Rekan-rekan yang terkasih,
Saya kirimkan artikel Gali Kata Alkitab berjudul: "Kasih" yang merupakan
hasil kajian dari akar kata bahasa Ibrani kuno. Harap berguna dan menjadi
berkat bagi Anda sekalian. Saya tetap menunggu masukan, saran, ataupun kritik
dari Anda sekalian.
Untuk penyebaran artikel itu saya juga menyediakan blog Gali Kata Alkitab
yang dapat diakses di alamat berikut:
http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata/
http://herysetyoadi_001.blogs.friendster.com/gali_kata/
Silakan jika Anda ingin menyebarkan artikel ini kepada rekan, kenalan,
sahabat, atau siapa saja. Atau, jika Anda ingin mendaftarkan alamat-alamat
email rekan, beritahukan kepada saya dan saya akan mengirim ke alamat-alamat
tersebut.
Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati kita.
Salam saya,
herysa
-------------
Gali Kata Alkitab
Rubrik ini menyediakan artikel yang berisi makna suatu kata dalam Alkitab
yang diteliti dengan menggali akar kata dalam bahasa Ibrani Kuno. Artikel yang
dimuat di rubrik ini merupakan pengembangan dari artikel pendek dalam
"Pelayanan via SMS" yang disebarkan setiap hari Rabu dengan rubrik "Gali Kata
Alkitab" dari nomor selular 085294397157 atas nama Hery Setyo Adi. Sedangkan
rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang disebarkan melalui e-mail ini -- mempostingkan
satu artikel seminggu sekali setiap hari Kamis. Artikel yang sama disebarkan
juga melalui http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata. Harap
artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.
Layanan via Email
Edisi 11, Kamis, 22 May 2008
Kasih
Kata benda “kasih” dan “kasih karunia” (terjemahan Lembaga Alkitab
Indonesia) secara bergantian dipadankan dengan kata Ibrani “khen”
(khet-sere-nun) dan “tekhinnah” (tet-shewa-khet-hiriq-nun-qames-he). Sedangkan
bentuk kata kerja “mengasihani” dipadankan dengan kata Ibrani “khanan”
(khet-qames-nun-patah-nun).
Ketiga kata Ibrani tersebut berasal dari akar kata yang sama, yaitu
“khet-nun”. Dalam piktogram Ibrani kuno, huruf “khet” adalah sebuah gambar
dinding tenda yang berfungsi sebagai pelindung. Sedangkan huruf “nun” adalah
sebuah gambar benih, yang berarti “melanjutkan”. Kombinasi dua gambar tersebut
dapat berarti “dinding berlanjut” atau “pelindung yang berlanjut”.
Sebagaimana pola pikir Ibrani, konsep “kasih karunia” bukanlah konsep abstrak
yang berdiri sendiri. Konsep ini dibangun dari sesuatu yang konkret, yang dapat
dikenali dari indera kita. Bagaimana orang Ibrani kuno mengenal konsep “kasih
karunia” ini? Ternyata, konsep ini berhubungan dengan pola mereka membangun
perkemahan.
Perkemahan para pengembara Ibrani terdiri dari banyak tenda. Mereka membentuk
kelompok-kelompok. Masing-masing kelompok merupakan perkemahan keluarga (kaum)
dan bisa terdiri dari kurang lebih 50 tenda. Tenda-tenda tersebut mereka
dirikan secara melingkar. Sehingga, dinding tenda-tenda tersebut seperti
berlanjut: satu dinding dari satu tenda dilanjutkan dengan satu dinding dari
suatu tenda yang lain yang membentuk lingkaran. Dinding tenda seperti inilah
yang disebut “dinding berlanjut”.
Di dalam dinding perkemahan seperti itulah kaum keluarga tinggal dan
menjalani kehidupan mereka. Sebagaimana fungsi dinding tenda adalah pelindung
bagi orang-orang yang ada di dalam tenda itu, maka makna “kasih” berhubungan
dengan perlindungan yang tidak putus-putus bagi orang-orang yang ada di balik
dinding itu. Mereka dapat merasakan dan mengalami kebebasan, kasih, dan
keindahan hidup di dalam tenda.
Nubuatan PL dan Penggenapan PB
Kata “kasih karunia” dalam Yeremia 31: 2 (LAI) diterjemahkan dari kata Ibrani
“khen”. Suatu perlindungan yang tak putus-putus diberikan Allah kepada bangsa
Israel dan Yehuda. Kasih yang demikian itu dinyatakan sebagai nubuat perjanjian
baru Allah (Yeremia 31:31-34).
Apakah nubuat seperti itu disampaikan ketika Israel dan Yehuda memiliki
ketaatan kepada Allah? Jawabnya: tidak! Hampir separuh dari kitab Yeremia
menubuatkan kehancuran Yehuda, karena pemberontakan mereka. Seluruh waktu
kenabian Yeremia dipakai Allah untuk memperingatkan Yehuda, tapi mereka tidak
mau bertobat. (Akhirnya kehancuran terakhir seluruh kerajaan Yehuda terjadi
tahun 586 SM karena serangan Babel).
Bayangkan betapa bermurah hatinya Allah! Di tengah pemberontakan Yehuda dan
nubuatan hukuman terhadap bangsa itu, Allah pun menyampaikan firmanNya melalui
sang nabi, bahwa akan ada perjanjian baru Allah. Perjanjian baru itu menyangkut
“perlindungan yang tak putus-putus dari Allah”.
Dalam PB perjanjian baru itu telah digenapi Allah melalui kematian dan
kebangkitan Tuhan Yesus (Lukas 22:20) dan berlaku bagi umat perjanjian baru
Allah (Ibrani 8:8-13). Puncak dari “kasih karunia” (“khen”) itu adalah
keselamatan Israel rohani dengan dihapuskannya dosa umat perjanjian Allah (Roma
11:27).
Sudahkah saya dan Anda menikmati “perlindungan yang tak putus-putus dari
Allah” itu? Hanya percaya kepada Tuhan Yesus kita akan menikmati
perlindunganNya yang bersifat kekal.
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang dikembangkan dari artikel
“Kasih” yang dimuat dalam Pelayanan via SMS dalam rubrik "Gali Kata Alkitab"
edisi 11, Rabu 21 Mei 2008 dari nomor 085294397157. Berbagai sumber dipakai
sebagai rujukan tulisan ini)
---------------------------------
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.