
banget?... Tak menghiraukan Jimmy, aku ngeloyor keluar. Tujuh menit kemudian
aku sudah di depan café yang dimaksud. Tak seperti biasa, aku ada rasa grogi
campur penasaran memasuki café.

Dari jauh aku
sudah nebak, bahwa yang memakai gaun biru muda dengan model sisiran rambut
lurus di ujung jalan yang aku lalui itu adalah Santi. Dari belakang aku bisa
melihat, body nya yang serasi, betis mulus dan leher jenjang itu, selalu
menarik untuk dipandangi. Setelah dekat dari bangku tempat ia duduk, aku tegur
pelan “Santi….”, yang kupanggil kontak nengok ke belakang sambil berdiri “Mas …
kamu kok dari arah sana, aku piker kamu akan lewat pintu belakang”, Santi
mengulurkan tangan bersalaman.

Beberapa detik
aku pegang tangannya sambil memandangi wajahnya yang tampak memerah dan tubuh
agak gemetar. Lalu aku persilahkan duduk dan bertanya apakah dia sudah memesan 
sesuatu.
“Belum Mas, aku nunggu kamu, biar pesanan kita bareng” sambil membuka daftar
menu, “kamu mesen apa Mas?” suara Santi berat memendam rasa grogi, sambil
sesekali memandangku. “aku coppucino medium, sama croasan keju… kamu mesen apa”.
“Aku sama deh Mas, kayaknya enak juga… dirimu mau salad Mas?.” Akupun menunjuk
Cessar salad.

“Mas, sorry ya
mengganggu…” Santi tahu aku masih bertanya-tanya dalam hatiku tentang undangan
ke café mendadak ini. “Tahu nggak Mas, sudah lama aku memendam rasa suka sama
dirimu, aku selalu mencari tahu tentang dirimu, hari ini sedang apa? Makan apa?
Kemana? Sama siapa?, dan puncaknya semalam.” Masih ga habis piker, kok Santi
begitu pede mengungkapkan perasaannya kepadaku. Aku jadi ragu, jangan-jangan
dia tahu kalau aku juga suka sama dia. “mimpi apa semalam San?”.

Setelah menarik
nafas dalam, Santi bercerita, “mungkin karena bayanganku kali ya, aku semalam
mimpi sedang menemani dirimu makan di sebuah acara party teman sekantormu, kamu
menggandengku, mengenalkan kepada teman-temanmu bahwa aku adalah pacarmu, aku
pun menggelayut di pundakmu, dan kamu kelihatan suka banget”. Berenti sejenak,
aku bertanya, “San, itu kan mimpi”. “Sorry Mas, makanya aku ga tahan ingin
mengungkapkannya padamu, apapun reaksimu, tapi aku sudah lama memendam rasa
suka dan sayang sama Kamu Mas”. Dueeerrrrr

Aku jujur, ketika
tangannya yang mulus putih lembut menarik tanganku, aku sedikit gemetar, dia
mendekapnya dalam gemggaman tangannya. Aku secara reflex nengok kiri kanan,
kalau-kalau ada teman yang melihatnya. Sebab café ini tidak jauh dari kantorku,
maka tidak mustahil ada teman yang melihat, bisa jadi skandal he he

Bagiku, ini
adalah kesempatan emas untuk berpacaran dengan Santi yang cantik ini, “Santi,
kamu pasti juga tahu kalau aku sebenarnya sudah lama memendam rasa suka sama
kamu, tapi nasibku kurang bagus karena kamu sudah menjadi miliki orang lain”.
Santi menyambut haru, “Bener Mas, dirimu juga perhatian ama diriku? Kok ga
pernah ngajak berdua sama aku”, dekapan tangannya lebih kuat.

Sejenak kami
saling membisu. “San, kalau kita sama-sama suka, kita kan ga bisa
ngapa-ngapain, karena kita sama-sama punya keluarga, menurutmu gimana”. Sambil
nunduk, Santi menjawab pasti, “kita pacaran aja Mas, di belakang keluarga kita,
karena ga mungkin aku memendam rasa cinta ini terus-menerus, tapa 
melampiaskannya
dengan orang yang aku cintai”. Aku ga percaya dengan apa yang aku dengarkan
lewat telingaku, sambil membayangkan, masak iya aku akan berpacaran sama Santi,
wanita cantik yang menjadi istri teman karibku, pacaran kayak apa ya yang bisa
kami jalani, pasti ribet bin beresiko tinggi.

Pesanan kami datang,
dan kami pura-pura sibuk makan dengan tetap berkecamuk dalam pikiran untuk
prosesi pacaran. Hanya dalam setengah jam, kami sudah deal pacaran dan saling
menyayangi, tanpa piker panjang. Aku sempat berfikir, kalau gadis biasanya
gengsi mengungkapkan cinta duluan, tapi ini kan wanita juga, kok bisa dia
dengan tegasnya mengungkapkan rasa cintanya tanpa gengsi atau malu. Apa tipe
wanita sudah menikah kali ya, kalau ngebet sama cowok lain berani bilang terus
terang.

Siang itu, kami
berpisah sangat mesra, selain cium tangan, Santi juga mendaratkan ciuman di
pipiku sambil menyolek daguku, sebuah pemandangan baru jika ada orang yang
kenal kami dan melihat adegan ini. “Mas, aku tunggu besok pagi sebelum ke
kantor ya, aku di rumah menyiapkan sarapan untukmu… bye”. Sambil melambaikan
tangan, Santi pergi meninggalkan aku yang nunggu bill dari pelayan café.
(bersambung)


From: Syahrudin Amir <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Sunday, 21 October 2012, 19:56
Subject: Re: [GM:8484] Dia yang pernah aku dambakan = Bagian Satu


Kanyaknya ngajak ML neh...........gua tunggu lanjutannya bro
Pada 20 Okt 2012 13.07, "Lhalaopo Bleh" <[email protected]> menulis:

kawan-kawan,
>Numpang Cerita di sini bisa dong... minta komentarnya ya...
>
>
>DIA YANG PERNAH
AKU DAMBAKAN
>Bagian Pertama
>Pagi itu ga biasa aku menerima
ucapan selamat yang agak kaku dari seorang wanita, “pagi Mas… lagi ngapain?”.
Aku balas biasa aja, seperti banyak teman yang basa-basi di pagi dan sore hari,
“pagi, aku lagi berkemas untuk meeting… kamu sendiri lagi ngapain?”. Lalu aku
menutup pintu kantorku dan pergi menuju ruang pertemuan pimpinan.
>
>
>Aku sudah lupa ucapan selamat
pagi yang mungkin ada dua atau tiga dengan ucapan yang mirip. Tapi yang satu
ini kirim sms lagi membalas pertanyaan basa-basiku dalam sms tadi. Semua peserta
meeting menengok ke arahku, karena suara sms yang begitu keras, aku lupa ngeset
silent di hpku. Aku pura-pura tak perhatian dengan hp ku untuk menetralisir
pandangan teman-teman dalam rapat. Setelah netral, dan aku sudah merasa rilaks,
aku lihat hp ku dan aku set silet, lalu aku buka is isms.
>
>
>“Aku sedang selonjoran di ranjang
Mas, sambil ngebayangin dirimu…” derrrr, aku khawatir rasa kagetku dibaca oleh
teman-teman dalam rapat, lalu aku lihat mereka satu persatu, tapi tak seorangpun
yang melihatnya. Sms Santi membuatku belangsatan, seorang wanita cantik yang
adalah teman istriku dan istri dari sahabat karibku, dengan polosnya kirim sms
seperti itu. Setalah melihat situasi aman, aku balas sms dia, “sbentar ya,
maksudmu ngebayangin diriku itu apa, aku ga faham?”.
>
>
>Santi adalah wanita anak orang
kaya yang cantik, anggun dan lincah, pandai bergaul dan banyak teman baik laki
maupun perempuan. Siapapun yang berkesempatan ngobrol ama dia pasti suka dan
enggan untuk berhenti, kecuali teman-teman wanita dia yang merasa kalah saingan
di lingkungan perumahan tempat aku tinggal. Santi yang bersuamikan Juan, di
lingkungan kami adalah sepasang keluarga muda yang sangat ideal, mereka tampil
mesra di setiap acara yang kami selenggarakan. Maka wajar kalau semua warga di
sini menghormati mereka.
>
>
>“Mas, kamu selama ini ga ngerasa
ya kalau aku perhatiin, aku deketin, bahkan di saat-saat aku sedang berdua sama
suamiku. Sosok kamu itu selalu menggoda pikiranku Mas,” gubrak, aku semakin ga
percaya dengan isi sms ini. Aku lalu mengingat-ingat tingkah laku dia kepadaku,
apa ada yang aneh, atau lain dari yang lain. Satu-satu aku inget, ketika dia 
datang
ke rumah, sedang ngobrol sama istriku, dia tidak memalingkan pandangannya
dariku. Kalau aku sedang main ke rumah mereka, dia selalu memasakkan yang
istimewa untuk kami, dan hanya aku yang dia perhatikan. Lama-lama memang aku
temukan banyak hal yang menandakan dia berupaya ingin berduaan dengan aku. 
Terakhir waktu
suaminya sedang tugas ke luar kota, dia sempat minta aku mampir ke rumahnya 
sebelum ke
kantor, dia minta tolong ke aku untuk membetulkan posisi tv di rumahnya, dan ia 
menggunakan pakaian yang
tidak biasanya dipakai untuk menerima tamu, serba menonjol. Aku sempat berfikir 
yang enggak-enggak, tetapi melihat kondisi rumah tangganya yang sangat 
harmonis, lalu aku buang pikiranku yang nggak wajar.
>
>
>“San, aku sedang meeting, nanti
aku telephone ya” smsku berusaha menutup pembicaraan. Ternyata baru dua detik
sudh datang jawaban, “Mas, aku tunggu di café dekat kantormu pada jam istirahat
nanti ya… bye”… (bersambung)
-- 
>GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
>-
>Site Milis: 
>http://groups.google.com/group/gudangmedia
>Blog: 
>http://gudangmedia.blogspot.com/
>Facebook Page:
>http://www.facebook.com/MilisGM
>Twitter:
>http://twitter.com/MilisGM
>Donasi:
>http://pendek.in/0xn7
>-
> 
> 
>
-- 
GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
-
Site Milis: 
http://groups.google.com/group/gudangmedia
Blog: 
http://gudangmedia.blogspot.com/
Facebook Page:
http://www.facebook.com/MilisGM
Twitter:
http://twitter.com/MilisGM
Donasi:
http://pendek.in/0xn7
-





-- 
GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
-
Site Milis: 
http://groups.google.com/group/gudangmedia
Blog: 
http://gudangmedia.blogspot.com
Facebook Page:
http://www.facebook.com/MilisGM
Twitter:
http://twitter.com/MilisGM
Donasi:
http://pendek.in/0xn7
-





-- 
GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
-
Site Milis: 
http://groups.google.com/group/gudangmedia
Blog: 
http://gudangmedia.blogspot.com
Facebook Page:
http://www.facebook.com/MilisGM
Twitter:
http://twitter.com/MilisGM
Donasi:
http://pendek.in/0xn7
-
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GudangMedia" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke gudangmedia+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.          
                 

-- 
GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
-
Site Milis: 
   http://groups.google.com/group/gudangmedia
Blog: 
   http://gudangmedia.blogspot.com
Facebook Page:
   http://www.facebook.com/MilisGM
Twitter:
   http://twitter.com/MilisGM
Donasi:
   http://pendek.in/0xn7
-
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GudangMedia" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke gudangmedia+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke