Rekan-rekan yang terkasih,
Pada kesempatan ini saya mengirimkan artikel Gali Kata Alkitab berjudul
“Korban Persembahan” yang merupakan hasil kajian dari akar kata bahasa Ibrani
kuno. Harap berguna dan menjadi berkat bagi Anda sekalian. Saya tetap menunggu
masukan, saran, ataupun kritik dari Anda sekalian.
Untuk penyebaran artikel itu saya juga menyediakan blog Gali Kata Alkitab
yang dapat diakses di alamat berikut:
http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata/
http://herysetyoadi_001.blogs.friendster.com/gali_kata/
Silakan jika Anda ingin menyebarkan artikel ini kepada rekan, kenalan,
sahabat, atau siapa saja. Atau, jika Anda ingin mendaftarkan alamat-alamat
email rekan, beritahukan kepada saya dan saya akan mengirim ke alamat-alamat
tersebut.
Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati kita.
Salam saya,
herysa
-------------
Gali Kata Alkitab
Rubrik ini menyediakan artikel yang berisi makna suatu kata dalam Alkitab
yang diteliti dengan menggali akar kata dalam bahasa Ibrani Kuno. Artikel yang
dimuat di rubrik ini merupakan pengembangan dari artikel pendek dalam
"Pelayanan via SMS" yang disebarkan setiap hari Rabu dengan rubrik "Gali Kata
Alkitab" dari nomor selular 085294397157 atas nama Hery Setyo Adi. Sedangkan
rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang disebarkan melalui e-mail ini -- mempostingkan
satu artikel seminggu sekali setiap hari Kamis. Artikel yang sama disebarkan
juga melalui http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata. Harap
artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.
Layanan via Email
Edisi 14, Kamis, 12 Juni 2008
Imam
Kata “imam” adalah padanan dari kata Ibrani “kohen” (kof-holem-he-sere-nun).
Kata “kohen” berasal dari akar kata induk “kn” (kaf-nun). Dalam tulisan Ibrani
kuno, “kaf” adalah gambar telapak tangan yang terbuka, sedangkan “nun” adalah
gambar sebuah benih. Gabungan dua gambar tersebut berarti “pembukaan benih”.
Apa maksud “pembukaan benih” (kaf-nun) tersebut?
Orang Ibrani kuno memiliki lingkungan hidup yang sangat dekat dengan tanaman.
Mereka sangat memahami pertumbuhan setiap bagian dari suatu tanaman. Ketika
benih terbuka, akar-akar itu mulai membentuk dasar tanaman dengan menembus ke
dalam tanah. Dalam waktu yang bersamaan, tanaman itu juga tumbuh ke atas dan
membentuk tangkai tanaman. Semakin tinggi tanaman itu, semakin menembus jauh ke
dalam tanah akar-akar tanaman itu. Sebuah pohon yang tinggi hanya dapat berdiri
kuat karena ditopang oleh akar yang kuat.
Dengan demikian makna kata “imam” (kohen) adalah pembukaan benih yang
memungkinkan benih tersebut bertumbuh membentuk akar dan pohon yang kuat.
Imam adalah suatu jabatan dalam keagamaan Yahudi yang keberadaan dan
tugas-tugasnya telah diatur di dalam Taurat. Lepas dari fungsi formalnya, makna
mendasar dari kata “imam” adalah menyiapkan masyarakat untuk berakar,
bertumbuh, dan menjadi kuat seperti tanaman. Tanaman yang kuat tidak akan
tercabut meskipun diterpa badai. Suatu masyarakat tidak akan kokoh berdiri
tanpa adanya “imam”.
Rasul Petrus dalam 1 Petrus 2:9 menulis: “Tetapi kamulah…imamat yang rajani…”
Ayat ini memberitahu identitas orang-orang percaya, yaitu orang-orang yang
sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi, bahwa
mereka adalah suatu lembaga imam. Sebagaimana kajian kata “imam” di atas,
berarti orang Kristen berfungsi sebagai “pembuka benih”, yang memungkinkan
benih itu berakar, bertumbuh, dan menjadi kuat.
Implikasi dalam Kehidupan Kita
Rasul Paulus menasihati jemaat Tuhan untuk berakar di dalam Tuhan Yesus dan
dibangun di atas-Nya. Mereka juga harus bertambah teguh dalam iman yang
diajarkan kepada mereka (Kolose 2:7). Di bagian lain Sang Rasul juga menasihati
jemaat Tuhan agar menjadi jemaat yang bertumbuh dalam segala hal ke arah
Kristus dengan berpegang teguh kepada kebenaran (Efesus 4:15). Inilah kehidupan
ideal anak-anak Tuhan.
Dengan demikian peran “pembuka benih” (imam) bertujuan untuk menciptakan
kehidupan anak-anak Tuhan yang berakar di dalam Kristus, bertumbuh ke arah
Kristus, dan berpegang teguh kepada kebenaran. Bagaimana peran kita sebagai
“imam” (pembuka benih) di tengah kehidupan kita, baik di antara orang-orang
percaya maupun masyarakat umum? Apakah kita sudah menjadikan diri kita dan
orang lain berakar di dalam Kristus, bertumbuh dalam segala hal ke arah
Kristus, dan berpegang teguh kepada kebenaran?
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang dikembangkan dari artikel
“Korban Persembahan” yang dimuat dalam Pelayanan via SMS dalam rubrik Gali Kata
Alkitab edisi 13, Rabu 4 Juni 2008 dari nomor 085294397157. Berbagai sumber
dipakai sebagai rujukan tulisan ini).
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers