Rekan-rekan yang terkasih,
Saya kirimkan artikel Gali Kata Alkitab berjudul: "Allah Mahabesar" yang
merupakan hasil kajian dari akar kata bahasa Ibrani kuno. Harap berguna dan
menjadi berkat bagi Anda sekalian. Saya tetap menunggu masukan, saran, ataupun
kritik dari Anda sekalian.
Untuk penyebaran artikel itu saya juga menyediakan blog Gali Kata Alkitab
yang dapat diakses di alamat berikut:
http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata/
http://herysetyoadi_001.blogs.friendster.com/gali_kata/
Silakan jika Anda ingin menyebarkan artikel ini kepada rekan, kenalan,
sahabat, atau siapa saja. Atau, jika Anda ingin mendaftarkan alamat-alamat
email rekan, beritahukan kepada saya dan saya akan mengirim ke alamat-alamat
tersebut.
Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati kita.
Salam saya,
herysa
-------------
Gali Kata Alkitab
Rubrik ini menyediakan artikel yang berisi makna suatu kata dalam Alkitab
yang diteliti dengan menggali akar kata dalam bahasa Ibrani Kuno. Artikel yang
dimuat di rubrik ini merupakan pengembangan dari artikel pendek dalam
"Pelayanan via SMS" yang disebarkan setiap hari Rabu dengan rubrik "Gali Kata
Alkitab" dari nomor selular 085294397157 atas nama Hery Setyo Adi. Sedangkan
rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang disebarkan melalui e-mail ini -- mempostingkan
satu artikel seminggu sekali setiap hari Kamis. Artikel yang sama disebarkan
juga melalui http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata. Harap
artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.
Layanan via Email
Edisi 12, Kamis, 29 May 2008
Allah Mahabesar
Kata “besar” dalam Allah Mahabesar, salah satunya diterjemahkan dari kata
Aram (bahasa yang serumpun dengan bahasa Ibrani) “rab” (resh-patah-bet).
Sebelumnya, penulisan kata “rab” tersebut tidak menggunakan tanda bunyi hidup
“patah”, sehingga penulisannya adalah “rb” (resh-bet). Dalam piktograf Ibrani
kuno, “resh” adalah gambar kepala seorang laki-laki dan “bet” adalah gambar
denah ruang di dalam tenda yang melambangkan “keluarga”. Gabungan dua piktograf
tersebut (resh-bet) berarti “kepala keluarga”.
Masing-masing keluarga mempunyai seorang yang berkuasa untuk memutuskan
semua kasus, pengadilan, konflik, dan cek-cok. Ia memiliki kebijaksanaan dan
otoritas yang berlimpah-limpah, sehingga dapat memainkan perannya secara baik.
Dia inilah kepala keluarga.
Dengan demikian, konsep “Allah Mahabesar” bagi orang Ibrani dipahami seperti
seorang kepala keluarga yang memiliki otoritas dan kebijaksanaan yang
berlimpah-limpah. Dia bisa memutuskan apa saja yang Dia mau (karena memiliki
otoritas yang berlimpah-limpah), namun keputusan-Nya itu tidak akan pernah
salah (karena memiliki kebijaksanaan yang berlimpah-limpah).
Nabi Daniel menyebut Allah dengan gelar “Mahabesar” (rab) dalam Daniel 2:45.
Dalam konteks Daniel pasal 2 tersebut, sang nabi telah mendapat penglihatan
seperti penglihatan Raja Nebukadnezar. Allah memberitahukan makna penglihatan
itu kepada Nabi Daniel, bahwa Dia telah mengambil keputusan untuk
menghancurkan kerajaan-kerajaan di dunia pada masa yang akan datang dan
menggantinya dengan kerajaan kekal. Daniel mengakui otoritas (kewenangan,
kuasa) Allah untuk melakukan hal-hal seperti itu. Otoritas-Nya berlimpah-limpah.
Bagi Daniel, sebagaimana gelar “Mahabesar” yang diberikannya untuk Allah,
keputusan Allah itu tidak akan pernah salah. Allah tidak menggunakan otoritas
yang dimilikinya secara sewenang-wenang, tetapi penuh pertimbangan dan hikmat.
Sebab, kebijaksanaan-Nya berlimpah-limpah.
Implementasi
Sedikitnya ada dua hal yang bisa diserap dan diimplementasikan dalam
kehidupan orang percaya setelah mengetahui makna kata “mahabesar” (rab).
Pertama, orang Ibrani memiliki konsep yang positif tentang kepala keluarga.
Mereka mengakui bahwa kepala keluarga adalah seorang yang memiliki otoritas di
dalam keluarganya, sekaligus memiliki kebijaksanaan yang berlimpah-limpah. Dia
tidak akan menggunakan otoritasnya secara sewenang-wenang karena dia seorang
yang bijaksana.
Kedua, gelar “mahabesar” yang dikenakan kepada Allah berarti memberi
pengakuan bahwa Dia memiliki otoritas yang tak terbatas atas hidup kita,
sekaligus memiliki kebijaksanaan yang tak terbatas pula. Oleh karena itu kita
tidak mempunyai alasan untuk menyalahkan Allah ketika kita mengalami hal-hal
buruk dalam hidup kita. Kita tidak boleh marah, menggerutu, atau
bersungut-sungut.
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang dikembangkan dari artikel
“Allah Mahabesar” yang dimuat dalam Pelayanan via SMS dalam rubrik "Gali Kata
Alkitab" edisi 12, Rabu 28 Mei 2008 dari nomor 085294397157. Berbagai sumber
dipakai sebagai rujukan tulisan ini)
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!