Rekan-rekan yang terkasih,
Saya kirimkan artikel Gali Kata Alkitab berjudul Tuhan “Menyembuhkan” yang
merupakan hasil kajian dari akar kata bahasa Ibrani kuno. Harap berguna dan
menjadi berkat bagi Anda sekalian. Saya tetap menunggu masukan, saran, ataupun
kritik dari Anda sekalian.
Untuk penyebaran artikel itu saya juga menyediakan blog Gali Kata Alkitab
yang dapat diakses di alamat berikut:
http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata/
http://herysetyoadi_001.blogs.friendster.com/gali_kata/
Silakan jika Anda ingin menyebarkan artikel ini kepada rekan, kenalan,
sahabat, atau siapa saja. Atau, jika Anda ingin mendaftarkan alamat-alamat
email rekan, beritahukan kepada saya dan saya akan mengirim ke alamat-alamat
tersebut.
Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati kita.
Salam saya,
herysa
-------------
Gali Kata Alkitab
Rubrik ini menyediakan artikel yang berisi makna suatu kata dalam Alkitab
yang diteliti dengan menggali akar kata dalam bahasa Ibrani Kuno. Artikel yang
dimuat di rubrik ini merupakan pengembangan dari artikel pendek dalam
"Pelayanan via SMS" yang disebarkan setiap hari Rabu dengan rubrik "Gali Kata
Alkitab" dari nomor selular 085294397157 atas nama Hery Setyo Adi. Sedangkan
rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang disebarkan melalui e-mail ini -- mempostingkan
satu artikel seminggu sekali setiap hari Kamis. Artikel yang sama disebarkan
juga melalui http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata. Harap
artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.
Layanan via Email
Edisi 8, Kamis, 1 May 2008
Tuhan “Menyembuhkan”
“…sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau”
(Keluaran 15:26, LAI).
Sebuah kata dalam bahasa Ibrani yang dipadankan dengan kata “menyembuhkan”
adalah rapha’ (resh-qames-peh-qames-alef). Sepenggal syair pujian: “Yehovah
rapha’, Tuhan yang menyembuhkan” sangat populer. Kata rapha’ ini berasal dari
akar induk kata (parent root) yang terdiri dari dua huruf “resh-peh”. Huruf
“resh” adalah gambar kepala seorang laki-laki, sedangkan huruf “peh” adalah
suatu gambar mulut yang terbuka. Gabungan dua huruf gambar (piktograf) tersebut
berarti “seorang membuka”.
Orang Ibrani kuno memiliki tradisi mengobati luka-luka pada tubuh dengan
obat-obatan yang terbuat dari bahan tumbuh-tumbuhan terpilih yang telah
dilumatkan. Seseorang harus membuka dan mengorek luka itu, sekalipun pedih dan
sakit. Kemudian, luka yang sudah bersih dan terbuka itu ditutup dengan
obat-obatan yang telah disiapkan. Selanjutnya, luka itu dibalut. Dengan cara
itu, luka akan tertutup, mengering, dan sembuh.
Pengertian rapha’ (menyembuhkan) ini terus mengalami perluasan. Di samping
“sembuh” dari sakit karena luka-luka tubuh, juga dari sakit karena penyakit
lainnya. Mazmur 147:3, Ayub 5:18, atau pun Yesaya 30:26 terdapat kata
“menyembuhkan” berkaitan dengan “luka” meskipun maknanya alegoris. Namun dalam
2 Raja-raja 20:5 ada kata “menyembuhkan” yang berkaitan dengan penyakit. Hizkia
jatuh sakit dan hampir mati, tapi Allah menyembuhkan.
Makna kata rapha’ ini menarik untuk dikaji, sebab pengertiannya tidak hanya
dipakai untuk penyembuhan secara ragawi, tapi juga rohani. Hal ini sejalan
dengan pola pikir orang Ibrani kuno, bahwa pengertian abstrak merupakan
perluasan dari pengertian konkret. Misalnya Yeremia 3:22 terdapat kata
“menyembuhkan” yang tidak berkaitan dengan penyakit fisik, melainkan keadaan
rohani bangsa Israel.
Belajar dari Kitab Hosea
Ide “menyembuhkan” ini semakin menggugah hati dan pikiran, lantaran secara
rohani pun berkaitan langsung dengan ide “membuka”. Hosea 7:1 menyatakan dengan
jelas, bahwa jika Allah menyembuhkan Israel, maka tersingkaplah dosa-dosa
mereka. Kata “tersingkap” berarti “menjadi tidak bertutup” atau “terbuka”.
Kitab Hosea sebagian besar pasalnya membuka dosa-dosa Israel (kerajaan utara)
di hadapan Allah. Keberdosaan Israel dibukakan dengan penggambaran keluarga
nabi Hosea di pasal 1-3. Selanjutnya, sang nabi menegur Israel tentang
kejahatan, kesombongan, dan pemujaan dewa (pasal 4-8). Ketidaksetiaan dan
pemberontakan, bahkan penghukuman dan kehancuran Israel dipaparkannya di pasal
11:12-13:16. Sebelumnya, di pasal 9-10, nabi pun menyatakan kepastian hukuman
karena dosa-dosa bangsanya. Menariknya, kitab Hosea ini diakhiri dengan
pernyataan belas kasihan Allah jika bangsa ini bertobat (pasal 14). Kesimpulan
kitab ini: Allah membuka dosa-dosa Israel dalam rangka menyatakan belas
kasihanNya.
Dosa Israel ini bagaikan luka yang dalam. Karena itu, ia harus dibuka,
dikorek, dan dibersihkan, sekalipun pedih. Sang nabilah setidaknya yang
mengalami kepedihan itu, karena dirinya dengan istri dan anak-anaknya menjadi
gambaran luka hubungan Allah dan bangsanya. Tapi, siapakah yang masih tidak
pedih ketika mendengar ketetapan hukuman bagi bangsa itu? (Dan memang
begitulah: tahun 721 sM Kerajaan Israel Utara ini jatuh). Semua itu dilakukan
Allah dalam rangka “membuka” dosa-dosa Israel dan Dia mau menyembuhkan umatNya
itu.
Implikasi
Sebagaimana luka yang telah membusuk harus dibuka, dikorek, dan dibersihkan,
begitu juga dosa dan kejahatan kita terhadap Allah. Dosa itu harus dibukakan,
agar kita disembuhkanNya. Pada saat dosa dibukakan Allah, mungkin kita malu dan
pedih hati.
Mungkin di antara kita adalah seorang koruptor yang sedang disidik aparat
kejaksaan atau kepolisian. Foto kita dimuat di media massa. Anak-anak kita
menanggung malu di sekolah. Istri kita menjadi tidak nyaman bergaul dengan
tetangga dan kenalan. Bahkan, hubungan di antara anggota keluarga kita sendiri
menjadi berantakan. Apakah peristiwa itu menunjukkan Allah tidak
berbelaskasihan? Justru Allah sedang menunjukkan belas kasihanNya kepada kita.
Luka kita sedang “dibuka” Allah dan Dia mau menyembuhkan kita.
Barangkali kita sedang menyimpan dosa perzinahan, sekalipun istri atau suami,
anak-anak kita, dan orang lain tidak tahu. Mungkin kita senang berbohong soal
keuangan; beaya kuliah, mark-up beaya perjalanan atau pembelian barang. Bisa
jadi kita biasa menyontek pada saat ujian, walaupun dosen tidak memergokinya.
Barangkali kita memendam kebencian, traumatik, dan dendam dengan orang lain.
Mungkin kita kecewa kepada Tuhan dan menyalahkanNya karena hidup kita tidak
seberuntung orang lain. Mungkin kita ini hamba-hamba Tuhan yang senang
menggunakan cara-cara licik untuk mengumpulkan uang dari jemaat Tuhan.
Barangkali masih ada berderet-deret dosa yang kita simpan rapat-rapat yang
tidak pernah diakui di hadapan Tuhan, apalagi sesama orang percaya. Sekarang
ini waktunya kita “membuka” sendiri dosa-dosa kita sebelum Tuhan membukakan
dengan caraNya. Mungkin berakibat sakit, pedih, dan malu, tetapi itulah
satu-satunya cara menyembuhkan penyakit. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia
adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan
menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang dikembangkan dari artikel
“Tuhan Menyembuhkan” yang dimuat dalam Pelayanan via SMS dalam rubrik "Gali
Kata Alkitab" edisi 8, Rabu 1 Mei 2008 dari nomor 085294397157. Berbagai sumber
dipakai sebagai rujukan tulisan ini)
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers